
"Sudah telpon Fai dek?", tanya Aziz yang baru saja dari toilet. Tampak nya, Aziz sedikit lebih baik di bandingkan tadi.
"Aku nggak telpon mas. Dia yang nelpon duluan."
"Masa sih? Hehe berarti dia emang sehati!", sahut Aziz sambil duduk di sofa.
"Kamu sehati sama Fai? Terus aku?"
"Sini sayang....!", Aziz meletakkan dagunya di bahuku.
"Apa?"
"Kalau kamu, belahan jiwaku. Kamu dunia ku."
"Halah... gombal!"
"Serius....!!!"
"Iya...iya...!"
"Dek...?!"
"Hem...!"
"Kamu bisa kan bersikap biasa saja sama Fai?"
Aku memundurkan badanku dari mas Aziz.
"Maksudnya apa nih?"
"Ya...tolong....jangan terlalu...."
"Apa? Memangnya aku kenapa? Aku tahu batasan ku! Aku juga sadar diri kok, aku istrimu. Aku ...."
Tiba-tiba mas Aziz menyambar mulutku dengan mulutnya untuk beberapa saat.
"Diam dulu dong sayang, mas belum selesai bicara!"
Aku pun memanyunkan bibirku.
Mas Aziz menggenggam kedua tanganku diatas pangkuan nya.
"Lalu apa? Kamu bilang kan tadi aku harus bersikap biasa saja? Emang selama ini aku gimana? Keganjenan gitu?"
"Ish...bukan itu....!"
"Apa dong mas?"
"Mas tahu, kamu nggak akan bisa melupakan masa lalu kalian. Dan...mas juga sudah berdamai sama keadaan kok. Mas mau... kalian akur lah...jadi sahabat..."
"Emang kapan aku musuhin dia?"
"Musuhin sih nggak, tapi kamu masih gengsi masih suka ketus sama dia. Beda....sikap kamu ke Fai dan Julian....?"
"Lho...lho...kok jadi bawa Julian??? Apa hubungan nya?"
"Nggak ada sih... hehehhe!"
"Dih...nggak jelas banget!"
Mas Aziz malah mengerat kan pelukan nya padaku.
"Makasih ya sayang, kamu selalu bisa menenangkan mas."
Aku tahu mas... obrolan nggak penting mu ini hanya sekedar pengalihan dari masalah mbak Imas.
*****
"Assalamualaikum!", sapa Fai.
"Walaikumsalam. Lho, peyan ndek kene?",tanya Imah.(Kamu di sini?)
"Iya. Tadi di anterin Dadan. Tapi Dadan udah pulang, nanti kamu pulang ke rumah mobil mu udah mendarat di sana."
"Masa? Ya Allah, a Dadan jadi beli mobil mas?", tanya Imah antusias.
"Iya. Spesial buat kamu. Tapi masih kurang, kamu yang suruh bayarin sisanya."
"Masa sih?", tiba-tiba muka Imah serius. Sontak Fai tertawa terbahak-bahak di depan Imah.
"Nggak Mah...udah, kamu tinggal pake doang."
Imah pun memanyunkan bibirnya. Sedangkan Hayu hanya geleng-geleng melihat tingkah Imah.
__ADS_1
"Em...Damar belum nyampe?", tanya Fai.
"Kok mas Fai tahu kalau mas damar mau ke sini?", tanya Hayu.
"Mas Damar ke sini mau ngapain? Kan mas Aziz dan mbak Di nggak di rumah?",tanya Imah.
"Tahu lah... damar janjian mau ketemu mbak Hayu kan? Dih...girang banget tuh bocah di telpon sama mbak Hayu, di ajak ketemu pula."
Wajah Hayu bersemu merah mendengar jawaban Fai.
"Owh ...gitu....mbak hayu diam-diam ya????!", ledek Imah.
"Udah, nggak usah ngeledek Mah. Biarin sih temen mu bahagia", kata Fai sambil mengambil minuman di lemari pendingin.
"Bayar lho, nggak gratis itu!", teriak Imah.
"Iya. Aku dengar Mah. Nggak usah teriak-teriak juga kali."
Lalu Fai merogoh kantong nya, menyerahkan uang lima ribu pada Imah.
"Bayar kan gue???!", kata Fai ketus.
"Dih.... anak Sultan, ngantongin duit gocengan???"
Fai tiba-tiba tersedak mendengar ledekan dari Imah. Tapi imah malah terbahak, sejenak ia melupakan masalah keinginan mertua nya.
"Mah, minta kunci Vario. Tadi aku udah ijin sama Dian. Aku mau ke kantor nya. Tadi, Dian bilang Aziz lagi butuh temen ngobrol. Buruan ambil!"
"Iya, bentar!"
Imah pun beranjak ke rumah induk. Mengambil kunci di gantungan dekat dapur.
"Eh...teh neng masak apa?", tanya Imah melihat Neneng sedang mengolah masakan.
"Cumi cabe ijo mbak Imah."
"Em...Diaz bobo?"
"Iya. Itu...disana!"
Imah menghampiri Diaz yang tidurnya tengkurap di kasur lantai. Menciumi pipinya sebentar. Setelah itu mengambil kunci motornya Dian.
"Duluan ya teh!", kata Imah meninggal dapur.
"Iya mbak Imah!", sahut neneng.
"Iki mas....!"
"Eh, Diaz nggak sama Lo? Dimana?"
"Ada, lagi bobo. Sekarang ada teh neneng yang bantuin jaga Diaz."
"Teh neneng?"
"Iya. Yang waktu itu bikin katering di nikahan Imah mas."
"Owh....!"
"Tahu nggak mas...?", tanya Imah.
"Enggak", jawab Fai singkat.
"Ish ....Imah belum selesai ngomong juga. Itu...suami teh neng ternyata orang yang mas Aziz pecat dari butik mas."
"Hah? Masa sih?"
"Iya, dan... sekarang...dia malah kerja di DWP !"
"Hah!", Fai terkejut lagi.
"Iiih...biasa aja kali kegetnya! Muncrat nih liur mu mas!", kata Imah sambil mengusap wajahnya.
"Lebay!!??", kata Fai.
"Heheheh emang....!"
"Kok bisa dia malah di pekerjakan di DWP?",tanya Fai.
"Kaya nggak tau mantanmu aja mas. Baekknyaa...kaya apa. Gampang banget maafin orang kan???"
"Ah...iya...mungkin begitu!"
Tak lama kemudian, Damar datang ke kios.
__ADS_1
"Hei...bro....udah di sini aja!", sapa Damar.
"Assalamualaikum!", kata Fai, Imah dan Hayu kompak.
"Walaikumsalam."
Damar terlihat keki di depan ketiga orang itu.
"Nah, damar udah datang. Gue jalan deh!" kata Fai berdiri.
"Eh...kemana Lo?", tanya Damar menarik tangan Fai.
"Mau ketemu mantan gue, lakinya lagi butuh gue?!'', jawab Fai tengil.
"Ih, nggak banget sih omongan Lo!", kata damar mencebikkan mulutnya.
"Tanya aja sama adeknya noh kalo nggak percaya."
"Serahhh Lo.....!", kata damar.
Fai pun meninggalkan kios lalu menuju ke garasi untuk mengambil motor Diandra.
"Njir...berapa abad nih motor kagak di pake??"
Fai menebahi debu yang menempel di jok nya. Setelah itu, memanasi beberapa saat.
Dengan santainya, ia pun meninggalkan rumah Aziz menuju DWP.
.
.
.
.
Kurang lebih setengah jam, Fai sudah sampai di parkiran motor DWP.
Usai memarkirkan motornya, Fai menuju resepsionis untuk menanyakan ruangan Aziz dan Dian.
"Selamat siang mbak!", sapa Fai.
"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?", tanya resepsionis.
Sumpah nih laki ganteng amat ya, sebelas dua belas sama pak bos! Batin resepsionis.
"Saya Rifai, mau ke ruangan Diandra...eh.. maksudnya ruangan pak Aziz dan Bu Dian, dimana ya? Saya udah janjian, tapi ponsel saya baterai nya habis."
"Sebentar pak, saya hubungi ke beliau dulu."
Belum juga resepsionis memberi tahu pada Fai, tiba-tiba datang seseorang yang menghampiri Fai.
"Kaya pernah liat?" tanya Niko pada Fai.
"Ya....???" , tanya Fai.
"Ini... mantannya Rara kan? Maksudnya Bu Diandra. Mas Fai bukan sih?", tanya Niko.
Hah? Mantannya Bu dian? Ya Tuhan... beruntung amat sih jadi Bu Dian. Lakinya ganteng kebangetan, eh... mantan nya juga nggak kalah cakep nya....batin Resepsionis.
"Ah...iya!", jawab Fai kikuk.
"Saya Niko mas Fai? Lupa?", tanya Niko.
"Owh...maaf, saya nggak begitu inget", jawab Fai.
"Masa iya sih mas, saya aja pernah di tonjok sama mas Fai gara-gara deketin Rara waktu itu. Padahal kita hanya berteman."
Niko terkekeh sendiri.
Masa sih??? Batin Fai.
"Ah...iya, saya minta maaf kalau begitu. "
Fai merasa tak enak sendiri.
"Nggak apa-apa mas. Lagian itu sudah lama sekali."
Fai pun hanya tersenyum.
*****
Masyaallah...udah mau eps 200 😱😱😱😱.
__ADS_1
Mamak nggak nyangka bisa sampe eps ini .
Harap dukungan nya ya man teman...🤗. Terimakasih atas respon kalian dan berkenan membaca tulisan receh mamak 🥰🥰🥰🥰🤗🤗🤗