
Udah usaha update 3 eps, tapi ternyata belum di review sama yang punya kawasan 😔. Tapi nggak apa-apalah, mamak masih tetap semangat lanjutin tulisan receh ini. 💪💪💪💪💪
*****
Aku masih belum terpejam sampai mas Aziz kembali ke ruangan ku.
"Mas....!", panggil ku lirih.
"Ya sayang, kenapa? Butuh sesuatu?", tanya Aziz.
Aku menggeleng pelan.
"Bisa video call Imah nggak mas, aku kangen sama Diaz."
"Astagfirullah, mas lupa ngabarin Imah kalau kamu udah siuman."
Mas Aziz meraih ponsel lalu menghubungi Imah. Dua kali di hubungi, Imah tak mengangkat telponnya.
"Mungkin mereka sudah tidur mas..."
"Sebentar,mas telpon Dadan."
Baru berdering beberapa saat, Dadan langsung mengangkat telpon nya.
[Assalamualaikum mas?]
[Walaikumsalam. Sudah tidur ya Dan?]
[Imah sama diaz udah, saya mah belum]
[Oh...ini ,mas mau kabarin kalau Diandra sudah siuman. Sekarang sudah di bawa ke ruang rawat inap.]
[Alhamdulillah atuh. ..tapi Imah sama Diaz udah bobo.]
[Iya nggak apa-apa. Dian cuma mau lihat Diaz , boleh?]
[Iya mas, sebentar!]
Dadan pun masuk ke kamar nya perlahan. Imah tengah tertidur memeluk Diaz.
Mas Aziz menyerahakan pun ponselnya padaku. Aku bisa melihat Diaz sedang tertidur pulas dipelukan Imah.
"Diaz....bunda kangen Nak...!", bisikku pelan. Aku sangat merindukanmu putraku.
Mas Aziz mengusap kepalaku.
"Segera lah sembuh dek, Diaz pun sangat merindukan bundanya]
Mas Aziz mengecup kening ku. Aku pun mengiyakan dengan anggukan.
[Dan....]
[Iya mas?!]
[Kamu istirahat juga. Pasti lelah kan jagain Diaz juga]
[Nggak apa-apa mas]
[Besok...tolong bilang ke Imah. Siapin baju ganti buat aku dan Dian ya.Nanti Julian yang akan bawa ke sini]
[ Saya aja yang anterin juga nggak apa-apa kan?]
[Kamu jagain Diaz dan Imah aja dan. Titip mereka ya.]
__ADS_1
[Hem. ya Udah atuh kalo gitu mah.]
Panggilan video pun selesai. Mas Aziz meletakkan ponsel nya di atas nakas.
"Tidur lah mas. Kamu juga capek abis perjalanan jauh Surabaya Jakarta kan?"
"Iya, mas tidur kalau kamu udah tidur."
"Iya. Aku tidur kok mas."
Aku mulai memejamkan mataku kembali. Aku belum benar-benar tertidur sampai aku mendengar dengkuran halus dari mas Aziz yang tidur di sebelah brankar ku.
Aku sampai tak habis pikir, suamiku bisa begitu saja percaya dengan potongan video seperti itu. Padahal, selama ini dia selalu bersikap realistis. Apa rasa cemburunya kini benar-benar sudah tidak bisa di ajak kompromi???
Huftt....
Mika... maafkan aku. Aku tahu, seperti apa perasaan mu. Suamimu pasti sangat mencemaskan ku. Tapi aku bisa apa Mika? Bagaimana bisa aku memaksa kemauan ku agar mas Fai tak lagi memikirkan aku????
***
Imah dan Dadan sudah membawa diaz ke rumah. Anak itu sudah tak serewel kemarin. Mungkin itu yang di namakan ikatan batin antara anak dan ibu.
"Mbak Imah, maaf saya telat datang nya", kata Teh Neng.
"Nggak apa-apa teh. Itu Diaz sama A Dadan di depan."
Teh Neneng pun mengambil Diaz dari gendongan Dadan.
"Punten ya kang, saya kesiangan."
"Nggak apa-apa teh."
"Bu Dian teh geus init ka kantor nyak?", tanya Imah.
"Ya Allah, kunaon kang? Terus ayeuna kumaha keadaan mbak Dian?", mendadak teh neng merasa cemas.
"Alhamdulillah, semalam udah di pindah ke ruang rawat teh. Imah lagi ambilin baju buat mas Aziz sama mbak Di, nanti asisten mbak Di yang ngambil."
"Owh....mas Aziz teh sudah pulang? Memang mbak Dian sakit naon kang?"
"Belum tahu, saya kan belum nengok. Mau ke sana nggak di bolehin. Disuruh nemenin Diaz sama imah. Mungkin nanti siang, kan udah ada teh Neng."
"Muhun Kang. Semoga teh, mbak Dian cepet sehat lagi. Karunya den Diaz."
"Aamiin."
Imah sudah membawa sebuah tas berisi pakaian Aziz dan Dian.
"Teh, Diaz udah makan tadi di rumah. Paling nanti pas jadwal nya ngemil, teh neng bisa kasih jus buah atau biskuit apa gitu ya teh. Takut nya saya sibuk di depan nemenin mbak Hayu."
"Iya mbak Imah." Neneng membawa Diaz ke dalam agar bisa main di dalam saja.
Tak berapa lama, Julian datang ke hadapan mereka.
"Selamat pagi pak Dadan, Bu Imah!"sapa Julian.
"Jangan pak atau ibu dong, tua banget kesannya deh!", kata Imah manyun.
Julian tersenyum.
"Saya panggil apa harusnya?", tanya Julian.
"Panggil aja saya kang Dadan gitu, nah itu istri saya panggil aja Imah. Dia kan belum tua-tua amat."
__ADS_1
"Iiih...AA mah....", Imah semakin memanyunkan bibirnya.
"Gimana keadaan mbak Dian ,mas Julian?", tanya Dadan.
Hah! Dia memanggil ku 'Mas' juga???? Batin Julian.
"Bu Dian sudah melewati masa kritis semalam. Tapi sekarang saya belum mendapatkan informasi apa pun."
Dadan mengangguk.
"Saya pengen jenguk. Tapi mas Aziz nggak ijinin. Katanya suruh jagain Diaz sama imah."
Julian terdiam sejenak. Ia jadi berpikir kalau seandainya mereka gagal mencelakai dian, bisa saja anak nya atau adiknya di rumah menjadi target selanjutnya.
"Betul kang. Ada baiknya memang kang Dadan menjaga mereka. Saya juga akan mengerahkan anak buah saya untuk berjaga di sini."
Dadan terlihat bingung.
"Sebentar mas Jul. Anak buah? Berjaga di sini?", tanya Dadan.
"Iya kang. Saya hanya mengantisipasi hal yang tidak bisa saya prediksi. Segala kemungkinan itu ada kang. Keselamatan keluarga Bu Dian juga tanggung jawab dan kewajiban saya."
"Memangnya ada apa mas Jul?"
"Kemarin, saya dan Bu Dian diikuti orang asing. Dan....orang itu seperti sengaja membuat konflik diantara Bu Dian dan pak Aziz."
"Konflik?"
"Iya. Kemarin ada yang merekam video yang antara Bu Dian dan kakak saya yang kebetulan klien kami di kantor."
"Video apa ya mas?", Dadan semakin penasaran. Untung saja Imah sudah menemani Hayu ke kios. Andai ada Imah, pasti bakal mencerca Julia dengan banyak pertanyaan.
"Video antara Pak Fai dan Bu Dian, dan juga Bu Dian dan kakak saya."
"Video apa memangnya?"
"Video yang sekilas memperlihatkan kemesraan mereka, padahal tak seperti yang mata kita lihat. Mereka mengedit seolah-olah itu yang sebenarnya terjadi."
Dadan terdiam.
"Maaf kang Dadan, bukan ranah saya membicarakan lebih detilnya seperti apa. Saya hanya ingin kang Dadan juga berhati-hati menjaga mereka. Karena, orang itu bisa saja menargetkan keluarga dekat Bu Dian."
"Iya. Saya mengerti mas Jul."
Dadan mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan selama mas Aziz dan mbak Dian tidak berada di rumah.
"Kalau begitu, saya permisi ke rumah sakit kang!"
"Ah, iya. Silahkan!", kata Dadan.
Julian pun meninggalkan rumah Aziz, merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang.
[Saya minta orang untuk berjaga di rumah Bu Dian. Pastikan orang-orang yang ada di dalam rumah ini aman]
[......]
[Saya kirimkan alamatnya]
[......]
Julian pun memasuki mobilnya. Sepertinya dia kembali terlambat mengantisipasi. Dia urung kan menyalakan mesin mobilnya. Menunggu orangnya untuk melindungi keluarga bos nya.
Mobil yang mencurigakan itu pergi begitu saja saat dua buah mobil berisi delapan anak buah Julian turun.
__ADS_1
Julian memberikan tugas kepada anak buahnya itu agar jangan sampai lengah menjaga rumah bos nya. Setelah memastikan rumah itu aman dengan kehadiran anak buahnya, Julian pun melesat ke rumah sakit.