
"Sudah pak Haji! Mereka sudah menuju rumah pak Haji!", kata seseorang yang melaporkan kondisi antara Fai dan mika kepada Abah.
"Baiklah, terimakasih."
"Saya kirimkan rekaman pak haji, hanya sebagian. Tapi...saya rasa ...pak haji akan senang mendengarnya!", ucap pria itu.
"Coba kirimkan. Dan... terimakasih pekerjaan mu selesai hari ini."
"Terimakasih pak haji. Saya segera mengirimnya. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
Sebuah rekaman suara dari anak semata wayangnya membuat laki-laki seput itu menyunggingkan senyumnya.
'Iya. Kita kan calon suami istri!'
Kalimat singkat itu nyatanya membuat Abah merasa jika keputusan untuk menjodohkan Fai dan Mika adalah keputusan terbaik selama ini. Abah menyadari, keputusannya saat meminta Fai meninggalkan Diandra adalah hal menyakiti anaknya sendiri. Buktinya, meski bertahun-tahun sudah berlalu, Fai belum bisa membuka hatinya untuk perempuan manapun.
Kehadiran Mika, menjadi harapan baru bagi Abah.
*****
"Makasih Mika, sudah mau anterin. Biasanya... cowok yang anterin cewek pulang, hehe!",kata Fai.
"Sama-sama mas. Berarti aku luar biasa ya mas?", ledek Mika.
"Iya...bisa di bilang begitu!"
"Hahaha...kita ini aneh!", kata Mika sambil memegang setir mobilnya.
"Aneh apanya?", Fai memincingkan matanya.
"Lupakan lah!", kata Mika.
"Oh iya, mau mampir ?", tawar Fai.
"Nggak deh. Lain kali aja, kalau sudah ada kejelasan. Baru aku ke sini!"
"Kejelasan apa?", tanya Fai.
"Ya...kalau kami sudah melamar ku secara resmi lah mas! Kamu aja belum kerumah, menemui mama papa ku. Masa aku duluan yang nemuin Abah sama Umi!", kata Mika manyun.
"Hah! Kenapa kamu itu percaya diri sekali Mika!", Fai tersenyum.
"Karena aku hanya berusaha menjalani takdir kita mas."
"Kita akan berjuang bersama mas!", kata Mika.
"Berjuang ? Dikata mau perang!"
"Lebih dari sekedar perang malah!"
"Oh ya?"
"Heum!"
"Memang apa yang akan kita perjuangkan?", tanya Fai yang bingung dengan arah pembicaraan Mika.
__ADS_1
"Masa depan kita lah mas. Gimana sih pak guru ih....!"
"Kamu itu lagi ngomongin apa sih mika! Lama-lama gemes aku tuh ngomong sama kamu!"
"Hahahah ngaku kan, aku ini menggemaskan???"
"Mulai lagi percaya dirinya!"
"Percaya diri itu perlu mas, dari pada minder!"
"Iya...iya...terus, yang kamu bilang berjuang itu gimana? Berjuang untuk apa?"
"Berjuang untuk kita bisa saling jatuh cinta!", sahut Mika santai.
Deg!
Gadis ini! Kenapa bisa gadis seperti nya bisa menjadi seorang dokter?
"Aku akan berjuang, melupakan kak damar!", kata Mika sendu. Tapi setelah itu dia tersenyum. Sambil menatap Fai.
"Dan berjuang juga, untuk bisa mendapatkan cintamu mas!"
Apa katanya? Cintaku? Hah! Aku dan dia saja baru saling mengenal, dia bilang apa? Cinta?
"Terus kamu juga mas! Kamu berjuang untuk melupakan mbak Diandra! Dan berjuang juga untuk membuat aku jatuh cinta padamu!"
Sama saja Mika!!!!
"Hem. Mika...mika...kenapa harus ada kata-kata cinta...!"
"Ya karena kita kan akan menikah! Bukan nya tadi kamu bilang kalau kita ini calon suami istri?"
"Nah, kita menikah kan tidak hanya di hadapan orang tua kita. Tapi yang lebih sakral lagi, di hadapan Allah. Apa pantas kita mempermainkan pernikahan?"
"Tapi Mika...kita bisa kan saling mengenal satu sama lain, tidak harus secepatnya menikah?"
"Tapi aku mau, kita pacaran setelah menikah mas....!", suara mika terdengar seperti rengekan.
Ya Allah Mika, agresif sekali sih Lo! Nggak ada harga dirinya jadi cewe, keliatan banget ngebet dinikahi! Batin Mika, perasaan dan logikanya saling berperang.
Gadis ini sungguh menggemaskan! Dia bisa tiba-tiba bijak, tiba-tiba bisa seperti anak kecil. Apa katanya? Dia ingin pacaran setelah menikah?
"Oke. Aku akan meminta Abah untuk segera melamar mu!", kata Fai sambil membuka pintu mobil.
Wajah Mika yang putih itu tiba-tiba bersemu merah. Malu. Iya, Mika merasa sangat malu.
Mika yang masih terbengong-bengong dikagetkan dengan ketukan dari kaca mobilnya.
Tuk....tuk...
Dengan sigap mika membuka kaca mobilnya.
"Pulang lah, jangan lupa. Persiapkan diri kalau tiba-tiba aku dan Abah datang ke rumah mu! Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam mas...!"
Fai memasuki rumahnya dengan senyum mengembang. Dia tidak percaya bahwa ia bisa mengambil keputusan secepat ini. Ah, mika!
__ADS_1
Mika melajukan mobilnya dengan perlahan. Dia masih terngiang-ngiang dengan ucapan Fai tadi. Benarkah?
Apa ini salah satu bentuk jatuh cinta? Ah...iya...mungkin ini sebagian kecil dari yang namanya jatuh cinta. Hahahah mas Fai, apakah karena kita senasib ya?
******#
"Om...ini ketiga kalinya aku hamil anak om! Apakah tidak pernah sedikitpun om berniat untuk menikahi aku?"
"Itu salah mu sendiri. Kenapa kamu tidak bisa menjaganya agar kamu tidak hamil lagi. Gugurkan saja lagi seperti yang sudah-sudah!"
"Om Stevan! Untuk kali ini, aku tidak akan menggugurkannya lagi om. Cukup! Aku hanya ingin kejelasan hubungan ini. Aku ingin om segera menikah dengan ku!"
Pria itu mencengkeram dagu perempuan itu, yang tak lain adalah Lili!
"Jangan harap! Dari awal aku sudah katakan padamu, kamu hanya pelampiasan hasrat ku. Selebihnya, kita tida ada keterikatan apa pun!"
"Baiklah kalau om tidak mau bertanggung jawab pada anak ini. Aku akan mempublikasikan ke semua orang. Stevanus Winata sudah menghamili seorang perempuan dan tidak mau bertanggung jawab!"
"Jangan coba-coba mengancamku Liliana!"
"Aku tidak akan main-main kali ini Om!"
"Kamu berani mengancamku hah!", Stevan mendorong lili ke sofa.
"Baiklah! Kalau om masih bersikeras tidak mau bertanggung jawab padaku. Mungkin karma yang anakmu dapatkan karena kelakuan papanya yang seperti ini!"
"Apa maksud mu hah!!!"
"Anakmu sudah menjadi janda. Suaminya mati!"
Stevan menatap nyalang wanita yang sudah lebih dari lima tahun menjadi teman tidurnya.
"Apa katamu!?"
"Iya. Aku bertemu dengan anakmu om. Saat om melihatnya, ku pastikan om akan merasakan seperti apa rasanya jadi aku kali ini!"
"Dimana kamu menemui putri ku!?"
"Hah! Untuk apa aku memberi tahumu om?!"
Lagi-lagi dagu Lili di cengkeram oleh Stevan.
"Katakan dimana putriku?!", teriak Stevan.
"Aku tidak akan memberi tahumu jika om tidak menikahi ku! Asal om tahu, kehidupan nya saat ini amat sangat miris!"
Stevan kembali melepaskan cengkraman nya.
"Baiklah! Kita menikah! Tapi setelah itu, kamu harus memberi tahu dimana putriku!"
"Tentu saja!", sahut lili riang. Lili sudah lelah mengejar Aziz, sudah lelah pula menjadi wanita pemuas nafsu Stevan. Dia ingin kehidupan yang layak.
"Anak buahku akan menyiapkan semuanya. Besok kita akan menikah!"
Lili tersenyum lebar. Dia pun kembali ke kamar. Tati sudah tidak bekerja lagi padanya, ia memutuskan untuk kembali ke Malang setelah menerima gaji pertama dari Lili.
'Vi....', gumam Stevan.
__ADS_1
'Apa yang terjadi padamu nak? Benarkah yang lili katakan?'
Stevanus menyesap rokoknya. Laki-laki yang usianya menginjak enam puluh tahun itu masih terlihat gagah meskipun sudah tak muda lagi.