
Mas Aziz baru saja memarkirkan motornya di garasi. Seorang gadis tengah berkacak pinggang di depan kami.
"Kalian dari mana sih? Imah cari-cari juga?",Imah ngomel kaya emak-emak kehabisan beras.
"Yey... suruh siapa bangunnya siang. Ditinggal deh!", ledek Aziz.
"Bangunin lah!"
"Ngapain bangunin ,orang kamu tidur kaya kebo! Biasanya juga subuh udah ke dalem. Suruh siapa abis subuh tidur lagi!", lanjut Aziz.
"Kok mas Aziz tahu, Imah tidur lagi abis subuh?"
"Nggak perlu di tanya kali Mah, udah ah...nih buat sarapan!", mas Aziz memberikan sebungkus bubur ayam.
"Cuma ini?", tanya Imah sambil menerima bungkusan itu.
Aku hanya mampu melihat kedua bersaudara itu ribut pagi-pagi.
"Dih... bukannya bersyukur mas beliin, inget kamu dirumah takut kelaparan. Ya udah sini kalau nggak mau!"
"Mau lah mas, tapi bubur tok Yo gak wareg toh mas!"
"Hah? Ngomong apa lu?"
"Maksud Imah, makan bubur segitu doang mana kenyang mas....!", aku bantu mentranslete.
"Astagfirullah! Segitu ga kenyang? Itu perut apa karung goni Imah?"
"Ih...mas Aziz ,Imah kan lagi belajar makan banyak. Kata A Dadan Imah kekurusan, nanti baju kebayanya longgar. Kan nggak enak dilihat nya?!", kata Imah manyun.
"Oh... gara-gara kang Dadan? Oke, ntar mas omelin dia. Enak aja nyuruh-nyuruh adik mas begitu. Kalau dia emang cinta, kudunya terima kamu apa adanya mah!", kata Aziz ketus.
"Mas, maksud kang Dadan gak gitu kali!", aku mencoba menengahi.
"Terus apa?", tanya imah dan Aziz bersamaan.
"Ciye....Abang adek kompak!"
"Mbak....!"
"Dek....!"
Mereka berdua kembali kompak memanggil ku.
"Heheheh udah ah, nggak usah diributin. Mungkin maksud kang Dadan tuh, pengen lihat Imah sedikit berisi biar terlihat lebih seger. Tuh lihat, pipinya aja tirus banget begitu. Nah, setidaknya kalau sedikiiiiiitt...lagi BB naik, Imah kelihatan lebih fresh gitu."
"Emang Imah kurus banget ya Mbak?"
"Kurus sih enggak, cuma butuh dikit...lagi biar pipinya lebih berisi!"
"Imah harus makan banyak?"
"Nggak juga, makan makanan yang bergizi lah mah. Banyakin makan sayur, buah daging juga boleh!",kataku.
"Tapi kalau kamu masak daging terus di rumah dek, mas yang bakal makin bengkak?!", kata Aziz ketus.
"Hahahah...kalian itu lucu ya. Yang satu pengen gemuk, yang satu pengen kurus! Udah, terima apa adanya saja! Yang penting kalian berdua sehat."
Akhirnya obrolan kami pun berakhir. Sudah hampir jam setengah delapan. Kini saatnya kami kembali ke rutinitas seperti biasa.
*****
"Hai, Imah!", sapa Lili.
"Mbak, ngapain kesini?"
"Pengen ketemu bos mu lah!"
"Mas Aziz masih di dalam, lagi jagain Diaz. Nggak tahu ke sini jam berapa!"
"Oh...gitu. Ya udah aku mau nungguin disini!", lili menjatuhkan bobotnya di bangku depan .
"Terserah!", jawab Imah dengan masih terus mengelap etalase dan dagangan nya.
"Kamu nggak nanyain ibu kamu Mah?",tanya lili berusaha membuka obrolan.
"Nggak ,buat apa? Toh kalian sama. Sama aja jahatnya!"
__ADS_1
"Hei, yang jahat itu kamu! Ngapain kamu otak-atik ponsel ibumu! Nggak sopan!"
"Jangan ngajarin kesopanan sama saya mbak Lili! Kamu lebih nggak sopan lagi!"
"Hei, jaga bicaramu bocah kampungan!"
"Saya memang dari kampung mbak, tapi justru situ yang kampungan!"
"Berani kamu sama aku?"
"Lha, ngapain Imah takut?"
Lili menggebrak etalase di depan Imah.
"Hei mbak, jaga kelakuan kamu ya! Kalau ada kerusakan, kamu kudu tanggung jawab!"
"Tanggung jawab apa? Gue beli ini semua isi kios ini!", Lili berapi-api.
"Ada apa Imah, pagi-pagi ribut begini?", tanyaku. Aku sengaja keluar,dan membiarkan mas Aziz menjaga Diaz di rumah.
"Tau nih mbak, ulet bulu. Pagi gini bikin orang naik darah aja!", sahut Imah.
"Lo yang mulai!"
"Kok Imah, yang ke sini siapa? Kan situ yang nyamperin Imah!"
"Udah mah, udah!", aku mencoba menenangkan imah.
"Mbak Lili, ada perlu apa ke sini?", tanya ku.
"Mau ketemu pujaan hati gue lah!"
Buset, nih orang udah putus kali ya urat malunya. Ayok, Dian...sabar...kamu harus main cantik menghadapi perempuan kaya gini.
"Oh...janjian disini?", tanyaku pura-pura.
"Maksud mu apa Di? Gue mau ketemu Aziz, laki Lo!"
"Oh, mas Aziz lagi main sama Diaz. Makanya saya yang disuruh nemenin Imah disini!"
"Dian, mas Aziz kan kemarin ulang tahun gue cuma mau ngasih hadiah ini kok. Mau ucapin selamat sama dia."
Lili menunjukan sebuah kotak kecil berwarna hitam, kurasa isinya sebuah jam tangan mahal.
"Oh, mas Aziz udah tua mbak lili. Udah nggak ada kado-kadoan. Malu lah...!", kataku pelan.
"Di, gue mau ngasih ke Aziz ngapa Lo yang nolak! Lo tahu, jam tangan ini berapa duit? Tiga juta! Lo, sebagai istri nya mana sanggup beliin!", kata Lili jumawa.
"Duh ,mahal bener ya mbak?", kataku.
Sedangkan Imah hanya cekikikan mendengar ku yang masih terus menanggapi Lili.
"Ya lah, gue kan kerja. Emang Lo cuma ibu rumah tangga?!"
"Iya mbak, saya bergantung sama suami saya mbak. Tapi, kok jam segini mbak disini? Nggak ke kantor? Emang nggak takut di pecat ya mbak?"
"Hem...mana ada yang berani pecat gue!"
Dih...sombong amat nih cewek. Untung cantik Lo, masih ada unggulnya dikit-dikit.
"Oh, mbak Lili sekarang bosnya?"
"Udah ah, Lo nggak perlu tahu urusan kerjaan gue. Gue mau ketemu laki Lo!"
"Kan dari tadi saya bilang mbak, mas Aziz lagi main sama Diaz!"
Lili masih kekeh ingin ketemu mas Aziz, dan di waktu yang bersamaan Fai pun datang.
"Assalamualaikum, Di...Imah!"
"Walaikumsalam", aku dan Imah menjawab bersamaan.
"mas Fai nggak ngajar toh mas?", tanya Imah.
"Lagi nggak ada jadwal mah!", jawabnya.
Aku bingung kalau masih berhadapan dengan laki-laki masa laluku.
__ADS_1
Berbeda dengan Lili, yang memperhatikan Mas Fa'i. Pagi ini mas Fai terlihat lebih ,tampan. Astagfirullah...aku memuji pria lain! Tapi, dia memang terlihat lebih ganteng pagi ini. Kemeja hitam lengan pendek dan celana bahan terlihat sangat pas.
"Kamu kenapa lihatin aku begitu Di?", tanya mas Fai. Aku tiba-tiba jadi gelagapan sendiri. Imah pun menyikut lenganku sambil berbisik.
"Jangan bilang, mbak Di terkesima sama mas Fai! Awas, ntar Imah bilang sama mas Aziz! ", ancam Imah.
"Nggak lucu mah!", sahutku.
"Hei, cowok ganteng. Kenapa ya, kalau gue liat cara Lo liatin Dian tuh beda?", tanya lili pada mas Aziz sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Bukan urusan mu!", jawab Fai singkat.
"Ya...kali aja... jangan-jangan Lo naksir sama istri orang? Kaya gue, yang kecintaan sama Aziz!"
"Hem, kamu itu perempuan.Hargai diri kamu sendiri, kalau kamu mau di hargai orang lain!", Fai memberikan nasihat pada lili. Aku dan Imah hanya melihat obrolan mereka.
"Gue nggak peduli, yang gue peduli Aziz doang!"
"Dasar perempuan aneh!", gumam Fai.
"Apa katamu? Lalu, apa bedanya gue sama Lo? Gue suka sama Aziz, dan Lo suka sama Dian?So...kita sama aja kan?"
"Memang kapan saya bilang suka sama Dian?"
"Hahahah...Lo keliatan banget suka sama Dian!"
"Iya, Dian mantan pacar gue. Tapi, gue ikhlas sekarang Dian sudah menikah sama Aziz. Sahabat gue!"
"Woooww.... amazing!", lili bertepuk tangan di depan kami. Aduh, mas Fai ngapain pake acara ngomong begitu sih. Alay banget deh ah!
"Jadi, lebih baik...kamu nggak usah ganggu rumah tangga mereka. Biarin mereka bahagia dengan kehidupan mereka!"
"Lo pikir Lo siapa? kenapa Gue harus nurut sama Lo?"
Fai tersenyum santai.
"Udah mas Fai, nggak usah di tanggepin. Kamu ada perlu apa ke sini?"
"Mau ketemu Aziz, Di! Kang Dadan lagi balik ke Bogor. Saya mau bicara tentang urusan Dadan sama Imah!"
"Oh,...!"
"Nah, sekalian biar Aziz ketemu gue!"
"Jangan harap!", kata Fai.
Dia meninggalkan kios dan memutar menuju gerbang. Mau gak mau, aku terpaksa membuka gerbang untuk nya.
Mata kami saling beradu saat aku membuka pintu gerbang rumahku.
"Di...!", panggil nya pelan.
Aku tak berani melihat matanya lagi.
"Aku memang mengikhlaskan kamu sama Aziz, tapi...asal kamu tahu. Aku akan selalu menyimpan rasa ini."
"Mas, kamu laki-laki dewasa,mapan ...tampan! Kamu bisa mendapatkan perempuan mana pun. Jangan mengharapkan aku. Aku sudah tidak ada rasa apa pun padamu. Aku cuma mencintai suamiku, mas Aziz!"
Aku pun meninggalkan nya untuk membuka pintu ruang tamu.
"Mas, ada mas Fai di depan!", aku mengambil Diaz dari pangkuan mas Aziz.
"Ngapain Fai ke sini?", tanya Aziz heran.
"Tau... mau ngomongin rencana Imah dan kang Dadan kali."
"Dek....!"
Aku mendongak.
"Benci sama cinta itu beda tipis lho, jangan terlalu membenci Fai. Mas takut nanti kamu jatuh cinta lagi sama Fai!"
"Astagfirullah mas!"
Mas Aziz menepuk bahuku.
"Mas mencintai kamu Dek!", bisiknya. Dia pun berlalu menuju ruang tamu untuk menemui Mas Fa'i. Sejak kemarin, mas Aziz terdengar lebih bijak. Kenapa ya?
__ADS_1