Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 232


__ADS_3

Imah baru saja memasuki ruang tamu, belum sempat ia memberi salam dia mendengar obrolan suami dan ibu mertua nya.


"Dan ...bilang tuh ke istri kamu. Dia tuh sudah punya keluarga sendiri. Jangan terlalu sibuk bantuin kakak nya terus. Kan saudaranya teh orang kaya. Bisa kan bayar orang buat jagain anaknya?"


"Mak...Imah cuma mau nemenin aja. Kan emang udah ada teh Neng yang jagain Diaz Mak. Kenapa atuh Mak teh sekarang sering banget uring-uringan begini? Dadan nggak mau lho mak kalau Imah denger, terus berpikir yang bukan-bukan. Jadi salah sangka sama Mak."


"Biarin atuh salah sangka Dan. Kan yang udah tua Mak. Yang udah butuh di urusin juga Mak."


"Ya Allah Mak....!", Dadan mengusap bahu Mak nya .


"Ya udah,Mak tinggal di Bogor aja. Ketahuan ada bik Salamah yang bisa rawat Mak. Istri mu disini suruh ngurusin keluarga kakaknya aja!", kata Mak sambil berlalu ke kamar nya.


Imah yang mendengar obrolan suami dan mertuanya pun terpaku. Dadan melangkah menuju pintu tapi ia dikejutkan oleh kehadiran Imah.


"Lho...neng, udah pulang?", sapa Dadan.


"Udah A. Imah ke kamar ya A."


Imah berlalu meninggalkan Dadan. Dadan yang bingung dengan sikap Imah pun akhirnya membuntuti Imah menuju kamarnya.


Setelah berada di kamar , kedua duduk di tepian ranjang.


"Kenapa ngga minta jemput AA neng?"


"Ngga apa-apa A! Imah bisa pulang sendiri kan."


"Diaz gimana kalau kamu pulang?"


"Ada mbak Dian. Udah pulang tadi."


"Alhamdulillah kalo mbak Dian udah sehat mah."


Keduanya kembali terdiam.


"Kamu kenapa sih neng, dari tadi diem aja? tumben gitu!"


Imah menarik nafas dalam-dalam.


"Mak nggak suka Imah bantu keluarga mas Aziz A?"


Dadan mengernyitkan alisnya. Lalu mengusap pelipisnya sendiri.


"Kamu teh denger obrolan aa sama Mak?", tanya Dadan. Imah pun mengangguk.


Dadan meraih bahu istrinya. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu kecil itu.


"Neng, Mak tuh udah tua. Harap di maklumi ya?"


"Kemarin, soal anak. Sekarang soal membantu keluarga mas Aziz, besok apa lagi A?",tanya Imah.


"Kok gitu sih ngomong nya neng?", Dadan mengangkat kepalanya dari bahu Imah.


"Salah sama pertanyaan Imah?", Imah balik bertanya.


"Neng...kalian itu sama berharganya bagi AA. Jadi...jangan biarkan aa memilih salah satu dari kalian. Mak, orang yang sudah melahirkan dan membesarkan AA. Dan kamu, istri Aa. Masa depan AA."


Imah meresapi ucapan Dadan.


"Memang Imah bilang aa suruh milih? Nggak kan A?"

__ADS_1


"Kamu emang nggak bilang. Tapi...kamu seolah-olah membuat pilihan sama AA."


"Udahlah, Imah mau mandi!", kata Imah bangkit sambil mengambil handuk.


Dadan duduk termenung di ranjangnya. Di satu sisi, Mak membutuhkan perhatian dari menantu nya. Di sisi lain, dari awal Imah juga bilang jika dia masih akan tetap membantu kakaknya itu.


Dadan mengusap kepala nya sendiri.


*****


"Mbak Hayu, gimana kios selama kami nggak di rumah?", tanya Aziz pada Hayu.


"Alhamdulillah mas. Lancar-lancar saja. Gimana keadaan Dian?"


"Alhamdulillah sudah membaik kok."


"Maaf ya mas, saya nggak jenguk Dian ke rumah sakit."


"Nggak apa-apa lah Mbak. Kan kamu juga jaga di sini."


Hayu hanya mengangguk sedikit.


"Damar udah pulang? Ke sini cuma nemuin kamu mbak? Nggak ada niatan ketemu aku gitu?"


Hayu jadi gugup sendiri ingin menjawabnya.


"Mungkin dia sedang buru-buru mas", elak Hayu .


"Bisa juga sih!"


Aziz duduk di kursi kasir. Memetik penjualan selama dia tak di rumah.


"Sudah mas. Tapi kalau aksesoris nya kaya nggak usah belanja dulu. Masih banyak."


"Owh ...ya udah."


Aziz mulai mengecek buku penjualan. Lalu menghitung omset beberapa hari ini.


"Mbak hayu belum ambil uang makan selama saya nggak di rumah?"


"Nggak mas."


"Kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa. Cuma saya masih ada uang buat belanja dan jajan Faiz jadi nggak ngambil tiap hari juga nggak apa-apa."


"owh... syukurlah kalau gitu."


Padahal kemarin habis di kasih Daddy, batin Hayu.


"Nanti ambil aja ya mbak. Sisanya mau saya simpan ke dalam."


Aziz membawa dompet berisi omset kios beberapa hari kemarin.


Hayu mengangguk saja.


Aziz selesai menyimpan uang hasil dari kiosnya. Isi brangkas nya pun rapi. Uang dari penjualan kios dan uang yang lain di bedakan. Aziz memang jarang menyimpan banyak uang di rumah. Paling hanya menyisakan berapa. Asal cukup untuk kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan mendadak.


Di lihatnya sang istri yang masih tertidur pulas dengan memeluk putranya. Padahal hampir jam empat sore.

__ADS_1


Aziz mendekati sang istri yang sudah melepas hijab nya. Sakit beberapa hari nyatanya membuat wajah mungilnya semakin tirus saja. Meskipun tak mengurangi kadar kecantikan alaminya yang jarak menggunakan make up.


Di usap-usap pipi mulus sang istri, sedikit senyum tersungging di wajah Aziz.


Kenapa aku bisa tak mempercayai mu dek? bisik Aziz dalam hati.


Aku mengerjap kan mataku.


"Mas....!", kataku lirih sambil berusaha duduk.


"Udah, tiduran aja nggak apa-apa."


Aku pun mengangguk.


"Dek, sekarang udah lebih baik kan? Udah nggak sesakit kemarin?"


Aku menggeleng. Aku memang sakit mas, tapi hatiku lebih sakit saat kamu nggak percaya padaku.


"Aku baik-baik saja mas. Nggak pakai kursi roda pun bisa."


"Jangan dulu dek. Batasi aktivitas mu biar segera pulih."


"Iya mas. Toh, aku juga nggak ngapa-ngapain. Teh Neng kan yang jagain Diaz. Kalau malam...kamu yang gantiin tugasku sementara heheh."


Mas Aziz mengecup kening ku.


"Apa pun buat kamu dek!"


"Gombal ah?!"


"Iya serius."


"Dek...besok kan resepsi pernikahan Mika. Bisa ke sana nggak?"


"Hem? Memangnya mas mau ke sana? Aku mah ikut mas aja."


"Kalau kamu kuat ya kita ke sana."


"Kuat lah. Pakai kursi roda juga nggak apa-apa. Takut capek kalau kelamaan berdiri."


Bukan kuat berdiri dek, tapi kamu kuat ngga lihat Fai dan Mika berdiri di pelaminan yang megah?


"Mas gendong kamu juga bisa!"


"Enak aja!"


"Jadi.... intinya kita akan ke sana?", tanya Aziz.


"Kan aku bilang terserah kamu mas."


"Oke...besok kita ke sana. Tapi Diaz ngga usah ikut saja ya. Ada teh Neng di rumah. Ada juga yang jagain di depan."


"Iya mas. lagian banyak tamu, kasian Diaz nya apalagi lagi musim pandemi kaya gini."


Mungkin karena mendengar obrolan kami, Diaz pun terbangun.


Wajahnya langsung berbinar mendapati ku di samping nya. Perlahan tubuh nya merangkak naik ke atas tubuhku. Mas Aziz hanya tertawa melihat tingkah putranya.


Ternyata Diaz sudah tak sabar untuk menyusu dari sumber nya langsung.

__ADS_1


Melihat kalian berdua tersenyum, adalah kebahagian tersendiri bagi ku. Ku pandangi dua wajah tampan kedua lelaki ku.


__ADS_2