
Aku masuk ke kamar ku saat kulihat mas Aziz sedang bersandar di headboard ranjang.
"Minum obat yuk mas!"
Aziz pun mengangguk.
"Mbak Hayu udah pulang?", tanya Aziz saat selesai menelan beberapa butir obat yang baginya sangat membosankan.
"Udah mas. Kan selama puasa mbak Hayu nutup cepet. Apalagi sendirian sekarang. Adikmu lagi mabok berat mas, kasian tuh. Hamil muda sampe mabok parah!"
"Iya ya, kasian Imah."
"Aku juga mau kok hamil lagi mas!", kataku ikut bersandar di headboard ranjang.
Aziz tersenyum tipis.
"Memang aku masih bisa membuahi mu dek? Keadaan ku kan seperti ini sekarang."
"Heum! Mulai deh! Bisa lah, kaya begini aja masih ganas kok!", aku berusaha membuatnya percaya diri kembali sambil ku colek dagunya yang sedikit di tumbuhi rambut. Ganjen amat Di? Biarin lah, sama suami sendiri ini!
"Tapi sayang, mas kasian kalau kamu sampai hamil lagi. Kami udah capek ngurusin mas, Diaz, DWP, butik sama ngurus kios juga. Apa kabar kamu kalau sampai hamil? Aku ngga tega sayang!'', mas Aziz mengusap kepalaku. Ku lemparkan senyum tipis.
"Kita pasrah sama yang di atas. Semua kan titipan dari yang kuasa. Anak itu rejeki mas. Kalau Allah emang mau ngasih, kenapa nggak?"
"Dan soal DWP, butik dan kios itu memang kewajiban kita. Ada segelintir orang yang bergantung pada usaha kita. Sedangkan kamu dan Diaz, adalah kehidupan ku. Nyawa hidupku".
"Tapi aku sudah tidak bisa menyempurnakan kehidupan mu lagi."
"Siapa bilang? Bagiku, mas tetap lah suamiku yang paling ku cinta. Apa pun keadaan mu saat ini, tapi percayalah kamu pasti bakal sehat seperti sebelumnya!"
Mas Aziz meraih ku dalam pelukannya.
"Apa ini sebuah keberuntungan buat ku? Di cintai dan mencintaimu perempuan sebaik kamu dek!", kata Aziz sambil menaikkan daguku. Lalu mengecup sekilas.
"Kamu tahu mas, segala kekurangan ku. Kejelekan ku. Luar dalam nya aku. Lalu kenapa kamu masih meragukan ku?", sekarang aku yang gantian mengecup nya sekilas.
Mas Aziz menyunggingkan senyumnya.
"Mas, boleh nggak besok aku ke dwp sebentar? "
"Tapi nggak sendirian ya? Sama Julian kan? Mas nggak mau kalau terjadi...."
"Iya, aku akan minta mas Jul mengantar jemput ku. Kamu nggak cemburu kan mas?", godaku.
"Sebenarnya cemburu, apalagi Julian itu ganteng. Coba aja mas baik-baik saja, mas nggak mau lagi kamu di kawal sama dia."
"Mulai deh....ya udah, aku minta anterin mas Fai aja deh!", aku tambah meledeknya.
Mas Aziz melotot ke arahku, tapi aku justru tertawa terbahak-bahak. Mulut mas Aziz monyong-monyong.
"Biasa aja kali tuh bibir! Di gigit baru tau rasa deh!"
"Kamu kok makin kesini hobi banget godain mas sih dek!"
"Habisnya aku gemes liat muka mas kalo lagi cemburu gitu! Lagian, hari gini masih aja cemburu sama Fai apalagi sama Julian."
"Suami mana yang nggak cemburu istrinya di kagumi pria lain!"
"Tapi hatiku hanya untuk mu kanda!", kataku manja dengan nada suara ku buat-buat.
"Diandra!!!!" mas Aziz mencubit pipi ku dengan gemas.
"isssh....sakit mas!", kuusap pipiku yang pasti merah.
Mas Aziz menghujani ku dengan ciuman di wajahku.
"Udah nggak sakit kan?"
"Nggak sih, tapi....!"
"Tapi apa heum???", mas Aziz mengangkat daguku.
"Mau.....,!", rengekku. Mas Aziz tersenyum tipis lalu apa yang harusnya terjadi pun terjadi.
.
.
.
__ADS_1
"A, jangan pakai parfum itu lagi dong! Imahual tahu!", kata Imah kepada suaminya.
"Neng, ini udah keberapa kalinya AA ganti parfum neng!", kata Dadan.
"Tapi baunya nggak enak! Imah enek A!"
Dadan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu ia pun beranjak ke luar kamar.
"AA mau ke mana!?", tanya Imah yang masih duduk santai di sofa ruang tamu.
"Mau ke warung neng. Kenapa? Mau ikut?"
Imah menggeleng.
"Apa mau sesuatu? Nanti Aa belikan?", Imah kembali menggeleng.
"Apa dong sayang?", Dadan kembali mendekati istrinya itu.
"Imah mau nya...AA pake minyak telon aja A. Enak gitu deh baunya."
Hah? Minyak telon? Dikira orok???
"Tapi Neng...masa pakai minyak telon sih? AA kan bukan bayi neng?"
"Tapi bentar lagi AA punya bayi kan? Nggak mau gitu punya bayi?"
"Ya Allah neng, ya mau atuh."
"Ya udah,nurut kenapa! Masih mending Imah mau AA pakai minyak telon doang. Kalau Imah mau AA pakai popok, emang AA mau nurutin? Enggak kan?"
"Aduh neng, ada-ada saja. Mana ada sih AA pakai popok!"
"Ya udah, makanya timbang pakai minyak telon aja repot banget sih!", Imah beranjak dari sofa.
Dadan terkejut melihat istrinya tampak marah itu.
"Neng! Aduh, jangan marah atuh?!", Dadan mengejar Imah yang masuk ke kamar.
"AA nggak usah deket-deket Imah deh! Bau!"
"Tapi neng, AA kan bau parfum bukan bau badan sayang!", kata Dadan lirih.
"Ya udah, AA beliin minyak telon nanti neng cium-cium aja baunya ya!"
"Ya udah sana beli, tapi AA ke sini juga badannya harus bau minyak telon."
Imah mendekati meja rias di kamar mereka. Lalu memungut beberapa botol parfum suaminya.
"Nih, buang! Kalau nggak di kasih ke siapa kek!"
Dadan melongo. Di kasih ke orang? Yang bener aja!
"Sayang, ini parfum kan harganya lumayan. Masa di kasih ke orang semuanya?", kata Dadan memelas.
"Pokoknya, Imah nggak mau ya cium bau parfum-parfum AA kek gitu."
Astagfirullah! Gini amat ya punya istri hamil muda. Ayolah Dan, cuma bau minyak telon aja masa ngga mau sih. Kasian kan kalo anak Lo ileran. Emang mau????
"Iya...iya....neng, AA buang. AA kasih ke anak-anak!", kata Dadan.
"Ya udah sana beli!", pinta Imah .
"Emang harus sekarang banget ya Neng?"
"Iya. Saiki!", kata Imah kekeh.
"Iya...iya...AA jalan sekarang! Assalamualaikum!", pamit Dadan.
"Walaikumsalam!", sahut Imah sedikit ketus.
Dadan ke warung yang ada di sebelah rumah. Lalu di panggilnya lima karyawan laki-laki.
"Naon A!", sahut salah satu karyawan nya. Dadan memang meminta mereka untuk memanggil nya AA saja. Agar tidak ada kesenjangan di antara bos dan karyawan nya.
"Nih, saya punya parfum baru. Berhubung istri saya sedang ngidam, dia melarang saya pakai parfum-parfum ini. Dia minta saya bagi ke kalian."
Para karyawan nya pun terlihat senang sekali. Sapa juga yang mau nolak di kasih parfum mahal begitu, menurut mereka.
"Alhamdulillah, haturunuhun A!", kata salah seorang karyawan nya.
__ADS_1
"Iya! Ya udah, saya mau pergi sebentar. Bentar lagi siap-siap buka warung. Jadi nanti pas buka puasa, kalian sudah ready melayani pembeli!"
"Iya A!", sahut mereka kompak.
Dadan pun meninggalkan warungnya menuju indoapril.
Usai memarkirkan motornya, Dadan langsung menuju rak 'perminyakan'.
Nah lho? Ini minyak telon semua? Gumam Dadan. Karena di sana ada terdapat banyak merek.
"Mbak...mbak....yang namanya minyak telon, ini semua?", tanya Dadan.
''Betul pak. Anda ingin mencari yang merek apa?"
Dadan pun bingung.
"Mbak, saya ambil masing-masing satu deg setiap mereknya!"
SPG itu mengernyitkan keningnya.
"Saya takut salah mbak, itu titipan istri saya."
Mbak SPG pun mengangguk tanda mengerti. Ada beberapa merek minyak telon yang Dadan beli. Entah lah, merek apa yang Imah suka.
Sesampainya di rumah, ia mendapati istrinya sedang memainkannya ponsel. Melihat suaminya datang, Imah terlihat senang. Dan tentu saja, melihat senyum istrinya adalah kebahagian tersenyum baginya.
"Mana minyak nya A?"
Dadan menyerahkan kantong keresek itu kepada Imah.
Imah pun menciumi satu persatu botol kecil itu. Dia menghirup dalam-dalam.
"Sini AA duduk?!", titah. Dadan pun menuruti perintah istrinya duduk di depan Imah.
"Buka bajunya!"
Dadan mengerjap kan matanya.
"Neng! Masih siang ini! AA puasa lho!", kata Dadan.
"Ishhh...AA mah ngeres aja otaknya. Siapa yang mau ngajak begituan sih? Imah juga tahu ini puasa kali."
"Terus, ngapain AA suruh buka baju?"
"Mau Imah balurin pake minyak ini lah!"
"Naon Neng? Aduh yang benar aja sih neng? Cuaca lagi panas begini, masa iya AA di pakein minyak gituan. Panas atuh!"
"Yakin ngga mau?", ancam Imah sambil melotot.
Dadan yang di pelototi istrinya pun akhirnya mengalah. Dadan pasrah saat istrinya memijat punggung nya dengan minyak telon.
Yah....meski rada anget karena hari masih panas, setidaknya ada plusnya juga. Dapet pijatan gratis lah.
Usai mengoles ke punggung dan dada suaminya, Imah memakaikan baju Dadan lagi. Aroma telon menyeruak memenuhi ruangan kamar nya.
"Nah, gini kan wangi A!". Imah bergelayut manja di dada suaminya.
Dadan menarik nafas dalam-dalam.
"Iya, asal neng senang!", kata Dadan pasrah.
"Makasih A! Ya udah sana, AA ke warung lagi!", Imah pun merebahkan diri di kasur. Sedangkan Dadan hanya melongo melihat istrinya memperlakukan dirinya seperti tadi.
"Ya udah, AA keluar ya!"
Imah mengangguk sambil menyunggingkan senyuman nya yang manis.
Demi nyai lah pokoknya! Batin Dadan sambil keluar dari kamar mereka.
*****
🙏🙏🙏🙏Maap baru apdet. Kali aja ada yang nungguin.Kemarin kejebak macet, jadi ga bisa ngaplot deh.
Tapi insyaallah kalo udah kembali ke rutinitas mah, bisa kali rutin apdet 🤭🤭
Pokoknya Mak cuma bilang, makasih buat kalian2 yang masih bersedia baca tulisan mamak ini.
Haturunuhun 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1