
Pertemuan dengan om stevan masih terngiang-ngiang dipeluk mata damar. Kini ia telah berbaring di ranjang nyaman nya. Perjuangan Damar pasti tidak mudah. Sulitnya mendapatkan maaf dan hati Stevi mungkin belum seberapa dibandingkan dengan meluluh kan hati papa nya yang keras itu.
Om stevan bisa memaafkan nya meski anak nya telah ia sakiti dengan sengaja oleh damar. Perlahan, damar juga yakin mampu merebut kembali hati sang pujaan.
Justru kini dia di hadapkan pada kenyataan yang lebih sulit. Dulu, keputusan meninggalkan Stevi juga karena paksaan papa nya yang memintanya menyelesaikan studi nya hingga menjadi dokter hebat seperti sekarang. Papanya tidak pernah mendengar apa yang anaknya inginkan.
Sebelas dua belas dengan kisah Fai, hanya saja Dian lebih beruntung. Fai tak merusak masa depannya, meskipun hingga saat ini siapa pun masih bisa melihat ada cinta diantara mereka.
Apa orang tua damar akan menerima Stevi untuk menjadi istrinya? Sedangkan papa nya sangat kolot. Memandang seseorang dari bibit bebet dan bobotnya?
Apakah status Stevi akan menjadi penghalang restu papa dan Mamanya? Sekali pun Stevi adalah putri dari pengusaha ternama, Stevanus Winata?
Kali ini Damar benar-benar galau. Harusnya hari ini hari yang bahagia. Dia mendapatkan dukungan dari om stevan. Tapi di sini lain, dia juga harus bersiap untuk menghadapi keangkuhan papa nya?!
Arggggghhhh!!! Kenapa sekarang seolah keberuntungan terasa tidak pernah berpihak padanya???
Damar ingin curhat kepada sahabat -sahabatnya. Tapi sepertinya saat ini waktunya tidak tepat. Aziz pasti sedang di sibukkan menemani Dian. Fai sedang menyiapkan pesta pernikahan nya. Dan....Dadan...dia juga pasti sedang sibuk menjaga keluarga Aziz yang berada di rumah, melindungi dari orang yang berniat mencelakai keluarga Dian.
Satu-satunya yang ia pikirkan saat ini justru, Stevi! Damar meraih ponselnya. Di cari nama Stevi di daftar riwayat panggilan.
Telpon atau chat ya? Batin Damar.
Tapi melihat jam dinding yang sudah menunjukan jam sepuluh malam, niat damar di urungkan.
Dia tak ingin mengganggu istirahat Stevi. Mungkin, besok pagi dia akan menemui stevi. Mencoba membujuk Stevi. Syukur-syukur langsung luluh, tapi jika tidak...minimal sudah dapat dukungan dari om stevan.
Damar meletakkan kembali ponselnya. Mencoba memejamkan matanya, sampai ia tertidur.
.
.
.
"Tadi, kata dokter siang ini kamu bisa pulang dek. Pasti seneng kan?", tanya Aziz.
"seneng lah mas. Aku kangen banget sama Diaz tau nggak!"
"Heum...sama Diaz doang, ayah nya juga kangen kali bunda....", kata Aziz manyun.
"Kan ayahnya mah saban hari nemenin bunda. Kalo Diaz kan berapa hari bunda nya nggak ketemu????"
"Atuh beda versi kangen nya bunda.....!", mas Aziz menowel hidung ku.
Tok....tok....
Julian masuk ke dalam ruangan ku. Sedikit menyunggingkan senyumnya.
Aku yang teringat ucapan mas Aziz perihal perubahan sikap Julian yang katanya karena aku, membuat ku merasa harus menciptakan jarak dengan nya. Mungkin, aku harus mencari Aspri perempuan. Setidaknya, nantinya tidak akan membuat tunangan Julian cemburu. Julian cukup jadi wakil direktur saja, karena dia memang sudah menguasai segala sesuatu DWP. Tidak mungkin juga aku memutasi nya menjadi manager cabang lain!
__ADS_1
"Selamat pagi pak, Bu....!", sapa Julian.
"Pagi!", balas Mas Aziz. Sedangkan aku hanya sedikit mengangguk.
"Bagaimana keadaan Bu dian saat ini?",tanya Julian.
"Alhamdulillah. Baik mas Jul!", jawabku datar. Mas Aziz meraih tanganku ke dalam genggaman nya.
"Saya dengar, anda bisa pulang nanti siang."
"Iya mas Jul."
"Baiklah, pak...Bu...saya selesai kan administrasi nya terlebih dulu. Kalau begitu, saya permisi?!", kata Julian.
"Silahkan mas."
Julian pun keluar dari ruangan ku.
"Dek, kamu nggak bisa bersikap biasa saja? Julian merasa tak enak hati juga lho. Dia merasa bersalah,secara tak langsung calon mertuanyalah yang bikin kamu celaka. Apalagi alasannya....."
"Sudah mas, nggak usah bahas. Aku akan mencoba mencari waktu yang tepat."
"Ya udah kalau gitu. Em...dek, kan nanti pulangnya sekitar jam satuan. Mas ijin ke butik dulu boleh kan?"
"Ya boleh lah. Tapi jemput nya jangan telat lho ya!"
"Iya sayang!"
"Sebenarnya mas kangen juga sama yang ini!",mas Aziz mencolek bibir ku dengan telunjuknya.
"Puasa mas hehehhe."
"Iya. Kapan-kapan kalo udah mulai pulih. Nggak harus libur semua kan?"
"Iya...iya, udah sana. Nggak usah mikir yang mesum-mesum. Lagi nggak bisa bantu."
"Ya Udah, mas berangkat ya. Di depan masih ada yang jaga kok!"
"Iya mas!", mas aziz mengusap lenganku.
Setelah sepuluh menit berlalu, Mika masuk ke dalam ruangan ku.
"Assalamualaikum saudara ku yang cantik?!" sapa Mika.
"Walaikumsalam. Sini duduk Ka!"
Mika menghampiri ku ke brankar. Tapi kali ini dia memakai gamis, bukan stelan jas dokter nya.
"Kamu udah cuti kan? Kenapa masih ke sini?"
__ADS_1
"Emang nengokin saudara sendiri nggak boleh ya?", kata mika manyun.
"Hehehe ya bukan gitu. Maksud ku kab besok kamu ada acara besar. Kok malah hari gini masih aja berkeliaran di rumah sakit. Bukannya istirahat atau mempersiapkan pesta mu gitu lho!"
"Berkeliaran Lo kata kucing....!"
"Heheheh peace", aku menaikan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan.
"Hem...untung mood ku lagi baik, jadi aku masih m berdamai!", sahut Mika.
"Iya iya!"
"Em...kata dokter lala gimana? Kamu kapan bisa pulang?"
"Alhamdulillah, semua membaik. Insyaallah, nanti bada dhuhur aku pulang."
''Syukurlah, Alhamdulillah ya Di. Aku ikut seneng lho. And....so...besok kalian bis datang kan ke resepsi pernikahan kami?"
"Insyaallah Mika. Aku nggak bisa janji. Kamu tahu sendiri aku masih lemes begini."
"Iya sih. Tapi kan bisa pakai kursi roda Di."
"Heum. Terserah mas Aziz aja deh. Aku ngikut mas Aziz. Kalau dia ngijinin aku pergi, kami pergi. Kalau ngga....ya Maaf ya Mika!"
Mika tersenyum tipis.
Mas Fai pasti nggak akan bahagia kalo Lo nggak datang Di, batin Mika.
Mika ke sini sendiri? Kenapa sejak aku sadar kan diri, mas Fai sama sekali tak menengok ku..? Astagfirullah, mikir apa sih aku ini! Aku menggetok-getokan kepala ku yang sampai berpikir jika Fai ingin menemuiku .
"Hei, kamu kenapa Di? Sakit di bagian ini?", tanya Mika panik. Padahal aku hanya sedang menolak pemikiran ku tentang mas Fai.
"Nggak apa-apa Mika. Cuma sedikit pusing aja sih!", kataku bohong.
Apa tahu yang kamu pikir kan Di, kenapa mas Fai tak menengok mu kan? Aku gak melarang nya. Dia sendiri yang sudah berjanji bahwa dia akan mulai menjaga jarak dengan mu Diandra. Mika berbicara dalam hati.
"Ya udah, kamu istirahat saja kalo gitu. Aku mau mampir ke hotel. Mama Selly udah nunggu di sana!"
"Iya Mika. Ya udah, kamu temuin Tante Selly deh. Kasian kalau nungguin kamu kelamaan!"
Mika pun mengangguk. Sebelum dia keluar, Mika sempat memeluk ku.
cepat sehat ya Di. Biar aku bisa mendapatkan kebahagiaan ku, ucap mika dalam hati.
Kedua sahabat itu seolah sedang berbicara. Sayang, kenyataan nya mereka hanya saling diam pelukan.
Masing-masing memilik alasan untuk diam.
*****
__ADS_1
Alhamdulillah....☺️☺️☺️
Semoga segera lolos review. Karena biasanya kalau udah lewat isya, baru di review besok sama yang punya lapak. ✌️✌️✌️✌️