Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 190


__ADS_3

Sekitar pukul lima sore, kami sudah sampai rumah. Aku dan mas Aziz pun turun dari mobil Fai.


"makasih buat tumpangannya!", kata Aziz.


"Hem...!!", sahut Fai singkat.


"Makasih mas Rifai!", kataku sedikit lembut.


"Iya... Diandra?!", Fai pun gak kalah sok-sokan lembut.


"Dasar Lo, sama bini gue aja Lo bisa lembut begitu!", kata Aziz ketus.


"Ya beda lah, di sambit sama Lo ,gue bisa lawan. Nah kalo sama Dian? Bunuh diri gue!"


"Dasar! Kaum nggak jelas!", gerutu ku.


Akhirnya Fai pun berpamitan. Kami masuk lewat pintu samping. Ku lihat Diaz sedang di suapin Imah. Ingin sekali ku dekati Diaz. Sayangnya, mas Aziz menahan ku.


"Bebersih dulu, baru deketin Diaz sayang!", mas Aziz menggandeng ku ke dalam rumah.


"Tapi aku kangen mas....!", rengekku.


"Makanya, buruan mandi. Habis itu, baru nyamperin Dias. Imah juga pasti capek dari pagi ngurusin Diaz."


Aku pun mengangguk patuh.


"Ya udah, aku mandi ya mas!"


"Iya. Mas mau ngadem dulu di belakang."


Dan setelah itu, aku pun mandi. Buru-buru ku dirikan solat ashar. Sudah jam lima lewat. Lain kali, aku akan solat di kantor saja.


"Buru mandi mas, nanti nggak solat ashar lho?!", panggil ku pada mas Aziz.


"Iya. Otw!", sahut Aziz.


Aku pun segera menuju kios. Diaz begitu riang melihat kehadiran ku.


"Sayang nya bunda.....!!!", aku langsung mencium pipi nya .


"Sini sayang, bunda kangen banget!", setelah berpindah tangan, Diaz menangis manja padaku.


"Cup....cup...kangen bunda ya?", tanyaku. Tangan Diaz mencari-cari sumber kehidupannya di dadaku. Rupanya ia ingin menyusu. Ternyata meskipun aku menyiapkan asi yang sudah ku pumping semalam, Diaz masih menginginkan nya langsung dari sumbernya.


"Maaf ya Mah...mbak ngerepotin Imah terus. Pasti kamu capek dari pagi ngurusin Diaz."


Aku jadi merasa gak enak hati pada Imah.


"Repot apa sih mbak? Dari tadi Diaz anteng kok. Belum lama Imah ajak ke sini. Tadi di rumah sama A Dadan ,terus sama Farhan, sama emak juga. Justru kami seneng ada Diaz,ada hiburannya."


"Kamu emang baik banget sih Mah!", pujiku.


"Jangan sungkan kalau butuh bantuan Imah ya mbak."


Aku pun mengangguk.


Tiba-tiba dari dalam, mas Aziz memberikan ponsel padaku.


"Siapa mas?"


"Telpon dari teh Neneng!"


Aku pun menerima panggilan telpon nya.

__ADS_1


[Assalamualaikum teh Neng. Kumaha?]


[Walaikumsalam mbak Di.]


[Kumaha teh, Aya teu anu arek gawe ti abdi?]


(Gimana teh, ada yang mau kerja di saya?)


[Em...kumaha nyak! Em...teh neng kaditu wae nya?!]


(Em...gimana ya. E....teh neng kesitu aja ya?)


[Heum? Sok mangga atuh Mun kadiyeu mah!]


(Heum? Silahkan aja kalau ke sini)


[Muhun mbak Di. Ayeuna urang kaditu. Assalamu'alaikum]


(Iya mbak Di. Sekarang saya ke situ. Assalamualaikum)


[Walaikumsalam]


Sambungan telepon dengan teh Neneng pun selesai.


"kenapa teh Neneng dek?", tanya mas Aziz yang duduk di sebelah ku. Sedang tangannya mengusap pipi anaknya yang sedang menyusu padaku.


Imah dah Hayu dari tadi sibuk melayani pembeli. Bahkan aku belum sempat menyapa Hayu.


"Aku minta tolong sama teh neng. Cariin orang buat jagain Diaz."


"Terus?"


"Nggak tahu. Makanya teh neng mau ke sini.".


"Dek....kenapa nggak nyari aja sih di yayasan. Yang sudah jelas legalitasnya?"


"Kalau dari yayasan, aku juga nggak masalah. yang jadi masalah itu kamu mas!"


"Aku? memang aku bikin masalah apa?"


"Mas, namanya baby sitter dari yayasan kan sudah jelas bakal tinggal di sini. Buat bantuin kita. Tapi kamu sendiri kan nggak suka ada orang asing tinggal bareng kita.Imah yang jelas-jelas saudara mu aja , kamu nya malu. Nggak nyaman. Gimana kalau orang lain?"


"Ya...kita kan bisa pakai bekas kamar Imah."


"Iya. Tapi kan hayu, atau Faiz juga butuh istirahat di ruangan itu. Memangnya tuh baby sitter mau gitu berbagi tempat sama mereka?"


"Terus gimana dong?"


"Ya... kali aja teh Neneng ada kenalan yang mau jadi mbak nya Diaz. Dia kan bisa pulang pergi, ngga harus tinggal di sini "


"Owh....ya udah atuh, mas mah ikut kamu aja gimana baiknya."


Kami bertiga menikmati kebersamaan kami. Diaz masih menyusu, tapi tetap lah ya. Aku menutupi dengan jilbabku.


Hayu dan Imah menyelesaikan tugas melayani pembeli tadi.


"Makasih ya mbak Hayu, Imah!", kataku.


"Mbak Di lho.... makasih wae.....! Wes toh mbak, ini kan emang kerjaan kita. Yo gak mbak Hayu?"


"Hooh!", sahut Hayu singkat.


Aku dan mas Aziz berpandangan. Hayu mulai kena syndrom jawirnya Imah?

__ADS_1


"Bisa-bisa kamu jadi ikutan Jawir beneran Hay. Nggak keliatan blesteran indo Jerman lagi. Gara-gara kebanyakan gaul sama si Jawir ini ", kata Aziz.


Hayu pun tertawa.


"Gimana nggak ketularan Imah. Dari pagi siang sore malam, temennya kan Imah. Iyo ora Mah?", canda Hayu.


"Tenane mbak Hayu iki!!!!"


Kami bercanda dengan menceritakan berbagai hal. Sudah seharusnya aku tak berprasangka buruk pada Hayu.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!", sahut kami kompak.


"Eh, teh Neng!", sapa ku.


"Iya mbak Di."


"Gimana teh?"


"Mbak Di, gimana kalau saya aja yang jagain Diaz mbak!", Neneng menawarkan dirinya.


"Teh Neneng?"


"Iya mbak Di. Insya Allah saya bisa kok jagain Diaz."


"Bukan....bukan itu teh. Saya percaya kok. Apa lagi teteh kan emang lebih berpengalaman."


"Terus kunaon atuh?", Neneng penasaran.


"Memangnya teteh nggak jualan?"


"Nggak deh mbak Di. Nggak ada modalnya. Ditambah lagi, kemarin anak kami yang di kampung teh sakit. Orang tua saya yang jagain di rumah sakit. Saya nggak bisa pulang. Eh....malah sekarang, suami saya Kang ujang. Batu di pecat dari kerjaannya."


"Astagfirullah....! Terus sekarang gimana anak teteh?"


"Alhamdulillah sudah di bawa pulang."


"Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong suami teteh tadinya kerja di mana? jadi apa?"


"Jadi ob, di butik Nugroho itu lho mbak Di. Sayangnya, suami saya teh bikin kesalahan fatal hanya demi mendapatkan uang buat berobat anak kami di kampung. Tapi ya sudahlah ngga apa-apa. Dari pada di polsikan , mending di pecat aja kan mbak Di?", tanya teh neng.


Aku dan mas Aziz saling melempar pandangan.


Jadi, si ob itu suaminya teh neng?Dia bilang terpaksa mengambil uang itu demi anaknya yang sakit? Batinku.


"Apa suami teh neng ikut ke sini?", tanya Aziz.


"Ada mas, sebentar saya panggil."


Neneng pun menghampiri Ujang yang ada di motor nya.


"Kang,ke sana yuk."


"Arek naon?"


"Ayo ikut aja sih!"


Dengan langkah gontai, Ujang menghampiri dua orang itu yang ternyata bosnya di butik yang baru saja tadi pagi memecatnya.


*****


Hayo.... Ujang.... ketemu sama dua sejoli nih.mau maju apa mundur sekalian?

__ADS_1


__ADS_2