Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 183


__ADS_3

"Kamu dari mana saja sih mas???!", Mika merajuk saat aku baru saja masuk ke kamarku.


"Sebentar sayang mas bebersih dulu!"


Aku pun meninggalkan mika yang masih manyun setelah kutinggalkan pagi tadi.


"Sayang...!", aku membelai rambut mika yang setengah basah.


"Kamu kemana mas?", tanya mika lagi.


"Tadi, mas ada urusan sama Aziz di butik nya."


"Sepagi ini?", tanya mika lagi.


"Iya. Tapi semuanya udah clear kok sayang. Jadi, hari ini aku tidak akan kemana-mana selain di kamar ini sama istri cantik ku."


Mika mengerucut kan bibirnya.


"Sayangnya aku harus pergi mas, aku harus mengganti kan dokter Bella."


"Maksud nya? Kamu mau berangkat ke rumah sakit?"


"Iya. Emang kamu nggak liat aku udah rapi begini?"


"Sayang ...kenapa harus ke rumah sakit sih?! Kamu kan masih libur!", aku menyandarkan kepala ku di bahu mika.


"Resiko pekerjaan. Aku yang memilih sendiri pekerjaan ini."


Mika mengusap rahangku pelan-pelan.


"Baiklah, tapi mas yang antar. Dan...mas akan nungguin kamu sampai kamu selesai praktek!"


"Hahahah....mas...aku cuma mau pergi bekerja di rumah sakit, bukan mau ke Medan perang!"


"Tapi mas nggak mau jauh-jauh sama kamu!"


"Gombal! Buktinya tadi pagi aja kamu pergi nggak bilang kan?!"


"Kamu tidur pules banget, gimana mas mau bangunin? Nggak tega lah. Apalagi mas tahu, kami kecapekan gara-gara ulah mas!"


"Iiih ...mulai deh mesum nya!"


"Tapi enak kan??? Beda kan dari sebelumnya?"


"Em...heum! Kok gitu ,kenapa?"


"Ya ...itu, minuman yang di bikinin sama Dian. Buat Aziz dan aku."


"Minuman apa? Telor madu itu?"


"Iya."


"Owh...ya udah, lain kali aku yang bikin sendiri. Jadi nggak ngerepotin Dian. Yah istrimu kan aku, bukan Dian!", Mika tiba-tiba berdiri.


"Hey... cemburu ya????"


"Nggak lah. Ngapa juga cemburu. Dian aja udah nggak peduli sama kamu kok, dia kelewat bucin sama si Aziz."


"Nah...kalau mas, kelewat bucin sama Mikayla!"


"Halah....gombal banget deh!"


"Hahah, kamu yang mulai!"


"Ya udah, kita berangkat!"


"Iya Mikayla sayang!", aku menggandeng tangan istriku.

__ADS_1


Kami berdua menuju kerumah sakit tempat Mika dan damar praktek.


"Damar lagi off. Tadi dia ke butik."


"Owh....!", sahut Mika.


Paling juga ujung-ujungnya mau nemnuin Hayu. Ngapain harus ke butik dulu, batin mika.


"Sayang....!", ku usap kepala istri ku tapi tetap fokus dengan kendaraan ku.


"Kenapa mas?"


"Mas tidak ingin menunda kehamilan mu. Kamu setuju?"


"Tentu saja mas. Kapan pun Allah menitipkannya, aku akan menerima dengan senang hati."


"Alhamdulillah, makasih ya sayang!"


Mika pun mengangguk seraya tersenyum manis.


"Em...mas...!"


"Heum?"


"Dian sama Aziz sudah berapa lama menikah?"


"Berapa lama? Sekitar lima atau enam tahun mungkin, ya... setelah mas ninggalin Dian kayanya."


"Owh...."


"Kenapa? Kamu nggak lagi cemburu kan?"


"Nggak lah mas. Sekali pun kamu masih memperhatikan dian, aku biasa saja. Bukan karena ngga cemburu, karena aku tahu kamu dan Dian itu seperti apa."


"Oh .. syukurlah!"


"Jadi, mereka sudah lama menikah?"


"Iya."


"Aziz dulu sibuk banget kerja Mika. Dia pikir, dengan memberikan materi yang berlimpah, bisa membahagiakan Dian. Aziz jarang punya waktu sama istrinya."


Mika terdiam.


"Dan...tahun lalu, titik dimana pernikahan mereka di uji. Aziz ketahuan sedang beradegan mesum sama ....Lili!"


"Lili?" pekik Mika.


"Iya, lili pernah satu kantor dengan Aziz. Apalagi mereka kan dulu memang pernah ada hubungan."


"Tapi...tapi kok bisa mas Aziz sama lili? Perempuan seperti itu?", mika menatap tak percaya.


"Aziz di jebak sama Lili. Saat perjalanan dinas ke malang, lili menjebak Aziz. Makannya....adegan itu pernah terjadi. Dan ...lili dengan sengaja' menunjukkan pada Dian!"


Mika menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Astagfirullah!", desis Mika.


"Dian pernah meminta cerai dari Aziz. Apalagi, lili mengaku kalau dia mengandung anak Aziz. Dan di waktu yang bersamaan ternyata Dian juga hamil Diaz."


"Ya Allah ,Dian....!", lagi-lagi mika menutup mulutnya. Tanpa di sadari air matanya menetes.


"Tapi, dengan berbesar hati, Dian memaafkan Aziz. Sampai kamu lihat sekarang, betapa romantisnya mereka."


Berat sekali ujian mu Dian, bisik Mika dalam hati.


"Jujur. Maaf sebelumnya mika."

__ADS_1


"Mas sempat marah pada Aziz saat mas mengetahui hal itu. Mas mengancam Aziz, kalau sampai Dian tersakiti lagi, mas akan membawa Dian dari kehidupan Aziz."


Mata Mika menatap lurus ke depan.


"Tapi, seiring berjalannya waktu. Mas sadar, betapa Dian mencintai Aziz. Mas tidak akan pernah bisa menggeser posisi Aziz di hari Dian. Meski mas pernah bersama Dian."


"Dan... setelah mas ketemu kamu, Dian pun meyakinkan mas. Kalau Allah memang mengirimkan mu Mikayla, di waktu yang tepat. Tidak cepat tidak juga terlambat."


"Sejak pertama liat kamu, mas merasa ada yang beda di dalam hati mas."


"Dan... semua meyakinkan mas kalau mas memang sudah jatuh hati sama kamu, dokter Mikayla Hanum Al Umar Abdullah."


Mika menyunggingkan senyumnya yang meneduhkan ku.


"Makasih mas . ..!", mika mengusap tanganku.


"Aku akan banyak belajar dari Dian. Aku akan tetap menjadi diriku sendiri, meskipun aku tahu kamu menginginkan aku yang seperti Dian!"


Aku menggeleng cepat.


"Nggak perlu meniru orang lain sayang,kamu tetap lah kamu. Kamu membuat mas jatuh cinta dengan caramu sendiri. Kamu spesial!"


"Tapi aku bukan martabak mas!", kata mika tiba-tiba.


Tentu saja celetuk nya merusak momen romantis tadi. Huh! Dasar mika!


"Jangan cemberut lah mas. Pokoknya aku percaya, kalau suamiku ini cinta sama aku!"


Mika bergelayutan manja di lengan ku.


"Tetap lah ceria sayang, tolong ingatkan mas kalau mas salah bertindak. Tegur mas kalau apa yang sudah mas lakukan menyakiti mu. Dan...maafkan mas, kalau memang pantas di maafkan!"


"Iya sayang. Apa pun keadaan nya, kita akan tetap bersama. Berusaha untuk saling melengkapi."


*******


"Bu Dian, saya sudah mengirim email data proyek yang baru Bu."


"Email?"


Ah....memori ponselku penuh. Sepertinya aku harus ganti ponsel.


"mas Jul, kayanya memori ponselku penuh deh. Susah bukanya."


"Baik bu, nanti saya belikan yang baru!", kata Julian


"Nggak usah!,"sahut Aziz tiba-tiba.


"Kenapa mas?"


"Aku sudah membelinya kemarin. Semalam mas mau kasih ke kamu. Eh....kamunya ngambek!"


Julian pun tersenyum mendengar perseteruan sepasang suami istri yang biasanya romantis. Pantas, dari tadi mereka diam saja. Sedang berantem ?!


"Oh...ya... makasih kalau gitu", kataku.


"Emang hp apa mas?"


"iPhone 12 max!"


"Masyaallah, itu kan mahal mas. Setara sama harga motor lho!"


Meski aku tak tahu tepatnya berapa duit.


"Kamu meremehkan suami mu dek, nggak sanggup beliin hp kaya gitu?", tanya aziz


"Jangan salah sangka mas....bukan gitu ...!",

__ADS_1


Mobil sudah berhenti di parkiran, mas Aziz turun lebih dulu. Julian membawakan tas ku yang berisi laptop dan beberapa dokumen.


Julian memilih untuk menjauh dari sepasang suami istri yang sedang tidak akur itu.


__ADS_2