Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 237


__ADS_3

"Aku terserah kamu saja, mau kembali bekerja atau resign. Itu hak kamu."


Sharen tersenyum simpul.


"Cepatlah pulih, aku ingin ke Singapura bersama Julian untuk menemui papinya."


"Hehehe sabar Sharen.... insyaallah Minggu ini aku sudah bisa masuk kantor kok."


"Dian....!"


"Hem?"


"Maafkan aku ya. Aku pasti sering membuat mu kesal ya?"


"Siapa bilang?"


"Karena sindiran mu, sekarang aku lebih suka memakai kulot dan blazer heheheh."


Aku memicingkan mataku. Ah...iya, pertama kali aku bertemu dengannya dia masih memakai pakaian kurang bahan dan menyindir ku mau pengajian. Dan sekarang....dia bahkan jauh lebih tertutup.


"Maaf ya Sharen. Mulutku memang suka lemes."


"Hahaha nggak lah. Aku suka kamu yang apa adanya seperti itu. Tidak menggurui, tapi memberi tahu. Bahkan....maaf...kamu sepertinya tak berubah meski menjadi CEO DWP. Kamu masih saja sederhana, tidak seperti orang-orang."


"Memang aku harus berubah seperti apa?"


"Tampil glamor mungkin? Pakai tas bermerek? Atau pakaian high class?"


"Hahaha aku nggak punya barang branded begituan Sharen."


"Tapi kamu mampu membeli nya, minimal untuk menunjang penampilan mu sebagai CEO?"


"Hem...bisa di pikir kan nanti Sharen. Tapi sejauh ini aku masih nyaman-nyaman saja seperti ini. Aku beli sesuai kebutuhan saja Sharen."


Pantas saja Julian mengagumi mu Di! Dan...suami mika juga tidak bisa move on darimu.


"Aku pikir, kamu itu nggak bisa ketawa Sharen. Tapi ternyata kamu bisa ngakak juga."


"Ya kali...", kata Sharen manyun.


Kami berdua menghentikan obrolan saat Julian bergabung. Lalu kami mengobrol hal lain.


Di pelaminan nan megah plus mewah....


Sepasang suami istri itu di damping kedua orangtuanya masing-masing yang mengapit di kanan kirinya. Tidak ada upacara adat di resepsi ini. Jadi, sang mempelai memakai gaun dan tuxedo dengan warna senada. Senyum keduanya selalu merekah saat menyalami para tamu.


Giliran Damar dan Hayu memberikan selamat pada Rifai dan Mika. Mata Fai meneliti tiap sudut ruangan yang luas ini, saat tangannya menyalami Damar.


"Nyari siapa?",tanya damar yang berada di belakang hayu yang tengah memeluk Mika.


"Nggak!", kata Fai singkat.


"Mereka datang!", kata Damar sambil menepuk bahu Fai.

__ADS_1


Fai pun menyunggingkan senyumnya. Damar menyalami Mika dan menepuk bahu Mika.


"Berjuang lah!", bisik damar.Mika mengangguk dan tersenyum tipis.


Ternyata tak jauh di belakang Damar, Dadan dan Imah menyusul.


"Selamat ya mas ...semoga secepatnya dapat momongan!", lirik Imah pada Dadan. Dadan yang merasa tersindir dengan ucapan Imah pun hanya menunduk.


Fai yang tak tahu sindiran itu ditunjukkan pada Dadan hanya mengucapkan amin dengan doa yang Imah katakan barusan.


"Selamat ya bro. Semoga langgeng!",ucap damar.


"Makasih Dan!"


Di belakang Dadan masih ada beberapa tamu undangan lain yang mengantri. Tiba saatnya sang rival yang berdiri menunggu antrian untuk bersalam-salaman dengan mempelai dan keluarga nya.


Ternyata, Aziz berada di barisan paling akhir untuk. Acara bersalaman di istirahat kan sementara waktu. Akan dilakukan beberapa saat lagi nanti.


(Kita Rehad sejenak pemirsah 😆)


Dengan langkah pasti, Aziz menghampiri sang mantan dari istrinya itu. Pertengkaran dan pertemuan terakhir mereka beberapa saat yang lalu nyatanya masih tersisa sampai saat ini.


Suasana tiba-tiba menegang saat keduanya menautkan kedua tangan. Bersalaman apa mau adu panco? Lama amat!


Sorot mata Aziz seperti ujung pedang yang siap untuk di ajak perang. Begitu pun Rifai.


Mika memeluk lengan suaminya. Dia hanya takut jika keduanya berbuat nekad sama seperti saat berada di rumah sakit beberapa hari yang lalu.


Tiba-tiba keduanya tersenyum, dan...eng...ing...eng.... keduanya saling berpelukan.


Ada rasa lega di antara orang-orang yang berada di pelaminan itu. Mereka berpikir jika keduanya pasti akan bertengkar seperti yang sudah-sudah.


Tapi ini???


Lihatlah! Mereka saling berpelukan dan menepuk bahu masing-masing. Tapi lama kelamaan tepukan itu makin kencang dan terdengar oleh Mika dan juga yang lain.


"Sakit *ego!",kata Aziz.


"Lo yang mulai!", kata Fai.


Sontak keduanya membuat spot jantung orang tua dan istri Fai.


Keduanya pun melepaskan pelukannya.


"Biasa aja kali. Kalau mau pukul-pukulan nggak di sini!",kata Aziz manyun.


"Lo duluan yang mulai."


"Gue nepuk doang, Lo balesnya kenceng."


"Nggak. Lo aja yang ngerasa begitu!"


Keduanya tertawa bersama.

__ADS_1


Mika, kedua orangtuanya, mertuanya dan juga Imah dan yang lainnya pun terheran-heran. Kok bisa sih????


Apalagi Mika dan damar, mereka hanya saling berpandangan karena merasa heran.


"Setelah ini! Lo jangan pernah ngarepin bini gue lagi. Bini gue udah bilang, dia cuma cinta sama gue. Nama Lo udah di blacklist dari penghuni hatinya!"


"Dih ...omongan Lo! Eh...gue juga udah punya pawang! Nggak kalah cakep sama bini Lo. Gue udah bilang dari kapan tahu sama Lo. Gue ikhlas Dian sama Lo. Sorry.... kemarin gue emang salah. Tapi gue janji. Gue nggak bakal ngusik kalian. Lo masih sodara gue kan????!"


Aziz tersenyum tipis.


"Banyak omong Lo! Awas aja kalau Lo boong! Nggak ada maap-maapan. Nggak ada sodara-sodaraan."


Keduanya pun kembali berpelukan.


(Serius ya....Fai??? Awas kalau abis ini drama kisah cinta Lo sama Dian yang belum kelar terulang lagi??? Mamak bakal di hujad sama mamak2 di sini!)


"Ziz, maaf ya. Gue tahu selama ini gue salah. Tapi....sejak gue nikah sama dokter agresif ini, gue sadar. Gue udah jatuh cinta sama Dia. Gue nggak bisa tidur gara-gara di diemin sama diam Secara....gue udah terbiasa tidur di puk-puk dulu sama Mika."


Mika mencubit perut suaminya itu.


"Aw ...sakit sayang....!", kata Fai.


Mika hanya melotot dengan wajah yang sedikit menegang.


Semoga kemesraan kalian benar adanya!


"Malah cubit-cubitan di sini. Ntar kalo acaranya udah kelar!" sindir Aziz.


"Apaan! Gue puasa! Tamunya Dateng nggak tahu aturan!", kata Fai kesal. Tapi lagi-lagi Mika mencubit nya lebih kencang.


"Sakit Mik!", kata Fai.


"Mak...Mik...Mak...Mik...di bilang Mika. Apa susahnya sih nambahin huruf A!"


Semua yang berdiri di sana hanya mampu tertawa melihat sepasang suami istri itu yang saklek. Ya ... beberapa saat sebelumnya mereka masih saling emosi, tapi.... ternyata....saling merindukan juga. So...acara resepsi ini berjalan sebagaimana mestinya


Pemandangan di atas pelaminan tentu saja menarik perhatian banyak tamu. Tak terkecuali, aku!


Aku tersenyum melihat tingkah mereka. Iya, tingkah konyol mas Aziz dan Fai. Aku memang tidak mencintai mu lagi Fai. Kenangan tetaplah kenangan. Tidak akan berubah.


****


Dan setelah ini, semoga kenangan itu terkunci. Tidak perlu diingat apalagi di publikasi. Takut sama mamak2 yang Laen ✌️✌️✌️✌️😜😜😜😜😜


Kisah Fai dan Dian di udahin aja ya? Tinggal fokus sama pasangan yang belum halal. 😜😜😜


Setelah ini, mamak siap di komentarin apa pun serius ✌️✌️✌️😆😆😆😆


Sambil nunggu yang di Up, bisa kok baca karya mamak yang udah ENd. Tapi ya ...itu, episodenya pendek. Bisa maraton kali bacanya. Ada karya on going, tapi baru berapa episode. Jadi belum di promosiin deh 😆.


Bagi yang udah pernah baca, maturnuwun, bagi yang belum silahkan mampir.


Nih judulnya Perawan Tua & Cinta Kita sama,Iman kita yang berbeda. Radak sensitif isinya ya maapkeun 🙏🙏🙏🙏🙈

__ADS_1


__ADS_2