Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 105


__ADS_3

"Mas, aku lupa nggak bilang dari kemaren."


"Apa dek?", tanya Aziz yang kini sudah berbaring di samping ku.


"Besok jadwal imunisasi Diaz mas."


"Owh...ya udah, mas anterin lah."


"Mas nggak lagi ada janji sama siapa gitu?"


"Nggak ada dek. Pokoknya kamu dan Diaz itu prioritas mas."


"Heheh makasih mas....!", aku mengusap lengannya.


"Oh iya dek, tadi mas ketemu Fai."


"Terus?"


"Seperti dugaan mu, dia pengen ngomong ke kita langsung. nggak lewat telpon."


"Makanya...jangan salah sangka dulu, kamu kan sahabat dekatnya mas. Mana mungkin lah dia nggak bilang ke kamu."


"Iya sih. Tapi...kok kamu bisa nebak sih?"


"Bukan nebak mas, emang harusnya begitu kan?"


"Mas merasa belum begitu mengenal mu lho dek!"


"Masa sih????", aku mulai memancing nya.


"Dek....???!!"


"Hemmm....!"


"Kamu...bisa melayani mas tiap waktu, jangan-jangan kamu hamil lagi ya dek?"


"Kok kamu bisa berpikiran gitu?"


"Ya...tiap mas minta hak ku, kamu selalu ngasih. Kamu juga solat terus. Mas jadi curiga, kamu isi lagi!", mas Aziz mengusap perut ku.


"Iya mas, isi nasi dan teman-teman nya."


"Serius dek!"


"Aku juga serius mas." Setelah itu baru ku lanjutkan pencerahan untuk mas Aziz .


"Mas... aku kan ngasih asi eksklusif, selain aku emang pakai KB IUD, aku kan lagi menyusui. Menyusui juga salah satu KB alami mas. Kadang, ada yang bisa sampai anaknya usia beberapa bulan. Bahkan anaknya sudah bisa jalan, ibunya baru dapet haid. Tergantung kondisi si ibu."


"Owh....!'', mas Aziz mengangguk tanda mengerti. Tapi tiba-tiba wajahnya berubah. Dia memicingkan sebelah matanya.


'Perasaan ku nggak enak nih!'


"Jadi ...nggak ada penghalang dong sayang, kalau mas meminta sewaktu-waktu ?"


"Ya...nggak juga sih!"


"Kok gitu sih dek?"


"Iya lah mas. Kalau Diaz bangun misalnya?"


"Ah, itu mah...biasa kali dek. Kaya nggak biasanya begitu."


Aku terkekeh melihat muka mas Aziz yang kembali cemberut.


"Ya udah,kita tidur aja mas. Besok pagi kan kita mau jalan ke rumah sakit."


"Iya!", sahut mas Aziz memunggungi ku.


Heum...masang mode ngambek. Pasti minta di rayu.

__ADS_1


"Mas....?!", panggil ku mesra.


"Apa?", tanya nya sambil tetap memunggungi ku.


"Aku lagi mau mas....!", bisikku pelan.


"Mas capek!", sahut nya pelan.


Wah, beneran ngambek ini mah. Nggak mempan kayane rayuanku.


"Oh... ya udah deh!"


Aku bersandar ke kepala ranjang. Coba, kita hitung bersama-sama , apakah mas Aziz akan berbalik badan.


Satu....dua...tiga... empat....


Eh, nggak balik badan juga?


Malah mas Aziz bangun dari ranjang. Mau kemana? Ah, males mau nanya juga! Bodo amat ah, padahal aku udah mau ngalah. Dasar keras kepala!


Aku pun merebahkan diri, melihat Diaz sebentar dari atas ranjangku. Dia masih tertidur pulas.


Saat aku mulai memejamkan mataku, terdengar mas Aziz membuka pintu kamar. Aku pun pura-pura tertidur.


Ada pergerakan di ranjang ku, mas Aziz siap merebahkan diri. Eh, nggak! Tiba-tiba mas Aziz membalik badanku.


"Katanya lagi mau?", bisik Aziz.


"Udah nggak mood!", sahutku.


"Yah... padahal tadi mas ke dapur, abis minum telor ayam kampung sama madu. Khusus buat kamu!", matanya menggoda ku.


Aku yang tadinya nggak mood, mendadak jadi luluh gara-gara ulahnya.


"Kamu mas , ih...!"


"Iya...!"


"Ya udah, mau berapa?"


"Apanya?"


Dia berbisik sangat pelan di telingaku, membuat bulu kuduk ku seketika merinding. Tak hanya itu, awalnya memang berbisik selebihnya malah.....


Dan setelah itu....malam pun menjadi saksi keganasan seorang suami.


*****


"Dek... udah subuh!", bisik Aziz.


"Bentar lagi mas, ngantuk!", kataku pelan. Kali ini aku benar-benar merasa sangat lelah karena ulah mas Aziz semalam. Aku di buat kewalahan karena kelakuan suami ganteng ku ini. Tapi kenapa dia malah segar bugar begini. Ah, iya....semalaman Diaz tidak meminta asi? aku tiba-tiba terbangun.


"Pelan-pelan dek!", mas Aziz mencoba memperingatkan ku. Mataku fokus ke Diaz yang masih tertidur pulas.


"Mas, kasian Diaz. Dari semalam dia nggak ***** ya?", keluhku.


"Nggak *****, cuma mas kasih susu pake DOT dek."


"Hah?", aku mangap karena terkejut.


"Iya, mas liat kamu kayanya capek banget. Ya udah, mas kasih aja stok yang di freezer. Diaz mau kok!"


"Alhamdulillah. Makasih ya mas!"


"Mas yang makasih banget sama kamu dek. Kamu tahu cara menyenangkan suamimu! Gimana semalam, puas kan?"


Aku mencubit perut nya yang mulai membuncit itu.


"Aww...!", pekik mas Aziz.

__ADS_1


"Mesum amat sih!", aku bangun dari ranjang.


"Eits ..jawab dulu!", mas Aziz kembali menarikku duduk di samping nya.


"Apaan sih mas?"


"Jawab dulu, puas?!"


"Iya...iya...saking puas nya, sampe ngantuk nggak ketulungan. Badanku sakit semua mas! Udah puas dengerin jawabanku?"


"Hahahah.... gitu dong jawab. Kan enak, mas ngga penasaran. Lain kali, kamu yang minta kaya semalam. Jadi , mas punya persiapan!"


"Apaan sih mas! awas ah, aku mau mandi. Mau solat Subuh. Keburu siang di halangi kamu terus mas!"


"Iya, iya ...sana."


Aku pun segera menuju kamar mandi. Seumur-umur kami menikah, baru kali ini aku merasakan seperti ini. Mas Aziz, semoga kamu tidak salah langkah lagi ya mas. Cukup aku yang merasakannya. Tidak ada dan jangan pernah ada Lili yang lain. Cuma Diandra seorang!


*******


"Mbak Hayu, kami mau ke rumah sakit sebentar. Kamu bisa kan jaga kios sendiri?", tanya Aziz.


"Insyaallah bisa mas. Memang siapa yang sakit mas?"


"Nggak ada yang sakit mbak Hayu, Diaz mau imunisasi."


"Owh....!"


"Faiz nya mana?"


"Faiz sama ustadz Zaki mas!", jawab Hayu.


"Siapa?"


"Ustadz yang mengajar ngaji di komplek belakang. Alhamdulillah, mau ada lomba hafalan buat anak-anak. Dan Faiz mau di ikut sertakan di lomba itu mas."


"Alhamdulillah. Ya udah kalau gitu, kami berangkat dulu. Nggak lama kok mbak!"


"Iya mas."


****


"Stev!", panggil Stevan.


"Daddy?", batin Hayu. Siapa yang tidak terkejut. Laki-laki yang sudah bertahun-tahun menelantarkannya, lebih tepatnya TK bertanggung jawab terhadap dia dan maminya. Yang membuat dia pernah salah jalan di kala mudanya waktu itu.


"Dari mana anda tahu saya disini?", tanya Hayu. Pasti si Lili,yang mengaku akan menjadi mama tirinya. Mereka berdua memang cocok! Meskipun sudah berusaha untuk menjadi lebih baik, nyatanya dendam lama terhadap sang ayah tidak akan pernah sirna sekalipun oleh waktu.


"Sayang...ini usaha kamu?"


"Bukan. Aku hanya bekerja di sini. Ada perlu apa?"


"Nak, pulang ke rumah Daddy. Daddy bisa memberikan semua yang kamu butuhkan nak. Suami mu tega sekali , membiarkan mu bekerja di sini."


"Tega? siapa yang lebih tega? Almarhum mas Royan adalah laki-laki terbaik yang pernah aku kenal. Maaf, sebaik nya anda pergi dari sini."


"Jadi....?", pertanyaan Stevan menggantung.


"Jadi apa? Saya tidak ingin di kasihani , apalagi oleh anda. Maaf, sebaiknya anda pergi dari sini."


"Stev, Daddy minta maaf!"


"Minta maaf untuk apa? Mau menikahi Lili?"


"Stev, Daddy bisa menjelaskan semuanya."


"Maaf, sekali lagi maaf. Saya tidak butuh penjelasan apa pun dari anda. Karena penjelasan anda tidak akan merubah apa pun, silakan pergi dari sini. Oh iya, satu lagi. Jangan pernah kemari lagi. Dan...saya adalah Rahayu. Stevia Winata sudah lama mati, dia mati bersama dengan keegoisan orang tuanya."


'Ya Tuhan...anakku begitu membenci ku'

__ADS_1


__ADS_2