
Hari sudah mulai petang. Sebentar lagi azan magrib pun berkumandang. Mas Aziz pun sudah berangkat ke mushola belakang komplek. Aku pun solat di dekat Diaz yang sedang aktif-aktifnnya menggerakkan kaki dan tangannya.
"Uch....uch... anak bunda pinter, di tinggal solat anteng banget."
Seolah paham dengan ucapan bundanya, Diaz pun menampilkan senyum terbaiknya.
Aku meletakkan Diaz di dalam stroller. Aku menjaga Diaz sambil meyiapkan makan malam kami.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
"Anak ayah, bunda udah solat belum ya?", mas Aziz melirkku.
"Udah ayah!", jawabku sambil terus menyiapkan makan malam kami.
"Dek, mas makan ntar ya. Depan rame tuh. Bentar ya?"
"Iya mas!"
Mas Aziz keluar dengan masih memakai baju Koko dan sarungnya.
Benar, kondisi kios saat ini ramai. Aziz pun turut membantu Imah.
Suara ponsel mas Aziz dari tadi berdering.
"Ah, ayah lupa bawa ponsel nya dek!", kataku mengajak Diaz mengobrol. Aku membiasakan Diaz mengobrol sejak dari dalam kandungan.
Aku pun menuju kamar untuk melihat siapa yang menghubungi ponsel mas Aziz. Ternyata itu panggilan dari kang Dadan.
"Halo assalamualaikum kang Dadan, maaf saya yang angkat. Kebetulan hp mas Aziz ketinggalan di kamar."
"Walaikumsalam mbak Di. iya, ngga apa-apa. Yang penting mba Di udah sempet angkat.''
"Ada apa ya kang, nanti saya sampein!"
"Em ...itu mbak, em...bisa minta tolong?"
"Tolong apa ya kang?"
"Tolong...tolong mas Aziz dan Imah datang ke rumah sakit. Katanya Feby pengen ketemu mbak, penting!"
"Sekarang banget ya kang?"
"Iya mbak Di. Hapunten!"
"Oh, iya iya saya bilang mas Aziz dulu ya."
"Iya mbak. Makasih. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
Aku pun membawa Diaz menuju kios. Kios sudah sepi pembeli.
"Mas...!"
"Kenapa sayang?"
"Tadi, kang Dadan telepon. Katanya...mbak Feby pengen ketemu mas Aziz dan Imah!". Mas Aziz tarik nafas panjang.
"Ada apa lagi sih ya dek, masa mau melibatkan mas lagi?"
"Entah lah mas. Katanya penting!"
"Ada apa toh Mba?"
"Mbak feby pengen ketemu kamu Mah, sama mas Aziz juga!"
"Kenapa?"
"Nggak tahu!"
"Enggak ah, mas nggak mau ke sana. Kamu aja mah, naik taksi Sono!", seru aziZ.
__ADS_1
"Mas, mbak Feby kan juga mau ketemu kamu!"
"Mas males dek....! Lagian, kalau kamu pergi nanti kamu sama siapa?"
"Aku ya sama Diaz lah mas!"
"Nggak tega mas ninggalin kalian berdua!"
"Mas, kalian kan cuma mau ke rumah sakit. Aku dari suku biasa kok dirumah sendiri berhari-hari kalau kamu dinas keluar kota."
"Ehem....!", suara batuk di buat-buat oleh seorang Fai. Ya ampun, dia nggak bosen apa ya tiap hari ke sini?"
"Apaan sih Lo?"
"Dari pada bingung, mending Lo berdua ke sono. Gue temenin Diaz di rumah!"
"Enak aja Lo!"
"Mas...mas...! Jangan ditanggapi serius ah!"
"Habis dia dek yang mulai."
"Terus gimana ini?"
"Udah, tenang aja. Lo sama Imah pergi aja gak apa-apa. Gue temenin Diaz. Tenang aja ,gue gak bakal apa-apain anak istri lo. Gue cuma temenin Dian disini, sampe Lo pulang lagi. Gue juga duduk di luar. Lo kan bisa pantau dari cctv Lo kan lewat hape!"
"Nggak percaya gue sama Lo!"
"Terserah!"
"Ya udah mas, udah kalian jalan aja dulu. Iya, aku jamin mas Fai cukup di luar kios!"
"Jadi, kamu mau dek berduaan sama dia?"
"Yang berdua itu siapa mas? Aku kan sama Diaz."
"Tapi mas meragukan kelakuan si jomblo akut ini."
"Ya udah, mas Fai pulang deh. Aku sama Diaz aja bisa kok.Kamu tutup aja kiosnya ya mas. biar pelanggan mu pada kecewa."
"Iya mas...iya!"
Akhirnya mas Aziz dan Imah berangkat dengan mobilnya.
*
*
"Tujuan kamu kesini mau apa sebenarnya mas? Kamu nguping obrolan kami?"
"Pengen main aja!"
"Udah tua masih aja mikir main."
"Mau mikirin kamu kan udah nggak boleh."
"Tuh ..sadar!"
"Dian, tau nggak...!"
"Nggak tahu, dan nggak mau tahu. Kamu cukup temenin aku dari situ mas!"
"Kamu harus tahu Dek!"
"Ish...tau apa sih?"
"Abah!"
"Kenapa sama Abahmu?"
"Masa beliau ngira kalau aku ada apa-apa sama Imah. Dan...dan...dan...!"
"Dan apa?"
__ADS_1
"Abah...mau mengkhitbah Imah buat aku?"
"Ya salam. Astagfirullah! Masyaallah!"
"Diandra!"
"Eh, maaf...maaf! Kok bisa?"
"Ya...Abah nggak bakal ngerti lah pokonya."
"Ya kamu jelaskan sejelas-jelasnya kalau Imah bukan siapa-siapa kamu mas. Bilang, kalau Imah juga udah punya calon."
"Imah balikan lagi sama si Dadan? Alhamdulillah!", Fai mengelus dadanya.
"Belum tahu sih mas. Imah masih mau pikir ulang katanya." Aku berusaha menyibukkan diri agar tak selalu bersitatap dengan mas Fai. Sungguh, ini situasi yang tak nyaman buatku.
"Di...!", suara mas Fai kini berubah lebih halus.
"Apa dulu, setelah aku meninggalkan mu tanpa kabar...kamu langsung bersama Aziz?", tanya Fai.
"Mas, untuk apa bertanya hal-hal nggak penting kaya begitu?"
"Aku hanya ingat tahu Di!"
"Yakin ingin tahu?"
Fai mengangguk.
"Enggak. Aku butuh waktu satu tahun untuk kami saling mengenal lebih dekat satu sama lain."
"Lalu, kamu yakin menikah dengan Aziz bermodalkan kenal dekat selamat setahun?"
"Aku rasa pembicaraan kita sudah tidak perlu diterusin deh mas!"
"Kenapa?"
"Tidak pantas bernostalgia begini, sementara aku sudah punya suami."
"Dian...aku hanya bwrusaha menutupi kecanggungan ku selama ini. Berusaha meledek Aziz, menggodanya dengan candaan-candaan garing. Tapi aku suka, aku sadar kalau aziZ memang pantas untukmu."
"Kamu sudah sering bilang kalau kamu ikhlas kamu rela. Terus kenapa kamu bahas lagi siha mas?"
"Dian....!"
"Mbak...Dian...beli kuota atuh, yang Tujuh puluh lima ribu ya!"
"Siap teh Neng!"
Fai kini tengah memainkan ponsel nya. Sesekali menundukkan kepala, sesekali juga melihat ke arah Diandra.
Mas Fai benar-benar berada di luar etalase padahal hujan sudah mulai turun. Hujan angin mulai menerpa.
"Aduh, mas Aziz udah sampe belum ya?", aku bertanya pada diriku sendiri. Tiba-tiba saja ponsel yang ku kantongj berbunyi nyaring.
"Halo dek?"
"Iya mas. Kenapa?"
"Feby meninggal dek!"
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un!"
Usai mengabari kondisi Feby kepada Dian, Aziz kembali ke kamar rawat Feby.
"Mas Fai...!", Fai mendongakan kepalanya sebentar.
"Mbak Feby meninggal mas."
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un."
*******"”********
Saingan Dian tinggal Lili saja, setelah ini?
__ADS_1
Jadi kepikiran nih, gimana kalau Imah sama Fai? Atau...othor cari tokoh baru buat Fai? Ngenes banget ngga sih, di bilang jomblo akut lah, ustadz kawe lah!Masa iya dia yang ganteng sampe nggak dapet pasangan? Kasian nggak sih?
🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔