Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Bingung


__ADS_3

"Aziz, kamu pemilik kios ini?",tanya Abah.


"Iya bah, ini Diandra istri Aziz, Diaz anak Aziz dan itu Imah, adik sepupu aziz bah. Anaknya almarhum om Setiawan."


Abah semakin bingung, atau jangan-jangan yang bikin Fai sering ke sini...gadis yang bernama Imah itu? Atau...Diandra, mantannya sekaligus istri dari sahabat nya. Ini sulit di percaya!


"Fai, jelaskan sama Abah!"


"Apa yang harus Fai jelaskan Abah!"


"Apa kamu sering ke sini gara-gara ingin menemui Diandra yang sudah menjadi istri sahabat mu, atau karena gadis itu?", Abah menunjuk Imah. Imah yang merasa di tunjuk hanya geleng-geleng kepala.


"Bah, semua prasangka Abah tuh salah. Fai cuma pengen ketemu Aziz. itu aja bah!"


"Setiap hari?"


"Bah, kami berteman sudah lama!"


"Dan kamu ziz, kamu menikahi mantan kekasih sahabat mu sendiri?"


"Abah, kan dulu Abah yang minta Fai buat mutusin Dian. Ya udah, dari pada nganggur Aziz embat aja!",aziZ melirik sahabat nya yang ada di hadapannya itu. Aku mencubit perut mas Aziz.


Fai menatap Aziz tak kalah tajam


"Fai tidak ada hubungan apa-apa lagi sama Dian. Kami bertiga murni berteman. Dan ,Imah...Fai juga nggak ada hubungan apapun sama dia. Abah percaya aja, suatu saat nanti Fai bisa memiliki pasangan sendiri. Nggak usah jodoh-jodohin Fai lagi."


Jiwa iseng Aziz pun muncul, sekalian ajang balas dendam karena Fai suka mengerjainya.


"Abah, Fai emang udah tua bah. kayanya nggak ada salahnya Abah nyariin jodoh buat dia. Mau tunggu sampe kapan coba ya bah!", Aziz memanas-manasi Abah. Aku cuma bisa mengelus dadaku melihat tingkah suamiku.


"Abah udah sering jodohkan dia dengan anak-anak teman Abah. Tapi gagal semua Ziz!"


"Sabar bah, coba Abah cariin yang...em...sedikit lebih muda dari istri aziz. Biar...Fai ikut kebawa muda gitu bah....hahahaha!"


Brukkk!


Fai melemparkan buku yang tadi sempat kulemparkan ke mas Fai.


"Hei, sakit bro!"


"Bisa diem nggak tuh mulut!", kata Fai geram.


"Abah pusing dengan kalian semua. Bisa darah tinggi Abah lama-lama disini."


Abah pun kembali ke mobil sedannya.


Aziz masih terus menertawakan sahabat nya itu.


"Gara-gara Lo ngambil jodoh gue, gue gak kawin-kawin Aziz!"


"Enak aja, Diandra jodoh gue. Weeekkk!!"


"Kalian berdua bikin malu aja!", aku meninggalkan kios dengan perasaan dongkol.


Di mobil mewah, pria tua itu mengusap kening nya.


"Pulang pak!", titah nya pada sang supir.


"Baik pak haji!"


"Eh...gini aja imah,dari pada kamu patah hati gegara gagal nikah sama kang Dadan, mending kamu sama mas fai. Jadi, Fai bisa jadi ipar mas kan? Kita bisa double date tiap hari pasti seru mah, Fai!"


"Ogahhh!!!",seru Imah dan Fai kompak. Aziz terbahak mendengar jawaban kompak mereka. Iya lah, Aziz tahu kalau Imah cinta banget sama Dadan. Apalagi Fai, dia masih tergila-gila dengan istrinya sendiri.


"Lo bener-bener jatuhin gue di depan Abah. Bales dendam Lo ya Ziz?"


"Emang... keberatan lo?"


"Liat aja, ntar gue balas dendam!"

__ADS_1


"Coba aja!", tantang Aziz.


"Udah ah, gue pulang. Punya temen somplak, bikin malu. bikin kesel. Euuuggghhh!", Fai meremas kedua tangannya sendiri.


"Ya udah sono pulang, awas kalo ntar malem ke sini lagi !"


"Terserah gue lah! Kalau Lo ngga nemuin gue, seenggaknya mantan gue mau ketemu gue!"


"Sialan Lo ustadz kawe. Para ustadz pasti malu mengakui Lo sebagai salah satu dari mereka!"


Fai tak menjawab lagi ocehan Aziz, motornya menjauh dari kios.


"Ini mah, beresin!"


Aziz menyerahakan barang belanjaannya. Lalu masuk ke ruang induk.


****


"Diaz diajak mas?"


"Iya, nanti pas kamu kontrol mas gendong Diaz d luar."


"Ya udah deh."


"Mah, mbak sama mas mau ke rumah sakit dulu ya. mau kontrol kaki mbak!"


"Iya mbak. eh,Diaz di ajak tah?"


"Iya, ntar mas Aziz tunggu di luar kalau mbak lagi periksa."


"Oh,ya udah hati-hati ya?"


****


"Mas, nanti habis kontrol boleh nggak aku jenguk mbak Feby?"


"Ya jenguk lah mas."


"Tapi dia itu kan..."


"Sekarang kan enggak mas!"


"Terserah kamu deh dek!"


Mas Aziz hanya mengantar ku ,aku masuk ke ruang priksa sendiri. Alhamdulillah luka ku sudah membaik, tidak ada yang perlu di cemas kan. Aku bermaksud menengok mbak Feby, tadi mas Aziz sudah memberi tahu dimana ruangan Feby.


Tok...tok...


Aku membuak pintu kamar rawat Feby. Kulihat Mbak Feby yang tergeletak di brankar dengan wajah pucatnya. Ternyata, kang Dadan dan Farhan ada disana.


"Tante Di...!", sapa Farhan.


"Mbak Di!",sapa Dadan.


"Gimana keadaan mbak Feby kang?"


"Iya, seperti yang mbak Dian lihat!"


Mendengar namanya disebut, feby pun terbangun.


"Dian...!", panggil Feby pelan.


"Mbak feby, gimana keadaan mbak Feby?"


"Kamu ke sini Di? Maafkan aku ya Di, selama ini mengusik rumah tangga mu!"


"Iya mbak, saya maafkan kok. Mbak Feby cepat sembuh ya!"


"Aku nggak akan sembuh Di. Imah nggak ikut?"

__ADS_1


"Enggak mbak."


"Kebetulan ada mbak Di. Tolong bilang sama Imah, dia tidak perlu membatalkan rencana pernikahan nya demi aku Di."


"Mama....!", kata Farhan.


"Sini Nak!", Farhan pun mendekati Feby.


"Han, mama sayang sama Farhan. Tapi, ayah juga sayang sama kak Imah. Kita nggak boleh egois."


"Ma, tapi Farhan....!"


"Sekali... sekali ini saja nurutin permintaan terakhir mama!"


"Ya Allah mah, mama kenapa bicara begitu!"


"Mbak, mbak Feby ngga boleh bicara seperti itu. Mbak Feby harus yakin, mbak Feby bakal sembuh!"


"Di, kalau aku ngga ada. Titip Farhan ya Di!"


"Astagfirullah, mbak Feby ngomong apa sih kamu mbak!"


"Dadan...titip Farhan ya. Tolong, lanjutkan pernikahan mu dengan Imah. Aku yakin, Farhan pun pasti bahagia jika kalian bersama."


"Tapi Farhan pengen nya mama yang menikah sama Ayah mah!"


"Nggak bisa sayang. Dengar mama, ayah adalah orang paling berjasa dalam hidup mu. Apa kamu tega melihat ayahmu sedih Han?"


Farhan kecil pun menggeleng.


"Di, sekali lagi aku minta maaf."


"Iya mbak!"


"Han, mama tidur dulu ya. Mama capek!"


"Iya ma, mama istirahat aja."


Feby pun memejamkan matanya.


"Kang Dadan, saya pulang ya. Mas Aziz udah nungguin di depan."


"Iya mbak. Makasih udah mau jenguk Feby!"


"Sama-sama Kang! Han, Tante pulang ya!"


"Iya Tante Di!"


Aku pun keluar dari ruangan Feby menyusuri lorong rumah sakit. Tiba-tiba ada yang mendorongku.


"Aww....", untungnya aku terjerembab ke tembok.


"Mbak lili?!"


"Masih hidup Lo?"


"Apa maksud mu mba?"


"Hah!", jawabnya jengah.


"Mbak lili, aku punya bukti kalau mbak lili yang mencelakakan aku."


"Apa katamu?"


"Iya, mas Fai sudah mendapatkan bukti itu. Mbak lili siap-siap saja mendekam di penjara jika masih mengganggu keluarga ku!"


Dengan langkah tegap aku meninggalkan nya. Untung kaki ku sudah mulai normal.


Kita lihat mbak lili, kamu akan sekuat apa mengelak perbuatanmu. untuk saat ini, mungkin aku masih bisa melindungi mu. Tapi entah berapa waktu yang akan datang.

__ADS_1


__ADS_2