
Di dalam mobil.
"Pak Ahmad, guru di mana? Mengampuh pelajaran apa?", tanya Mika.
"Panggil saja Fai, itu panggilan keseharian saya."
"Oke, mas...Fai. Kita biasa saja, nggak usah formal pakai kata saya, anda? Bisa kan?"
Fai tersenyum kecil.
"Kenapa....em...kamu mau anterin saya...maksudku ...mau nganter aku pulang?"
"Heheh...mas Fai, di bilang biasa aja. Bukan kah tadi antara mas Fai dan dokter Damar juga Lo gue?"
"Hah! Kami memang akrab!", sahut Fai singkat. Iya, keakraban yang terpaksa.
"Kalian sudah lama berteman?", tiba-tiba suara Mika sedikit lebih pelan.
"Iya, kami teman sejak SMP dulu."
"Oh...iya, tadi belum jawab. Mengajar di mana?"
"Di SMA xx, masih naungan yayasan Abah ku."
"Owh...!", mika manggut-manggut.
"Terus, yang Damar bilang pengusaha?", tanya Mika lagi.
"Itu!", Fai menunjuk dealer motor dan mobil yang tadi mereka lewati.
"Itu apa?", mika tak paham.
"Aku menjalankan bisnis di showroom mobil dan motor!"
"Owh....!", mika kembali mengangguk kan kepalanya.
"Sedekat apa kamu sama damar ,mas Fai?", tanya Mika tiba-tiba.
"Hah?", Fai terperanjat.
"Iya, mungkin...aku terlalu to the point. Aku sudah lama menyukai dokter Damar. Tapi, dia sama sekali tidak mengindahkanku."
"Kamu, suka sama damar?",tanya Fai.
"Iya, hanya sebatas suka. Aku pikir, dia tidak bisa bercanda. Tapi, setelah ku lihat kalian mengobrol tadi, aku jadi tahu sisi lain dokter damar yang selama ini ku kenal dingin."
"Ya...damar memang begitu, saat bersama kami dia bisa menjadi makhluk paling koplak!"
"Apa itu makhluk koplak?", tanya Mika.
"Hahaha... entah lah, aku pun hanya mengikuti omongan seseorang."
"Siapa? Pacarmu?"
"Bukan lah, adiknya Aziz!", Fai menarik nafas dalam-dalam.
"Oh...!", mika hanya ber'OH' saja. Tak terasa, mobil sudah sampai di depan kios Aziz. Fai turun terlebih dulu.
"Dian... Assalamualaikum!", sapa Fai.
"Walaikumsalam. Mas Fai? Kamu kenapa?", aku langsung melihat ke arah lukanya.
Tak berapa lama seorang wanita cantik dengan jilbab yang rapi mengikuti Fai duduk di depan etalase.
"Aku ngga apa-apa kok Di, Aziz sama Imah mana? Lha itu siapa?", Fai menunjuk Hayu.
"Mas Aziz lagi solat, bentar lagi keluar. Itu, mbak Hayu. Baru kerja disini, biar Imah ada temennya."
"Terus Imah?", cerca Fai lagi. Tumben Mas Fa'i nanya Imah dari tadi. Terus, siapa perempuan cantik di samping nya ?
"Imah, lagi pergi sama kang Dadan. Mereka akan melanjutkan rencana pernikahan mereka."
"Alhamdulillah!", Fai tiba-tiba mengucap hamdalah begitu kencang.
"Kenapa memang nya mas Fai?", aku jadi penasaran.
__ADS_1
"Mas, kamu belum jawab. Kamu luka kenapa?",belom juga mendapatkan jawaban dari Fai, mas Aziz sudah muncul di belakang ku.
"Paling jatoh dari motor, iya kan?", sahut Aziz yang langsung memeluk pundak ku.
'Jadi ini, yang Damar maksud. Aziz, sahabat mas Fai dan...istrinya adalah mantan mas Fai? Mereka bisa seakrab itu? Tapi, mantannya emang cantik natural. Pantas saja kalau Fai masih menyukainya, batin Mika.
"Iya, gue jatoh", sahut Fai singkat.
"Eh, mbak...temen nya Fai?", tanya Aziz tiba-tiba pada Mika. Karena terlalu konsen dengan bertanya pada Fai, aku jadi melupakan sosok cantik di sebelah Fai.
"Ah, iya. Saya mikayla. Panggil saja mika. Sebenarnya belum berteman sih, kebetulan tadi saya yang menangani mas Fai waktu di rumah sakit."
"Mbak Dokter?", tanyaku.
"Iya mbak!"
Tiba-tiba senyum ku mengembang, berita bagus ini. Setidaknya, Fai bisa mencari tambatan baru.
"Di, nggak usah mikir macem-macem. Dia itu suka sama damar!", sahut Fai tiba-tiba. Apa Fai bisa membaca pikiran ku? selalu saja begitu!
"Memang apa yang Dian pikirkan Fai?", tanya Aziz.
"Au ah!", sahut Fai lagi.
"Kamu suka sama si damar rese itu Mika?", tanya Aziz.
"Mas Fai emang nggak bisa jaga rahasia ya!", kata Mika.
"Iya, sepertinya mbak Mika salah orang buat curhat heheheh!", sahutku.
"Ziz, gue numpang toilet!", kata Fai mendorongnya etalase yang biasa buat keluar masuk.
"Ih...ribet amat sih Lo!", kata Aziz. Fai pun menuju kamar mandi yang ada di dekat kamar Imah. Tapi pintunya tertutup. Jadi, dia masuk ke dalam rumah induk Aziz.
Setelah menunaikan hajatnya, lagi-lagi ia harus menabrak atau lebih tepatnya di tabrak!
"Aw....!", pekik Fai. Berapa kali sehari harus ada adegan seperti ini ,Thor???
"Mmmaaff mas...maaf!", kata Hayu bergetar.
"Iya, nggak apa-apa!", Hayu tidak berani memandang Fai. Tapi Fai justru penasaran dengan perempuan yang berjilbab lebar itu.
"Sekali lagi maaf mas!"
"Iya, nggak apa-apa!", akhirnya Fai pun berlalu. Ia seperti pernah melihat perempuan tadi, tapi dimana ya? Fai masih terus mengingat-ingat.
"Udah, lama banget Lo?", tanya Aziz.
"Gue ke kamar mandi belakang, tadi di kamar mandi Imah ada orang!"
"Oh, mungkin mbak Hayu!", kata Aziz.
Aku dan mika masih mengobrol. Ternyata kita satu server, sama-sama penyuka noveltoon. Iya, kami bahkan membicarakan tokoh-tokoh yang ada di dalam bacaan novel kami.
"Biarin aja lah mereka ngobrol."
"Iya lah, masa mau dilarang. Ngomong-ngomong Lo kok bisa jatoh? Aneh aja, rider handal kok jatoh."
"Omongan Lo sama persis kaya si damar! Lo berdua emang ngeselin."
"Yah, kok jadi bawa-bawa damar?"
"Iya, gara-gara dia bujukin Mika buat anterin gue kesini!"
"Lo abis kecelakaan, bukannya pulang. Malah mampir ke sini, mau cari belas kasian Lo sama bini gue?"
"Ishhh....Lo kalo ngomong suka bener heheh!"
"Dasar Lo!", sahut Aziz manyun.
"Nggak, gue ada perlu sama Lo sama Imah sebenernya!"
"Gue sama Imah?", tanya Aziz.
"Iya, semaleman Abah ngoceh. Maksa mau mengkhitbah Imah buat gue. Ya gue pusing lah! Gue nggak ada apa-apa sama Imah, masa mau di khitbah si imahnya. Secara nggak langsung, Lo juga penyebabnya!"
__ADS_1
"Lho kok gue?", Aziz melotot.
"Pokoknya, kalau Abah tiba-tiba ke sini Lo harus bantu gue jelasin, gue nggak ada apa-apa sama Imah, dan... bilang Imah bakal segera nikah sama Dadan."
"Wani Piro?????", Aziz menggesek-gesekan jarinya, khas orang Korea kalau ngasih 'Hati'.
"Emang Lo udah kekurangan duit? Mau berapa Lo?"
"Dih....sultan emang ya....! Udah tenang aja, Lo nggak bilang juga ntar gue jelasin. Lagian Imah juga jadi kawin sama Dadan."
"Nikah Ziz, bukan kawin!", sahut Fai.
"Iya, abis nikah terus kawin. Sama aja kan?"
"Bahasa Lo, ga bisa di ayak! Gue heran, ngapa Dian bisa cinta mati sama Lo!"
"Heheeh... Karena gue emang lebih hebat dari Lo!", kata Aziz dengan penuh percaya diri.
"Eh, iya. Itu, karyawannya baru Lo. Gue kok kaya nggak asing ya? Tapi siapa?", tanya Fai.
"Gue lupa. Gue mau bilang sama Lo. Dia itu, istri ny almarhum Royan. Salah satu pengajar di sekolah Abah Lo!"
"Istrinya Royan? Ah...iya. Pantes gue kaya pernah liat."
"Kok dia bisa kerja disini?"
"Nah, Lo bos suaminya gimana? Katanya kompensasi dari sekolah cuma sampai enam bulan setelah suaminya meninggal. Jadi setelah itu...dia juga harus kerja dong?"
"Ah, iya. Sebenarnya sih, nggak ada kompensasi apapun Ziz. Sekolah Abah kan swasta!"
"Lalu, dia dapet kompensasi dari mana?"
"Dari gaji gue. Gue yang minta orang TU buat transfer ke dia tiap bulan. Tapi gue nggak tahu orang nya hahahaha!"
"Heh! Kalau mau bantu, ngapain nanggung. Kenapa cuma enam bulan?"
"Bro...berapa lama masa Iddah? Tiga bulan kan? Bisa aja kan, setelah masa Iddah dia nikah lagi. Apa aku masih perlu memberi kompensasi itu lagi?"
"Tapi, dia masih single?", kata Fai.
"Ya...itu urusan dia lah. Yang penting, maksud gue baik. Gue beneran nggak tahu, kalau orang TU transfer atas nama dia."
"Ya udah lah ya. Yang penting Lo udah tau."
"Iya...!", jawab Fai.
"Mas Fai, mas Aziz...saya pamit pulang ya. Apa mas Fai mau saya antar ke rumah abahnya?", tawar Mika.
"Ngga usah Mika, biar Aziz aja yang anterin. Iya kan Ziz?", Fai menaikkan salah satu alisnya.
"Iya, ntar aku anterin Fai!"
"Kalian...memang hebat ya, masih bisa berteman dengan baik!", puji Mika. Sedangkan Aziz dan aku melotot ke arah Fai.
"Gue nggak cerita apa-apa sumpah. Pasti si damar tadi nih?", kata Fai.
"Udah, nggak usah gitu. Saya pamit ya, assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!"
Sepeninggal Mika, kini mata Fai tertuju pada Hayu dan Faiz yang sedang membaca iqro. Kenapa pemandangan itu menyejukkan sekali ya? Batin Fai.
"bukan mahram, nggak usah sebegitu nya ngelihatin!"
"Apaan sih Ziz, yuk anterin gue sekarang!"
"Harus sekarang?", tanya Aziz.
"Iya!"
Aziz pun mengeluarkan mobilnya.
"Kalian ngobrol apa Di?", tanya Fai.
"Ngobrol urusan cewek. Kayanya...mika cocok sama kamu mas!", ledekku.
__ADS_1
"Nggak, aku maunya sama kamu!", kata Fai berdiri menuju mobil Aziz yang sudah menunggu.
"Iiih...mas Fai!", aku suka kesel kalau kata-kata seperti itu keluar dari mulut Fai. Terlepas itu hanya candaan sekali pun.