
Pukul sebelas siang, rombongan yang menyaksikan ijab qobul Dadan dan Imah sudah mulai kembali kerumah. Sebagian ada yang benar-benar pulang, sebagian lagi ada yang ke rumah Dadan.
Iya, istilah kata sekedar tasyakuran kecil-kecilan di rumah Dadan. Karena Dadan sudah memiliki rumah sendiri. Sedangkan Imah tak enak hati jika merepotkan kakak sepupunya atau tantenya.
Rumah yang memiliki ruang tamu cukup luas, dapat menampung beberapa kerabat dan keluarga dekat sang mempelai.
Di rumah Dadan, mereka di sambut oleh Teh Neneng dan karyawan Dadan.
Mereka mempersilahkan para tamu dan lainnya untuk menikmati hidangan yang sudah mereka siapkan.
Aku dan mika pun turut membantu. Mama benar-benar tak mengijinkan aku menggedong Diaz. Mama bilang, beliau ingin puas-puasin waktunya dengan Diaz. Karena nanti malam mama harus ke Surabaya untuk menemui mbak Imas, kakak iparku.
"Alhamdulillah, udah sah Mah!", candaku.
"Iya mbak, tadi Imah deg-degan pisan."
"Sekarang udah nggak?", tanya Mika.
"Masih lah Mbak!", sahut Imah.
"Kenapa? Kan udah sah!", kata Mika.
"Iya... tapi setelah ini mbak?", kata Imah melirikku.
"Setelah ini apa Mah?", mika masih penasaran.
"Ya setelah sah ini mbak! Masa apa!"
"Ya...kenapa setelah sah Mah????!", mika geregetan.
"Ah, Bu dokter ini kelewat lugu apa pura-pura polos sih????!", jawab Imah kesal.
"Dih????"
"Kamu takut malam pertama Mah?", bisikku pelan. Imah hanya mengangguk.
Aku, Mika dan hayu terkekeh geli. Iya, kami tahu kalau Imah seorang janda. Janda kembang yang belum tersentuh. Jadi wajar saja kan kalau dia merasa 'speechless'.
"Rasanya gimana mbak Di? Mbak Hayu?", tanya Imah kepada ku dan Hayu.
Aku dan Hayu saling melempar pandangan. Lagi-lagi, aku dan hayu hanya bisa tertawa.
"Rasanya... ya gitu lah!", jawabku.
"Ah, mbak Di jawabannya nggak memuaskan!", celetuk imah.
"Gimana mbak Hayu???", tanya Imah.
"Hah? Ya... pokoknya begitu lah!", jawab Hayu malu-malu.
__ADS_1
"Kenapa lo ga nanya ke gue Bambang!!!!!", mika melipat kedua tangannya di dada.
"Emang mbak mika udah pernah?", Imah memicingkan matanya.
"Ya...belum , tapi kan minimal Lo nanya gitu ke gue. Masa Dian sama mbak Hayu doang yang ditanya. Nggak adil!"
"Hahaha.... makanya, buruan bilang ke mas Fai. Nikahin mbak Mika secepat nya!"
"Iya, mah. Dua Minggu lagi. Lo tenang aja?"
"Hah? Serius??", tanya Imah, Dian dan hayu kompak.
"Iya. insyaallah. Abah sama papa udah sepakat. Kalau tempat dan semua nya, papa yang udah siapin."
"Wah...senengnya....!", Imah girang sendiri.
"Biasa aja kali Imah!", mika menowel lengan Imah.
"Eh, mbak Di nggak cemburu kan kalau mbak mika nikah sama si jomblo akut itu?"
Aku mendelik ke arah Imah.
"Ya...ya enggak lah Mah. Kamu ngapain nanya kaya begitu!", sahutku ketus. Mika pun terkikik geli mendengar ocehan ku.
"Hahaha iya mah, mbak mu ini udah cinta mati sama mas mu", kata mika.
"Nah, kalau mbak mika sama mas Fai udah mau nikah, berati mbak Mika ikhlas dong kalau.... mas Damar sama mbak Hayu???", tanya Imah lagi.
Dan... pertanyaan itu pun, pasti tidak mengenakan bagi seorang Mika. Damar adalah laki-laki yang Mika sukai, tapi sayangnya cintanya bertepuk sebelah tangan. Dan...mika memilih Fai untuk menjadi pendampingnya kelak.
"Halo??? Kenapa diam semua?", kata Imah tanpa rasa berdosa. Meskipun di sudut hatinya, dia tahu seperti apa perasaan dua sahabat nya itu.
"Ya...kalau mbak Hayu mau balik lagi sama kak damar, mika dukung aja!", kata Mika.
Hayu hanya menggeleng pelan.
"Nggak. Aku nggak bisa!",jawab Hayu.
"Kenapa?", aku ,Imah dan Mika kompak bertanya.
"Kami...kami... ngga ada hubungan apapun."
"Makanya di adain lah mbak Hayu!", celetuk Imah.
Kami semua akhirnya tertawa. Ya kali anggaran, bisa di adain. Dasar imah.!
*****
"Widih...udah jadi suami sekarang!", tepuk Damar pada Dadan.
__ADS_1
"Nyak heeh atuh!(Ya iya lah)!", jawab Dadan .
"Siap-siap bobol gawang nih!", kata Fai.
"Lagak Lo, kaya pernah aja!", samber Damar.
"Hehehe belom sih, tapi traveling mah sering!", kata Fai santai.
"Lo diem aja bro!", tanya Damar ke Aziz.
"Ngapain? Lo lagi pada ngecengin adik sama adik ipar gue!", kata Aziz sambil ngemil kacang.
"Ntar cerita yang gimana mulainya Dan!", kata damar. Damar mah dokter, pengalaman ini itu sama pasiennya. Lagipula, dulu dia sering melakukan nya dengan hayu waktu masih muda. Dan sekarang...belum pernah lagi. Yakin damar nggak pernah 'jajan'????
"Hem, nggak ah. Pamali?!"
"Iya, lagian tabu. Kalau sampe kedengaran sama yang masih ori. Kan kasian!!!", lirik Aziz pada Fai .
"Kenapa liatin gue kek gitu!?", kata Fai.
"Lo doang yang belum ada partner nya!" jawab mereka bertiga kompak.
"Dam, Lo aja belum tentu balik lagi sama Hayu. Kepedean amat sih Lo!", kata Fai ketus.
"Tapi, minimal gue tahu rasanya gimana. Sering malahan!", jawab Damar.
"Dasar Lo! dosa malah di umbar-umbar! Ga tau malu Lo!", kata Fai kesal.
"Gue nggak ngumbar, kan cerita nya ke Lo pada doang!"
"Gila aja lu!", kata Fai.
"Hahah makanya, udah Lo ngga usah ngarepin bini gue lagi."
Aziz menepuk bahu Fai.
"Hem, tapi...Lo kan dapet sisa gue. Gue duluan yang tahu rasanya c*uman Ama Dian. Beuh...masih belum tersentuh rasanya masih gue inget!"
Plak!!!!
Tepukan kasar mendarat cantik di lengan Fai .
"Sakit *ego!", kata Fai.
"Lo emang kebangetan!", kata Aziz.
"Lha ngapa? Kan emang kenyataan nya begitu!"
"Tapi nggak usah ngomong begitu juga kali!!!", Aziz geregetan.
__ADS_1
Dadan dan damar tertawa cekikan mendengar pertengkaran dua sahabat itu.