
"Berhubung ulat bulu sudah pergi, dan Farhan juga nggak disini Imah mau buka kios lagi ah...kasian kalau ada yang mau beli tapi kios tutup mulu."
"Oh iya Mah, pesenin soto mie buat mama deh. Mau makan dirumah!", ucap Farah.
"Iya ma!"
Imah pun cekatan mengirim pesanan ke Dadan.
"Ya udah, Imah ke depan ya. Nanti kalau A Dadan udah bawain ke sini Imah panggil mama."
"Memangnya harus kang Dadan yang anterin mah?", tanya ku.
"Hehehe ngga juga sih mbak."
"Kan karyawannya banyak."
"Biarin sih Di, orang kalo lagi kasmaran mah emang begitu", sela mama. Aku pun mengiyakan saja.
"Imah ke depan ya!", pamit Imah.
****
"Di, kapan-kapan kita ke Surabaya ya. Nengokin Imas. Kalian sudah lama nggak ketemu kan?", tanya mama.
"Insyaallah Ma, nunggu Diaz gedean ya. Kasian kalo masih bayik begini."
"Iya lah! Mama juga tau lah, sayang banget kalau cucu kesayangan omah kenapa-kenapa di jalan. Besok, kalau kamu udah jalan minta adik ya Diaz. Biar ada temennya, biar rame juga!", Mama berkata seolah Diaz sudah mengetahui bahasa kami kaum dewasa.
"Kasian dong ma, kalau baru bisa jalan malah punya adik. Nanti nggak fokus keurus!"
"Eh...siapa bilang, orang jaman dulu mah bisa aja. Padahal belum ada teknologi kaya sekarang. Bahkan ada yang tiap tahun hamil lho."
"Mama lagi nggak nyuruh Dian hamil lagi kan ma?", tanyaku memastikan.
"Hahahaha.... sekarang-sekarang ya enggak lah.Kali aja entar beres nifas, kamu mau ngejar setoran."
"Mama ih....", aku tersipu malu.
Ting...
[Soto sudah datang mbak]
"Dian ke depan ya Ma. Nitip Diaz. Mau ambil sotonya dulu."
"Iya, tenang aja. Mama juga masih kangen sama cucu mama ini. Hem....", diciumnya terus cucu kesayangan nya.
Aku pun keluar dari kamarku.
"Lho, mas kamu dari mana?"
"Tadi,habis anterin Farhan ketemu Adam di bengkel depan. Ya udah, ngobrol deh!"
"Owh...!"
"Kamu mau kemana dek?"
"Ambil soto pesanan mama. Kata Imah udah sampai kang Dadan nya."
"Kenapa nggak nyuruhnaku aja tadinoas anterin Farhan. Bisa-bisanya Imah aja kali ini mah!"
"Jangan su'udzon ah! Kebiasaan!"
"Iya...iya...ya udah, mas ikut!", Aziz menggandeng tanganku.
'' Kita cuma mau ke kios depan rumah mas, bukan mau nyebrang lautan!"
"Memangnya kenapa? Aku nggak boleh gitu gandeng istriku sendiri?"
"Bukan nggak boleh, tapi kan liat situasi!"
__ADS_1
Cup....
Kecupan singkat mendarat. Aku yang terkejut langsung terdiam.
"Kalau nggak diginiin, kamu masih aja ngoceh. Syndrome emak-emak ,bawel!"
Akhirnya aku dan mas Aziz berjalan bergandengan menuju kios yang hanya beberapa langkah dari rumah induk.
"Ciye... gandengan kaya truk aja!", ledek Imah.
"Pasangan halal Imah, masalah buat Lo?", aku tak mau kalah mendengar ledekan Imah.
"Mana sotonya mah, kang Da....", mataku tertuju pada seorang pria disebelah kang Dadan. Aku yakin mas Aziz pun sama terkejutnya denganku.
"Mas Fai...!", desis ku.
"Mas Aziz, mbak Di. Ini ustadz Ahmad, guru ngajinya Farhan. Tadi mau beli pulsa , jadi saya ajak kesini sekalian anterin pesanan."
"Makasih kang Dadan!", ucap Aziz.
"Apa kabar Ziz, Di?", tanya ustadz Ahmad.
"Ustadz Ahmad kenal sama mas Aziz dan mbak Di?"
"Iya. Bukan hanya kenal, tapi sangat kenal!", ucap ustadz Ahmad.
"Alhamdulillah, kami baik",ucap Aziz datar.
"Berapa lama kita nggak ketemu ya Ziz, Di?", tanya ustadz Ahmad.
"Lima tahun", jawab Aziz singkat.
"Kalian terlihat bahagia sekali ya, harmonis romantis!", ustadz Ahmad melihat tangan Aziz yang masih menggenggam tanganku.
"Alhamdulillah!", ucap Aziz.
Kali ini, Dadan dan Imah yang jadi penonton. Mereka belum paham sama sekali dengan situasi di depannya.
"Aku...nggak tahu harus ngomong apa", aku sedikit gugup menjawab nya.
"Kami sudah bergelar ustadz Fai?", tanya Aziz.
"Gelar ustadz itu, orang yang memberikan nya. Bukan saya. Saya juga masih banyak menimba ilmu."
"Dek, kamu nggak mau bikinin minum buat mas Ahmad Rifai?", tanya Aziz.
"Hem? Oh...iya, sebentar aku bikinin."
"Nggak usah Di!", ucap Ahmad.
"Setelah meninggalkan Dian, kamu ke mana Fai?", tanya Aziz.
Dari sini, Dadan dan Imah mulai paham. Untung saja dari tadi tak ada pembeli.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukannya kamu yang sudah menikung?", tanya Ahmad santai.
"Hahaha tikung ya?", sarkas Aziz.
"Kamu bisa jelaskan dek, biar nggak ada kesalahpahaman lagi?", tanya aziz padaku.
"Hah? Menjelaskan apa? Dan salah paham apa lagi mas?", tanyaku yang memang tak tahu kemana arah bicara mas Aziz.
"Apakah aku menikung mu? Bukankah pak ustadz ini yang sudah meninggalkan mu?", tanya Aziz. Wah...Aziz terbakar cemburu.
"Apaan sih mas, udahlah nggak perlu bahas seperti ini. Malu ada kang Dadan sama Imah!"
"Kamu mau, seterusnya mas dianggap nikung Fai?", mas Aziz beralih menatapku.
"Itu cuma masa lalu mas. Toh, sekarang kita bahagia."
__ADS_1
"Katakan dek!", wajah Aziz mulai serius. Sedang Ahmad justru terlihat tenang, tapi pandangannya menusuk ke araj Aziz.
"Iya, sebelum kita berkomitmen untuk menikah. Aku memang sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan mas Fai."
"Kamu dengar kan Fai?", Aziz beralih menatap Ahmad.
"Kamu yang sudah menikung Ziz, dan kamu Di... tidak bisa bersabar menunggu ku!", ucap Ahmad datar.
"Kamu dengar bukan dek? dia masih mengatakan kalau mas menikung?"
"Kenyataannya begitu Aziz!", meskipun suara Ahmad pelan tapi cukup tegas di dengar.
"Mau apa mas Fai?", tanyaku. Ahmad terdiam.
"Apa perlu aku ceritakan semuanya disini Mas Fa'i? Dihadapan mereka ?", kini giliran ku bertanya pada Ahmad. Sedangkan Ahmad diam tak bergeming.
"Kamu, kamu yang sudah meninggalkan ku tanpa kejelasan setelah tiga tahun kita berhubungan. Dan kamu...kamu minta penjelasan dariku? Sebutkan, wanita mana yang mau digantung bertahun-tahun tanpa kepastian?"
"Kamu saja yang kurang bersabar!", kata Ahmad dingin.
"Iya ya...aku kurang sabar. Kurang sabar menghadapi ego kamu."
"Aku belum siap menikah waktu itu Di. Abahku memaksa ku untuk belajar di pondok. Aku pun tertekan. Apalagi setelah tahu kalau justru Aziz yang mendampingi kamu!"
"Apa tidak salah dengar telinga ku mas Fai?"
"Bertahun-tahun aku menimba ilmu, agar tak mengecewakan Abahku. Berharap kamu masih menunggu ku, tapi ternyata...."
"Sudah lah mas Fai, semuanya hanya masa lalu. Masa depan ku dengan mas Aziz. Dan masa depanmu dengan pasangan mu!"
"Iya. Selamat untuk kalian berdua. Semoga sakinah mawadah warohmah!"
"Terimakasih Fai!", ucap Aziz.
"Ustadz Ahmad belum menikah kan ya?", tanya Dadan. Ahmad pun mengangguk.
"Semoga ustadz Ahmad segera mendapatkan pendamping ya?", Dadan berusaha mencairkan ketegangan di antara mereka. Imah yang biasanya beraksi kali ini pun hanya diam saja. Kurang greget kalau nggak denger komen Imah, iya nggak sih?
"Aamiin... makasih doanya Pak Dadan!"
"Dian, mana soto mama? Lama banget sih?", mama menuju kios sambil membawa Diaz.
"Maaf ma....", ucapku.
"Lho, ini...Rifai kan?", tanya mama.
"Iya tan, Tante Farah apa kabar?"
"Alhamdulillah, kamu sendiri? Kok bisa disini?"
"Iya, tadi habis ngajar Farhan dirumah nya."
"Oh, Farhan ngaji sama kamu? Kayanya waktu itu Tante denger kamu ngajar di sekolah Abahmu ya? Masih ngajar disana?"
"Masih Tante, saya ngajar ngaji hanya untuk mengisi waktu luang saja kok sekalian nambah ilmu."
"Oh, iya...bagus itu. Ya udah Di, kita kedalam dulu ya. Oh iya Dadan ,makasih ya udah repot-repot anterin pesanan saya!"
"Sama-sama Tante."
Mama pun menggandeng tangan ku. Mama tahu kisahku dengan mas Fai. Makannya dulu mama kurang setuju saat Aziz akan menikahi ku.
"Ya sudah Ziz, terimakasih sudah berkenan menemui saya. Sekali lagi selamat, semoga kalian selalu bahagia!", ucap Ahmad tulus.
"Aamiin... terimakasih Fai!", Aziz mengulurkan tangannya. Dan Ahmad pun menyambut uluran tangannya itu.
Akhirnya ustad Ahmad pun meninggalkan kios.
Tapi tidak dengan Dadan, ia masih ingin berlama-lama dengan pujaan hatinya.
__ADS_1