Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 281


__ADS_3

Di kamar....


"Jamaah Tah Mbak Hayu?", tanyaku.


"Iya, boleh!", jawabnya.


Lalu kami pun mengambil posisi untuk solat berjamaah.


Beberapa menit kemudian, kami selesai melaksanakan solat magrib kami. Usai berzikir tak lupa kami memanjatkan doa pada sang khalik. Memohon ampunan, memohon keridhaan dan meminta segala sesuatu yang baik untuk kami semua.


"Di...!", panggil Hayu.


"Ya mbak?"


"Kok Dokter Revan bisa sampe di sini?"


"Nggak tahu mbak. Mungkin dari data rumah sakit."


Hayu mengangguk.


"Tapi...omongan Revan kenapa sampai begitu banget ya?"


"Aku juga ngga tahu mbak. Revan yang dulu dengan Dokter Revan itu sangat berbeda! Ya...mungkin karena faktor usia", kataku sambungan melipat mukena.


"Tentang usia, memangnya dulu sedekat apa hubungan mu dengan Revan?Kenapa seolah-olah bagi Revan kamu itu harus banget dia miliki?"


Aku menghela nafas.


"Mbak, aku sama Revan cuma ya...pacaran pada umumnya anak remaja gimana sih? Ya gitu aja. Aku dan Revan sama-sama pernah Konsul di psikiater yang sama. Nah, dari situ kami saling mengenal.....!"


"Psikiater????", kataku dan Hayu kompak.


Aku dan Hayu sama-sama terdiam. Mungkin pemikiran kami pun sama.


"Tunggu deh Di, kalau kamu sama Revan pernah di psikiater yang sama berarti....?"


"Kami pernah sama-sama ngga waras mbak????!", kataku mempertegas.


"Bukan gitu maksud ku Di, jangan tersinggung!", kata Hayu mengusap bahuku.


"Aku paham kok mbak. Tapi setahu ku dulu dia sudah 'sembuh' dari traumatis nya. Atau mungkin.....dia juga bisa 'kambuh' seperti aku ya mbak? Untuk situasi tertentu mungkin?", tanyaku sendiri yang sebenarnya aku tahu Hayu tidak bisa menjawab nya.


"Mungkin begitu juga bisa Di, soalnya...kalau memang dia itu 'sakit' bagaimana mungkin dia bisa jadi dokter dengan predikat terbaik itu?"


Ternyata hayu sepemikiran dengan ku.


"Ya udah mbak, kita ngga usah berspekulasi yang kita sendiri nggak tahu kebenarannya!", kataku.


"Huum. Ya udah, kita ke ruang makan lagi saja. Mungkin yang lain udah nunggu!", kata Hayu.


"Mbak Duluan aja, aku mau mandi bentar. Udah gerah. Tadi belum sempat mandi!", kataku. Hayu pun keluar kamar terlebih dulu.


Di ruang makan.....


Aziz dan Damar sudah selesai solat. Revan dan Stevan serta Diaz masih duduk lesehan di atas tikar.


"Mi, Dian nya mana?", tanya Damar .


"Masih di kamar mandi Pa!", jawab Hayu.


Diaz pun merangkak menghampiri Hayu. Hayu tersenyum menyambut bayi tampan itu.


"Mi....!", panggil Diaz. Diaz memang sudah di biasakan memanggil Hayu dengan sebutan Umi, mama untuk Mika, Tante untuk Imah dan tentu saja Bunda untuk Dian.


Beruntung sekali Diaz tuh, emaknya banyak ya. Mana cakep semua hehehehe.....


"Papa sama mas Aziz mau makan duluan? Atau Daddy mungkin?", tanya Hayu pada kaum Adam yang ada di situ.


"Tunggu Dian aja Mbak Hayu!", kata Aziz. Damar pun menyetujuinya. Revan sendiri sibuk dengan ponselnya.


"Kamu mau ikut makan malam juga kan dokter Revan?", tanya Aziz. Revan yang sedang menatap ponselnya sontak mendongak.


"Ah, iya boleh!", katanya. Lalu ia melanjutkan lagi fokus dengan ponselnya. Tak selang beberapa lama, ponsel Revan berdering. Tapi terlihat jelas ia malas mengangkat nya .


"Angkat aja nak Revan. Kali aja penting!", kata Stevan.


"Nggak penting kok Om!", kata Revan lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya.

__ADS_1


Diaz meminta gendong pada Hayu. Sepertinya bayi itu mulai mengantuk. Hayu pun mengajak Diaz mondar-mandir di dalam ruangan itu. Benar saja, Diaz sudah tertidur pulas dalam dekapan Hayu.


Aku keluar kamar saat Diaz sudah pulas di gendong Hayu.


"Lho...anak bunda udah bobo?", kataku pelan sambil mengusap pipi chubby nya.


"Iya, kayanya kecapekan Di!", kata Hayu.


"Ya udah mbak, sini biar aku taruh Diaz di kasur nya."


"Udah, aku aja nggak apa-apa Di!", kata Hayu.


Aku pun mengiyakan saja. Lalu Hayu pun membawa Diaz ke dalam kamar lalu meletakkannya di kasur busa di bawah.


Sekarang formasi sudah lengkap. Aku dan mbak Hayu mengambil kan piring untuk kami semua. Revan menatap ku dengan pandangan yang membuat ku ngeri. Dia menatap ku penuh na***u. Kenapa aku menjadi mendadak takut padanya. Gambaran tentang kejadian tadi siang terlintas di pelupuk mataku.


Setelah itu aku mempersilahkan mereka semua untuk menyantap hidangan. Tak terkecuali Hayu yang sibuk mengambilkan untuk Damar, Daddy dan juga Revan.


Aziz melihat bagaimana Revan menatap ku.


"Ehem...!",Aziz berdehem.


"Sayang, aku mau lauk itu sama itu!", tunjuk Aziz.


"Iya mas!", kataku sambil mengambil lauk yang Aziz inginkan.


Setelah mengambilkan nasi mas Aziz, aku bermaksud untuk mengambil makanan untuk ku sendiri. Tapi mas Aziz melarang ku. Di saat yang sama, ternyata Mas Aziz memegang pergelangan tangan ku yang memar dan masih terasa sakit.


"Awww....!", pekikku.


"Kenapa dek? Apa ada yang sakit? Mas cuma mau bilang kita makan bareng aja kaya biasanya?!"


"Nggak apa kok mas, iya aku mau ambil minum aja kok. Kita makan sepiring berdua lagi biar makin enak!", kataku sambil berlalu mengambil gelas besar berisi air putih hangat.


Karena curiga, Aziz mengangkat tanganku. Lalu memeriksa nya dengan teliti. Luka memar itu masih cukup terlihat.


"Pergelangan tangan mu kenapa ini dek?", tanya Aziz. Dia membolak-balik kedua tanganku.


Revan menghentikan aktivitas makannya. Dia tertegun beberapa saat.


'Apa memar itu karena aku?' batin Revan. Ingin rasanya ia menghampiri Dian, tapi dia masih mampu menahannya.


Belum sempat ku jawab, damar mendekati ku lalu turut memeriksa nya .


"Siapa yang melakukan nya Di?", tanya Damar. Aziz terperanjat.


"Melakukan apa Dan?", tanya Aziz.


"Jawab Dian?", tanya damar lagi.


"Melakukan apa sih mas , mas Damar? Aku nggak apa-apa kok. Ini tadi aku merasa capek aja, jadi aku tekan-tekan sendiri jadi memar gini deh. Benerannn kok!"


"Dek??!", Aziz menyebut namaku dengan nada yang ku rasa cukup membuat ku takut.


"Iya Ziz. Mungkin Dian terlalu erat memegang pergelangan tangannya sendiri, jadi memar begitu!", kata Damar lalu kembali duduk di samping hayu lagi.


Aziz percaya dengan ucapanku dan juga Damar. Tapi aku rasa damar......


Revan kembali memperhatikan sepasang suami istri itu. Dian sangat telaten menyuapi suaminya, meskipun suaminya meminta nya untuk makan sendiri tanpa di suapi.


"Malu ah dek....!", kata Aziz.


"Ish...mas kan bisa makan banyak kalo aku suapin!"


"Tapi mending kamu dulu yang makan, kan kamu yang puasa."


"Nanti aku juga makan kok mas, tenang aja !", kataku sambil mengusap sisa nasi di sudut bibir mas Aziz.


Acara makan pun usai. Kini mas Aziz, Stevan dan Revan ada di ruang tamu. Sedang aku ,hayu dan mas damar di dapur.


"Katakan Di, siapa yang membuat tanganmu memar begitu?", tanya Damar padaku yang sedang mencuci bekas kami makan. Hayu pun berada di samping ku.


"Ini...ini...nggak apa kok mas!"


"Jawab jujur Di, kami tahu kamu bohong!", kata Hayu.


Yah, berasa di sidang suami istri ini mah....

__ADS_1


"Iya, iya. Tapi aku mohon, jangan beri tahu mas Aziz apalagi sampai ke Fai."


Sepasang suami istri itu mengerutkan keningnya, Fai???


Aku menceritakan semuanya yang tejadi di ruangan Revan tadi siang.


Damar mengeratkan kedua tangannya. Dia merasa ikut emosi dengan perbuatan-perbuatan Revan. Tapi, emosinya menurun saat Hayu menceritakan obrolan kami usap solat tadi.


"Lalu, kamu takut kalau Fai akan menghajar Revan. Begitu?",tanya Damar.


"Iya...bukannya aku GR mas, tapi...Fai dan Revan sempat hampir adu jotos di kamar rawat mas Aziz waktu itu. Aku cuma nggak mau, kalau Fai sampai melakukan hal yang berlebihan dan.... menyampaikan nya ke mas Aziz. Kamu tahu sendiri mas, seperti apa lemes nya mas Fai kalau ngomong sama Mas Aziz!"


"Ada benarnya juga sih Di, tapi ini tidak bisa di diamkan. Itu tindakan kriminal lho, termasuk pelecehan!",kata Damar lagi.


"Julian pun ngomong kaya gitu mas, tapi...aku nggak mau berbuntut panjang, yang justru membuat kesehatan mas Aziz terganggu mas. Tolong ya mas, pahami situasi dan keadaan ku mas?!", kata ku memohon pada damar. Bagiku, Damar adalah sosok kakak yang bijak.


"Ya!", jawab nya singkat. Lalu ia meninggalkan ku dan Hayu.


"Cepat atau lambat, suami mu akan tahu Di. Entah dari mulutmu sendiri atau orang lain! Belajar lah dari kesalahan sebelumnya Di!", Hayu menepuk bahuku dia pun berlalu.


Ah, aku pusing!!!!!


Andai aku jujur pada mas Aziz, apa yang akan terjadi?????


Di ruang tamu....


"Ziz, sepertinya om harus pulang dulu deh. Faiz dan....istri om pengen di temani makan malam", kata Stevan.


"Iya om, makasih udah berkunjung ke sini."


"Kamu mau bareng Nak Revan?", tanya Stevan.


"Iya om, tapi tunggu Dian keluar dulu deh. Sekalian pamit!", kata Revan melirik Aziz. Selang beberapa lama sepasang suami istri keluar, aku mengekor di belakang nya.


"Om pamit ya Di!", kata Stevan. Aku menyalami dan mencium punggung tangannya.


"Iya om, hati-hati!"


"Kami juga balik Di, Ziz!", kata Damar.


"Iya!", sahut ku dan mas Aziz. Kini giliran ku di pamiti oleh Revan.


"Aku pulang Di. Terimakasih untuk jamuannya!", kata Revan hendak menyalami ku tapi mas Aziz yang menyalaminya.


"Sama-sama!", kata mas Aziz. Aku pun memilih diam. Revan tersenyum sinis pada Aziz.


Pria itu pun keluar dari rumahku.


Di depan.....


"Tolong jauhi Dian. Jangan pernah mengganggu keluarga Aziz dan Dian!", damar menepuk bahu Revan yang hendak masuk ke mobilnya.


"Aku tidak akan mengganggu, dian yang akan kembali padaku!", sahutnya tanpa di dengar oleh Damar.


.


.


.


"Kita solat tarawih yuk mas!", ajakku.


"Iya sayang, abis itu...mas mau makan!"


"Makan? Mas masih laper?", tanyaku sedikit heran.


"Iya, laper pengen makan kamu!", sahut nya.


"iiih....mas! Mesum amat sih !", aku menjewer kupingnya.


"Hahahaha pura-pura aja sih! Kaya sendiri nya nggak mau aja!", ledek Aziz. Aku mendorong kursi nya.


"Bukan nggak mau mas, kita ini niat mau tarawih lho malah ngomong begituan!"


"Ya ampun dek, baru berencana doang. Belum praktek sama sekali kok!"


"Iya....iya....!"

__ADS_1


*****


Lanjutannya gimana hayoo?????


__ADS_2