
Tok...tok...tok
Suara pintu ruang tamu diketok. Aku dan mas Aziz yang tengah berbaring bersama Diaz di kasur lantai pun bangun.
"Emang bel rusak ya mas? Perasaan tadi Julian ke sini juga ngetok pintu?"
"Nggak tahu dek. Nanti coba mas cek. Mas buka pintu dulu ya?!"
Aziz pun melenggang menuju ruang tamu untu membuka pintu.
Ceklek....
"Assalamualaikum!", sapa Fai.
"Walaikumsalam!", sahut Aziz ketus.
Melihat wajah Fai, rasa cemburu Aziz terusik. Dia mengingat apa yang Dian katakan tadi pagi. Fai dan Dian hampir saja berhubungan badan saat itu. Rasa ingin meremas wajah sang rival begitu menggebu-gebu.
Tapi, otak warasnya bekerja kembali. Itu hanyalah masa lalu. Bahkan Dian saja memaafkannya yang benar-benar sudah melakukan zinah. Alangkah tidak adilnya jika Aziz menghakimi masa lalu mereka saat ini.
"Bengong aja Lo,gue gak di suruh masuk?", tanya Fai.
"Siapa mas?", tanyaku.
Aku pun mengerti, kenapa sang tamu dari tadi nggak disuruh masuk. Ternyata tamunya dia toh.
"Masuk mas Fai!", aku mempersilahkan dia masuk.
"Biasanya juga asal masuk dek!", sahut Aziz ketus.
"Mas....kamu udah janji kan???", kataku lirih. Tapi aku yakin Fai mendengar bisikan ku ke mas Aziz.
"Lo kenapa sih Ziz?", tanya Fai sambil menjatuhkan bobotnya di sofa.
"Menurut Lo?", tanya Aziz balik.
"Di, suami mu kenapa? Perasaan kemarin dia baik-baik aja. Ramah sama gue. Kenapa sekarang begini?", Fai mulai penasaran.
"Capek mungkin, dari pagi main sama Diaz terus."
__ADS_1
"Dek, bikinin kopi buat mas. Kalau buat tamu mu yang itu tuh...kasih aja kopi yang dibubuhi bubuk sianida!"
"Mas...ngomong apa sih kamu!"
"Njir...Lo kesambet setan apa sih Ziz?", Fai sudah tidak sabar kenapa sikap sahabat nya berubah drastis.
"Udah sana dek. Bikinin kopi nya....!", kata mas Aziz lagi.
"Iya, aku bikinin mas. Tapi jangan berantem lho ya!!"
"Di... emangnya Aziz kenapa sih? Kok kamu sampe khawatir gue sama Aziz berantem. Ada apaan????"
Aziz menatap tajam ke sahabatnya itu. Dalam hati Aziz mencoba beristighfar untuk meredam emosinya.
Aku pun meninggalkan mereka ke dapur.
"Bro...gue bikin salah lagi sama Lo?", tanya Fai pelan.
"Nggak!", sahut Aziz singkat.
"Terus, kenapa Lo ketus mulu ke gue dari gue Dateng?!"
"Dian udah cerita semuanya!", kata Aziz.
Aziz menghela nafas nya.
"Cerita soal orang tua nya, soal Om kendra, soal depresi nya , soal Revan, dan ....terutama soal Lo!", Aziz menunjuk wajah Fai dengan telunjuknya. Tapi, Fai menurunkan jari Aziz dari hadapan nya.
"Ziz...maaf...Dian bilang soal gue sama Dian... pernah....???"
"Hampir, bukan pernah!", Aziz menegaskan.
"Oke...oke...gue baru paham."
Fai memundurkan tubuhnya lalu bersandar ke sofa.
"Gue.....!"
Ucapan Fai terhenti saat aku meletakkan cangkir kopi di hadapan nya.
__ADS_1
"Lo mau memberikan pembelaan?" tanya Aziz yang kini terdengar lebih tenang. Mungkin karena sudah ada aku yang duduk di sampingnya.
"Bukan pembelaan Ziz. Mau gue bilang kaya gimana juga, gue memang salah."
"Kalian lagi ngomongin apa sih?"
"Itu Di...soal... kejadian waktu itu, yang....yang... hampir saja kita kebablasan...", kata Fai menunduk.
Aku menarik nafas ku perlahan. Seperti dugaan ku, mas Aziz pasti akan mengungkit hal ini.
"Mas....??!"
"Dek, mas pengen denger dari mulutnya dia. Tenang aja, mas nggak bakal ngapa-ngapain dia kok!"
"Bener ya? Mas janji kalian nggak bakal beratem?"
"Ziz, gue tahu...gue salah. Gue khilaf waktu itu."
Aku dan mas Aziz berusaha fokus mendengar kan 'kekhilafan' mas Fai.
"Malam, sebelum gue ngenalin Lo berdua dan juga Damar. Abah memaksa mau kirim gue ke ponpes Solo. Gue udah bilang nggak mau. Tapi Abah tetap maksa. Lo tahu sendiri seperti apa otoriter nya Abah dari dulu kan Ziz? Abah tidak akan pernah menerima penolakan, dengan dalih berbakti terhadap orang tua."
Fai menarik nafasnya lagi.
"Pikiran gue, maaf... sebelumnya....maaf Di! Pikiran gue, andai kata gue...gue...hamilin Dian...gue bisa maksa Abah buat nikahin kita. Jadi gue nggak perlu ke sana untuk menuruti kemauan Abah."
"Hamilin aku???"
"Iya Di. Tapi beruntungnya...kita tidak sampai melakukan itu. Pikiran ku buntu Di. Bahkan gue ingin cerita ke kamu langsung Di, gue nggak sanggup."
Fai masih melanjutkan ceritanya. Sambil menarik nafas lebih dalam.
"Gue pikir, rasa cintanya Dian ke gue luar biasa. Dian bisa memberikan 'itu' untukku. Tapi...di tengah permainan itu...Dian mendorong tubuhku. Membuat ku tersadar, apa yang gue lakukan itu salah. Gue juga ngga sanggup mendengar tangis Diandra karena ulahku."
Astagfirullahaladzim.....batinku.
"Kamu inget Di, dimana kita saat mas.... memutuskan mu lewat pesan?"
Aku tak menggeleng atau pun mengiyakannya.
__ADS_1
"Gue berada di sana, di tempat yang sama. Tapi gue nggak sanggup lihat air mata Dian!"
Fai mengakhiri sesi ceritanya.