Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 260


__ADS_3

Azan subuh berkumandang, Damar kembali ke ruangan Aziz.


"Kamu bersihkan diri saja Di. Biar Aziz bersama ku."


"Iya. Titip sebentar ya mas!", pintaku.


Aku pun berjalan menuju kamar mandi yang jaraknya lumayan dari area ICU.


Mendengar perkembangan mas Aziz membuat ku sedikit lega. Meskipun belum sepenuhnya, tapi setidaknya kesehatan mas Aziz berangsur membaik.


Aku mengecek keperluan pribadi ku, ternyata pembalut ku habis. Ku putuskan untuk ke minimarket yang berada di rumah sakit.


Tak sengaja, aku kembali bertemu dengan Revan. Dia tersenyum ke arahku. Aku pun membalasnya sambil sedikit menganggukkan kepalaku. Ada rasa canggung untuk ku bertegur sapa dengan nya di luar topik kesehatan mas Aziz.


Usai memilih apa saja yang ku butuhkan, aku pun ke kasir. Bersamaan pula dengan Revan yang lebih dulu di sana.


"Silahkan!", kata Revan padaku.


"Tidak, terimakasih. Anda saja lebih dulu dok."


Revan pun mengalah. Setelah Revan selesai, aku pun maju ke depan kasir.


Saat akan mengambil uang di saku, Revan terlebih dulu membayarkan belanjaan ku.


"Eh, nggak usah Dok!", kataku menolak. Tapi Revan tak peduli. Di tambah lagi, di belakangku sudah ada yang mengantri.


"Dokter Revan!", aku mengejarnya. Revan hanya berbalik badan. Dia hanya memakai kemeja, tak memakai jas putihnya seperti tadi saat di depan ICU.


"Kenapa Ra?", tanya Revan.


"Maaf, bukan maksud menolak kebaikan anda, tapi Alhamdulillah saya masih mampu membayar belanjaan saya!", aku meletakkan uang selembar berwarna biru di tangannya.


"Terima kasih sebelumnya Dok, kalau begitu saya permisi!", aku undur diri dari hadapannya.


"Sampai kapan kamu akan berhentikan berpura-pura tak mengenal ku Diandra?", tanya Revan. Aku pun menghentikan langkah ku, lalu ku berbalik badan.


"Maaf Dok, saya tidak sedang berpura-pura. Saya memang mengenal dekat anda, tapi dulu. Dan saat ini, saya juga mengenal anda sebagai dokter dari suami saya. Hanya itu, tidak lebih.Terimakasih, sudah membantu menyelamatkan suami saya."


"Kamu masih tak berubah Diandra!", kata Revan. Aku terdiam.


"Maaf Dok, saya permisi!",aku pun kembali berbalik badan. Ternyata tak jauh dari ku berdiri ada Julian. Julian pun melihat keberadaan ku.


"Bu Dian!", panggil Julian.


"Mas Jul, kamu kapan balik? Bukan nya semalam masih di Singapura?", tanyaku.


"Kami melakukan penerbangan paling awal Bu!', jawab Julian. Julian menatap Revan yang dilihatnya tadi mengobrol dengan diandra.


Aku paham dengan tatapan Julian terhadap Revan.


"Beliau dokter Revan, dokter yang menangani mas Aziz!", kataku memperkenalkan Revan pada Julian. Keduanya pun bersalaman.


"Julian!"


"Revan!"


Mereka saling menatap.


"Apa kabar Julian?", tanya Revan.


"Baik! Seperti yang anda lihat dok!", jawab Julian. Aku bingung, kenapa Revan berbasa-basi seperti itu dengan Julian.


"Apa kalian saling mengenal?", tanyaku.


"Iya Bu, dokter Revan....masih kerabat saya", jawab Julian.


"Kenapa kamu nggak bilang saja kalau kita bersaudara Julian?", tanya Revan.


Aku mengernyitkan alisku. Julian menatap Revan dengan pandangan entah apa itu.


"Ya. Kami bersaudara Bu!", jawab Julian.


Aku memijat pelipisku. Dunia novel emang sesempit ini ya??


"Dimana ruangan pak Aziz, Bu?", tanya Julian.


Baru mau ku jawab, Revan menyahut lebih dulu.

__ADS_1


"Aziz masih di ICU."


Aku pun memilih diam.


"Kalau begitu,kita ke sana saja mas Jul. Permisi Dok!", pamitku sambil menyeret Julian. Bodo amat lah, aku tak peduli seperti apa sikap Revan berikut nya. Tapi dari yang ku tangkap, hubungan antara Julian dan Revan tidak baik.


"Maaf mas Jul!", aku melepaskan tanganku yang tadi menyeret nya menjauh dari Revan.


"Tidak apa Bu!", sahut Revan singkat.


Kini kami berdua sudah di depan ICU. Damar bangkit dari duduknya.


"Dokter Damar!", Julian sedikit membungkukkan badannya sambil menyapa Damar.


"Pagi Jul!", sahut Damar.


"Maaf dokter Damar, saya sangat menyesalkan kejadian ini. Dan gara-gara ini, anda jadi menggantikan kewajiban saya menjaga pak Aziz."


"Siapa bilang seperti itu? Aziz itu lebih dari sekedar sahabat ku!", kata Damar. Julian tersenyum tipis.


"Kejadian ini, sudah ketentuanNya Jul", ucap Damar.


"Oh iya mas Damar, tadi dokter Revan bilang nanti mas Aziz bisa di pindah ke ruang rawat", kataku.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu!", jawab Damar.


Lalu seorang perawat keluar dari ruangan Aziz berada .


"Sus! Kata Dokter Revan, suami saya sudah bisa di pindah ke ruang rawat?", tanyaku.


"Betul Bu. Baru saja saya akan bertanya kepada anda, anda mungkin mau memilih ruangan untuk pasien? Jadi akan kami siap kan ",kata perawat itu.


"Em...sus...kalau ruang VVIP, bisa tidak menerima tamu...tapi balita?", tanyaku memastikan terlebih dulu. Aku ingin bertemu Diaz tanpa harus meninggalkan mas Aziz.


"Tentu saja bisa Bu!", jawab perawat itu.


(Mamak mah nggak tahu, soalnya pake nya BPJS itu pun kelas tiga 🤭🤭🤭)


"Ya udah, saya mau ruang VVIP untuk suami saya", kataku.


"Biar saya saja yang mengurus nya Bu!", kata Julian. Aku pun mengiyakan saja.


Sepeninggal Julian, aku kembalikan duduk dengan damar.


"Kamu dari mana?", tanya Damar.


"Beli pembalut mas!", jawab ku singkat.


Ku dengar Damar menghela nafas. Sepertinya ada yang ingin ia tanyakan tapi sepertinya ia ragu .


"Mas Damar kenapa?", tanyaku.


"Apa dokter Revan...pernah menjadi seorang yang spesial di masa lalu mu?", tanya damar.


Aku menyandarkan punggungku ke kursi.


"Ya ...jaman masih remaja dulu mas. Kami sempat dekat, karena kami satu kampus."


"Dekat? Pacaran maksudnya?", tanya Damar. Aduh, nih orang nanya begituan. Kok kesannya aku playgirl amat ya? Punya mantan pacar selain mas suami.


"Bisa di bilang begitu!", jawabku sambiloto menarik nafas.


"Tapi, kenapa awal pertemuan kemarin, kami seperti...."


"Aku sempat depresi mas ketika kedua orang tua ku tiada. Di masa-masa pengobatan ku, aku mulai mengenal Revan. Tapi, dulu...Revan sempat selingkuh dariku. Kami bertengkar. Dan...sebuah kecelakaan terjadi, sebuah mobil menabrak Revan. Trauma kembali hadir melihat kejadian yang menimpa Revan. Dari situ, aku mengenal dan dekat dengan Mas Fa'i. Karena....saat itu aku tahunya....Revan meninggal karena insiden itu Mas!", jelasku. Sepertinya, Damar memang belum tahu kalau aku pernah 'gila' saat itu.


Damar pun terdiam.


"Aku ngga nyangka aja mas, kenapa dia tiba-tiba hadir di depan ku kemarin. Dan kamu mas, kamu dan Mika mengenal Revan?"


"Kami sering menghadirkan seminar bersama", jawab Damar.


"Tapi... sepertinya, dia banyak tahu kalau Mika pernah...."


"Iya. Sudah jadi rahasia umum di kalangan rekan dokter. Mika memang menyukai ku sejak dulu. Tapi ya...selama ini, aku hanya menganggap Mika seperti adikku sendiri. Dan kamu sendiri tahu, aku sangat mencintai sahabat mu, Stevia!"


Aku mengusap pelipisku. Kenapa serumit ini sih???

__ADS_1


Tak lama kemudian, Julian datang dan menghampiri kami.


"Bagaimana mas Jul?", tanyaku.


"Pak Aziz bisa langsung di pindahkan Bu!", kata Julian. Aku melihat Julian yang tak memakai pakaian formal, justru terlihat sangat tampan kali ini. Astagfirullah....mata oh mata....lihat cowok bening kenapa tak bisa di kondisikan sih! Aku mengusap wajah ku dengan kedua tangan ku.


"Kamu kenapa Di?", tanya Damar.


"Ah, ngga mas!", jawab ku singkat. Ya kali aku harus jujur terkesima dengan Julian?!


Perawat tadi kembali masuk ke ruangan aziz. Didalam ruangan tersebut sudah ada rekan perawat lain.


"Sudah dapat kamar nya sus?", tanya suster ke satu.


"Sudah sus, di ruang VVIP 1234", jawab suster dua.


"Pasien orang kaya ya sus? Ternyata, dia sangat tampan ya sus meskipun mukanya bonyok begini", kata suster satu.


"Iya sus. Istrinya aja cantik begitu, cocok lah!", kata suster ke dua.


"Asisten nya saja mukanya indo loh,sus!", kata suster dua.


"Asisten?", tanya suster satu.


"Iya. mana ganteng banget lagi. Tadi dia yang ngurus administrasi nya, dia bilang sendiri kalo dia Aspri nya Bu Dian, istri pasien" kata suster dua.


"Enak ya jadi orang kaya heheh!", sahut suster satu.


"Sus, pasti...malem sebelum kejadian naas, mereka habis ehem...ehem...lihat kan stempel nya dimana-mana?", suster satu mulai bergosip.


"Wajar lah, suami istri!", sahut suster dua.


"Dan, aku dengar...suami dokter Mika, mantan nya Bu Dian lho....!", kata suster satu.


"Kamu nguping?", pekik suster dua.


"Nggak sengaja sus! Dan yang lebih parahnya, dokter Revan yang kaku itu juga mantannya Bu Dian juga!", kata suster satu.


"Ya Allah, kamu ini kelewat banget sih kepo nya!", kata suster dua.


"Nggak sengaja sus, ya udah sih. Yang penting kan cuma kita berdua yang tahu!", kata Suster satu.


"Iya .. iya ..awas lho kalau kedengeran sama dokter Revan, mampus kita!", kata Suster dua.


"Ngga lah, mah bunuh diri. hehehehh!", merek bercanda tanpa menyadari jika Revan sudah ada di belakang mereka.


Kedua suster itu masih bergosip.


"Siapa ya yang tega celakain pria setampan pak Aziz? sayang gitu pipi nya bonyok gini? Di tambah lagi , sampe kaki nya cedera parah!", tanya suster satu lirih.


"Nyaman juga orang kaya sus. Pasti banyak musuh! Entah urusan bisnis, entah urusan pribadi!", kata suster dua.


"Sok tahu! Kata siapa begitu?",kata Suster satu.


"Dari novel online yang suka ku baca!",jawab suster dua.


"Kebanyakan baca novel sih?!", kata Suster satu.


"Daripada kebanyakan ghibah?", kata suster dua. Kini kedua nya berpandangan,lalu tertawa bersama. Mereka menyadari dari tadi mereka sudah bergosip ria, meskipun tangannya tetep kerja.


Ehem.....suara deheman mengagetkan keduanya.


"Pasie sudah dapat kamar?", tanya Dokter Revan.


"Ah... dok, su...sudah dok. Di ruang VVIP 1234!", jawab suster dua.


"Saya cek pasien dulu!", kata dokter Revan. Kedua perawat itu pun mundur.


Revan mengecek kondisi Aziz lagi. Lalu ia memasukkan kedua tangannya di kantong jas.


"Ya sudah, pasien bisa di pindah sekarang!", titah Revan.


"Baik dok!", sahut keduanya. Setelah mengecek alat bantu di tubuh pasien, kedua perawat itu mendorong brankar Aziz menunju kamar rawat nya .


Aku dan damar serta Julian sudah menunggu di depan pintu. Saat pintu terbuka, aku bisa melihat kondisi mas Aziz.


"Mas....!", aku mengusap pipinya sebentar. Tapi setelah itu, kami mengikuti brankar menuju kamar rawat mas Aziz.

__ADS_1


__ADS_2