
Matahari sudah menyapa. Mas Aziz dan Diaz pun sudah mandi dan wangi. Aku sudah sahur tadi, jadi kali ini aku menyuapi dua bayiku. Satu bayi besar satu bayi kecil.
"Teh neng belum datang ya Dek?", tanya Aziz.
"Aku minta belanja sekalian Mas. Katanya kamu mau makan masakan ku?"
"Iya dek. Mas kangen banget!", katanya menatap ku sendu.
Diaz masih main dengan mainan nya di kasur lantai. Aku mendekati mas Aziz yang terlihat sedih.
"Ada apa mas?", aku duduk bersimpuh di depan kursi roda nya.
"Maaf, mas merepotkan mu!", katanya.
"Kamu mah kebiasaan deh mas, aku nggak suka kamu bahas kaya gitu lagi."
Mas Aziz mengusap pipiku.
"Sebenarnya mas sangat merindukan mu dek, tapi...."
"Tapi apa?", aku mencoba memancing nya.
"Tapi mas pasti sudah nggak bisa mem....", kalimat nya ku putus.
"Bisa. Kita buktikan nanti malam ya? Sekarang masih terlalu pagi, bulan puasa pula!", kataku memegang tangan nya. Mas Aziz menggeleng.
"Mas nggak bisa dek,mas udah nggak seperti dulu!"
"Sssstttt....di bilangin, nanti malam kita buktikan bersama. Jangan putus asa begitu! Percaya diri dong mas kaya biasanya!"
"Tapi keadaannya sudah berubah dek!"
"Kamu mah ngeyel deh di bilangin! Kamu masih bisa mas, jangan minder gitu ih...bikin bad mood aja deh!", aku pun bangkit dari lantai.
Saat aku berdiri, mas Aziz meraih tanganku.
"Maaf...!", katanya memohon.
Aku pun berbalik menatapnya.
''Jangan di ulangin lagi mas. Terus terang aku nggak suka kamu merasa rendah diri begitu. Seperti bukan kamu mas!"
"Iya dek, maaf!", kata nya lagi dengan nada memelas.
"Iya udah....aku mau jemurin baju boleh nggak? Mas nemenin Diaz ya?!", pintaku.
Dias ku letakkan di kasur lantai, tapi sekeliling nya ku beri pagar pengaman yang lentur. Jadi, Diaz bebas bermain di dalam sana dengan aman.
''Iya sayang!", jawab mas Aziz.
Aku pun menuju ke teras belakang untuk menjemur pakaian yang sudah ku cuci tadi sahur.
"Assalamu'alaikum!", teteh mengucap salam.
"Walaikumsalam, dapet semua teh?", tanya ku pada teh Neng.
"Alhamdulillah dapet mbak, sesuai catatan!"
"Kurang teu cicisna?(Kurang nggak uangnya)", aku takut kalau dia nombok. Meskipun nanti nya ku ganti,tapi kan nggak enak.
"Aya sesa na yeuh?!(Ada sisanya nih)", kata teh neng memberikan uang sejumlah enam puluh tujuh ribu.
"Alhamdulillah, kirain mah kurang teh. Ya udah atuh, simpan aja di atas kulkas.Lain kali kalo ada kebutuhan apa gitu bisa di ambil."
"Anu kamari ge Aya mbak(Yang kemarin juga ada mbak)", kata teh Neng.
"Owh, masih ada?"
Teh neng menghampiri ku lalu menyerahkan sisa uang belanja selama ini.
"Ini mbak!", teh neng menyerahkan sejumlah uang yang ku lihat cukup banyak.
"Sisa sebanyak ini? Teteh kumpulin sejak kapan?", tanyaku heran sambil menerimanya.
"Sejak saya kerja di sini mbak!"
" Kok banyak amat sih teh timbang sisa?"
__ADS_1
"Mbak Dian, sisa sedikit-sedikit tapi sering kan lama-lama banyak."
''Kenapa atuh nggak di ambil teteh buat beli apa gitu?",tanyaku.
"Itu mah bukan hak saya atuh mbak. Uang yang mbak Di kasih ke saya selama ini udah lebih dari cukup!"
Alhamdulillah, aku di temani orang baik.
"Makasih ya teh, teh neng udah baik banget sama saya!"
"Ih...justru mbak Di yang kelewat baik sama kami!"
"Ya udah, teteh beresin aja sayurannya ke kulkas ya. Diaz lagi main sama ayahnya."
"Ya mbak!"
Teh neng pun merapikan belanjaannya ke dalam kulkas. Memisahkan sesuai dengan jenisnya. Setelah itu, dia mencuci tangan dan menghampiri Diaz yang sedang bersama Aziz.
"Teh Neng udah Dateng?", sapa Aziz.
"Udah mas. Diaz sama saya aja apa mas? Barangkali mas Aziz mau istirahat?",tanya Neng.
"Heum, boleh. Dian mana?"
"Mbak Di lagi jemur baju",jawab neng.
"Aku udah selesai mas, kenapa?",ku dekati suamiku. Dia pun tersenyum tipis.
"Ya udah mbak, mas Diaz saya ajak main ke depan ya?"
Aku dan mas Aziz mengangguk setuju. Sekarang hanya ada kami berdua.
"Mas nyariin aku, butuh sesuatu?"
Aziz menggeleng, tapi dia menatapku dengan sendu.
"Mas pikir kamu pergi."
Astagfirullah...apa sebegitu takutnya kamu kutinggalkan mas????
"Emang aku mau ke mana? Kan ada pangeran tampan di dekatku!", kataku sambil duduk di pangkuan nya. Aku berani melakukan ini, karena teh neng sudah berada di luar. Mas Aziz tersenyum tipis.
"Yang mancing siapa? Aku juga tahu ini masih pagi, aku puasa juga . Emang salah ya kalo lagi pengen di pangku suamiku sendiri?", tanyaku sambil memicingkan mataku.
Mas Aziz terkekeh pelan.
"Aku mencintaimu dek. Sangat mencintai mu!", katanya menenggelamkan wajahnya ke dadaku.
"Iya, aku tahu itu mas. Nggak usah di ulang-ulang juga aku udah tahu dari dulu. Kamu tuh bucin akut sama aku!", kataku dengan penuh percaya diri.
Tiba-tiba mas Aziz memencet hidungku.
"Awwww.....!", pekikku.
"Sakit mas....!", kataku sambil mengelus hidung limited edition ku ini .
"Habisnya mas gemes banget sama kamu dek!", katanya menatapku penuh cinta. Dih...penuh cinta tuh gimana????
"Aku tahu aku tuh ngegemesin mas, tapi jangan di pencet juga. Aku kan bukan anak kecil sayang....!"
"Biarin! Ini semua kan milik mas!", kata Aziz meraba seluruh wajahku.
"Jangan kan wajahku ku mas, semuanya milikkmu! Puas????", tanyaku menyeringai. Lagi-lagi mas Aziz terkekeh.
"Mesra banget.....!", ledek Imah yang tiba-tiba muncul dari pintu dapur.
Aku yang berada di pangkuan mas Aziz langsung terlonjak saking kagetnya. Tapi Imah dan Dadan malah cekikikan.
"Bukannya salam, main masuk doang!", kataku salting.
"Dih, salah tingkah kakak ipar kita ya A!", kata Imah ke Dadan. Dadan menanggapi nya dengan senyuman.
"Assalamualaikum, mba...mas....!", kata Dadan.
"Walaikumsalam!", jawab ko berdua.
"Seneng deh liat kalian mesra begini!", kata Imah mendekati mas Aziz.
__ADS_1
"Iya harus lah, mesra sama istri sendiri ya wajar. Kalo mesra sama istri orang baru ku*ang ajar!", kataku.
Mas Aziz menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Apaan sih dek!", katanya meraih pinggang ku.
"Hihi....ada yang sensi mas, isin mereuuuun kepergok lagi minta di pangku ayang Beib!", ledek Imah lagi.
"Iiiih....Imah mah gitu!", kataku pura-pura merajuk.
Kami berempat jadi sama-sama tertawa karena hal garing ini.
"Nih mas, Imah bikin rawon. Mas Aziz pasti suka!", kata Imah.
"Iya lah suka, adik mas ini kan pinter banget masak rawon!", kata Aziz memuji Imah tanpa melepaskan tangannya dari pinggang ku.
"Kalau aku pinter masak apa?", tanyaku menggoda mas Aziz.
"Kalo istri mas ini, pinter dalam segala hal! Ya... multitalent, multifungsi, multi......"
"Di pikir aku apaan??!!!", kataku kesal. Mas Aziz, Imah dan Dadan tertawa lagi.
"Pokoknya, istri mas ini is the best lah buat mas!", dia memujiku sampai aku merasa klepek-klepek sendiri. Mas Aziz tak pernah merayuku yang aneh-aneh dari dulu.
"Heummm.... ati-ati mbak Di, ada maunya tuh. Nanti juga ada timbal baliknya!",sindir Dadan.
"Tahu aja kang Dadan mah, pengalaman ya???", sindir ku balik.
Dadan pun cengengesan.
"Pengalaman pribadi tuh mbak!", kata imah.
"Heheh sama kali semua juga gitu!", kataku.
"Ya udah ,Imah siapin makan dulu ya buat Imah sama mas Aziz!", kata Imah berlalu.
Kami bertiga mengiyakan.
"Gimana kehamilan Imah, Dan?", tanya Aziz.
"Alhamdulillah, hari ini lebih baik. kemarin mah sama sekali bikin ah... pokonya mah kasian. Susah di isi makanan, maunya rebahan wae. Sekalinya bangun, makan eh ...di muntahin lagi."
"Ya begitulah kang, hormon wanita hamil kan emang begitu. Mending cuma mual, dari pada sebel sama suami sendiri?", kataku.
"Ada gitu mbak?"
"Ada kang, banyak lho ibu hamil yang nggak mau deket-deket sama suaminya selama hamil!"
"Hah?", pekik Aziz dan Dadan.
"Untung kamu nggak ya dek!",kata Aziz.
"Heum!", jawabku singkat. Ah...kalo ingat saat hamil Diaz, aku merasa sedih sendiri. Inget kalau aku pernah mencoba buat pisah sama mas Aziz.
Aziz pun merasakan perubahan mimik wajah istrinya.
Mas Aziz menggenggam tanganku, lalu mengecup punggung tanganku.
"Maaf!", katanya lirih. Aku membalasnya dengan tersenyum tipis.
"Ehem...Aya urang tidinya Oge!", kata Dadan. Aku dan mas Aziz tersenyum kikuk.
"Ayok kita makan, nggak tahu sarapan nggak tahu makan siang deh!Maaf ya mbak Dian AA dadan!", kata Imah.
"Di rapel wae Neng!", kata Dadan. Kami bertiga menuju meja makan yang sudah rapi dengan menu rawon tak lupa telor asin dan kerupuk juga.
Aku dan Dadan menemani pasangan kami makan siang yang terlalu pagi atau makan pagi yang terlalu siang, entahlah. Yang jelas ku lihat mereka menikmati nya. Aku dan kang Dadan kan puasa.
Maafkan Aziz dan Imah yang nggak menghormati pasangan mereka ya, padahal lagi pada puasa.
*****
Yang ringan-ringan aja dulu ya! Toh udah nggak puasa 🤭🤭🤭.
Minal aidzin wal Faidzin, maaf lahir batin ya. makasih buat teman-teman yang sudah bersedia membaca tulisan receh mamak.
Selamat hari Raya Iedul Fitri, mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏🙏🙏🧕🧕🧕🧕🧕
__ADS_1
Mamak minta maaf kalau barangkali mamak balas komen nya nggak baik atau ada tulisan mamak yang kurang pantas. Maafkeun ya....🙏🤭