Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Cuma sepupu


__ADS_3

"Jadi ini usaha kecil-kecilan mu Ziz?", tanya Feby sambil memindai tiap sudut kiosku.


"Iya Feb, Alhamdulillah biar kecil yang penting bisa menghidupi keluarga ku."


"Oke....whatever lah."


"Kamu ada perlu apa kemari?"


"Tadinya cuma lewat sana,tapi pas inget alamat kamu Deket sini ya mampir sekalian nggak apa-apa kan?"


"Ya... nggak apa sih." Ekspresi Aziz biasa saja. Feby memang tak secantik Lili, tapi dia terlihat anggun dan rapih dengan pakaian ala orang kantoran.


"Oh iya, Dian sama Diaz mana? Kamu nggak mau mempersilahkan tamu masuk ke rumah?"


"Emm... maaf-maaf, tapi...Dian sama Diaz baru saja istirahat.Bukannya nggak mau mempersilahkan kamu bertamu Feb,tapi...Dian baru saja istirahat."


"Owh...okey... mungkin lain kali ya Ziz?"


Aziz pun mengangguk.


"Adik ipar, dari tadi diam saja? Sariawan ya?"


Imah yang sejak tadi memandang Feby jadi terkejut tapi tak bersuara.


"Imah? Halooo?", tangan Feby melambai didepan wajah Imah.


"Kamu manggil saya mbak?"


"Iya lah".


"Owh....", hanya itu jawaban Imah.


"Kenapa tadi kamu menolak saya bayarin belanjaan?"


"Saya belanja ke sana, berati saya punya uang mbak. Masa ke sana mau minta, apalagi minta dibayarin situ."


"Bukan gitu ,mah."


"Apalagi mbak Feby sama mbak Lili tadi berantem rebutin mas Aziz.Kalian aneh. Apa sih yang dilihat dari mas Aziz?"


Imah melirikku tajam. Sebenarnya dia mau menjatuhkan ku atau mau menginterogasi Feby sih?


"Heheeh kamu lucu, masa mas mu disepelekan begitu sama adiknya ."


"Saya cuma adik sepupu mbak. Jangan berlebih-lebihan memperlakukan saya."


"Owh.... cuma sepupu?"


"Iya. Jadi, mulai sekarang nggak usah sok akrab panggil saya adik ipar.Jelas?"


"Ya...tapi kan emang adik sepupu kan? Buktinya kalian begitu akrab, melebihi saudara kandung."


"Itu bukan urusan kamu Feby!", mas Aziz mulai bersuara.


"Iya sih, tapi...kalau dekat begini....apa kalian nggak ada rasa yang lebih dari sekedar saudara?"


"Maksud kamu bicara seperti itu apa ya mbak?",kini Imah yang mulai terpancing.

__ADS_1


"Ya...cerna sajalah sendiri."


"Kamu ,kalau datang cuma mau bikin keributan mending pulang aja." Mas Aziz berkata penuh penekanan.


"Keributan apa sih?"


"Jangan menimbulkan spekulasi yang bukan-bukan Feb!"


"Hahaha...tuh kan kalian emosi, berarti iya dong kalau kalian ada hubungan diam-diam dibelakang Dian. Kasihan banget ya Dian....", ucap Feby dibuat-buat.


"Udah mas, terserah dia mau ngomong apa.Toh yang jelas ,kita bersaudara nggak aneh-aneh. Aku juga punya pacar. Emang situ, udah tahu mas Aziz punya anak istri masih ngejar-ngejar. Ga duwe isin!"


"Hey...!", bentak Feby.


"Cukup Feb, silahkan pulang."Aziz mulai emosi.


"Mbak, bukannya sampeyan ini orang kaya,orang terhormat, keluarga nya punya rumah sakit besar lho. Tapi kelakuan mu kaya orang ga pernah makan genteng sekolah."


"Imah, berani kamu bicara seperti itu sama saya?"


"Ihhh....takut mas....", Imah menggelendot manja ke Aziz.


Wajah Feby memerah. Emosi nya sudah diubun-ubun menghadapi bocah Jawir di hadapan nya. Lalu, akhirnya Feby pun meninggalkan kios Dengan menghentakkan kakinya menuju mobil yang terparkir diseberang jalan.


Aziz dan Imah tertawa melihat ekspresi Feby.


"Udah ,ga usah ngelendot. Ntar dikira beneran lagi kalo kita punya maksud lain."


"Dih...ogah... amit-amit deh ah!", Imah menghentakkan tanganku. Hahahha Imah...Imah... andaikata aku mengenal mu sejak kecil, kupastikan aku sudah menganiaya mu sejak dulu.


"Udah, kenapa emangnya?"


"Kamu tahu kalau dia duda beranak satu?"


"Hah?Masa sih?", Imah mendekat padaku.


"Oops...kirain tahu."


"Nggak. Dia nggak pernah cerita."


"Tapi kang Dadan baik kan sama kamu?"


"Ya ...baik lah."


"Terus.... kalo kamu tahu ternyata dia tuh dus beranak satu, kamu masih mau jalan sama dia?"


"Kenapa nggak?"


"Hah? Masa kamu biasa aja, nggak ngerasa dibohongi gitu?"


"Kamu mau menjatuhkan A Dadan apa gimana sih mas?"


"Bukan lah mah, tapi kan sayang aja gitu...kang Dadan aja usianya lebih tua dari mas.Kelihatanmya begitu."


"Masalah nya apa? Ya biarain aja dia duda punya anak, Imah aja janda kok. Cuma bedanya ,Imah janda tapi masih perawan. Weeek.....!", Imah meninggalkan ku.


Aku bahkan lupa kalau Imah pernah cerita dia dinikahkan dengan aki-aki. Tapi sebelum malam pertama, si aki meninggal. So....Imah jadi suruh bayar kompensasi gara-gara ibu tirinya sudah menerima uang dari almarhum suami Imah.

__ADS_1


Nasib mu mah.....


****


"Mas, makan malam dulu!", pntaku pada mas Aziz yang masih tadarus di kamar ku.


"Iya."


"Aku panggil Imah dulu ya?"


"Iya dek."


Aku pun meninggalkan kamar ku, Diaz masih terlelap dalam box bayi nya.


"Imah...makan malam yuk!", ajakku.


"Iya ntar, gampang mbak.Ini, lagi ramai kiosnya. Mbak makan aja dulu, nanti...Imah pengen keluar sama A Dadan, boleh kan?"


"Udah ijin sama mas mu?"


"Belum sih mbak."


"Kalau sama mbak boleh aja mah. Asal jangan kemaleman pulang nya. tapi, kamu harus ijin dulu sama mas mu."


"Emm...iya deh mbak."


"Ya udah, ntar jam delapan kamu tutup aja."


"Nggak usah mbak. Paling Imah cuma makan di depan sana, tutup kaya biasa aja nggak masalah."


"Oh, ya udah terserah kamu."


"Sip lah mbak."


****


"Mas, Imah ijin kelur sama A Dadan sebentar ya?"


Imah mengahampiri Aziz yang sedang menonton berita di televisi.


"Mau kemana?" tanya mas Aziz.


"Paling makan di depan."


"Ini udah jam sembilan lho mah."


"Udah mas, nggak apa-apa lah. Lagian cuma sebentar. Iya kan mah?" ,aku mencoba membujuk mas Aziz agar mengijinkan Imah keluar.


"Ya udah, kalau Kanjeng ratu sudah bilang, mas bisa apa."


"Heheh...makasih mas...mbakku?", Imah memelukku.


"Mbak doang yang dipeluk?", Aziz pura-pura merajuk.


"Tuh mbak...mas Aziz begitu....", Imah manyun.


Aku dan Aziz tertawa melihat ekspresi Imah.

__ADS_1


__ADS_2