
"Imah, kita makan yuk!"
"Iya mbak, bentar Imah nyusul!"
Aku pun ke rumah terlebih dulu untuk menyiapkan makan malam.
"Imah!", panggil Aziz saat melewati kamarnya.
"Iya mas!"
"Kita makan malam, setelah itu kita bicara!"
"Iya mas!", kata Imah menunduk. Imah yakin, ini pasti ada hubungannya dengan gagalnya pernikahannya dengan A Dadan.
Makan malam kali ini terlewati dengan diam. Imah masih terdiam, menikmati perasaannya.
Usai makan malam, mas Aziz mengajak Imah duduk di rumah televisi. Aku memang meminta mas Aziz menutup kios lebih sore. Jadi kami punya waktu untuk membahas ini.
"Mbak mu bilang, kamu membatalkan pernikahan mu?!", kata Aziz memulai obrolan dengan adiknya. Kali ini mas Aziz terlihat serius, tidak seperti biasanya yang hobi sekali meledek adik nya itu.
"Iya mas! Imah harap, ini keputusan terbaik. Imah tidak ingin bahagia di atas penderitaan orang lain."
"Siapa yang kamu bilang menderita Imah?", mas Aziz melipat kedua tangannya.
"Mas, aku tahu seperti apa rasanya jadi Farhan."
"Terus, kamu tahu seperti apa posisi dan perasaan kang Dadan?"
Imah terdiam. Mas Aziz benar, ia memikirkan perasaan Farhan tapi tidak mempedulikan perasaan kang Dadan yang notabene adalah kekasih nya sendiri.
"Kang Dadan pasti bisa mudah melupakan Imah mas, toh... hubungan kami berdua belum terlalu lama!"
Mas Aziz menarik nafasnya perlahan.
"Apa kamu mau mengorbankan perasaan mu demi orang lain?"
"Iya mas. Itu lebih baik. Dari pada Imah harus bahagia diatas penderitaan orang lain."
"Apa kamu tidak ingin memikirkan masa depan mu sendiri Mah?"
Mas Aziz mengusap kasar wajahnya.
"Mas, Imah masih muda. Insyaallah Imah masih bisa mencari pasangan lain kalau Allah mengizinkan!", kata Imah mencoba tersenyum. Berusaha seperti biasanya.
"Imah...jangan bohongi perasaan mu sendiri."
Kali ini aku mencoba ikut bicara.
"Mas...mbak... Imah yakin, setelah ini Imah akan baik-baik saja. Percaya deh!"
Mas Aziz yang biasanya ketus pada adik sepupunya itu, kali ini bersikap lembut.
__ADS_1
"Imah, kalau memang itu sudah menjadi keputusan mu. Kami hanya bisa mendukung mu." Mas Aziz berdiri dari sofanya.
"Makasih mas!", ucap Imah.
Aziz sudah mendengar sendiri keinginan Imah sekaligus keinginan Farhan. Dia yakin, adiknya tidak salah menentukan keputusannya.
"Ya udah, mas keluar dulu ya!"
"Kemana mas?",tanyaku penasaran.
"Mau ke kang Dadan sebentar. Setidaknya, mas juga harus bicara pada nya."
Mas Aziz melenggang hendak menuju ruang tamu, tapi tangan nya di cekal Imah.
"Mas, silahkan kalau mau ketemu A Dadan, tapi tolong...jangan rubah keputusan Imah ya mas?!", kata Imah memohon.
"Iya, mas hanya perlu bicara dengan kang Dadan sebagai sesama laki-laki."
****
"Mas Aziz?", sapa Dadan.
"Bisa kita bicara kang Dadan?"
"Bisa mas!"
Tiba-tiba Farhan ikut duduk bersama kami.
"Om Aziz, ada apa?", tanya Farhan.
"Nggak apa-apa kang, biarin Farhan disini. Ini juga ada hubungan nya dengan Farhan kan?!"
Akhirnya Farhan duduk di sebelah ayahnya.
"Kang, Imah sudah mengatakan tentang batalnya pernikahan kalian."
Dadan menunduk, dan Farhan hanya mampu melihat wajah ayahnya.
"Iya mas. Terus terang, saya keberatan mas."
"Iya, saya paham kang."
"Kak Imah tidak jadi menikah dengan ayah?", tanya Farhan polos.
Dadan menatap mata anaknya. Ada secercah senyum di wajah anak lelakinya itu.
"Iya nak!", ucap Dadan.
"Itu artinya...ayah akan menikah lagi dengan mama?"
Dadan tidak menjawabnya.
__ADS_1
"Ayah diam? Artinya iya. Besok kita jenguk mama lagi yah, mama pasti senang!''
"Ya udah, Farhan ke kamar ya!", pinta Dadan.
"Iya yah. Om, Farhan masuk ya!"
"Iya Han," kata mas Aziz.
"Kang Dadan mau menikah dengan Feby?", tanya aziz pelan.
"Entah lah mas, di satu sisi...saya sayang sekali pada Imah, di sisi lain...saya belum siap jika harus kehilangan Farhan. Saya tidak ingin Farhan memilih meninggalkan saya demi mama dan keluarga nya yang pernah membuang nya."
"Bisa saja saya melepaskan farhan, mereka lebih berhak atas farhan. Tapi, saya sangat menyayangi Farhan sepenuh hati saya. Anak itu adalah kebahagian tersendiri bagi saya mas."
Dadan menitikan air matanya.
Farhan, kamu salah nak. Meski Dadan bukan ayah kandung mu, dia sangat menyayangi mu. Seperti om yang sangat menyayangi Diaz. Kami, kaum ayah memang tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata seperti apa perasaan sayang kami. Tapi kami berusaha untuk selalu membuat kalian bahagia.
"Mas, maaf...saya tidak bisa menjadi suami untuk adikmu mas!"
Aziz menepuk bahu laki-laki yang setahun lebih tua darinya itu.
"Kita masih bisa jadi saudara kang, tanpa harus ada ikatan pernikahan antara kang Dadan dan Imah."
"Terimakasih mas!"
*****
Di rumah Fai....
"Sibuk sekali kamu Fai!", sapa abahnya.
"Abah !"
"Sebenarnya siapa yang kamu temui di kios pulsa itu setiap hari?"
"Maksud Abah?"
"Jangan pikir abah tidak tahu kelakuan mu! Kami tinggal menurut saja pada Abah. Menikah dengan anak sahabat Abah!"
"Maaf bah, Fai akan memilih sendiri pasangan hidup fai?!"
"Denga siapa? Perempuan yang ada di kios itu? Yang mana?"
"Apa Abah memata-matai ku?"
"Heh, kamu pikir?"
"Abah, dulu Fai mengalah demi bakti Fai ke Abah. Kenapa sekarang Abah harus memaksa keinginan Abah? Apa Fai tidak berhak dengan hidup fai sendiri?"
Fai menghentakkan kakinya menuju kamar pribadi nya. Di luar, dia bisa menjadi seorang yang ceria. Tapi saat dia bertemu dengan abahnya, dia merasa hidupnya hanya lah boneka yang dengan mudah nya di atur.
__ADS_1
Dia sudah pernah merasakan kehilangan Diandra, entah apa yang akan Abah lakukan setelah ini.
"Abah akan menemui siapa perempuan itu Fai!", gumam Abah.