Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 179


__ADS_3

Aku sudah memandikan dan menyuapi Diaz. Sekarang aku berilsiap dengan pakaian longgar ku. Aku putuskan untuk ke butik terlebih dulu. Mungkin mengendarai motor adalah pilihan tepat. Selain bisa nyalip sana sini, juga lebih ringkas. Aku bisa saja mengendarai mobilku, tapi aku sudah terbiasa di supiri mas Aziz. Dan sekarang? Bahkan aku tak tahu di kemana.


Aku menggedong Diaz di depan. Tak lupa ku pakai kan jaket untuk nya. Tak lupa aku menenteng helm.


"Di...mau kemana?", tanya hayu yang baru selesai membuka kios.


"Ke kantor mbak. Faiz mana?"


"Faiz ikut tetangga saya ke TK. biar kenalan sama TK nya. Kamu, ke kantor bawa Diaz? Naik motor? Mas Aziz nya mana?", hayu bertanya beruntun.


"Mas Aziz lagi ada urusan, ngga apa-apa aku naik motor mba. Udah biasa kok. Mau bawa mobil juga malas macetnya mbak."


"Tapi. .."


"Udah mbak Hayu nggak usah cemas, aku bisa kok."


"Kalau emang mau ke kantor, Julian kan bisa jemput. Atau supir kantor mungkin?", sela Hayu.


Aku menggeleng pelan.


"Aku juga ada urusan sebentar sebum ke kantor mbak."


Hayu tidak tahu apa yang terjadi dengan sahabat sekaligus bosnya.


"Ya udah, aku berangkat ya. Oh iya, makan siangnya udah aku siapkan."


"Iya. Makasih. Hati-hati Di, kamu nggak sendirian. Bawa Diaz, jangan ngebut-ngebut."


"Iya mbak Hayu. Aku berangkat ya? Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


Aku pun membuka garasi. Mengambil motor matic ku untuk ku pakai. Padahal motor mas Aziz lebih mudah dijangkau, tapi aku trauma membawa motor yang sedikit lebih besar dari tubuhku.


Jadi, lebih baik aku pakai punyaku sendiri.


Motor ini sudah lama sekali tak di pakai, jadi terpaksa nya harus lebih lama memanasinya sebelum di pakai.


Saat motor sudah sampai gerbang, Imah menghampiri ku.


"Mau kemana mbak?", tanya Imah yang baru saja turun dari motor Dadan.


"Pergi sebentar Mah, ada urusan."


"Mas Aziz mana? Kenapa malah pergi berdua sama Diaz?"


"Mas mu lagi pergi sama mas Fai. ada urusan juga mungkin."


"Mau ke kantor?", tanya Dadan.


"I...iya...!", jawabku.


"Mbak... aku tahu, kamu sedang bohong! Kalau emang nggak mau ke kantor, udah... A Dadan aja yang nganter. Imah nggak mau ya kejadian kemarin terulang, apalagi sekarang mba Dian sama Diaz!"


Apa yang Imah bilang benar, aku sedang bersama Diaz. Aku juga tidak ingin mencelakakan anakku kan?


"Mbak akan hati-hati Mah!", ucapku pelan.


"Mbak Dian lagi emosi. Sini, Diaz sama Imah aja. Kalau mbak emang ada urusan selain ke kantor, AA Dadan pasti mau nemenin. Iya kan A?", tanya Imah pada suami nya .


"Iya." Jawab Dadan singkat.


Imah pun mengambil Diaz dariku.


"Mau naik motor saya aja?", tanya Dadan.

__ADS_1


"Naik mobil aja deh Kang. Saya nggak enak, boncengan sama kamu. Takut ada yang cemburu."


"Mbak Dian... sempet-sempetnya sih mikirin Imah. Mana ada sih cemburu sama kakak sendiri."


"Jadi gimana? Mau naik motor apa mobil?", tanya Dadan memastikan.


"Ya udah deh, naik motor kang Dadan nggak apa-apa."


"Ya udah atuh, gera naik!", pinta Dadan.


Aku pun membonceng Dadan.


"Mah, nitip Diaz ya!", kataku.


"Iya, kalian hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut ya!", pinta Imah.


"Iya", sahut Dadan.


Akhirnya kami berdua berangkat.


"Sebenarnya kita kemana sih mbak?", tanya Dadan penasaran.


"Ke butik kang!", jawabku.


"Owh...ya udah."


Motor pun melesat membelah jalanan kota yang sudah mulai ramai di jam setengah delapan pagi ini.


"Kang, kita jangan langsung masuk ke butik. Awasi depan dulu ya ", aku meminta kang Dadan untuk parkir agak jauh dari pintu masuk butik.


"Kang, itu bukannya motor mas Fai ya?", tanyaku ke kang Dadan untuk memastikan.


"Eh. iya. Apa jangan-jangan mas Aziz sama mas Fai di sini?" tanya Dadan.


"Menyelidiki apa mbak Di? Kaya lagi main detektif-detektifan aja sih?", kata Dadan. Mau tak mau, aku menunjukkan video mas Aziz dengan perempuan itu.


"Ya Allah, mas Aziz apes lagi?", tanya Dadan.


"Entahlah kang!", jawabku singkat. Aku masih menatap arah pintu masuk butik. Berharap mas Aziz dan Fai keluar.


Berbeda dengan Dadan, dia menatap sebuah mobil yang dia kenal.


Kaya mobil mama Farah? Tapi...kok yang keluar cewek, dan...itu...cowok! Masa iya mama jual mobil nya? Batin Dadan.


"Mbak....mbak Dian!", panggil Dadan.


"Kenapa kang?"


"Mama Farah udah pulang ke sini?", tanya dadan.


"Belum kang, mungkin bulan depan."


"Tapi .. lihat deh, itu mobil mama. Tapi yang bawa... cowok mbak!"


Aku mengalihkan pandanganku ke arah yang Dadan maksud.


Iya benar, itu mobil mama. Dan...itu kan mas Rasyid??? Perempuan itu keluar dari mobil mama yang mas Rasyid bawa.


Apa ini ya Allah? Batinku.


"Iya kang, itu mobil mama."


"apa mama menjual mobilnya?"


"Tidak mas. Itu....mas Rasyid, suaminya mbak Imas. Kakak nya mas Aziz "

__ADS_1


"Owh....!"


"Eh...tapi... perempuan itu...sama kaya yang di video deh mbak!", kata Dadan. Itu artinya aku tidak salah mengenali bukan.


"Benar kang. Tapi kenapa mas Rasyid bisa sama perempuan itu?", tanyaku sendiri.


Kami berdua saling bertatapan. Mungkin kang Dadan sepemikiran dengan ku.


"Kita samperin mereka mbak?", tanya Dadan.


"Jangan, kita lihat. Mereka mau apa? Di dalam kan juga ada mas Aziz."


"Eh, liat deh. Kenapa mereka nggak parkir aja di dalam. Dan... kenapa cuma tuh cewe yang masuk?", tanya Dadan padaku.


"Nggak usah di tanya kang Dadan, aku juga sama-sama nggak tahu!", sahutku. Dadan pun cengengesan.


"Kita awasi di sini? Main detektif-detektifan?", tanya Dadan lagi.


"Terserah kang Dadan aja!" sahut ku.


******


Sonia melangkah pasti ke dalam butik. Dengan percaya dirinya, ia menghampiri Rani lagi.


"Mbak Rani, apa pak Aziz sudah datang?", tanya Sonia.


"Dari mana anda tahu mas Aziz akan ke sini ya mbak?", tanya Rani.


"Tau aja lah."


"Ya sudah, silahkan duduk."


Aziz dan Fai serta si ob menghampiri Sonia.


"Hei ganteng....ah...ada cowok ganteng satu lagi!", pekik Sonia menatap kagum pada Aziz dan Fai sekaligus.


Tapi dia tertegun, si ob ada di antara mereka.


"Kamu kenal sama cewe seksi ini?", tanya Aziz pada Si ob. Si ob hanya menggeleng.


"Maksudnya apa ya?", tanya Sonia pura-pura.


Seorang sekuriti berbisik pada Aziz. Lalu Aziz pun mengangguk.


Aziz mengahampiri Fai, lalu pergi begitu saja meninggalkan Fai , Sonia dan si ob.


"Hai tampan...ke mana?", teriak Sonia tidak tahu malu.


Kini matanya beralih ke Fai.


"Kamu juga nggak kalah ganteng sih ...!" ,puji Sonia pada Fai.


Menggelikan sekali wanita ini!


Aziz keluar dari butik, mengekor sekuriti.


Di dalam pos satpam, Aziz menatap layar monitor satu per satu. Dia tersenyum melihat istri dan adik iparnya di seberang jalan. Meskipun jauh, dia sudah hafal betul jika itu istrinya.


Sedang di sisi lain, Aziz melihat seseorang bersandar di mobil Mamanya.


Aziz tak bisa melihat wajah orang itu. Hanya saja Aziz hafal dengan mobil mama nya.


******


Tebak-tebakan nya dikit aja y??? Takut ada yang bosen.😆😁

__ADS_1


__ADS_2