
Imah baru saja menyelesaikan solat subuh nya. Sedangkan Dadan baru saja pulang dari masjid bertiga dengan Mak dan juga Farhan.
Mendengar penghuni rumah sudah kembali dari masjid, Imah bergegas menuju dapur. Dadan menghampiri istri nya, tapi Imah masih mendiamkan sang suami. Imah hanya tidak ingin Mak atau Farhan tahu jika dia dan suaminya sedang perang dingin sejak sore kemarin.
"Maneh tingali tah Dan, ayeuna pamajikan maneh euweh aya hormat-hormatna ka Mak. Kumaha arek ngarawat Mak!", Mak mulai ngoceh.
(Kamu lihat Dan, sekarang istrimu nggak ada hormat-hormatnya sama Mak. Gimana mau rawat Mak)
"Mak, Imah cuma nggak mau Mak dan Imah adu mulut Mak. Imah milih menghindar. Lagian Mak ini kenapa sih? Perasaan kemarin-kemarin teh nggak apa-apa. Kunaon atuh ayeuna kos barudak leutik!(Kenapa sekarang kaya anak kecil)", kata Dadan.
Mak berdiri dari meja makan lalu berjalan menuju kamarnya.
"Yah, Mak kenapa sih? Marah sama Ibu?", tanya Farhan polos.
"Nggak apa Nak. Mending sekarang mandi dulu sana. Katanya mau ada turnamen tenis meja di sekolah?"
"Iya yah. Farhan nggak ikut dong ke nikahan om Fai?", tanya Farhan.
"Ayah sih terserah Farhan aja. Mau ikut ayah boleh, mau ke sekolah juga nggak apa-apa."
Farhan terlihat berpikir.
"Ke sekolah aja deh Yah. Kemarin waktu ijab kan Farhan ikut."
"Ya udah, sana siap-siap nanti ibu seleksi masak, ayah panggil Farhan."
"Iya yah!", Farhan pun berlalu.
Dadan menghampiri istrinya yang sedang berkutat di dapur. Dadan melihat dari beluk jika bahu Imah sedikit terguncang.
Buru-buru Dadan menghampiri sang istri. Lalu memeluk nya dari belakang.
"Maafin Mak ya Neng!", Dadan mengecup rambut sang istri.
Tak ada sahutan dari Imah. Hanya suara pisau dan talenan yang saling bertarung.
"Sayang....!",bisik Dadan di samping telinga Imah.
"Biarin Imah sendiri A. Imah cuma nggak mau nantinya malah makin lebar ke mana-mana. Imah pengen instrospeksi diri. Mungkin Imah memang butuh sendiri dan banyak berpikir ."
"Neng! AA paham yang neng pikirkan. Tapi denger Aa, AA akan selalu sama neng."
"Jangan bicara seperti itu A. Kamu juga harus menjaga perasaan Mak. Kamu sendiri yang bilang nggak mau pilih satu diantara kami, karena kami memang bukan buat di pilih!"
"Neng....!"
"Udah , Aa ke warung saja. Imah mau siapin sarapan buat Mak dan Farhan."
Imah kembali berkutat dengan alat tempur nya. Sedangkan Dadan, mau tak mau akhirnya meninggalkan Imah di dapur.
.
.
.
Hayu baru saja bersiap menuju kios dengan menggandeng Faiz. Tapi di depan gang, ternyata Damar sudah menunggunya.
__ADS_1
"Om damar!", teriak Faiz sambil sedikit berlari.
"Hei....anak ganteng!"
Damar mengangkat tubuh bocah mungil itu.
"Om damar nggak ke rumah sakit?"
"Om libur sayang. Sekarang, om mau sama Faiz dulu."
"Mau antar Faiz sama umi ke kios om Aziz?"
"Iya sayang."
Damar menunjukan senyum manisnya pada sang pujaan hati. Hayu juga membalas senyuman pria itu.
Kini mereka berjalan bertiga. Siapa pun yang melihatnya seperti melihat sebuah keluarga kecil yang bahagia.
"Nanti ikut ke acara nikahan nya om Faiz bareng om damar dan Umi ya?".
"Iya om....!".
Damar tersenyum senang dipagi ini. Semua seperti mimpi baginya.
.
.
.
Dengan ragu-ragu Fai mengechat sahabat-sahabatnya termasuk Aziz. Terus terang Fai berharap Aziz dan Dian bisa datang ke acara ini.
Tidak ada yang membalas chat darinya. Itu artinya.....
.
.
.
"Mbak Hayu bareng sama mas Damar. Aku sama mas Aziz, dan Dadan sama Imah."
"Kenapa nggak bareng aja sih? Imah sama mas Aziz aja deh!"
" Ada perang dunia ke dua kayanya nih?!" kata Aziz sambil melirik Dadan. Dadan sendiri terlihat sangat tak nyaman.
"Mas, jangan suka meledek gitu ah!" aku mencoba menegur mas Aziz.
"Siapa yang ngeledek. nggak kok!"
"ya Udah, kita jalan berempat. Test drive mobil baru ya Dan!", kata Aziz.
"Saya mah ngikut aja mas."
Ternyata Imah sudah lebih dulu masuk ke mobil Aziz.
Mau tak mau, mereka memakai satu mobil. Pakai mobil Aziz.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, damar, aziz dan Dadan menerima pesan dari Fai.
Tapi sayang nya tidak ada yang menggubrisnya. Gimana mau jawab, orang chat nya aja cuma bilang 'Cepetan ke sini nya'.
Hanya orang yang tidak punya kerjaan membalas chat Fai yang tidak penting.
Mas Aziz dan kang Dadan duduk di depan. Sedangkan aku dan Imah duduk dibelakang. Aku rasa, masalah Imah itu sensitif. Biasanya seorang Imah kan ceria, lucu dan santai. Tapi di lihat saat ini? Bahkan mukanya dari tadi di tekuk.
"Kamu kenapa Mah? Cerita sama mbak!"
"Mbak...apa dulu mama juga nuntut mba biar cepet hamil?", tanya Imah tanpa menghiraukan suaminya. Dadan terlihat sangat gelisah.
"Hem...iya mah. Tapi.... Alhamdulillahnya, baru di kasih Aziz waktu kami menikah hampir empat tahun."
"Apa mama jahat sama Mbak?"
Seketika wajah Aziz menegang. Aku menyadari perubahan wajah mas Aziz.
"Nggak jahat lah Mah. Mama baik kok."
"Begitu ya?"
"Intinya, kamu itu kenapa?"
Imah ingin curhat, tapi ada A dadan. Takut menyinggung a Dadan.
"Besok aja lh ceritanya."
"kalau sekarang emang Kenapa?"
"Ada yang bersangkutan di sini. Nggak enak curhat nya mbak?!", kata Imah dengan suara yang sedikit meninggi.
Dadan hanya mampu melirik. Lalu ia mendengar istrinya bercerita yang lain dengan Diandra.
"Dan!", tepuk Aziz.
"Iya mas, kenapa?"
"Aku nggak mau tahu seberapa besar masalah kalian. Tapi...aku harap ya...kamu juga memaklumi Imah. Dia masih muda, masih labil cara berpikir nya. Makanya, kalau dia marah, lebih baik kamu mengalah. Ingat, kamu sukses karena doa istri juga."
"Iya sih Kang. Tapi saya dilema mas."
"Sabar...semua bisa selesai kok."
"Heeum mas."
Mobil Aziz kini membelah jalanan ibu kota. masih jam delapan pagi, tapi suasana sudah sangat ramai.
Setelah hampir satu jam, akhirnya mobil mendarat dengan selamat di parkiran hotel. Mas Aziz menurunkan kursi roda nya untuk ku.
Setelah itu, ia memapah ku untuk duduk di kursi roda.
Di waktu yang bersamaan, Sharen dan Julian turun dari mobil mewahnya. Begitu pula damar dan hayu.
Disusul di belakang nya, Om stevan dan....Liliana. Sekian purnama tak melihat si ulet bulu itu. Perut nya semakin terlihat gendut. Lili menatap ku dengan pandangan yang ...entahlah. Jangan bilang dia ingin mentertawakan ku atau malah....iba padaku????
Kenapa harus masuk ke hotel bersamaan begini sih????
__ADS_1