
Aku akan memasuki kamarku untuk melihat Diaz. Ternyata putra tampanku justru sedang tidur di kasur lantai ditemani teh Neng yang juga rebahan di sampingnya. Teh Neng pasti lelah menjaga anak yang sangat aktif ini. Akhirnya, aku pun masuk ke kamar ku. Tak ingin mengganggu istirahat siang anak ku dan juga pengasuh nya.
Aku turun dari kursi roda lalu merebahkan diri di ranjangku.
Aku mencoba memejamkan mataku beberapa saat. Kalimat sindiran Mika masih begitu terngiang di telingaku.
Aku dan mas Fai sudah sama-sama ikhlas untuk saling melepaskan. Aku yang sudah memilih mas Aziz menjadi imam ku terlebih dulu dibandingkan Mas Fa'i yang memutuskan untuk bersama Mika. Jadi, sudah sepantasnya tidak ada istilah baper-baperan.
Apalagi status kami waktu itu hanya pacaran. Yang menikah saja bisa bercerai bukan? Bahkan ada yang setelah bercerai, hubungan mereka justru membaik.
Entah apa yang mas Aziz dan Imah serta Dadan obrolkan sampai mas Aziz tak masuk-masuk ke kamar.
Tiba-tiba saja ponsel ku bergetar. Ada pesan dari mbak Hayu.
[Diandra, kamu sudah di rumah?]
[Sudah mba]
[Syukurlah]
[Gimana mbak, kamu jadi tinggal di rumah Daddy mu?]
[Ya Di. Daddy nggak ngijinin aku pergi dari sini kalau Mas Damar tak menikahi ku]
[Bisa begitu? Kenapa Daddy mu jadi posesif begitu?]
[Ga tahu Di.]
[Ya udah, sementara turuti saja]
[Tapi aku kan jadi nggak bisa kerja di kios]
[Nggak usah di pikirin mbak. tenang saja]
[makasih ya Di, selama ini kamu baik banget sama aku]
[Sama-sama mbak]
[Ya udah, kamu istirahat saja Di. Pasti capek kan ?]
[Hehehe ini lagi rebahan aja kok mbak]
[Ya udah, met istirahat]
[👍]
Chating dengan mbak Hayu pun selesai, begitu juga mas Aziz yang masuk ke dalam kamar.
"Kirain kamu tidur dek?", tanya Mas Aziz sambil menutup pintu kamar kami.
"Habis chating sama mbak Hayu mas"
"Owh, gimana dia di rumah om Stevan?"
__ADS_1
"Katanya kalau Damar belum nikahin mbak hayu, dia nggak boleh pergi dari sana."
"Insyaallah Damar pasti berusaha kok buat nikahin mbak Hayu. Kita tahu sendiri gimana perjuangan dia."
"Iya mas. Tapi kita denger sendiri kan apa yang istri nya Profesor Handoko bilang? Kayanya gimana banget gitu ngomong 'janda'! Siapa sih orang yang mau menyandang status itu begitu saja?"
"Ya gimana lagi, mama nya damar emang begitu. Dia kerja di BUMN, bergaul nya sama orang atas. Mungkin gengsi kali."
"Tapi kan nggak harus merendahkan juga mas. Aku respek lho sama om stevan, dia...langsung aja gitu bawa anaknya dari situ pas lagi di hina sama orang tuanya mas Damar. Terlepas dari kesalahan masa lalu nya, sebenarnya om stevan sayang banget sama mbak Hayu."
Mas Aziz mengusap kepalaku yang sudah tak berjilbab. Lalu mengecup kepalaku sebentar. Dan meraih ku dalam pelukannya.
"Mas ...!", panggil ku saat aku merasa sesak nafas karena mas Aziz mendekap ku terlalu erat.
"Kenapa?", dia melonggarkan pelukannya.
"Aku ngap, meluknya kenceng banget sih? Aku nggak kemana-mana!"
Mas Aziz tersenyum padaku. Masyaallah....imam ku ganteng amat yah...
"Kamu tahu nggak dek. Waktu kamu sakit kemarin? Mas merasa dunia mas ini berhenti. Mas menyesal tidak percaya sama kamu. Padahal kamu saja begitu mempercayai mas. Dan seharusnya....mas berpikir, kamu tidak mungkin berbuat yang aneh-aneh."
"Udah lah mas, nggak usah di bahas. Toh semua sudah selesai, aku juga baik-baik saja kan sekarang? Kita bisa berkumpul lagi."
"Iya dek. Dan mas tidak ingin sesuatu apa pun terjadi sama kamu dan Diaz. Kalian dunia mas!"
"Gombal! Nggak usah gombal begini. Masih puasa sampai dua bulan ke depan."
"Dih ...kamu tahu aja sih dek!"
"Emang kalau ngga ada maunya aku kaya gimana?"
"Nggak tahu juga sih. Soalnya udah biasa banyak maunya, jadi nggak bisa bedain!"
"Kamu mah dek....ih...bikin mas tambah gemes tahu nggak!", mas Aziz memencet hidungku.
"aw....sakit mas!", kataku sambil melepas cubitannya.
"masa sih? Ya udah, nggak mau di cubit di gigit aja boleh?"
"Big No!", kataku sambil mendorong wajahnya dari depan wajah ku.
Kami pun tertawa bersama-sama.
"Oh iya dek, gimana kelanjutan kasus om Ronald?"
"Hem... baiknya gimana?"
"Kita laporkan sama pihak yang berwenang lah dek."
"Iya sih. Sharen juga tadi udah pasrah aja kalau kita mau memenjarakan om Ronald."
"Sharen bilang gitu? Dia bisa ramah gitu sama kamu?"
__ADS_1
"Ya kali...mas....dia juga sama kaya kita juga keleus!"
"Hem...mas pikir dia sebelas dua belas kaya Julian yang jarang senyum. Makanya mereka klop banget."
"Hehehe bisa jadi sih, tapi buktinya tadi mereka bisa cekikikan sama aku kok."
"Oh ya? Masa sih? Berati... kamu yang bikin mereka cekikikan ya?"
"Ya elah mas, di kira aku pelawak apa???"
"Hahahah nggak juga kali dek!"
"Hem....itu mas, kalau aku udah masuk kantor Julian sama Sharen mau cuti."
"Cuti? Mau merit?"
"Mungkin iya. Tapu Sharen bilang mereka mau ke Singapura dulu, nemuin orangtuanya nya Julian."
"Hem...ya kalau emang buru-buru ya udah suruh aja berangkat ngga apa-apa. Mas bisa handel sementara."
"Tapi kamu kan juga sibuk ngurusin butik, sama itu tuh ...kios ngga ada yang jaga. Jadi sementara tutup aja dulu ya?"
"Butik masih bisa di pantau dek. Tapi kalau DWP di kosongin, takutnya saingan bisnis mu malah nyari celah."
"Bisnisku bisnismu?"
"Ah .. iya, bisnis kita dek!"
"Soal kios, tutup sementara aja dulu ya mas. Sampai kita dapat orang buat gantiin Mbak Hayu?"
"Iya dek. Terpaksa begitu."
"Hem...apa Imah mau jagain lagi?"
"Sementara jangan dulu deh. Imah lagi bermasalah sama Mak. Mak ngerasa kalau Imah terlalu sibuk ngurus kita, jadi Mak merasa di cuekin sama mantunya."
"Owh.... makanya tadi imah cemberut terus gitu?"
"Ya gitu lah. Di tambah lagi, Mak pengen Dadan cepetan punya anak. Makin stres lah adikmu itu."
"Ya Allah...kasian ya Imah. Eh, tapi kan mereka nikah aja baru kemarin. Masa iya udah di tuntut hamil sih? Kasian atuh. Gimana kalau kaya aku ya mas?"
Mas Aziz terdiam. Tanpa sadar, ucapan ku pasti membuat ia merasa bersalah lagi.
"Maksud aku tuh....!"
"Iya dek. Mas paham. Mas minta maaf ya? Karena dulu mas sering nyakitin kamu. Bahkan sampai sekarang mas juga masih sering bikin kamu sakit hati."
"Nggak kok mas. Yang penting kita saling percaya. Kalau ada apa-apa di omongin, biar nggak salah paham."
Mas Aziz mengangguk sambil tersenyum.
"Dan tentang aku dan mas Fai. Kami sudah selesai mas. Jika memang ada perhatian yang kamu anggap berlebihan, itu murni hanya karena kita dekat sebagai teman. Tidak lebih. Apa lagi mengaitkan dengan masa lalu kami. Kamu percaya kan sama aku mas? Rasanya....kalau aku bilang cinta -cinta ke kamu kok ya kesannya alay banget gitu!"
__ADS_1
"Hehehe ya nggak lah. Mas cinta sama kamu dek!"
Cup! Sentuhan di kening ku membuat ku merasa tersanjung.