
"Baik lah!", hayu menjeda ucapannya. Damar pun mendongak menatap wajah ayu perempuan yang pernah ia cintai sekaligus ia hancurkan.
"Saya memaafkan anda pak dokter, tapi maaf...saya harap ini pertemuan pertama dan terakhir kita!"
"Stev! Aku tahu. Meminta maaf tak merubah apa pun . Tidak bisa mengobati sakit hatimu, tidak bisa merubah masa lalu mu!"
"Iya, itu anda tahu!", lagi-lagi suara Hayu semakin jelas terdengar meski ia tak menampakkan wajahnya langsung untuk menatap damar.
"Maaf, menggangu sebentar. Ini minum nya, silahkan !"
"Makasih Di!", ucap damar. Aku pun bermaksud meninggalkan mereka untuk duduk di sofa ruang tv.
"Mbak Dian, tolong temani saya!", kata Hayu. Aku menatap Damar, damar mengangguk setuju. Akhirnya aku memilih duduk di sebelah Hayu.
"Apa tidak apa -apa kalau aku mendengar obrolan kalian?", tanyaku.
Mereka berdua kompak menggeleng.
"Stev! Aziz bilang, saat ini statusmu sendiri?", tanya Damar.
"Iya. Aku memang janda mas!", kata Hayu. Kata-kata 'sendiri' terdengar terlalu di buat-buat oleh dokter di depannya ini.
"Maaf, maksud ku....!"
"Aku janda. Mas Royan sudah tidak ada lagi. Satu-satunya laki-laki yang bisa menghargai ku. Menganggap ku ada. Menyayangi ku dengan tulus, menerima kekurangan ku. Dan mau menerima serta memungut sampah bekas orang lain dengan hati dan tangan terbuka!",suara Hayu kini bergetar hebat. Hampiri dua belas tahun dia tidak bertemu dengan pria yang sudah mengambil miliknya, kini dia di pertemukan kembali dengan keadaan yang sudah sangat berubah.
Aku merangkul bahunya, berusaha menguatkan nya. Iya, aku memang tidak tahu pasti seperti apa masa lalu mereka. Yang aku lihat saat ini adalah Hayu benar-benar merasa dia berada di titik terendah dalam hidup nya.
" Stev...maafkan aku!", damar semakin menyesal. Aku melihat air mata dari pria itu meluncur hebat. Terlihat betapa menyesalnya dia dengan apa yang sudah terjadi saat itu.
"Kamu sudah mendapatkan semuanya kan dokter Damar Prihandi Gunawan?", sarkas Hayu.
Damar hanya mampu mendongak menatap perempuan berbibir mungil itu.
"Stev...! Ku mohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya!", kata Damar lagi.
"Semua sudah selesai pak dokter. Semua sudah berakhir bersamaan dengan kepergian mu saat itu. Hati. Perasaan. Maaf. Bahkan ingatan tentang anda sudah mati!" kata Hayu.
Ya Allah, aku pernah berprasangka buruk padanya. Maafkan aku ya Allah, Stevi sudah merasakan hal pahit itu dari usia mudanya.
"Aku akan bertanggung jawab padamu!", kata damar lantang.
"Tanggung jawab? Tanggung jawab apa yang akan kamu berikan padaku? Apa kamu bisa mengembalikan anak ku?",tanya Hayu.
__ADS_1
Damar menatap sendu pada gadis pujaan nya itu.
"Tidak. Anda tidak perlu bertanggung jawab apapun pada saya!"
"Jadi, kamu memilih Rifai yang menafkahi mu setiap bulan?", tanya Damar.
Hayu menatapku? Rifai? Siapa?
"Mbak, mas Fai itu... pemilik yayasan tempat almarhum mas Royan mengajar. Dari yayasan , sebenarnya tidak ada kebijakan seperti yang mbak pikir. Itu murni inisiatif mas Fai. Tapi...mas Fai tidak tahu mbak Hayu. Yang dia tahu, dia hanya memberikan gajinya pada istri almarhum mas Royan. Itu saja mba Hayu!"
Jadi, pria tampan yang ku lihat kemarin adalah...orang yang sudah berbaik hati memberikan gajinya padaku? Batin Hayu.
Aku melihat Hayu terdiam, apa dia sedang memikirkan Mas Fa'i? Aku bertanya pada diriku sendiri.
"Stev...mungkin... Royan lah yang mampu membuat kamu seperti sekarang. Dia bisa manjadi pembimbing mu, tapi...aku mohon. Aku ingin menebus kesalahanku tiga belas tahun yang lalu Stevia?!", Damar memohon.
"Lebih dari dua belas tahun saya sudah melupakan anda dokter Damar!"
"Stevia...! Hingga detik ini aku masih mencintai mu, hanya mencintai mu. Aku tidak pernah tertarik pada wanita manapun hingga detik ini. Aku berusaha untuk legowo saat tau kamu sudah menikah. Dan sejak saat itu pula, aku sudah menutup hatiku untuk perempuan manapun!", Damar berkata dengan sungguh-sungguh.
Subhanallah, aku sedang melihat drama yang nyata di depanku? Gumamku sendiri.
"Jika sudah selesai, saya mau kembali bekerja. Permisi!", ada sisa tangis di wajah Hayu.
Hayu yang tadinya berdiri kini kembali terduduk. Apa Faiz mendengar perkataan demi perkataan kami tadi?
Faiz mendekati uminya. Damar menatap balita tampan itu mendekati Hayu.
"Umi? Umi menangisi lagi?", tanya Faiz.
"Nggak Faiz, tadi umi kelilipan aja kok!", Hayu mengusap lembut rambut anak itu. Hati damar merasa tercubit dengan pemandangan di hadapan nya. Stevia, dia tulus menyayangi anak itu meskipun bukan darah dagingnya sendiri.
"Umi, bukankan umi sudah berjanji pada Faiz?", tanya anak itu.
Hayu mengangguk pelan sambil menitikkan air matanya.
"Kalau umi ingat janji umi, kenapa umi masih menangis? Umi berjanji kan, kalau umi tidak akan menangis lagi setelah Abi pergi?", tanya Faiz lagi. Hayu justru semakin tergugu. Faiz satu-satunya yang ia miliki saat ini. Karena Faiz pula, dia bertahan hingga detik ini.
Apakah Hayu benar-benar sudah melupakan ku? Mencintai Royan sebesar itu??? Damar terus bermonolog.
"Iya. Umi janji, nggak akan nangis lagi kok nak!", kata Hayu. Aku begitu trenyuh melihat pemandangan ini. Kasih sayang Hayu tidak perlu diragukan. Aku tidak percaya jika dia memiliki masa lalu yang kelam.
"Apa om itu yang bikin umi nangis lagi?",tanya Faiz lagi.
__ADS_1
Hayu menggelengkan kepalanya.
"Maaf mbak Dian, saya kembali ke kios saja. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
Hayu pun berlalu melewati dapur menuju kios lagi.
"Umi, Faiz bobo di kamar Tante Imah lagi ya?"
"iya Nak!"
Hayu pun sudah berada di kios lagi. Aziz memandang perempuan itu dengan tatapan sendu. Aziz sudah memprediksi, ini akan terjadi. Tidak semudah itu Hayu bisa memaafkan Damar.
Karena Hati sudah kembali, Aziz pun kembali ke rumah membawa Diaz.
"Dek!", panggil Aziz. Aku pun menghampiri mas Aziz yang baru datang dari pintu belakang.
"Sama bunda ya Nak!", kata Aziz. Saat ini ,mungkin Diandra sedang melupakan kemarahan nya padaku. Tapi nanti ????
Aku pun kembali ke kamar , mengajak Diaz untuk tidur di ranjang ku.
Aziz menghampiri sahabat nya. Menepuk bahu dokter muda itu.
"Mendapatkan maafnya saja gue gagal Ziz! Apalagi harus menebus dosa di masa lalu ku ?", suara damar terdengar putus asa. Kemarin, mereka bertiga bisa saja saling meledek, menertawakan. Tapi saat ini? Damar seperti bukan damar yang kemarin.
"Jangan menyerah Dam. Insyaallah, niat baik pasti ada jalannya."
"Apa pantas kesempatan itu buat gue Ziz?", tanya Damar putus asa.
"Ayolah...ini bukan Lo banget!"
"Gue iri sama Lo Ziz!", kata Damar sendu.
"Lo belum tahu, badai apa yang sudah gue lalui sama Diandra! Lain kali gue ceritain deh. Mending sekarang Lo pulang, Lo tenangin diri Lo. Beri hayu kesempatan juga untuk berpikir."
"Oke. Gue pulang ya. Thanks ya bro , udah bantu gue nemuin pujaan hati gue."
"Iya."
"Ya udah, gue pulang. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
__ADS_1