
Di rumah Aziz....
"A Dadan, udah pulang?", tanya Imah pada suaminya yang baru saja mematikan mesin motornya.
"Iya Neng! Diaz nggak rewel kan di tinggal bundanya?"
"Nggak A."
Selang berapa lama, sebuah mobil masuk ke dalam halaman rumah.
"Mobil damar lain?", tanya Dadan. Imah hanya mengangkat bahunya.
"Lo udah sampe aja dan!", tegur Damar.
"Harusnya mah saya yang nanya, kok udah nyusul aja sih!"
"Calm down....bro....!", kata damar.
"Mas damar mau ketemu mas Aziz? Lagi ke kantor!", kata Imah tanpa di tanya.
"Tadi udah ketemu di butik Mah!", jawab Damar.
"Terus kenapa ke sini? Kan tahu mas Aziz nggak di rumah!"
"Atuh kumaha kudu ditanyakeu neng. Jelas arek kapanggih jeng pujaan hati", sindir Dadan.
(Ngapain nanya neng, jelas mau ketemu sama pujaan hati)
"Owh ...gitu....!", kata Imah mengikuti dialek Dadan.
"Jawir, nggak pantes kamu ngikutin dialek nya Dadan!", kata damar mengejek Imah.
"Kok Yo melok-melok ae peyan Iki. Jowar-jawir!", kata imah manyun.
(Kok Yo ikutan aja kamu ini.)
"Hahah udah Mah! Aku ke Hayu boleh kan? Tadi udah ijin sama mas mu kok!"
"Yo wes sana."
Damar pun meninggalkan Imah dan Dadan, serta Diaz yang ada di gendongan nya.
"A, balik dulu yuk. Imah laper deh."
"Emang mbak Dian nggak masak?"
"Masak, tapi Imah kan nggak makan udang A."
"Owh. ..y udah atuh kita balik dulu."
"Eh iya A, mampir ke tukang jus depan indoapril ya. Mau beli alpukat buat Diaz."
"Siap nyonya Dadan!" kata Dadan semangat.
Mereka bertiga meluncur ke minimarket yang tidak terlalu jauh dari komplek rumah mereka. Usai memesan jus alpukat yang nantinya akan Imah berikan buat Diaz , mereka pun pulang kerumah Dadan.
"A, bisa jagain Diaz bentar nggak? Imah makan dulu!"
"Dengan senang hati dong Neng!"
Dadan pun bermain-main dengan Diaz. Farhan masih belum pulang dari sekolahnya. Tak sampai sepuluh menit, Imah pun menyelesaikan makannya.
"Sini A, Diaz sama aku lagi."
Dadan pun menyerahkan bayi tampan itu pada istrinya.
__ADS_1
"Sebenarnya tadi mbak Dian kenapa A?"
"Jadi gini mah. Kemaren teh ada yang kirim video mas Aziz lagi mesra-mesraan sama cewek."
"Lagi????" pekik imah.
"Atuh dengerin aa neng. Kan aa belum selesai cerita nya."
"Owh...oke....oke....!"
"Jadi mbak Dian tuh marah, apalagi mas Aziz nggak ngaku. Eh, pagi-pagi banget malah mas Aziz sama mas Fai pergi. Mbak Di curiga dong. Tapi mbak Di ngga mau ambil pusing. Dia mau ke butik, mau lihat cctv butik. Sampe di sana, ngga tahunya udah ada motor nya mas Fai. Ya udah, AA sama mbak Dian nunggu di luar."
"Terus?"
"Kami berdua nggak masuk ke butik langsung, takut ketahuan sama mas Aziz. Eh.... ternyata, kamu duluan yang bilang sama mas mu."
"Ya iya lah A. Imah kan cemas sama mbak Dian. Terus?"
"AA sama mbak Dian nunggu di luar, eh... ternyata....ada mas Rasyid. Pakai mobil mama Farah. Tapi parkir nya jauh dari gerbang butik."
"Mas Rasyid? Ngapain?"
"Nah itu dia neng. Pas AA sama mbak Dian ngobrol sama mas Rasyid, tiba-tiba mas Fai muncul. Mas Rasyid nya gandeng ke dalam butik deh sama mas Fai."
"Oh ya????"
"Heeh! Dan ternyata....orang yang merekam sama cewek yang ada di video itu teh suruhannya mas Rasyid."
"Ya Allah, mas Rasyid....!"
"Dan tahu nggak kenapa dia ngelakuin itu? Dia pengen hancurin rumah tangga mas Aziz dan mbak Dian."
"Astagfirullah....!"
"Tapi mbak Dian pinter neng. Waktu mas Rasyid ngaku dia melakukan itu karena iri sama mas Aziz, karena Mas Aziz sudah mengelola butik mama dan butik mu , mbak Dian telpon mama Farah. Dan....ya sudah, tamat lah riwayat mas Rasyid."
"Entah lah." Dadan mengangkat kedua bahunya.
"Tapi semua udah selesai kan?"
"Udah. Mama minta mas Rasyid balik ke Surabaya, mbak Imas mau operasi Caesar."
"Owh... syukur lah. Mbah Dian sama mas Aziz baik-baik aja kan?"
"Iya. mereka biasa saja."
"Alhamdulillah kalau begitu."
******
"Assalamualaikum Hayu....!", sapa Damar yang masuk dari pintu belakang kios.
"Walaikumsalam. Mas Damar? Kok masuk dari pintu belakang?", hayu tiba-tiba berdiri. Dia terkejut dengan kehadiran Damar yang datang dari pintu belakang kios.
"Iya, Imah yang ijinin tadi."
"Imah sama diaz mana?"
"Pulang. Tadi di jemput Dadan!"
Imah pulang? Dan...aku hanya berdua dengan Damar? Tega sekali kamu Imah! Batin Hayu.
"Hayu....aku...."
"Permisi, teh beli pulsa....", ada pelanggan yang menghampiri hayu. Hayu pun melayani pelanggan nya dengan ramah.
__ADS_1
Setelah pelanggan pergi, Hayu pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Ngapain kamu ke sini mas? Aziz dan Dian tidak ada dirumah."
"Iya, aku tahu. Kami sudah bertemu di butik tadi pagi."
"Kalau udah ketemu mereka, kenapa kamu kesini? Sudah tahu kan mereka tidak di rumah."
"Aku pengen ketemu kamu!"
Hayu menarik nafas nya. Bener kan dugaan ku. Dia pasti punya niat buat bertemu dengan ku.
"Mau apa kamu mas?", tanya Hayu yang pindah posisi lebih jauh dari sebelumnya. Hayu menciptakan jarak antara dia dan Damar.
"Mas mau bicara tentang kita Hayu."
"Aku sudah sering bilang mas. diantara kita tidak ada lagi yabg harus di bicara kan."
Hayu bicara sehalus mungkin.
"Siapa bilang? Aku ingin bicara masa depan kita."
"Mas damar...mas damar... jangan bahas seperti itu lagi."
"Hayu! Memandangnya kamu benar-benar sudah melupakan ku? Bahkan aku yang pertama kali menyentuh mu, dan...kita punya ...."
"Stop! Jangan mengingat kan aku tentang dosa ku waktu itu mas. Terlalu menyakitkan! Aku merasa jadi perempuan paling menjijikan. Menjadi budak nafsu pacar dengan tameng cinta."
"Hayu! Tolong dengarkan mas....!", damar mulai berdiri hendak mendekati kursi Hayu.
"Berhenti di situ!", Hayu melarang Damar untuk mendekati nya.
"Hayu...mas tahu, kesalahan mas tidak bisa di maafkan. Tapi tolong....beri mas kesempatan untuk memperbaiki nya."
"Kesempatan? Berapa lama? Kurang lama waktu yang ku berikan saat itu mas? Saat aku terpuruk, kamu di mana? Beruntung almarhum mas Royan masih Sudi memungut ku ,bekas mu?!", Hayu mulai menitikan air matanya.
"Aku tahu...aku sudah sangat menyakiti mu. Tolong....beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Hayu. Tolong!", Damar berlutut di hadapan Hayu.
Hayu sendiri menangis, menatap tak tentu arah.
"Tolong...mas ingin bertanggung jawab sayang! Mas mohon!", Damar masih bertekuk lutut di depan Hayu. Damar pun sama, air mata penyesalan jelas keluar dari sudut mata minus nya.
"Bangun lah mas. Kamu tidak pantas berlutut seperti itu!"
"Aku masih dan terus mencintaimu Hayu. Masih....! Aku tidak pernah bisa melupakan kamu."
Hayu menghapus air matanya.
"Beri aku waktu mas ....!", kata Hayu.
Seketika itu pula, Damar mendongakan kepalanya. Kalimat itu terdengar seperti angin segar di tengah kegalauan atas perasaan bersalahnya. Setelah itu, dia pun bangkit.
"Tentu, aku akan selalu menunggu mu. Sampai kapan pun!"
Di sisi lain ...
Aziz menatap layar ponselnya. Dia tersenyum melihat adegan yang di suguhkan oleh cctv di kiosnya yang terubung langsung dengan ponselnya.
"Kenapa mas?",tanyaku pada mas Aziz yang terlihat senyam senyum.
"Lihat lah seperti apa usaha Damar buat mendapatkan Hayu!", kata mas Aziz sambil menyerahkan ponselnya padaku.
Aku pun turut bahagia dengan usaha Damar. Semoga saja ,usahamu berhasil mas Damar. Batinku.
******
__ADS_1
Semangat Damar!!!! Cinta itu butuh perjuangan! Usaha tak mengkhianati hasil!
💪💪💪💪💪💪💪♥️♥️♥️♥️♥️♥️