
"Hai Feb!", sapa Aziz.
"Hai Ziz! Makasih ya, udah ngasih tahu keadaan ku pada mereka!", kata Feby yang memandang Farhan dan Dadan.
"Sama-sama Feb, sebenernya bukan aku. Tapi..."
"Ustadz Ahmad?"
Aziz mengangguk.
"Apa beliau juga disini?", tanya Feby lagi.
"Iya, dia di depan."
"Bisa panggil ke sini, aku ingin mengucapkan terimakasih secara langsung pada beliau."
Feb...Feb...manggil Fai pake kata beliau, tua banget ya Lo Fai! Aziz bergumam sendiri sambil keluar ruangan untuk memanggil Fai.
"Pak ustadz, terima kasih atas bantuannya!"
"Sama-sama Bu!", kata Fai , meskipun pertemuan mereka saat itu tidak baik.
"Mama...!", Farhan mendekati mamanya.
"Iya ,Han!"
Feby mengusap rambut anak lelakinya. Wajah tampannya mengingat kan Feby pada almarhum ayah kandung Farhan. Andai kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin Dadan tidak harus pasang badan untuk menggantikan kewajiban ayah Farhan.
"Mama kenapa sendiri? Dimana orang tua mama?"
"Kakek sama nenek sedang ke luar kota Nak. Ada urusan pekerjaan."
Farhan mengangguk.
"Mama, keluar dari rumah sakit, mama tinggal sama Farhan ya?", tanya Farhan. Seketika mata Dadan membulat. Ada-ada saja si Farhan ini, gumam Dadan. Tidak terkecuali Imah, Aziz dan Fai pun turut terkejut dengan ucapan Farhan.
"Mama kan punya rumah sendiri Han, lagipula...ayah dan mama bukan suami istri, jadi tidak boleh tinggal bersama nak!", kata Dadan mencoba memberi pengertian pada putra tirinya itu.
Farhan mengahampiri Imah, lalu memeluk pinggang rampingnya.
"Kak Imah...!", panggil Farhan dengan masih memeluk pinggangnya.
"Kenapa sayang?"
"Kak Imah sayang sama Farhan?"
Imah melepas pelukan Farhan. Lalu mengajak Farhan duduk di sofa. Mata Feby berembun melihat kedekatan Imah dan Farhan. Gadis kampung itu lebih dekat dengan anak kandungnya dibandingkan dirinya.
"Tentu saja kak Imah sayang sama Farhan."
"Kalau kak imah sayang sama Farhan, boleh kah ayah menikah sama mama saja, bukan kak Imah?", Imah tercengang dengan permintaan Farhan barusan.
"Farhan, ngomong apa kamu Nak!", suara Dadan sedikit meninggi. Dia tak habis pikir jika anaknya itu akan berkata begitu pada Imah.
Tanpa menunggu jawaban dari Imah yang masih membeku, Farhan beralih ke ayahnya.
Dia memeluk kaki Dadan.
"Ayah...selama ini Farhan nggak pernah minta apa pun sama ayah. Tapi tolong...kali ini saja ayah, menikah lagi sama mama yah. Kasian mama yah....huhuhuhu"
Farhan menangis sambil bersimpuh di kaki Dadan.
Ya ampun, drama apa lagi ini kang Dadan? Batin Aziz. Melihat ke arah adiknya yang masih terdiam, Aziz pun mendekati nya.
"Imah...", panggil Aziz pelan. Imah pun hanya memandang wajah kakak sepupu nya itu sekilas. Sedang Fai hanya mengekor di belakang Aziz.
"Farhan, kenapa kamu bicara seperti itu nak?"
"Ayah lihat keadaan mama sekarang? Disaat mama sakit begini, nggak ada satupun yang menemani mama? Farhan tahu rasanya sendiri itu seperti apa Yah. Farhan tahu, ayah sangat menyayangi Farhan. Tapi ayah tetap bukan ayah kandung Farhan. Apa Farhan salah menginginkan keluarga yang utuh Yah, seperti teman-teman Farhan, seperti dek Diaz?"
"Tapi, tidak harus menikah lagi dengan mama Feby nak?", kata Dadan pelan.
"Farhan, ayah mu benar Nak. Kamu masih bisa merawat mama ,menemui mama tanpa harus tinggal bersama," Feby menimpalinya.
"Apa itu artinya kalian menolak keinginan Farhan?", kata Farhan sendu.
"Nak, ayah dan kak Imah yang sebentar lagi akan menikah. Bukan dengan mama Feby?"
"Baiklah yah, itu artinya kalian tidak ingin lihat Farhan bahagia."
Farhan pun setengah berlari keluar dari ruang rawat Feby.
__ADS_1
"Han...Farhan!", teriak Dadan.
"Biar Imah yang bicara sama Farhan A!", Imah pun segera menyusul Farhan yang keluar entah kemana.
"Han...Farhan!", panggil Imah.
"Kak Imah mau apa?"
Imah memeluk bocah ganteng itu.
"Sayang...!"
Farhan menangis dalam pelukan Imah. Tangisnya memang tak bersuara, tapi bahunya yang bergetar menandakan bahwa tangisnya cukup dalam.
"Kak Imah, maafkan Farhan!"
"Maaf untuk apa nak?"
"Farhan ingin bahagia, hidup di keluarga utuh Kak. Kakak lihat, seperti apa keadaan mama sekarang?"
"Lalu apa yang bisa membuat Farhan bahagia?"
"Farhan ingin ayah menikah dengan mama. Bukan Farhan nggak sayang sama kak Imah, kak Imah baik. Sangat baik dan sangat menyayangi Farhan. Tapi, Farhan juga sayang sama mama kak. Farhan nggak tega melihat mama sendiri. Farhan tahu rasanya sendiri, tidak punya siapa-siapa."
Ya Allah, anak tujuh tahun bisa ngomong kaya begini sih?
"Apa kak Imah mau membatalkan pernikahan kak Imah dengan ayah?", Farhan memandang Imah tanpa berkedip. Andai saja berkedip, sudah dipastikan air mata bocah itu luruh.
"Kak Imah tidak bisa memutuskan sendiri nak, kakak harus bicara sama ayah...sama om Aziz?", kata Imah mengusap rambut Farhan.
"Tidak usah kak. Farhan anggap, ini jawaban kakak. Kalian tetap saja melanjutkan pernikahan kalian. Farhan sadar, Farhan bukan siapa-siapa!"
Farhan berdiri meninggalkan Imah.
"Nak!", Imah menarik tangan anak itu.
"Nggak apa-apa kak. Farhan ngerti."
"Kamu belum mengerti Farhan, kamu masih kecil, belum paham."
"Kita pulang kak, Farhan mau pamitan sama mama!"
"Han!", panggil Dadan saat Farhan kembali ke ruang rawat, disusul oleh Imah.
"Ma, Farhan pulang ya. Maaf, Farhan tidak bisa menemani mama sekarang!"
"Iya nak, makasih ya udah ke sini!"
"Soal yang tadi...lupakan saja. Farhan sadar, Farhan bukan siapa-siapa!", kata Farhan menunduk.
Ada rasa nyeri di dada Dadan saat mendengar ucapan anaknya itu. Meskipun bukan darah daging Dadan, tapi selama ini Farhan sudah Dadan anggap anak sendiri. Menyayangi Farhan melebihi sayang terhadap dirinya sendiri.
"Kenapa kamu bicara seperti itu nak, mama jadi semakin merasa bersalah!", kata Feby lirih.
"Nggak ma, jangan merasa bersalah lagi. Farhan memang bukan siapa-siapa, nggak berhak memaksa ayah dan mama untuk menikah."
"Farhan...!", panggil Dadan tertahan.
"Kita pulang yah. Farhan tidak akan meminta apa pun lagi. Tidak akan memaksa ayah atau pun kak Imah!"
Farhan pun keluar ruangan terlebih dulu. Lalu keempat orang dewasa itu pun menyusul Farhan.
Farhan berjalan menyusuri lorong rumah sakit sambil menangis. Dia merasa sudah tidak ada satupun yang memikirkannya. Ayah dan kak Imah memang berhak bersama, dibandingkan memikirkan kebahagiaan Farhan yang bukan siapa-siapa.
"Kalian pulang saja, biar Farhan aku yang antar!" Fai menawarkan diri. Dadan pun paham, karena Fai memang dekat dengan Farhan.
"Han, pulang sama saya ya, naik motor?", tawar Fai.
"Tidak usah pak ustadz. Farhan nggak mau merepotkan siapapun lagi!"
Sontak Dadan merasa nyeri mendengar ucapan anaknya yang selama ini ia sayangi.
"Han...maafkan ayah kalau sudah mengecewakanmu ya nak!", kata Dadan memegang kedua tangan anaknya. Tapi, buru-buru Farhan melepaskannya.
"Tidak yah, Farhan yang salah. Tidak tahu diri. Sudah memaksa ayah. Padahal Farhan bukan siapa-siapa ayah."
"Kenapa kamu bicara begitu nak, Farhan anak ayah. Sampai kapanpun anak ayah!"
"Tidak yah, Farhan cuma anak orang asing yang kebetulan ayah rawat."
Anak kecil itu kembali menitikkan air matanya tanpa suara.
__ADS_1
Dadan memeluk erat anaknya itu.
"Farhan, naik motor sama pak ustadz mau?"
"Nggak usah pak ustadz."Farhan menggelengkan kepalanya. Lalu matanya mengarah ke Aziz.
"Mau pulang sama om Aziz?", tanya Aziz.
"Pakai motor pak ustadz?", tanya Farhan. Aziz pun memandang Fai. Dan Fai pun mengangguk mengerti.
"Baiklah. Sini kunci motornya pak ustadz, dan ini kunci mobil omah Farah!"
Aziz menyerhakan kuncinya.
Dadan, Imah dan Fai menuju parkiran mobil. sedangkan Aziz dan Farhan menuju ke parkiran motor Fai. Aziz bingung, motor si jomblo akut yang mana?
[Fai, motor Lo yang mana?]
[Motor sport, merah! B 5492 DS]
[Oke!]
Aziz pun menemukan motor yang di maksud. Plat B 5492 DS.
"Ayo naik Han!", Aziz meminta Farhan menaiki motor besar itu. Plat nomor motornya kok kaya janggal? Tapi apa ya? Meskipun dengan berpikir, Aziz tetap melajukan motornya itu.
Lima empat sembilan dua? Ya ampun....itu kan ulang tahun Dian? Tanggal lima bulan empat tahun sembilan dua, DS...Diandra Saputri!
Brengsek banget sih Fai ini, keterlaluan!
Di tengah perjalanan, Farhan mencolek punggung Aziz.
"Kenapa Han?"
"Bisa kita berhenti om?"
Aziz pun menepikan motornya ke trotoar yang memang sering di gunakan untuk berhenti.
"Mau apa nak?", kata Aziz saat farhan turun dari motornya.
"Farhan cuma pengen sendiri om."
Aziz pun turut duduk di samping Farhan.
"Apa Farhan marah sama ayah? Sama kak Imah? Sama mama? Karena mereka menolak keinginan Farhan?"
Farhan menggelengkan kepalanya.
"Farhan ngga marah kok om. Farhan sadar, siapa Farhan!"
Aziz merengkuh bocah tampan itu.
"Om tahu, kenapa Farhan memilih pulang sama om aziz?"
Aziz menggelengkan kepalanya.
"Karena om Aziz adalah seorang ayah beneran."
"Ayah Dadan juga ayah beneran kok Han!"
"Iya, tapi ayah belum tahu rasanya jadi ayah seperti om Aziz. Apalagi pak ustadz,dia belum menikah!"
"Terus, kalau om Aziz ini ayah beneran, kenapa?"
"Semua ayah pasti ingin anaknya bahagia kan om?", kata Farhan menatap mata aziz.
"Tentu saja nak!" Aziz menepuk bahu Farhan.
"Dan...ayah Dadan memang ayah yang sudah merawat Farhan, tapi bukan ayah seperti om Aziz yang memiliki Diaz. memikirkan kebahagiaan Diaz. Farhan cuma orang lain. Biarlah om, ayah juga berhak bahagia tanpa harus memikirkan kebahagiaan Farhan. Farhan nggak boleh egois!"
"Pemikiran mu dewasa sekali nak?"
"keadaan yang memaksa Farhan jadi dewasa om!", kini Farhan kembali menangis tanpa suara.
"Kita beli es krim aja yuk, kata orang...makan es krim bisa bikin kita bahagia lho...!"
Farhan mengangguk setuju.
Ya Allah Han, aku nggak paham dengan cara mu berpikir sejauh ini. Kamu baru tujuh tahun sudah bisa berpikir begini? kasian kamu nak!
Aziz pun membawa Farhan menuju Alapamaret terdekat.
__ADS_1