Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 263


__ADS_3

Damar, Fai dan Julian sedikit berlari menuju kamar Aziz. Setelah sampai di sana, para suami menghampiri istri-istrinya. Hanya Julian yang membeku. Ingin menghampiri Diandra, tapi dia sadar bukan siapa-siapa.


"Sayang, Dian kenapa bisa begini ?", tanya Fai pada istrinya.


"Nggak tahu mas, tiba-tiba dia menyalahkan dirinya sendiri mas. dia merasa kalau kematian mama dan celakanya mas Aziz adalah salah Dian", jawab Mika.


"Astagfirullah....!", Fai mengucap istighfar sambil mengusap kasar wajahnya.


"Mbak Hayu bilang....Dian mengalami depresi?", tanya Mika pada suaminya.


"Nanti mas jelasin dek. Mas ke Dian dulu ya!", pamit Fai ke mika. Mika mengangguk patuh. Fai masih sempat mengusap pipi istrinya itu.


Tapi di saat yang bersamaan, Revan justru duduk di sebelah Dian. Fai yang berniat mendekati Diandra jadi menahan langkahnya.


Aku menyadari kehadiran Revan di sampingku. Saat ini aku lebih tenang. Aku sudah tak meracau seperti tadi. Kata istighfar mengalun dalam hati ku, di situ lah aku mulai merasakan ketenangan.


"Aku pikir...kamu sudah tak seperti ini lagi Di?", tanya Revan.


Belum Sempat ku jawab, Fai berdiri di samping ku.


"Kenapa kamu begini lagi Di?", tanya Fai. Aku menatap dua mantan ku ini bergantian.


"Menjauhlah kalian dari ku. Aku tidak ingin ada lagi yang celaka gara-gara aku! Pergilah!", kata ku pelan.


"Di....", ucap Fai dan Revan bersamaan.


"Mas Fai, Revan! Ku mohon jangan dekat-dekat dengan ku. Aku nggak mau ada yang melukai kalian. Cukup mas Aziz dan mama yang jadi korban."


"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri berdasarkan asumsi mu sendiri Di!", Fai berjongkok di samping ku.


Revan menatap Fai, lalu dia pun merubah posisi duduknya.


"Bagaimana kamu akan menopang suami mu, jika kamu serapuh ini Di?", sindir Revan. Sekarang aku yang menatap Revan dengan pandangan tajam ku.


"Apa maksudmu Van? Suamiku pasti akan kembali seperti semula, dengan atau tanpa bantuan ku!"


"Tapi kalau kamu saja begini, bagaimana kamu mau menguatkan Aziz? Dia butuh suport dari mu! Meskipun dalam hati, aku ingin mengambil mu darinya!", kata Revan membalas tatapanku.


Fai mengepalkan tangannya.


Marah mas? Iya lah! Istri dari sahabatnya di inginkan oleh pria lain!


Apa bedanya sama kamu, udah tahu istri sahabatnya tapi kamu masih aja menaruh hati padanya! Batin Fai berperang.


"Jaga ucapan mu Van. Aku memang berhutang budi sama kamu Van. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya bersikap seperti ini padaku!"


"Kalau orang lain mungkin berpikir. Kisah cinta kita cuma cinta monyet. Cinta nya anak remaja. Tapi... kenyataannya tidak begitu Diandra. Aku masih mencintai mu. Dari dulu hingga sekarang!Toh...kita memang belum pernah putus!", kata Revan menatap ku.


Aku meremas ujung jilbabku. Kenapa dua lelaki masa laluku di hadirkan di saat-saat seperti ini.

__ADS_1


"Jaga bicaramu!", kata Fai.


"Rifai! Aku mengenal Diandra lebih dulu dibandingkan dengan mu. Kamu yang masuk ke dalam kehidupan kami!", Revan menuding wajah Fai dengan telunjuknya.


"Cukup!", bentakku.


"Dian, dengerin mas. Semua akan kami cari tahu Di. Berhentilah berpikir yang bukan-bukan. Jangan coba-coba menyalahkan dirimu lagi, dan kami....kami semua akan selalu ada bersama mu."


Meskipun hanya kalimat itu, nyatanya ucapan Fai membuat ku sedikit tenang.


''Tidak ada daun yang jatuh tanpa seizin Allah,


dan tidak ada sesuatu yang basah atau pun yang kering melainkan tertulis dalam Lauhul Mahfudz!",kata mas Fai.


"Semua sudah takdir Di! Tugasmu hanya menjalankan nya. Kamu harus kuat! Jadi Dian yang bisa menjadi pelita bagi semua. Terutama untuk aziz dan Diaz. Bangkit lah! Jangan sampai kamu terpuruk seperti ini lagi!", mas Fai masih berjongkok di hadapan ku.


Apa yang mas Fai bilang benar. Aku harus kuat! Aku harus bisa membuat mas Aziz semangat menjalani keadaan nya yang sekarang.


"Di ...jika suami masih seperti sekarang, bersiaplah. Kamu akan kembali padaku!", kata Revan berambisi lalu bangkit dari kursi di sebelah ku. Aku menatap punggung Revan yang menjauh.


Fai berdiri, lalu memanggil istrinya untuk duduk di samping ku.


"Iya mas?", tanya mika saat sudah berhadapan dengan suaminya.


"Temani Dian, mas mau ketemu Aziz dulu!", titah Fai. Tak lupa ia mendarat kan kecupan di ubun-ubun istrinya.


Mika duduk, dan mengusap bahuku.


"Tenanglah Di, semua akan baik-baik saja!", Mika merengkuh ku dalam pelukannya.


"makasih Mika!", aku pun menyadarkan kepala ku di bahu mika.


Fai mendekati Danar dan hayu.


"Fa, kayanya aku bawa Diaz pulang aja deh! Kasian dia disini kelamaan!", kata Damar.


"Ya udah, kamu bilang aja sama Dian", kata Fai.


"Biar laporan ke polisi jadi urusan saya saja pak Fai, dokter damar!", kata Julian.


"Baiklah, mungkin sebaiknya begitu", kata Damar.


"Kita pamit sama Dian dulu ya pa!", kata Hayu.


"Iya ,Mi!", sahut Damar.


Keduanya pun pamitan,nanti mereka meminta Ujang mengambil asi yang akan dian pumping.


"Anak buah saya akan mengantar anda dok!", kata Julian. Damar mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Demi menjaga Diaz ,dok!" sahut Julian sebelum damar bertanya. Damar pun setuju saja dengan Julian. Ketiganya berjalan ke luar dari rumah sakit.


Fai kini sudah duduk di sebelah Aziz. Aziz seolah tak menghiraukan kehadiran sahabatnya itu. Dengan seksama, Fai memandangi Aziz. Betapa kacaunya kamu Ziz?


"Mau apa Lo?", tanya Aziz datar.


"Diandra kambuh!", kata Fai. Aziz sedikit terkejut. Tapi ...dia paham, wajar jika istri nya kembali begitu. apalagi tadi, sikapnya memang sudah keterlaluan.


"Lalu sekarang? Gimana keadaan Diandra?"


"Sudah lebih tenang, dia bersama Mika di depan. Damar membawa Diaz pulang."


Aziz terdiam, matanya menatap langit-langit ruangan nya.


"Ziz, kamu harus kuat. Kamu pasti bisa melewati semua nya."


"Tapi mama dan mbak Imas ....", kata Aziz tersendat. Air mata nya kembali meleleh.


"Lo masih punya Dian, Diaz , Imah.....Lo nggak boleh lemah. Ada mereka yang harus Lo jaga!"


"Gimana gue mau jaga mereka, Lo liat sendiri! Ngurus badan gue sendiri aja ga bisa. Gimana mau jaga mereka!?!"


"Lo harus yakin, Lo pasti sembuh!"


"Ya, gue harap begitu. Kalo nggak....Revan akan mengambil Dian ku!", kata Aziz. Fai terperangah.


"Revan bicara seperti itu?", tanya Fai.


"Iya!", sahut Aziz datar.


"Nggak usah dengerin omongan Revan. Lo harus yakin Lo bisa kembali seperti sebelum nya!"


"Apa gue pantas mendampingi Dian dengan keadaan gue seperti ini?", tanya Aziz sendu.


"Lo pikir, istri Lo bakal ninggalin Lo karena keadaan Lo seperti ini? Seberapa kenal Lo sama Dian ,hah?!", tanya Fai sedikit emosi.


"Lo menerima keadaan Dian, begitu juga Dian. Dian menerima segala kekurangan Lo. Kalian saling melengkapi!".


"Tapi keadaannya berbeda Fai!"


"Tapi cinta Dian buat Lo masih sama!"


Keduanya saling berpandangan. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka masing-masing.


"Semangat lah untuk sembuh , demi anak istri mu!", Fai menepuk bahu sahabat nya.


*****


Gimana?????

__ADS_1


__ADS_2