Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 276


__ADS_3

Setelah memperoleh informasi di mana ruangan dokter Revan ,aku langsung menuju ke sana.


Mungkin karena ia dokter spesialis, jadi tidak ada antrian panjang seperti dokter umum atau dokter anak misalnya.


Dengan sedikit ragu, aku mengetuk pintu ruangan Revan.


Tok...tok....


"Masuk!", pinta Revan .


Aku pun masuk ke dalam ruangan nya. Tanpa melihat ku, dia mempersilahkan aku duduk.


"Permisi Dok!", kataku.


"Silahkan duduk!", kata Revan dengan masih menatap laptopnya.


"Ehem...maaf dok, jika kedatangan saya mengganggu!", kata ku. Tiba-tiba Revan mendongak lalu menatap ku.


"Diandra....!", katanya langsung berdiri.


Aku tersenyum tipis padanya.


"Apakah saya mengganggu?", tanyaku lagi.


"Tentu saja tidak, silahkan duduk Dian!", kata Revan.


Aku pun duduk di depan mejanya. Tapi tidak dengan dia, dia justru memutari meja lalu mengunci pintu ruangannya.


Aku sedikit terkejut, aku takut dia berbuat yang tidak baik padaku.


Astagfirullah, jangan su'udzon Di! Batin ku.


"Kenapa anda mengunci pintu ruangan anda?", tanyaku heran.


Bukan menjawab pertanyaan ku, dia justru menghubungi seseorang.


[Saya sedang ada tamu, jadi tolong jika ada pasien alihkan ke dokter yang lain]


[....]


Revan pun menutup telponnya. Lalu menatap ku.


"Dian, apa yang membuatmu menemui ku?"


"Maaf dok, jika saya mengganggu! Saya hanya....!"


"Minta jadwal ulang kontrol suamimu?"


Aku mengangguk dan tersenyum tipis.


"Benar dok, jika bisa tolong di majukan atau di jadwal ulang. Jika tidak bisa, saya akan memindahkan ke rumah sakit lain."


"Begitu rupanya? Bisa saja Dian, tapi....saya tidak akan memberikan rekam medis suami mu ke dokter lain. Ya... sebenarnya tak masalah, hanya saja....mungkin....jika harus observasi lagi, tentu akan memakan waktu yang lama. karena semua harus diperiksa dari awal kan?"


Persis dugaan ku, dia pasti akan memanfaatkan keadaan ini.


"Lalu, sekarang apa mau anda dok?"


"Jangan panggil Dokter jika kita sedang berdua Di!", kata Revan mencolek daguku.


"Jaga sikap mu Van!", hardik ku. Aku tak menyangka dia akan melakukan hal itu padaku.


"Kenapa? Aku masih mencintai mu Diandra!"


"Cukup Van, sadar lah. Aku perempuan bersuami. Aku bukan gadis remaja yang pernah kamu cintai dulu."


"Aku tahu, tapi aku tak peduli Dian. Cepat atau lambat kau akan jatuh dalam pelukan ku!", kata Revan menyeringai.

__ADS_1


Ada dokter seperti itu? Apa dia tak sadar jika kelakuannya akan mempermalukan teman seprofesi nya?


"Mau apa sebenarnya Van? Aku sudah meminta baik-baik padamu kan? Jika memang suamiku harus tetap kontrol di hari yang sudah di tentukan tidak apa, tapi setelah itu aku akan benar-benar mencari dokter lain untuk mas Aziz!"


"Silahkan....silahkan Di! Dan aku jamin, perlahan...justru suamimu akan semakin rapuh dan tidak akan bisa melakukan apapun!"


Aku semakin kesal di buatnya.


"Jangankan untuk memuaskan mu di ranjang, dia akan lumpuh selamanya dan tidak akan bisa melakukan apapun sendiri!", bisik nya.


"Revan!"


"Sssttt...nggak usah teriak-teriak Diandra, meskipun ini kedap suara aku hanya ingin mendengar suara mu yang lembut seperti dulu!", dia mengusap kepalaku tapi langsung ku tepis.


"Jaga kelakuan mu Revan!"


"Sayang, kenapa kamu jadi galak sih? ", katanya lagi sambil berusaha menyentuh ku lagi.


"Revan! Stop!", teriakku. Dia menyeringai, wajah tampannya saat ini berubah menjadi seram bagiku.


Dia duduk di mejanya menatap ku dari ujung kepala sampai ujung kaki yang membuatku risih. Menyesal rasanya aku kemari.


"Baiklah, saya permisi. Ada hal lain yang harus saya kerjakan!", aku pun berdiri lalu membuka pintu ruangan Revan. Tapi , aku tak bisa membuka pintu ruangan nya.


Jeklek.... jeklek....


"Tolong buka pintunya Van! Aku harus pergi, aku ada meeting dengan klien ku!"


"Bahkan bekerja pun harus kamu yang melakukannya kan? Apa yang harus kamu harapkan dari pria lumpuh itu heum..??", bisik nya tepat di telinga ku.


Aku mendorong nya sebisa ku.


"Apa.... jangan-jangan....kamu mast*****i hanya untuk sekedar memuaskan hasrat mu heum????", tanya nya lagi. Sontak, emosi ku sudah memuncak reflek aku melayangkan tamparan di pipinya.


Plakkkkk....!


"Akhirnya kamu mau menyentuh ku Dian!"


Astagfirullah, ini orang kenapa bisa segila ini! Batinku.


"Aku mau keluar Revan, tolong buka pintunya sekarang!"


"Kuncinya ada di saku ku, ambil sendiri!", katanya sambil melipat tangannya di dada.


"Revan, mau kamu apa sih? Tolong berhenti melakukan hal konyol seperti ini!"


"Aku mau kamu Dian, hanya kamu!", katanya lirih.


"Van, kamu tahu...aku sudah berkeluarga. Kamu bisa mendapatkan siapapun yang kamu mau. Jadi, tolong jangan ganggu kehidupan keluarga ku."


"Iya, termasuk kamu! Aku pasti akan mendapatkan mu lagi!"


"Ya Allah, Revan!",aku sudah tak bisa lagi berpikir bagaimana membujuk si keras kepala ini.


Dengan terpaksa aku menghubungi Julian.


[Mas Jul, tolong datang ke ruangan Revan sekarang]


Tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung menutup telponnya. Revan justru menyeringai dan membuat ku takut. Dia semakin dekat di tempat ku berdiri, di belakang pintu.


Dia menatap ku seolah ingin memangsaku, menarik pergelangan tangan ku dengan kasar lalu menguncinya di atas kepalaku.


"Revan! Apa-apaan kamu?! Lepasin!", teriaku sambil berusaha meronta.


"Kamu takut heum???"


"Aku akan melaporkan apa yang udah kamu lakuin padaku Van!"

__ADS_1


"Hahahaha lakukan saja, memang ada bukti nya? Apa perlu aku membuat buktinya di sini?", Revan menghembuskan nafasnya di wajahku.


"Van....menjauhlah....tolong!", aku takut. Jujur aku sangat takut jika Revan benar-benar nekat.


Perlahan Revan melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan ku.


"Apa aku membuat mu takut sayang?", ia menatap manik mataku. Aku benar-benar tidak habis pikir, Revan seperti memiliki kepribadian ganda.


Di saat yang bersamaan, Julian menggedor pintu ruangan Revan.


Di luar....


"Maaf Tuan, dokter Revan sedang ada tamu, tidak bisa di ganggu!", kata perawat.


"Maaf Sus, bos saya yang berada di dalam. Beliau menelepon saya meminta saya menjemput nya di sini!" kata Julian.


"Tapi maaf Tuan... dokter Revan....!"


Ceklek, pintu ruangan Revan terbuka. Aku merasa lega karena Revan membuka pintu ruangan nya saat Julian menggedor tadi.


"Maaf Dok, saya sudah melarang....!"


"Tidak apa sus....!", revan mengibaskan tangannya untuk meminta suster itu pergi.


"Anda baik-baik saja Bu?", tanya Julian.


"Iya mas!", jawabku gugup. Aku masih merasa takut dengan kenekatan Revan tadi. Dan aku harap ini terakhir kalinya aku bertemu dengan Revan. Mungkin ,saat mas Aziz kontrol aku meminta kang Dadan saja yang menemaninya.


Revan terlihat santai melihat ku. Iya, dia benar-benar seperti orang lain saat di dalam tadi.


"Apa ada yang sudah dia lakukan sehingga anda menghubungi saya?", tanya Julian menatap ku penuh selidik. Lalu ia beralih memandang Revan.


"Tidak mas!", jawab ku agak terbata.


Revan tersenyum tipis.


"Memang apa yang akan aku lakukan pada perempuan yang aku cintai kak Julian?", tanya Revan dengan nada mengejek.


"Aku tahu seperti apa dirimu Van!", kata Julian.


"Benarkah?????"


Julian memilih mengajakku pergi dari hadapan Revan.


"Mari Bu, sebentar lagi Anda harus meeting!", kata Julian.


Aku pun mengangguk, tanpa permisi aku dan Julian meninggalkan Revan.


Di lorong rumah sakit menuju parkiran, aku hanya diam.


"Apa yang sudah Revan lakukan terhadap anda bu?"


"Tidak ada mas Jul!"


"Tolong jangan bohong Bu, keselamatan anda tanggung jawab saya!", kata Julian tegas. Julian merasa ada sesuatu yang terjadi di ruangan Revan yang membuat Dian sampe menghubunginya.


"Semuanya baik-baik saja mas, sudah hampir jam sembilan. Kita langsung ke resto? Tidak usah ke kantor dulu?", tanyaku untuk mengalihkan perhatian Julian tentang masalah tadi.


"Iya Bu!", lalu Julian membukakan pintu belakang untuk ku.


Resto yang kami tuju tak jauh dari rumah sakit, hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke sana.


Benar saja,klien ku sudah menunggu kami di sana. Dan Julian mendampingi ku sampai meeting ini selesai.


*****


Segini dulu ya???? 🙏✌️

__ADS_1


__ADS_2