Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Membuka usaha baru


__ADS_3

"Dek, kita ke matrial yuk!" ajaknya.


"Nggak ah. ngapain. Panas." jawabku santai.


"Kan naik mobil. Lagian , dimatrial pasti banyak debunya."


"Halah ..belagu amat sih bumil. Mentang-mentang lagi hamil. Kaya ga pernah aja tiruan ke lapangan."


Aku nyengir kuda. Iya, aku sudah mulai berusaha membuat keadaan seperti sedia kala. Meski aku harus menahan kekecewaan dan sakit hatiku.


"Itu kan dulu. Sekarang kan aku ibu ratu.Terserah dong. Suruh siapa aku berhenti kerja", tak lupa ku gigit apel merah yang ada dalam genggaman ku.


"Ya sudah. mas berangkat ya. Kamu mau nitip apa?"


"Sambel goreng udang Pete. Sama peuyem Bandung!"


"Hah? Beli dimana dek?"


"Ga tau. Tadi nanya nitip apa. giliran dijawab malah balik nanya!'


Mas Aziz menggaruk kepalanya.


"Ya sudah. Insyallah nanti ya sayang. Assalamualaikum...."


"Walaikum salam."



Bahan-bahan bangunan sudah mulai terkumpul di teras rumah. Kami tak mendisain yang berlebihan. Hanya membuat kios berukuran 6x3meter Lalu sebuah pintu penghubung antara rumah dan kios. Beberapa hati sebelumnya, mas Aziz sudah meminta ijin ke pihak berwenang setempat. Bagiamana pun , kami harus meminta ijin terlebih dahulu meski ini tanah kami sendiri.



Keesokkan harinya, mas Ilham sudah membawa 5 orang tukang. Mas Aziz sudah terbiasa menggunakan mereka saat mengurusi proyek kantor. Kebetulan saat ini, mereka sedang tidak sibuk dengan proyek yang biasa mweka tangani.



"Terimakasih kalian sudah bersedia membantu. Padahal saya sudah bukan atasan kalian lagi."



"Tidak apa-apa pak. Justru kami senang. itu artinya, pak Aziz percaya dengan kinerja kami."



"Alhamdulillah. Sama satu lagi, maaf...istri saya sedang hamil muda..."



"Alhamdulillah....", ucap mereka kompak.



"Selamat ya pak. akhirnya setelah penantian bertahun-tahun."



"Iya, makasih sebelumnya. Saya cuma mau bilang, berhubung istri saya kondisinya kurang memungkin kan jadi maaf saya tidak menyediakan konsumsi ya bapak-bapak. Tapi, nanti saya lebihkan kok pembayaran nya. "



"Santai saja pak."



"Bagaimana kalau saya bayar per hari untuk makannya? Kalau gaji, nanti jika semua pekerjaan selesai?"



"Alhamdulillah.....",jawab mereka kompak.



Begitu yang ku dengar dari balik pintu. Mas w begitu di hormati oleh mantan anak buahnya. Dan, sepertinya mas Aziz juga mengkhawatirkan aku. Dia lebih memilih membayar lebih dibandingkan menyuruhku memasak.



Aku duduk santai di depan televisi. Mas Aziz langsung duduk disamping ku. Dia menyomot kripik bawang yang ada dipangkuan ku.

__ADS_1



"Banyak orang dek."



"Kenapa?" tanyaku sambil melihat nya.



Dia mengalungkan tangannya di leherku. Sambil menowel hidung mancung ku.



"Di depan kan banyak tukang, jadi meskipun didalam rumah. Kamu pakai jilbab aja ya. Malu kan kalau ada yang liat. Cukup mas aja yang puas Menikmati pemandangan cantik ini."


Dia mengusap rambut ku. Ah... sepertinya dia sudah mulai lagi. Aku pun bangkit dari sofa.



"Mau kemana?"



"Mau ambil jilbab lah. Tadi nyuruh pakai , sekarang nanya mau kemana?"



"Mas aja yang ambil. kamu tunggu sini."


Ya sudah aku duduk lagi dengan memangku toples ku.


Selang beberapa menit, ia membawakan ku jilbab instan berwarna maroon. Dia bilang, dia sangat menyukai saat aku memakai warna itu.



"Mau bikin kopi dek?"tanyanya.



"Maksudnya apa nih? Nawarin aku minum kopi atau nyuruh aku bikin kopi?"



"Mas nawarin kamu ssayang....mau nggak mas bikinin kopi sekalian?"



"Emang sejak kapan aku suka kopi?" sengaja aku biar dia emosi. Emang enak dikerjain. Coba, seberapa sabar sih dia tuh. Katanya mau memperbaiki semuanya.



"Astagfirullah....dek!" katanya sambil beranjak dari duduknya. Sekita 10 menit dia kembali lagi membawa segelas es teh manis dan secangkir kopi.



"Ini teh nya ibu ratu."



"Emang siapa yang minta es teh?" tanyaku. Bukan ucapan terimakasih yang terlontar, tapi malah ucapan tak mengenakan bagi mas Aziz.



Hidung mas Aziz kembang kempis menahan emosinya.



"Kamu ga kasian sama anak kamu mas? akan orang hamil dilarang kebanyakan minuman dingin apa lagi manis." kataku mencoba menjelaskan.



"Ya Allah dek. Mas lupa."



"Ya udah gapapa sih sekali-kali juga." langsung ku teguk es teh manis itu hingga tandas.

__ADS_1



"Astagfirullah dek!" pekik mas Aziz.



Tapi aku justru tertawa lepas . Emang enak dikerjain!



"Udah ah...mas kesel! Liat aja, ntar malem mas bakal balas dendam. Kamu bakal kapok dek!" gayanya sok-sokan galak sambil mengancam.



Dia pun meninggalkan ku diruang televisi lagi. Aku juga melanjutkan serial India favorit ku.



Bangunan kios sudah berdiri megah. Kini saat nya kami berbenah untuk menyiapkan barang apa saja yang akan kami jual. Yang jelas segala sesuatu yang berhubungan dengan ponsel.


"Kita ke Roxy dek. Cari rekanan bisnis disana!" untuk kali ini aku setuju. Ya... sekalian cuci mata lah. Mumpung perutku belom terlalu buncit. Meskipun kini sudah memasuki usia 17 Minggu. Aku masih bisa menutuonya dengan gamis ku yang longgar.


Aku dan mas Aziz berkeliling mall. Sampai akhirnya aku menemukan agen yang tepat. Kami banyak mencari ilmu dari beliau. Kami belum berani belanja terlalu banyak. Sedikit-sedikit yang penting semua nya lengkap.


Pulang dari Roxy, aku membersihkan kiosku. Mulai menata etalase dan segala asesorisnya. Untuk voucher dan isi ulang serta ponsel sementara masih ku simpan di brankas rumah. Besok kalau susah mulai aktif ,baru kami pajang.



Pagi yang kami tunggu pun datang. Jam 7 pagi aku dan mas Aziz sudah standby di kios.


Bismillah, ini pertama kalinya usaha ini dibuka.


Mudah-mudahan Allah melancarkan rezeki kami.


Sekali dua kali, tetangga berlalu lalang menyapa kami tapi belum ada satupun yang membeli dagangan kami.



" Sabar mas, semuanya nggak instan. Kalau proses nya lama, insyaallah bertahan nya pun lama. Yang penting kita tetap bersyukur. berusaha. berdoa. Yakin dan berprasangka baik kepada Allah." aku menasehati mas Aziz.



"Iya dek. Bismillah. Semoga Allah melancarkan semuanya. Ya sudah, mas solat Dhuha dulu. Kamu jaga sebentar ya. Nanti mas balik lagi."



"Iya mas."


Rezeki memang tak kemana. Baru saja mas e berniat solat Dhuha. Datang tetangga belakang untuk membeli dagangan kami. Alhamdulillah....Allah menunjukkan kuasaNya langsung di hadapanku.



Belum ada 5 menit mas solat, aku sudah menerima uang sebesar 340 ribu dari penjual voucher dan aksesoris hp.



hampir setengah jam mas Aziz baru kembali. Saat dia duduk disamping ku, dia terkejut melihat uang yang sudah ku dapat selama ia solat Dhuha tadi.



"Ya Allah Alhamdulillah ya dek. Allah maha pengasih lagi maha penyayang."



"Iya mas. Alhamdulillah. Allah mengabulkan doa kita."



"Iya dek. Alhamdulillah sekali ya Allah."



"Aku Solat dulu deh mas. Sekalian mau tadarus, belom setoran ke grup ngajiku."



"Iya sayang."

__ADS_1


Aku pun masuk ke rumah dengan senang. Aku sudah tenang melihat mas Aziz sudah kembali percaya diri. Rezeki Allah tidak akan tertukar.


__ADS_2