
"Mas... jangan salah persepsi begitu. Kamu tahu mas, aku nggak ada maksud buat ngecilin kamu."
Aku berlari agak terburu-buru karena langkah kaki jenjang mas Aziz tak dapat ku imbangi.
"Mas....!", aku menarik tangannya. Tapi justru aku yang keseret-seret mengikuti langkah nya.
"Mba Dian....mas Aziz!", panggil seseorang, yang tak lain adalah pak Budi.
"Eh, mister Julian!", pak Budi tertunduk menghormati Julian.
"Pak Budi....!", spontan, mas Aziz menghentikan langkahnya.
Alhamdulillah, makasih pak Budi. Seruku dalam hati.
Julian masih setia di belakang kami yang masih dalam mode ribut.
"Mas Aziz sama mbak Dian kerja di kantor ini lagi?", tanya pak Budi.
Aku dan mas Aziz mengangguk kompak. Berbeda dengan Julian, dia tampak mendelik ke arah pak Budi. Hanya saja pak Budi tak melihatnya.
"Iya pak Budi", jawab mas Aziz singkat. Aku tersenyum kecil. Meskipun mas Aziz sedang marah padaku, tapi dia tak menunjukkan kemarahan nya pada pak Budi.
"Owh....tahu gitu mah saya bawain masakan istri saya mbak Dian. Istri saya sudah mulai jualan lagi. Ini....juga berkat mbak Dian. Uang yang mba Dian kasih kemarin, bisa buat modal dagang istri saya."
"Oh ya...? Alhamdulillah atuh pak Budi. Berarti istri pak Budi sudah sehat?"
"Alhamdulillah mbak Dian!"
"Syukurlah kalau gitu, saya ikut seneng denger nya pak!"
"Maaf mas...mba....saya perhatikan dari tadi, seperti nya kalian lagi bertengkar ya?"
Mas Aziz melirik ku.
Julian bahkan terkejut, kenapa pak sekuriti bisa bertanya seperti itu. Dia saja tidak berani' komentar dengan pertengkaran bos nya.
"Nggak kok pak Budi."
Aku jawab sekenanya saja.
"Mbak Dian sudah saya anggap anak sendiri. Mas Aziz juga. Maaf ya....kalau saya lancang. Sebagai orang tua, saya cuma mau nasehatin. Kalau kalian sedang bertengkar, lebih baik jangan di tempat umum. Kalian bisa bicara berdua, tanpa di lihat orang lain. Bisa saja pertengkaran itu di lihat orang lain, dan bikin...salah satu pasangan atau keduanya menjadi jatuh harga dirinya. Karena anggapan orang lain yang sebenarnya tidak tahu apa permasalahannnya!"
Pak Budi mengusap lengan Aziz.
Wah... sekuriti ini tidak tahu berhadapan dengan siapa! Batin Julian.
"Iya pak Budi. Terimakasih atas nasehatnya."
Aziz mulai melunak.
"Kalau gitu, mulai besok saya mau bawain makanan buat mbak Di sama mas Aziz ya. Sebagai ungkapan terimakasih saya!", kata pak Budi.
"Jangan repot-repot begitu lah pak Budi!", kata Aziz, bukan maksud tidak menghargai hanya saja Aziz merasa tidak enak. Takutnya malah membebani pak Budi sendiri.
"Nggak repot lah. Kan kalian baik sama saya, jadi saya juga wajib baik sama kalian." Pak Budi tersenyum dengan tulus.
__ADS_1
Julian hanya mampu melihat keakraban mereka.
"Mas...minta duit?!", kataku pada mas Aziz. Mas hanya memicingkan sebelah matanya.
Tapi, dia tak bertanya apa pun. Justru menyerahakan dompetnya padaku.
"Nih, mas mau ke dalam duluan. Mau ke toilet!", dompet itu di letakan di telapak tangan ku. Aku pun dengan senang hati menerimanya.
Bu Dian ada-ada saja, udah tahu suaminya lagi marah. Malah di mintain duit! Batin Julian.
Aku membuka dompet mas Aziz, ku ambil sepuluh lembar uang berwarna merah .
"Pak Budi, besok kan hari Jumat. mulai Minggu ini, kita kaya dulu ya pak. Bagi makan siang buat anak-anak OB, Cs sama pasukan keamanan. ini, terima ya. Kalau kurang bilang aja sama saya atau mas Aziz. Kan saya nggak tahu berapa tepatnya kalian."
Ku berikan uang itu pada pak Budi. Julian pun melongo dengan adegan di depannya.
Mas Aziz malah meninggalkan ku di parkiran bersama pak Budi dan Julian .
"Mbak Dian....!", kata pak Budi pelan.
"Tapi rahasia kita ya pak! Lumayan kan jadi teman-teman pak Budi makan siang buatan istri pak Budi."
"Tapi mbak Dian....!", pak Budi tersendat-sendat ingin bicara.
"Jangan ditolak. Nanti saya marah lho pak?!"
Pak Budi tersenyum sumringah.
"Mbak Dian nggak berubah ya!", pak Budi jadi terharu.
"Lho...kok malah melow sih pak Budi. Sekuriti tuh harus garang!", candaku.
Pak Budi jadi menangis terharu.
"Ishhh....pak Budi mah mujinya berlebihan. Saya nggak sebaik itu pak!"
"Mari Bu Dian, rapat sebentar lagi di mulai!", Julian mempersilahkan ku.
"Ah, iya saya lupa mas Jul. Ayo deh!", ajakku ke Julian.
Julian mengangguk patuh.
"Pak Budi, kalau saya boleh request saya pengen semur telor nya aja ya hehehe!"
"Siap mbak Dian!", kata pak Budi yang sudah kembali sumringah.
"Ya udah pak Budi, saya masuk duluan ya!", aku pamit.
"Silahkan mbak!", kata pak budi. Aku pun mendahului Julian.
Julian mendekati pak Budi.
"Ada yang bisa saya bantu mister Julian?", tanya pak Budi sopan. Dia merasa tak Enak sendiri, dari tadi dia malah sibuk mengobrol dengan Dian dan Aziz.
"Kamu tahu siapa yang kamu ajak bicara tadi?", tanya Julian pada pak Budi dengan tatapan dingin nya.
__ADS_1
"Iya pak. Mbak Dian dulu karyawan di sini. Dia baik sekali, tidak berubah walaupun udah lama nggak ketemu."
Julian tersenyum mendengar pujian pak Budi pada Diandra.
"Sayangnya beliau bukan karyawan lagi di sini."
"Terus? Kenapa dia datang ke sini lagi mister Julian?", tanya pak Budi takut-takut.
"Beliau bos kita yang baru!", kata Julian sambil meninggalkan pak Budi .
Masyaallah.... benarkah? Jadi, yang di maksud bos baru itu mbak Dian. Kenapa aku sampai tidak tahu???!!! Ya Allah....apa yang sudah ku lakukan tadi ! Batin pak Budi.
Pak Budi mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.
Julian menyusul ku tak berapa lama kemudian. Tahu-tahu dia sudah ada di belakangku.
"Silahkan Bu!", Julian mempersilahkan aku masuk ke dalam lift terlebih dahulu.
Tanpa di sadari, Julian memperhatikan Diandra. Ada rasa kagum di dalam hati sana. Entah, kekaguman semacam apa. Yang jelas, di mata Julian seorang Diandra memiliki magnet tersendiri. Wajah cantiknya yang teduh, tingkah lakunya yang santun dan menyenangkan. Ramah pada siapa pun ,meski mereka tak sepadan. Alangkah beruntungnya pak aziz.
Tepukan ku membuyarkan lamunan Julian.
"Mas...mas...Jul! Kita mau di dalam lift terus? Ayo keluar!", ajakku.
"Ah ...iya bu. Silahkan !", Julian lagi-lagi mempersilahkan ku.
"Mas Jul, kalau kita lagi berdua atau bertiga sama mas Aziz tolong jangan berlebih-lebihan memperlakukan kami. Saya nggak nyaman mas Jul!", aku sedikit protes.
"Tapi Bu Dian...say...."
"Udah....saya nggak suka penolakan!", kataku tegas.
Dan kami pun masuk ke ruangan ku. Di sana sudah ada mas Aziz yang sedang menelpon.
"Masih ada sepuluh menit lagi kan mas Jul? Nanti saya ke ruang rapat deh!"
"Baik Bu, saya permisi?", sekarang hanya aku dan mas Aziz di ruangan ini. Kami harus bicara dari hati ke hati agar tidak ada kesalahpahaman lagi di antara kami.
Mas Aziz pun tahu kehadiran ku. Dia juga menyudahi sambungan telponnya.
"Mas.....!", panggil ku. Mas Aziz masih berdiri menghadap ke jendela.
"Aku minta maaf....!", ku peluk mas Aziz dari belakang sambil ku masukan dompet nya di saku celananya lagi.
Mas pun membalikkan badannya.
"Iya!", dia menakupkan kedua tangannya di pipiku. Wajahnya sudah kembali menggemaskan. Tidak marah lagi. Buru-buru kupeluk tubuh gagahnya.
"Mas emang udah maafin kamu dek,tapi...hukuman akan tetap berjalan!", kata mas Aziz.
"Iya...iya...aku pasrah di hukum sama kamu mas!", aku menowel hidung mancungnya. Aku tahu pasti, hukuman apa yang suami ku maksud.
"mau temenin aku rapat?", tanyaku padanya.
Dia pun mengangguk. Setelah itu, kami berjalan beriringan menuju ruang rapat yang ada dua lantai di atas ruangan ku.
__ADS_1
******
Hukuman nya pasti itu....tuh....!!!! 🙈🙈🙈🙊🙊