Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 168


__ADS_3

"Dek, mas pakai baju apa?"


Selalu kalimat itu yang mas Aziz pertanyakan jika kami akan ada acara.


"Aku udah siapin mas!", jawabku santai. Baju yang harus mas Aziz pakai sudah ku gantung di dekat pintu. Mas Aziz baru saja selesai mandi. Badannya sudah mulai kebentuk semula. Meskipun tidak sesixpack dulu, minimal tak segendut kemarin.


"Kenapa liatin mas gitu? Mau??? Heum?", mas Aziz mendekati ku dengan badan yang masih setengah basah. Sedangkan Diaz masih berada di dalam box nya.


"Apaan sih???"


Mas Aziz duduk di samping ku. Memelukku dengan mesranya.


"Mau ya?" katanya berbisik.


"Mau apa?", tanyaku.


"Pura-pura!"


"Apaan sih mas? Udah ah sana pake bajunya!"


"Pakein!", katanya manja.


"Mana ada begitu!"


"Ada dong, ayolah...pakein."


"Manjanya mas....! Kaya Diaz aja sih minta di pakein baju segala."


"Ayok...kalo nggak, mas bikinin Diaz adik lho. Mumpung mas nggak pake baju!"


"Iih...mesum melulu sih tuh otak!", aku pun bangkit dari ranjang ku. Mengambil pakaian dalam dan kemeja serta celana panjang nya. Aziz tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi kalau pakai dalaman mah bisa sendiri kan?"


Mas Aziz menggeleng.


"Pakaikan sekalian lah!"


"Mas....!!!"


Mas Aziz semakin menggodaku.


"Udah ah, pakai sendiri nih ****** sama kaos dalamnya!", kataku sambil menyerahkan dua benda keramat itu padanya.


Mas Aziz terkekeh geli, dan dia pun memakainya sendiri. Aku kembali ke ranjangku. Aku sedang menyiapkan susu yang akan ku bawa nanti ke kantor. Antisipasi jika aku sedang sibuk, ada stok susu di tas Diaz. Tiba-tiba mas Aziz memelukku dari belakang. Sambil menciumi tengkuk ku.


"Mas....ih....!", kataku sambil kegelian.


"Mas sayang kamu dek!"


"Udah tua lah mas, nggak usah ngumbar begituan. Yang penting kan tindakannya."


"Masa sih? Yakin nggak mau dengar kata-kata cinta lagi nih???"


Aku berbalik badan!


"Kenapa? Mau ngumbar kalimat cinta sama perempuan lain , gitu maksud nya?"


"Tuh kan....ngambek!"


Aku kembali fokus dengan tas Diaz. Mas Aziz kembali memelukku.


"Mana ada sih begitu sayang ku, mas kan cuma cinta dan sayang sama kamu."


"Halah gombal!"


"Beneran lah....!", mas Aziz menciumi rambut ku.Menyibaknya sedikit, lalu menelusup ke tengkukku. Memberikan sedikit gigitan yang aku yakin meninggalkan sisa di sana.


"Mas...kamu apaan sih ah!"


"Biarin! Ini kan punya mas!", mas Aziz kembali melakukan hal yang sama di sekitar tempat tadi.

__ADS_1


"Mas...udah siang, aku kan juga harus bersiap-siap mas!", kataku sambil berusaha melepaskan pelukannya.


"Iya iya...tapi...nanti jatahnya lebih dari satu kali pokoknya!"


"Kamu kok jadi mesum banget sih mas????!!!"


"Jawab IYA, baru mas lepasin!", katanya.


"Heem! Iya iya. Aku mau siap-siap dulu. Nanti telat!"


"Oke. Mas tagih nanti malam!"


"Hem...!", aku pun duduk di meja riasku. Aku sudah memakai gamis bernuansa pastel. Tinggal memoles tipis make up di wajahku, dan memakai jilbab saja.


Ternyata Diaz sudah bangun, tadi setelah mandi Diaz kembali tertidur.


"Masyaallah...istri ku cantik amat sih!", puji mas Aziz.


"Aku cuma pake bedak tipis sama liptin aja kok mas. Nggak menor!", kataku sedikit ketus.


"iya, dari sananya emang istri ku udah cantik. Mau make up atau nggak ya tetep cantik."


"Halah, gombal!"


"Ih...serius sayang!", katanya lagi. Diaz merajuk ingin ikut dengan ku.


"Sayang, kita mama dulu yuk. Udah mau jam delapan nih, waktu nya mam dulu ya!"


"Ya udah dek, suapin Diaz dulu. Mas mau naroh barang-barang Diaz ke mobil dulu."


"Iya mas!"


Imah dan Hayu juga Faiz sudah ada di kios dari tadi. Aziz menghampiri mereka beberapa saat kemulutku setelah meletakan tas dan gendongan Diaz.


"Mah, nanti kalau ada orang nya koh Alan nganterin paketan tolong simpen dulu di brankas ya!", titah Aziz.


"Ko alan yang bos hp itu Tah mas?"


Hayu hanya memandang takjub lelaki tampan di hadapan nya itu.


Astagfirullah, batin Hayu. Buru-buru ia membuang pandangan dari laki-laki yang bukan mahramnya itu.


"Iya, nanti Imah simpen."


Aku dan Diaz menuju kios lewat pintu belakang.


"Eh, gantengnya Tante mau ikut ayah bunda ke kantor ya???", sapa Imah sambil menowel pipi Diaz.


"Iya Mah. Nitip rumah sama kios ya mbak hayu, imah. takut di gotong semut! Nanti mbah Gugel nyariin di map nya nggak keliatan!"


"Mbak Dian mah....!", kata Imah sambil tertawa.


Diaz masih terus bergerak lincah di gendongan ku.


"Mbak, kamu cantik banget sih!!!?", kata Imah memuji.


"Udah lama kok Mah. Masa baru sadar?"


"Iya, biasanya sih cantik. Tapi ini cantik banget!"


"Preeeettt....pasti ada maunya! Muji terus!"


"Hehehe...mbak di tahu aja!"


"Apa? Mau nitip pas kami pulang?", tanyaku lagi.


"Iya mbak. Burger king! Jumbo size ya!", kata Imah.


"Insyaallah , kalo nggak lupa ya mah!", kata Aziz.


"Jangan di lupain lah!", jawab Imah sewot.

__ADS_1


"Kamu mas, udah sih !", kataku. Dua orang itu memandang hobi banget bikin ramai.


"Mbak Hayu mau nitip apa? samain kaya Imah?", tanyaku.


"Nggak usah Di", jawab Hayu lirih.


"Nggak apa-apa mbak, sekalian!"


"Ya udah kalau gitu samain kaya Imah aja!"


Aku pun tersenyum.


"Ayo mas, kita berangkat!"


"Ayok!", kata mas Aziz.


"Kami jalan dulu ya. Assalamu'alaikum!", kami pamit pada Imah dan hayu.


"Walaikumsalam!", jawab mereka kompak.


Mas Aziz membukakan pintu mobil untukku.


"Silahkan nyonya!", canda mas Aziz.


"Terimakasih tuan."


Kami tertawa bersama.


"Manggil nyonya dan tuan kaya lagi berada di dunia novel ya mas hahahah!"


"Iya, tuan, nyonya, nona, tuan muda dan....!", kata mas Aziz mau meneruskannya.


"Udah mas...nggak usah di lanjutin."


Kami masih tertawa cekikikan.


"Kamu nggak grogi dek?"


"Sekarang belum mas, nggak tahu nanti."


"Bismillahirrahmanirrahim saja ya sayang!"


"Heum! Insyaallah, Allah bantu aku lah mas. Kamu juga mas, selalu dampingi aku."


"Iya lah sayang! Mas sama kamu terus!"


"Tapi mas, kira-kira gimana reaksi mereka ya?", tanyaku.


"Ya...nggak tahu dek. Terserah mereka mau bereaksi apa. Yang penting, nanti di sana kamu menampilkan diri sebaik mungkin. Urusan nanti orang lain menikah seperti apa, ya biarkan saja lah."


"Gitu ya!"


"Mas, aku jadi merasa nggak pede."


"Kenapa?"


"Aku baru nyadar, ternyata kalau aku jalan sebelahan sama kamu timpang banget ya? Apa aku sependek itu? Atau...kamu yang kelewat tinggi?"


"Nggak usah bahas hal yang gak penting. Mau kamu tinggi, mau kamu pendek kek mas tetep cinta. Kamu yang paling cantik. Toh...kalau di ranjang, sama aja kan!"


"Iiihhh...kamu tuh ya mas. Bener-bener harus di rukyah ini mah!"


Mas Aziz tertawa geli.


"Nah gitu dong, jangan tegang mukanya."


Aku tahu mas, kamu hanya ingin melihat ku tertawa saja biar nggak tegang menghadapi pertemuan perdana ku dengan para petinggi perusahaan.


Sabar Diandra...semua baik-baik saja....


*****

__ADS_1


Semoga sukses ya jeng Dian ✌️🤗


__ADS_2