
Di kediaman papa mika
"Masyaallah, anak papa cantik sekali hari ini?!", seru Umar, papa mika.
"Biasanya mika nggak cantik dong pa?",Mika merajuk.
"Biasanya cantik, tapi hari ini cantiikkk banget."
Umar masih memuji putri semata wayangnya.
"Apa mama tidak ada waktu untuk menghadiri acara ku ini Pa?", tanya mika.
"Nak, mama mu sedang sibuk. Om Kendra sedang menjalani perawatan. Kebetulan, jadwal kontrol om Kendra bentrok dengan acara kamu nak. Sudah, jangan berkecil hati. Kan ada Papa."
Mika menyunggingkan senyum nya sedikit. Mamanya memang sudah menikah lagi sejak bercerai dari Papanya tujuh belas tahun yang lalu. Tapi, papa masih betah menyendiri di usianya yang semakin tua. Mereka berdua berpisah karena keinginan mereka sendiri, yang aku tahu saat itu mama pergi meninggalkan rumah ini.
"Mika...!", panggilan papa membuyar kan lamunan ku tentang mama.
"Heum?"
"Bagaimana perasaan mu hari ini? Pasti berdebar-debar ya?"
"Iya lah Pa."
"Jangan takut, insyaallah Rifai adalah pria yang tepat untuk mu. Jadi, kamu tidak perlu mengharapkan cinta dari laki-laki yang tidak akan pernah mencintai mu."
"iya pa. Bahkan, Mika sekarang tahu , kenalan kak damar tidak bisa membuka hatinya untuk perempuan lain termasuk Mika."
"Maksud kamu apa mika?"
"Nanti, perempuan yang kak damar cintai juga ikut ke sini Pa."
"Benarkah?"
"Iya pa. Perempuan yang cantik dan anggun, serta lemah lembut."
"Siapa dia nak?"
"Nanti, mas Fai dan keluarga nya akan membawa nya kemari Pa."
"Baiklah, papa penasaran. Perempuan seperti apa yang membuat Damar tidak bisa menerima pesona putri papa."
"Heheh papa bisa saja."
Di tengah obrolan kami, seorang art mengetuk pintu kamar ku.
"Maaf tuan, di luar ada pak Stevan."
"Oh, iya bik. Saya segera turun."
"Nak, Om Stevan sudah datang. Papa turun dulu ya."
"Papa mengundang om Stevan?"
"Iya nak. Kamu kan tahu papa berteman dengan om Stevan tidak hanya saat menjalankan bisnis."
"Iya pa."
Papa pun turun untuk menemui Stevan. Di luar dugaan, Damar sedang menaiki tangga.
"Om...maaf, boleh damar menemui Mika?"
"Tentu saja Damar, maaf ya. om mau menemui teman om dulu."
"Iya om makasih!"
__ADS_1
Damar pun menuju kamar mika.
"Mika....!", panggil Damar.
"Kak damar, masuk Kak!", setelah di persilahkan masuk oleh si pemilik kamar Damar pun masuk.
"Kamu cantik sekali Mika!" puji damar.
"Makasih kak. Tapi sayangnya, kecantikan ku tak bisa membuat mu tertarik untuk mencintai ku kan Kak?"
Damar terdiam.
"Maaf....!", katanya pelan.
"Sudah lah Kak, tenang saja. Mika baik-baik saja. Justru karena kak damar lah, aku bisa mengenal Mas Rifai, calon suami ku."
"Mika, sekali lagi maafkan aku ya....!"
"Tidak ada yang perlu di maafkan Kak. Yang namanya perasaan kan tidak bisa dipaksa. Bener kan?"
"Iya."
"Nanti mbak Hayu dan Faiz juga ikut ke sini kok mas. Aku sudah memesan pakaian yang sama untuk kalian berdua. Jadi, saat orang lain melihat kalian berdua... mereka tak perlu berpikir keras jika kalian... sepasang kekasih."
"Mika....!"
"Udah kak, nggak usah ucapin makasih dan maaf lagi. Seandainya maaf bisa di uangkan, mungkin kita bisa kaya raya ya Kak hahahhh"
"Mika, kamu benar-benar sudah siap menjalani hubungan dengan Fai?"
"Insyaallah siap Kak. Kami senasib!", mika menunjukan senyum getir.
"Semoga kelak kalian bahagia dan saling mencintai ya Mika."
"Tentu saja kak, bahkan aku sudah menyatakan cinta ku padanya."
"Heum, tapi mas Fai malu-malu."
"Mika...tolong, jangan berpura-pura di hadapan ku."
"Tidak, aku tidak sedang berpura-pura Kak."
"Aku tahu kamu hanya sedang berusaha menutupi perasaan mu Mika?!!!"
"Kak Damar aku...."
"Rifai laki-laki yang baik mika. Aku tahu dia seperti apa dari dulu. Dan aku yakin, dia akan bisa menjagamu dan bisa membantu mu melupakan aku yang selalu menyakiti mu."
"Kak...."
"Kamu harus berjanji, kamu akan bahagia bersama Fai."
Mika terdiam.
"Kakak keluar dulu ya. Nanti Kalau rombongan Fai datang, kakak akan menjemput mu ke sini."
"Iya Kak!"
Damar pun keluar dari kamar gadis yang selama ini mengharapkan nya.
Mika menatap dirinya di cermin. Apakah kamu siap dengan segala sesuatunya mika? Kami siap bertahan sekaligus berjuang untuk kedua kalinya agar mendapatkan cinta dari seorang laki-laki? Apakah kamu siap menelan kekecewaan jika kelak usahamu kembali mengecewakanmu?
Bismillah, ya Allah semoga ini jalan yang terbaik dari Mu. Aku pasrah kan semuanya padaMu ya Allah.
Mika merapal kan doa agar dia bisa lebih tenang menghadapi semua nya nanti.
__ADS_1
*****
"Makasih bang Stev, sudah menyempatkan diri kesini." Umar menepuk lengan Stevanus Winata, sahabat sekalian rekan bisnisnya.
"Mika sudah ku anggap seperti anakku sendiri Mar!"
"Ya...ya... terimakasih bang.Eh, ngomong-ngomong aku dengar gosip kalau Abang mau menikah ya?"
"Tahu dari mana Mar?"
"Tahu saja lah bang!"
Stevan menyungginggkan senyum nya.
"Iya. Beberapa hari yang akan datang."
"Wow, luar biasa abangku yang satu ini."
"Bisa saja, kamu sendiri kenapa tidak menikah lagi?"
"Bang Stev, aku hanya ingin melihat anakku bahagia di sisa umurku. Aku sudah pernah bahagia di saat mudaku dulu, jadi kali kesempatan bahagia untuk anakku."
Umar benar, aku egois sekali. Sama sekali tak pernah memikirkan putriku.Batin Stevan.
"Ya udah bang, aku ke sana dulu ya. Mau menemui yang lain."
"Iya, silahkan!"
Stevan pun kembali duduk di sofa. Tangannya sibuk memakan ponselnya. Tak lama kemudian, ponselnya berdering.
[Sori bos, kios kecil tempat Nona Stevia sedang tutup. Saya dengar, mereka akan pergi ke kerabatnya yang akan melangsungkan lamaran bos.]
[Ya sudah, biarkan saja. Lain kali pantau lagi ya]
[Siap bos!]
Stevia, kenapa Daddy gak minta nomor ponsel mu. Daddy harus mencari mu lagi?
Suara klakson bus terdengar nyaring hingga ke dalam rumah.
Umar dan beberapa kerabat nya pun segera menunggu calon besan dan calon menantunya di depan. Dengan kesadaran sendiri, Stevan pun turut berdiri di belakang Umar. Damar pun tak mau kalah. Damar berdiri di samping Stevan, mereka memang tidak saling mengenal. Tapi, mereka sama-sama menunjukkan senyum nya untuk sekedar menghormati sebagai sesama tamu di keluarga Umar.
Satu per satu penumpang bus pun turun. Sambutan Umar pada calon besan nya membuat Stevan turut bahagia.
Damar dan Stevan kini sama-sama berdiri di tepian. Mempersilahkan rombongan masuk terlebih dulu , sampai pada akhirnya....kedua pria beda generasi itu menatap salah satu orang dari rombongan itu.
"Stevia....!", seru Stevan dan Damar bersamaan. Keduanya pun saling memandang. Sedangkan Stevi alias Hayu sendiri pun merasa terkejut dengan kehadiran Daddy dan Damar yang berdiri sebelahan.
Tanpa permisi, Hayu melewati dua pria itu. Menggandeng Faiz di tangannya. Dia berusaha untuk berpura-pura tidak mengenal damar ataupun Stevan.
"Anda mengenal Stevi?",tanya Stevan.
"Iya. Anda sendiri?", tanya Damar balik.
"Saya Daddy nya. Anda?"
Apa? Daddy nya Stevia?
"Saya...saya...teman Hayu, maksud saya Stevi."
Keduanya pun kembali masuk ke dalam mengikuti rangkaian acara. Sampai damar teringat, kalau rombongan datang Mika akan dia panggil. Sayang nya, mika sudah terlebih dulu turun.
Mata damar tak lepas dari seorang Hayu, benar kata mika. Hayu memakai pakaian yang sama dengan nya.
Aku harus bisa bicara dan membujuknya kembali hari ini. Gumam Damar.
__ADS_1
******
Damar akan berjuang mendapat kan Stevia lagi. Bagaimana kelanjutannya????