
"Maksud kamu apa sih ngomong kaya begitu dek?", tanya mas Aziz setelah kami masuk ke ruangan. Hanya mas Jul yang memasuki ruangan, sisanya mungkin menunggu di luar atau mungkin juga kembali ke ruangan mereka. Aku tidak suka saja kalau ada yang membicarakan "sesuatu' di belakang kami. Lebih baik mereka berbicara langsung padaku. Andai kata aku tega, aku bisa saja memecat mereka. Tapi....kalau kinerja mereka ternyata bagus, apakah tidak egois namanya????
"Nggak apa-apa mas. Kan nanti kita emang mau ngecek pembukuan butik?! Sekalian promosi butik, kali aja mereka ada yang tertarik pesen baju ke butik kamu mas."
"Butik kita....!", sahut mas Aziz.
"Iya, butik kita. Kantor kita."
Kami berdua tertawa seolah tanpa beban.
Julian memandang kami yang kompak tertawa.
Ada perasaan kagum terhadap keduanya, terutama pada Bu Diandra. Perempuan yang cantik dan anggun. Terlihat sopan, namun humble. Menyenangkan! Itulah pandangan setiap orang yang pertama kali bertemu dengannya, tak terkecuali Julian. Diandra tidak perlu bicara keras, tapi dengan sekali bicara ia bisa membuat orang terdiam. Termasuk karyawannya yang sudah menggunjing pak Aziz. Bu Dian cukup elegan menghadapi 'mereka'.
"Mari Bu, kita ke ruang rapat!", Julian mempersilahkan aku terlebih dulu keluar ruangan.
"Mas Jul, mas Aziz bisa ikut ke dalam nggak?"
Julian hanya tersenyum.
"Dek, mas tunggu di sini aja. Takutnya, nanti Diaz rewel malah jadi ganggu acara kalian."
"Tapi mas....!"
"Dek, ada Julian yang akan mendampingi kamu."
"Ya udah. Doain aku ya mas!", kataku.
Mas Aziz malah tersenyum. Lalu mengecup keningku. Ada rasa tenang yang tiba-tiba menyergap relung hatiku. Iya, kecupan suami ku memberikan rasa tenang dan nyaman.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Aku dan Julian keluar dari ruangan ku. Kami berjalan menuju lift yang tak jauh dari ruangan ku berada. Kami hanya berdua di lift tersebut.
"Mas Jul!"
"Iya Bu?"
"Memangnya, siapa saja yang menghadiri acara ini? Hanya karyawan dan staf DWP kan?"
"Maaf Bu, selain mereka ada pula beberapa pemimpin rekanan DWP Bu."
"Owh...ku pikir ini rapat intern."
"Maaf, Bu Dian. Selain memperkenalkan diri terhadap bawahan ibu, anda juga harus berkenalan dengan para pemimpin perusahaan lain yang selama ini bekerja sama dengan DWP Bu."
"Begitu Tah?", tanyaku.
Julian mengernyitkan dahinya.
"Maksud Bu Dian?", tanya Julian.
"Ah, nggak usah dipikirin lah. Oh iya, Miss Sharen mana? Nggak kelihatan?"
"Em... meja Sharen di depan ruangan saya Bu."
"Oh iya, aku lupa. Sharen kan sekertaris kamu ya mas?!"
Julian mengangguk.
"Maaf Bu, mungkin ini diluar pekerjaan. Tapi saya mau tanya , boleh?"
"Soal?"
"Stevia?"
"Apa yang mau kamu tanyakan mas Jul?"
"Bu Dian sudah lama berteman dengan Stevi?"
"Em...belum terlalu sih, baru beberapa bulan kemarin. Dia mencari pekerjaan di kios kami, suaminya meninggal beberapa bulan lalu. Jadi, dia harus bekerja untuk menghidupi putranya dan kebutuhan mereka kan?"
"Jadi, Stevia sudah menjadi single parent?"
"Iya."
Julian terdiam.
"Bu Dian...anda tahu sejak kapan Via ...mualaf?", tanya Julian ragu-ragu. Sepertinya apa yang mas Aziz bilang itu benar, ada sesuatu dengan Julian.
"Kurang tahu sih mas, ya...mungkin saat dia menikah sepuluh tahun lalu."
__ADS_1
Julian kembali terdiam.
Tring....! Pintu lift terbuka. Julian mempersilahkan aku keluar terlebih dahulu.
"Dimana ruangannya mas Jul?"
"Disana Bu!"
Kami pun berjalan menuju ruangan itu. Jantungku berdegup lebih kencang dibanding sebelumnya. Bismillah ya Allah, jangan sampai aku membuat kekacauan apa lagi berbicara yang tidak-tidak.
Julian membukakan pintu untuk ku.
"Silahkan Bu!", lagi-lagi Julian mempersilahkan aku masuk.
Bismillahirrahmanirrahim....batinku.
Aku memasang senyum di wajahku. Lalu ku edarkan pandanganku ke seisi ruangan. Semua tak seperti ekspektasiku. Ternyata, peserta rapat ini cukup ....banyak!
Julian menarik kursi untuk aku duduk.
"Terima kasih mas Jul!", Julian mengangguk.
Aku menarik nafas ku perlahan.
"Bismillahirrahmanirrahim, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!"
"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Ada sebagian yang menjawab, ada pula yang tidak. Ya...mungkin mereka memang tida seiman dengan ku.
"Sebelumnya, saya sampaikan terima kasih kepada bapak dan ibu semuanya yang sudah berkenan hadir dalam pertemuan ini."
Mereka memandang ku dengan tatapan entah apa. Ada yang sebagian ku kenal di antara mereka. Om Umar, sudah jelas papa nya Mika. Om Stevan dan om Ronald juga ada di dalam ruang ini.
"Pertama-tama ijinkan saya memperkenalkan diri. Saya Diandra Saputri Nugroho. Saya putri tunggal Dirham Widianto Putra. Dan... Alhamdulillah saya sudah menikah, suami saya bernama Aziz Abisatya Nugroho. Dan putra saya Diaz Abisatya Nugroho."
"Mungkin ,di antara anda-anda semua ada yang bertanya kenapa saya baru bergabung di DWP ini. Ini yang akan saya sampaikan saat ini."
Aku menarik nafas ku perlahan.
"Saya pikir, selama ini Om Kendra Sastra sudah menghapus saya dari daftar ahli waris kepemilikan DWP. Ternyata, sebelum beliau meninggal beliau berpesan kepada Tante Mila Sellyna, istri om kendra. almarhum om Kendra meminta saya untuk mengurus DWP. "
"Beberapa waktu yang lalu, memang...ada nada sumbang yang 'menggelitik' hati saya. Menyinggung tentang saya yang pernah depresi saat saat remaja dulu, tepatnya saat ayah dan ibu saya meninggal di depan mata saya."
Tapi sebagian yang lain, mungkin masih tertarik mendengar ocehan ku ini.
"Di dunia bisnis, hal yang menyangkut tentang kejiwaan tentu saja sangat penting bukan. Siapa pun akan berpikir berkali-kali untuk... bekerja sama dengan orang yang pernah 'gila' mungkin?"
Aku kembali melanjutkan kalimatku.
"Tapi perlu saya tegaskan di sini, saya memang pernah depresi, tapi tidak gila seperti yang ada di bayangan kalian."
"Mungkin, ada juga yang mengecil kan kemampuan saya. Itu...wajar saja."
"Saya hanya ibu rumah tangga setelah menikah. Betul! Saya pernah magang menjadi staf biasa di kantor ini, betul! Dan mungkin tidak salah jika ada yang meremehkan kemampuan saya."
Pandangan orang-orang yang tadinya menatapku 'aneh' sekarang cenderung lebih manusiawi. Hah! Manusiawi? Apa itu?
"Saya hanya berharap, saya bisa melanjutkan , mengembangkan perusahaan DWP agar lebih maju lagi. Tapi, saya tidak bisa bekerja sendiri bukan?"
"Anda-anda semua saya harap bisa membantu saya memajukan perusahaan ini."
"Karena disini, saya akui. Saya masih harus banyak belajar pada anda sekalian. Dan mohon maaf, mungkin ada kalimat-kalimat saya yang kurang atau bahkan tidak formal saat perkenalan ini. Kiranya hanya itu yang akan saya sampai kan. Terimakasih!"
Tiba-tiba salah seorang pria berdiri, lalu bertepuk tangan. Setelah itu, beberapa orang pun mengikutinya. Om Stevan dan om umar pun turut berdiri memberikan tepuk tangannya seraya menyunggingkan senyumnya.
Akhirnya, acara pun usai. Kami saling bersalaman satu sama lain.
Om Umar dan om Stevan menghampiri ku.
"Selamat bergabung ya Diandra!", ucap om Umar, menepuk lengan ku.
"iya om. Terima kasih!"
"Selamat ya Dian!", om Stevan pun mengikuti jejak om Umar.
"Terimakasih."
Julian pun mengantar ku kembali keruangan ku.
"Mas Jul?!"
__ADS_1
"Siap Bu!"
"Apa tadi aku memalukan?"
"Tidak Bu. Kenapa?"
"Aku merasa...ah...udik sekali." Aku menakupkan kedua tangan ku di wajah. Julian tertawa kecil.
"Tidak Bu, pembawaan anda yang cenderung santai dan tidak monoton justru lebih menarik perhatian kami Bu."
"Maksudnya?", aku tak paham. Kaki kami masih terus melangkah menuju lift.
"Kejujuran anda Bu Dian. Anda berani mengatakan itu semua."
Aku terdiam.
"Dari pada mereka mendengar dari orang lain yang tidak-tidak?!"
Julian pun tersenyum padaku.
"Keputusan anda memang benar Bu!"
Kami pun sudah sampai di depan lift.
"Bu...Dian!" sapa seseorang.
"Niko?"
Yang di panggil justru tertunduk.
"Kenapa bro?", tanyaku. Aku lupa keadaan dan situasi sudah berubah. Niko mendongak menatap wajahku. Aku pun mengernyitkan alisku.
"Maaf Bu Dian, beberapa waktu lalu saya kurang sopan."
Ah! Aku lupa! Pasti Niko merasa minder karena kemarin dia akrab berbicara dengan ku sebelum tahu kalau aku saat ini adalah bosnya.
"Niko....kita ini masih berteman kan? Bersikaplah sewajarnya saja."
Niko menatapku lagi.
"Saat ini, aku memang CEO perusahaan ini. Tapi bagiku, kamu tetap temanku!", aku menyunggingkan senyum ku.
Akhirnya, wajah Niko pun kembali cerah.
"Terimakasih Bu Dian....!"
"Iya...jangan sungkan ya bro!"
Niko pun mengangguk. Meskipun Dian ini bosnya, sikap Dian masih sama. Tak berubah, apalagi bersikap bossy seperti Miss Sharen.
"Aku duluan ya niko, suami sama anakku udah nungguin."
"Iya Bu!"
Aku dan Julian pun meninggalkan Niko.
"Bu Dian...!"
"Ya? Kenapa mas Jul?"
"Kenapa anda masih bersikap biasa saja, padahal Niko hanya staf biasa?"
"Memang aku harus gimana mas Jul? Jangan meremehkan staf biasa mas. Justru mereka- mereka kan garda terdepan di perusahaan kita."
"Satu lagi mas Jul, saya ingin jaminan kesehatan karyawan kita di tingkatkan lagi ya?!"
Julian sempat terdiam.
"Siap Bu!"
******
Ah....mamak nggak tahu deh. Ngomong di depan banyak orang aja kagak pernah 😁😝.
Setelah ini, ada kejadian apa ya?
Mmmmm....si Dadan jadi beli mobil kagak?
Apa kabar pengantin baru?
Bantu mamak ya, lagi cobain ikut Crazy up. Tolong jangan bosen-bosen ya ???!!
__ADS_1
✌️✌️✌️✌️