Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Rencana


__ADS_3

"Walaikumsalam.Eh, A Dadan...pak ustadz....",kata Imah sopan.


"Dalam rangka apa peluk-peluk begitu?", tanya a Dadan menyelidik.


"Anu...itu A...biasalah...kalau ada maunya mah gitu, ucapan terimakasih ceunah."


"Ngomong apa sih kamu Mah?",Aziz mengusap dahinya sendiri.


"Tapi...kalian benar-benar nggak ada apa-apa kan mas Aziz...Imah?"


"Nggak lah Kang!",serus Aziz.


"Aih...mas Aziz teh beres leuweh lin?", tanya Dadan.


"Ah... nggak, cuma kelilipan."


"Bisa ae...kang cangkul?!",ledek Imah.


"Btw...ada perlu apa kang Dadan di temenin pak ustadz...?"


"Panggil saja Fai ,Ziz!"


"Owh...okey....!", Aziz kembali ke bentuk semula. Tadi aja melow, nangis-nangis. Sekarang aja, mentang-mentang ada mantannya mbak Di, sok-sokan wibawa.


"Begini Ziz, saya mewakili keluarga kang Dadan berniat ingin mengkhitbah Imah, untuk di jadikan istri kang Dadan. Kira-kira kapan ada waktu senggang biar lebih formal penyampaian nya", ucap Fai penuh bijaksana.


"Owh...itu, silahkan saja jika memang mau berkunjung untuk silaturahmi, kami siap kapanpun. Asalkan di konfirmasi terlebih dulu."


"Alhamdulillah, bagaiman kang Dadan? Kira-kira kapan mau melamar neng Imah?", tanya Fai.


"Bagaimana kalau lusa, malam Ahad. Gimana mas Aziz?", tanya Dadan.


"Atur we lah kang, kita mah ngikut aja!"


Sedang si Imah cengar-cengir kaya sapi ompong.


"Kamu kenapa mah?", tanya Aziz.


"Nggak apa-apa mas, emang Ndak boleh seneng opo piye?"


"Dasar, Jawir...Jawir...kang Dadan udah yakin mau melamar si Jawir ini? Saya mah takutnya kang Dadan nyesel. Gini-gini adik saya limited edition kang!"


Kang Dadan dan Fai tertawa sewajarnya. Lain lagi dengan Imah. Dia memanyunkan bibirnya hingga sepuluh centi.


"Lho...ada tamu...kang Dadan...mmmas Fai?!", sapa ku.


"Iya mbak Di. Lagi ada urusan sebentar", ucap Dadan.


Aku dan Fai hanya mengangguk kan kepalaku. Aku harap, setelah ini nggak ada drama cemburu-cemburuan.


"Ini mas, kamu gendong Diaz. Aku mau bikin minum dulu."


Mas Aziz pun menerima Diaz di pangkuannya.


Menimang-nimang penuh kasih sayang. Aku pun meninggalkan kios untuk membuat minuman.


Setelah beberapa waktu aku kembali ke kios dengan membawa nampan berisi tiga kopi. Imah mah nggak suka ngeteh atau ngopi, jadi tak kubuat kan.


"Silahkan....!", ku letakkan tiga cangkir kopi di atas etalase.

__ADS_1


"Sayang, mendingan kamu bawa Diaz ke rumah aja deh. Banyak debu disini", kata Aziz. Imah melotot, perasaan mas Aziz kalau manggil mbak Di tuh...dek. Apa mentang-mentang ada pak ustadz ya?


"Iya mas", aku pun mengangguk patuh. Meraih Diaz yang masih ada di pangkuan Aziz. Kayanya ada bau-bau cemburu nih. Padahal udah sering disebut bilangin kalau semua cuma masa lalu. Masih aja cemburu , iiih....


Mereka kembali melanjutkan obrolan membahas lamaran Imah. Sesekali mereka menyesap kopi yang di sajikan diatas etalase.


Fai tersenyum sumringah, membuat Aziz menaruh curiga.


"Kenapa senyum-senyum begitu Fai?", tanya Aziz. Yang ditanya hanya diam. Tapi ada senyum merekah diwajahnya.


"Masih sama...", gumam Fai.


"Rasa kopi bikinan Dian? Jelas masih sama lah, orang itu kopi kapal pecah yang kemasan sekali seduh."


Ppfff...Imah dan Dadan menahan tawa. Ternyata orang cemburu tuh begini ya? Gumam Imah.


"Ya udah deh, lanjutin ngobrol nya. Imah mau ke mbak Di dulu!", pamit Imah.


"Mau ngapain?", cegah Aziz.


Imah sedikit berjongkok mendekati telinga sang bos.


"Mau bantu cari cara buat menghadapi orang cemburu! Hihihi...!", bisik Imah.


Wajah Aziz pun memerah menahan emosi karena ledekan Imah.


*****


"Diaz sayang....!", sapa Imah yang langsung menemui Diaz dan aku di ruang televisi.


"Lho, kok kamu ke sini Mah?", tanyaku.


Imah mrnjatuhakan bobotnya di sofa.


"Kayanya...ada bau-bau cemburu deh mbak!"


"Sudah kuduga Ferguson!", kataku.


"Mbak Di ah....!"


"Iya, iya....heheheh. Mbak udah duga, kamubke sini pasti mau ghibahin mas mu!"


"Hehehe mbak Di emang ya....!"


"Memang mereka kenapa mah?"


"Mas Aziz lho mbak, kayane nggak seneng banget kalau mbak Di ketemu sama pak ustadz. Mukanya itu lho, langsung keliatan cemburu nya!"


"Namanya juga cinta Mah...."


"Hem...cinta ya....!"


"Nanti, kalau kamu udah rumah tangga juga ngerasain begitu kok."


"Moso seh?"


"Heum...!"


Imah terlihat berpikir. Entah mikirin apa.

__ADS_1


"Oh ya mah,boleh tanya?"


"Apa mbak?"


"Kamu pernah bilang Bu Tati menikah lagi. Terus mama juga bilang, kalau Bu Tati itu janda beranak satu yang udah menggoda papa mu? Terus kemaren, Bu Tati bilang dia nyesel udah setia sama papa mu. Yang bener yang mana mah?"


"Kalau soal ibuk nikah lagi Yo bener lah mbak, tapi kalau soal ucapan mama sama ucapan ibuku, Imah Ndak tahu. Biarlah mereka yang tahu!"


Kata Imah sambil mengangkat bahunya.


"Gaya mu mah, kaya lagi main teater aja."


"Hehehe iya ya mbak!"


"Emang mereka bertiga di depan pada ngomongin apa sih?"


"Anu...itu mbak...A Dadan mau melamar Imah. Gimana juga, Mas Aziz kan wali Imah yang sah. Lagipula, cuma mas Aziz yang Imah punya."


"Oh...cuma mas Aziz, mbak enggak?"


"Iih...mbak Di mah, maksud Imah tuh wali mbak...wali. Mbak Di kan gak iso jadi wali."


"Iya mah iya..."


"Emm...mbak, menurut mbak, apa Imah perlu melibatkan ibuk?"


"Mbak nggak bisa jawab mah. Tanya saja sama mas mu!"


"Iya sih, tapi... "


"Tanya aja dulu, kalau boleh ya syukur. Kalau enggak ya mau gimana lagi?"


"Iya sih."


"Tapi... alasannya kenapa nggak boleh dilibatkan mah? Gimana juga kan Bu Tati orang yang udah merawat mu."


"Liat nanti saja lah mbak!"


*****


Di apartemen Lili


"Mbak Tati...kenapa kamu bisa ceroboh begini? Aku kan udah bilang kirim dari tadi, malah di hapus!", Lili marah-marah pada Tati.


"Kan saya udah bilang mbak, nggak sengaja. Saya kan baru pegang hp beginian."


"Terserah kamu lah mbak Tati."


"Mbak, kayanya kita cari cara lain. Jangan kaya begini lagi?", kata Tati memberikan ide.


"Cara lain? Maksudnya?"


"Nanti saya pikirkan!"


"Ah...terserah kamu lah mbak. Semua terasa sia-sia saja!"


Lili pun meninggalkan Tati seorang diri di pantry.


Kira-kira apa ide Tati selanjutnya ya? 🤔

__ADS_1


__ADS_2