
"Aa nggak sibuk Tah A? Lama banget main disini?", tanya Imah ke Dadan.
"Kamu teh ngusir saya mah?", tanya Dadan balik.
"Ya nggak toh A. Kan Imah cuma nanya."
"Oh..."
"A, itu ustadz Ahmad udah lama ngajar Farhan?"
"Udah sih, aya mereun tiga tahun mah!"
"Owh...kalau A Dadan udah lama kenal sama Mbak Di?"
"Ya...sejak mereka tinggal disini aja."
"Aa nyadar nggak sih, kalau lingkup kita itu saling berhubungan satu sama lain?"
'' Lingkup naon Mah?"
"Iiih... maksud Imah tuh ya A, kita itu saling berhubungan satu sama lain. Mbak Feby, mantan istri Aa itu ngebet banget sama mas Aziz. Nah ustadz Ahmad, yang ngajar Farhan ternyata mantan kekasih mbak Di. Kenapa dunia begitu sempit?"
"Heh...eta teh takdir namanya Mah! Sejauh apapun kalau Allah menciptakan takdir kita untuk bertemu dengan masa lalu kita, kita bisa apa?"
"Iya sih. Tapi , Imah pernah denger cerita mbak Di lho."
"Soal?"
"Mantannya itu, ustadz Ahmad. Mbak Di bilang, mereka pacaran tiga tahun. Tapi, hubungan mereka tuh ya A...nggak ada kemajuan apa-apa. Ustadz Ahmad tidak memberikan kepastian akan diarahkan kemana hubungan mereka. Tiga tahun kan lama ya A. Tapi, sia-sia aja menjalaninya. Kasian mbak Di. Untung aja mas Aziz bersedia pasang badan. Meskipun awal pernikahan mereka belum sepenuhnya ada cinta."
"Ya... bersyukur lah Mah. Kita mah, sama-sama tau diri. Saya duda, kamu teh janda. Cuma...kita beruntung nya sama-sama masih ori. Belum tersentuh hehehehe"
"A Dadan jangan bahas janda gitu dong. Imah malu tahu."
"Kunaon atuh malu? Jangan mempermasalahkan status Mah."
"Em... ngomong-ngomong hubungan kita mau di bawa kemana?"
"Ya ke jenjang yang halal lah Mah!"
"Kapan?"
"Memang nya Imah teh udah kebelet gitu?"
"Yo nggak toh A. Imah cuma tanya."
__ADS_1
"Terserah Imah, AA mah siap kapan aja. Tergantung kamu sama mas Aziz aja."
"Hemm...ya wes, tanya aja sama mas Aziz kalau ketemu ya ."
"Iya. Ya udah Aa balik ya. Udah mau gelap."
"Ya ws, hati-hati Yo A!"
****
Kios sudah tutup. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suara bel di depan gerbang cukup menggangu penghuni rumah. Tak terkecuali Imah.
Dengan malasnya Imah menuju pintu gerbang. Betapa terkejutnya Imah, saat mendapati Bu Hartati ibu tirinya berada tepat di depan gerbang.
"Ibuk?"
"Ndang buka'o, ga ono mesak'e opo piye mbi ibumu Iki?"(Buruan buka, ngggak ada kasiha-kasihannya apa gimana sama ibu mu ini)
Bu Tati masih terus mengoceh. Imah pun membuka kan pintu untuk Tati.
"Siapa Mah?", tanya aziz yang sudah muncul di belakang Imah.
"Ini mas, ibu Imah!'
Imah nampak gugup saat ingin memperkenalkan ibu tirinya.
"Nggak usah sok akrab deh. Imah, bawa masuk ibumu ke kamar mu ya. Habis itu ambilin makanan. Jangan lupa, pintu gerbang di kunci lagi."
"Iya mas!"
"Halah, belagu tenan bos mu Mah. Kok Yo betah men koe nduk!"
"Dia kan kakak sepupu Imah ,buk! Bukan orang lain." Imah mengunci kembali gerbang nya. Lalu membawa Tati ke dalam gudang kios yang sudah di ubah menjadi kamar.
"Iki kamarmu? Tenane? Karena Aziz Kuwi mas mu, tapi kok tega tenan koe dikongkon turu Nang kene?"
"Imah yang nggak mau tidur di dalam buk. Udah, ibu istirahat saja. Imah mau ambil makanan dulu."
"Kenapa nggak ibuk aja yang disuruh masuk ke dalam rumah nya Aziz? Takut ibu nyuri gitu?"
"Mas Aziz bukan orang kaya begitu buk. Ini kan udah malam. Apalagi mbak Di punya bayi kecil,takut mengganggu saja buk. Tunggu sebentar ya."
Imah pun menuju dapur, menyiapkan makan malam untuk ibu tirinya. Sejahat apapun beliau tetap orang yang berjasa dalam hidup Imah.
Imah...Imah...punya saudara kaya kok mau-maunya tidur di tempat sempit begini, gumam Tati.
__ADS_1
"Ini buk, makan dulu. Habis itu baru mandi. Jadi ibuk bisa istirahat."
"Iyo."
Ibuk meraih nasi yang kubawa. Hanya dengan lauk ayam goreng, Bu Tati begitu lahap memakan nya.
"Tante Farah juga nginep disini buk!", ucap Imah.
"Uhuk...uhuk...", Bu Tati tersedak. Imah menyodorkan air putih untuk ibu tirinya.
"Pelan aja sih buk! Kalau udah, taroh di depan pintu aja ya buk. Besok baru Imah cuci. Nanti ibu bisa mandi di situ. Imah ngantuk banget."
"Yo wes Ndang turu!"
****
Imah mencuci pakaian keluarga Aziz dan mencuci piring bekas Bu Tati makan semalam.
"Mah, Aziz bilang Tati datang? Mana?"
"Iya ma, di kamar."
"Owh....bilang sama Tati, nanti mama mau ketemu sama dia."
"Iya ma, nanti Imah sampein."
Urusan cuci mencuci sudah kelar. Tinggal mengepel lantai. Tapi mbak Di melarang ku.
"Biar mbak aja yang ngepel. Kamu disiapin aja sarapan buat Bu Tati."
"iya mbak!"
Imah pun mengantar makanan untuk ibunya yang masih terpejam.
"Bangun buk, mandi terus sarapan. Ditunggu Tante Farah!"
"Siapa? Farah? Mau apa dia?"
"Imah nggak tahu lah buk!"
Usai membuka kios, Imah mengantarkan Tati menemui Farah lewat dapur.
Mama, mas Aziz dan mbak Di sedang menikmati sarapan mereka."
"Ma, mas mbak...ini Bu Tati , ibu saya."
__ADS_1
"Apa kabar pelakor?" sapaan Farah menohok dengan tajam.