Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Tanggung jawab


__ADS_3

Aku meraba tempat tidur di samping ku, mas Aziz tidak ada di sebelah ku.


"Mas, kamu di kamar mandi?", tanyaku. Tapi tak ada jawaban apa-apa. Kulihat, kamar mandi juga kosong.


Mas Aziz kemana ya? Aku hanya bisa membatin. Akhirnya aku pun keluar dari kamar, mungkin mas Aziz sedang di dapur.


Saat aku keluar kamar, aku terkejut mendapati lampu ruang tamu yang menyala. Dan di salah satu sofa, ku lihat sosok mas Fai yang sedang tertidur pulas.


Ya Allah, anak Sultan kok numpang tidur? Dan, mas Aziz ngapain juga ikutan tidur disini? Sudah jam satu malam saat ku lihat jam dinding.


"Mas...!", panggil ku pelan, takut mengagetkan nya .


"Ehm, dek!", tiba-tiba Aziz bangun.


"Mas, ngapain tidur disini? Kenapa juga ada mas Fai? Emang kapan dia dateng?", tanyak pelan.


"Oh, iya. Tadi jam sepuluhan kayanya."


"Terus, kenapa malah kamu nemenin dia tidur disini? Kan kamar mama juga kosong!", kataku sambil berbisik.


"Fai tadi demam, mungkin efek jatuh tadi siang dek."


"Ya udah kenapa ngga di ajak ke kamar mama?"


"Dia yang gak mau!", kata Aziz ketus saat mendengar perkataan ku yang dia anggap seperti sebuah kebohongan.


"Perhatian amat sih sama Fai dek?", tanya Aziz.


"Nggak kebalik mas, bukane peyan toh sing over perhatian sama mantan rivalmu??", sindirku.


Mas Aziz hanya terdiam.


"Ya udah, aku tinggal ke dalam lagi ya!"


"Iya. Besok pagi, keluar kamar udah pakai jilbab ya dek!", kata Aziz.


"Iya sayang!", kataku mencoba meyakinkan.


Aku pun kembali ke kamar, lalu merebahkan diri di ranjangku.


****


Azan subuh, aku sudah selesai mandi dan bersiap untuk dua rakaat ku. Setelah selesai, aku menyusui Diaz terlebih dulu sebelum aku berkutat di dapur. Seperti perintah kakanda, aku keluar kamar harus sudah berjilbab. Tidak seperti biasanya.


Saat aku ke dapur, mas Aziz malah masuk kamar. Dan...mas Fai malah masuk ke kamar mandi dekat dapur.


"Dian, mas numpang mandi."


"Hem!", jawabku singkat. Baru kali ini aku liat Fai dalam posisi bangun tidur. Ih, mikir apaan sih ? Untuk menghindari fitnah, aku memilih ke belakang. Meyiapkan cucian untuk ku masukan ke dalam mesin cuci.


"Kamu disini dek!", kata Aziz.


"Kenapa mas?"


"Kirain lagi masak!"


"ntar ah, ada yang lagi mandi." Aku melirik mas Aziz.


"Owh...iya...iya...!"

__ADS_1


Aku pun kembali melanjutkan acara mencuci baju ku. Suara gebyuran air sudah selesai, berarti Mas Fai sudah keluar dari kamar mandi.


Aku beranjak ke meja dapur, ada percikan bekas tumpahan kopi. Pasti kerjaan nya mas Aziz ni!


Mau gak mau aku harus mengelap bekas tumpahan kopi.


Kalau mas Aziz udah bikin kopi sendiri, minimal aku tidak perlu berhadapan dengan mas Fai sepagi ini.


Entah di mana pikiran mereka berdua! Mereka tidak memikirkan aku sama sekali??!!!


*****


"Nih, kopi Lo!" kata Aziz menyuruh Fai untuk meminum kopi usai solat subuh.


"Makasih bro!", kata Fai.


"Lo...harus jawab, kenapa Lo harus nginep di sini!"


"Gue bingung, kemana lagi kalau nggak ke sini? Tempat mantan gue bernaung!"


"Sialan Lo, gue serius!"


"Iya...iya...tadinya gue mau ke rumah damar, tapi kelewat jauh rumahnya Ya udah gue kesini."


"Yang gue tanya kenapa harus ke sini dodol!"


"Ini juga gara-gara Lo!", kata Fai.


"Kok gue?", tanya Aziz bingung.


"Iya. Lo sama Damar harus tanggung jawab!", kata Fai berapi-api.


Flash back on....


[Mika,papa minta minyak anginnya ya]


Fai mendengar nama mika di sebut oleh, papanya.


[Iya, pa. Masuk aja] jawab Mika.


[Maaf ya mas, papa ku emang suka gangguin.]


[Iya mika, nggak apa-apa] Fai masih sedikit gemetar mengobrol dengan Mika.


[Telpon sama siapa?Sini papa liat?]


[Ih... papa suka banget gangguin sih]


Mika merajuk pada papanya.


Tiba-tiba sebuah wajah hadir di layar ponsel Fai.


[Hei, apa kamu pacarnya Mika?]


[Bukan om....saya....saya...cuma teman om...iya...teman.]


Di waktu yang bersamaan, Abah pun muncul di belakang Fai. Yang otomatis terlihat di layar ponsel mika.


[Tunggu, yang di belakang mu seperti....Pak Haji?] Sapa papanya Mika.

__ADS_1


[Eh, pak Umar ?]


Abah tak kalah heboh.


[Pak umar, rencan kita buat jodohin anak-anak kita seperti nya tidak perlu di lanjutkan ya. Mereka sudah menemukan jalannya sendiri!]


[Betul pak Haji. Baru saja kita akan membuat rencana untuk mengenalkan mereka, ternyata kita kalah start y pak haji, hahahah]


Fai pun hanya terbengong-bengong. Mungkin mika pun seperti itu.


[Pak umar, pertemuan tetap kita atur ya. Hanya merubah acaranya saja. Kita langsung ke tujuan utama saja, segera menikahkan mereka!]


Abah bicara penuh percaya diri.


[What? Nikah?????] Fai dan Mika berteriak bersama-sama. Tanpa komando, mereka sama-sama mematikan ponselnya.


Flash back off....


"Huahahahahah....huahhhhhhha....!", Aziz tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan cerita Fai.


"Ini semua gara-gara Lo sama damar. Lo harus tanggung jawab!", kata Fai.


Di saat yang bersamaan, Dian keluar membawa nampan berisi pisang goreng. Mendengar kata tanggung jawab, naluri Dian langsung ON.


"Tanggung jawab apa ya mas?", aku mencolek mas Aziz.


"Nanti...nanti mas cerita ke kamu dek. Sekarang belum bisa dek",


"Oh, ya udah."


Dian kembali ke dapur.


"jadi, Papa nya Mika itu donatur utama di yayasan Abah !"


"Dunia emang sempit ya. Ceritanya ubak-ubek di sini-sini aja!", kata Aziz.


"Tergantung yang nulis cerita nya lah Ziz!"kata Fai ketus.


"Oke...oke...gue sama damar harus tanggung jawab apa ke Lo?", tanya Aziz.


"Ya apa kek, gue belum siap kalau harus nikah sama Mika. Kenal aja baru kemarin , gue masih cinta sama Diandra Ziz!"


"Gue sambit pake golok Lo !", kata Aziz kesal.


"Ya lo bantu apa kek?", kata Fai.


"Karena Damar juga terlibat, kita tunggu dia ke aja dia kesiani."


"Ngapain?"


"Fai, kan damar yang kenalin dokter Mika ke Lo. Gue cuma lanjutin. Syukur-syukur sesuai ekspresi Abah."


"Ah... pusing gue!", kata Fai.


"Sabar bro...sabar....kali aja benar, dokter Mika itu calon istri kamu."


"Hah! Pusing amat sih!",Fai meremas rambut nya sendiri.


"Anggap aja, kami ini perantara Lo sama dokter Mika!"

__ADS_1


"Whatever!",Fai pun mengibaskan tangannya.


__ADS_2