
"Gimana obrolan nya dengan kang Dadan mas?"
Mas Aziz meletakkan kepalanya di pangkuan ku yang sedang duduk di sofa kamar kami. Aku sengaja menunggu mas Aziz sambil membaca novelku.
Aku mengusap kepala suamiku. Mata mas Aziz terpejam.
"Dadan sudah pasrah dengan keputusan Imah dek!"
Mas Aziz menghela nafasnya.
"Ya udah mas, mau gimana lagi. Tapi, kang Dadan mau gitu nikah sama mbak Feby?"
"Belum tahu dek, yang Dadan bilang dia hanya menerima keputusan imah. tapi soal menikahi Feby, masa rasa kang Dadan nggak bisa."
"Kok gitu? Bukannya itu permainan Farhan?"
"Memangnya ada yang bisa memaksakan perasaan dek?"
"Ya...iya sih mas."
"Mungkin langkah yang kang Dadan ambil benar dek!"
Mas Aziz menggeser posisi kepalanya jadi menghadap ke perutku.
"Langkah apa?"
"Bisa saja kang Dadan mengiyakan Imah, tapi dia tetep nggak mau sama Feby."
"Eumm...kita bujuk aja lagi biar mereka bisa sama-sama mas!"
"Ishh...gimana sih dek, kan kita udah bilang mau dukung apa pun keputusan Imah!"
"Ya nggak usah bilang-bilang kalau kita mau mereka sama-sama lagi."
"Gimana caranya?"
"Nanti aku pikirin!"
"Heummm...bisa aja istriku ini. Nanti nya pasti besok lagi besok lagi."
"Ya sekarang udah malem, belum ada inspirasi mas!"
"Mau mas kasih inspirasi?", kata Aziz menaikan salah satu alisnya.
"Apa mas?"
"Bagi jatah mas! Udah seminggu nggak dikasih gara-gara kecelakaan itu!"
"Ya salam...mas, aku kan masih sakit. Kamu tega?"
"Kamu yang tega membiarkan suami ganteng mu ini tidur sendirian terus."
"Mas, kalau udah sembuh mah silakan aja mas!"
"Giliran kaya begini aja kamu bilang masih sakit dek! Kemaren waktu mau aduin lili ke polisi kami bilang nggak kenapa-kenapa!"
Mas Aziz berdiri dari sofa.
Marah kan bayik gedeku, batinku.
"Ya udah...ya udah...sekali aja ya. Janji, sekali doang!"
Mas Aziz terlihat menyungginggkan senyum nya.
"Iya sekali doang, janji. Kamu cukup diam dan menikmati. Udah cukup buat mas kok dek!"
"Dasar bayik gede ku!"
Mas Aziz membopong ku ke ranjang, setelah itu...hanya mereka berdua yang tahu.
***""
Pagi ini Imah membuka kios. Dia terlihat lebih baik dari kemarin. Meski matanya masih sembab, tidak mengurangi semangat nya untuk kembali bekerja.
"Mah, udah di cek semua kan? Mas mau belanja!"
"Udah mas. Aksesoris nya masih banyak mas, cuma isi ulang sama kartu perdana aja yang kudu di beli."
"Oh, oke deh!"
Aku bermaksud menemani Imah di kios pagi ini.
"Diaz ganteng... sini-sini sama Tante Imah!"
Imah mengambil Diaz dari stroller nya.
"Dek, mas mau belanja. Kalian mau nitip apa?"
"Apa ya mas?", tanyaku.
"Imah nitip bebek Madura deh mas, yang depan Mitra sepuluh itu lho!"
__ADS_1
"Aku juga deh mas. Sama kaya Imah!"
"Udah, itu aja?"
"Apalagi ya mah?"
"Nggak tahu mbak!"
"Udah itu aja mas, biar nanti aku masak buat makan malam aja. Bebeknya buat makan siang kita!"
"Ya udah kalau gitu."
"Eh, iya mas. Nanti jam dua aku ada jadwal kontrol kaki ku. Gimana?"
"Iya, tenang aja ntar mas anterin kok!"
"Ya udah!"
"Mas berangkat ya! Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!"
Aku duduk di bangku dekat etalase. Baru duduk, kulihat ada mobil sedan berhenti di seberang kios ku. Mungkin saja mobil itu hanya ingin parkir.
"Mbak, Imah mau beli klepon di warung sana. Diaz boleh di ajak nggak?"
"Tapi di gendong aja ya, pakai payung. Kasian kepanasan kalau pakai stroller."
"Siap mbak!"
Imah menggendong Diaz di depan dengan gendongan ala-ala kangguru.
"Dah bunda...Diaz mau jalan-jalan dulu sama Tante Imah yang cantik....!"
Aku tersenyum menanggapi Imah. Imah sengaja menutupi kegalauan nya , Diaz mungkin bisa mengalihkan kesedihan Imah sementara waktu.
Sementara itu, di dalam mobil sedan seorang pria uzur tengah memperhatikan kios Aziz.
Pria itu mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.
[Assalamualaikum]
[Walaikumsalam. Pak haji]
Sapa seseorang disana.
[Jam berapa Fai keluar? Apa dia masih ada jadwal mengajar?]
[Maaf pak haji, pak Fai baru saja keluar. Jam mengajarnya hanya satu kali pertemuan pak haji]
[Siap pak haji, walaikumsalam]
Coba kita lihat, apa Fai benar-benar akan kemari. Pria itu tidak lain adalah abahnya Fai yang sengaja ingin tahu, siapa perempuan yang membuat Fai selalu menolak untuk di jodohkan. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Anak semata wayangnya itu benar-benar datang ke kios itu. Sayangnya, dia tidak bisa mendengar percakapan di sebrang sana. Dia hanya melihat Fai turun dari motornya lalu duduk di depan seorang perempuan.
Kembali ke kios....
"Assalamualaikum Di!"
"Walaikumsalam."
Wah, kenapa perasaanku nggak enak nih manusia jomblo kesini.
"Ngapain kamu ke sini mas?", aku mencoba bersikap ramah.
"Mainlah, jadwal mengajar ku cuma sebentar!"
Gak nanya kali aku mas...
"Tapi mas Aziz lagi belanja. Belum lama jalan."
"Oh....terus, ponakanku yang ganteng mana? Kok kamu sendiri?"
Ponakan? Diaz maksudnya?
"Ponakan mu siapa?"
"Ya anakmu lah, kan ponakan ku. Awalnya, mungkin mau jadi anakku. Sayangnya...kita nggak berjodoh."
"Ish...ngomong apa sih kamu mas!"
"Mending pulang aja sono ah, atau ke tempat kang Dadan. Kita cuma berdua, nanti malah jadi fitnah!"
"Emang kita ngapain?"
"Mas....!", bentakku.
"Iya...iya...sekarang kita gak bakal ngapa-ngapain lah Di. Kalau dulu , iya!"
"Mas, bisa nggak tuh mulut di jaga!"
"Kenapa? Kenyataan nya kan gitu Di, dulu sebelum Abah mengirimku ke pondok kan kita juga sering...."
__ADS_1
"Stop! Nggak usah di lanjutin lagi."
Apa maksud omongan si jomblo akut ini? Ih...aku geli sendiri kalau ingat kami pernah bahkan sering ber***an waktu itu. Iya ,iman kami saat itu masih sangat dangkal. Tapi hanya sebatas itu, tidak lebih meskipun hubungan kami lebih dari tiga tahun.
"Kenapa? Bahkan aziz juga pernah manjadi saksinya kan?"
"Cukup mas Fai! Lama-lama ini toples mendarat di wajah mu itu!"
Aku sudah habis kesabaran menghadapi masa laluku yang kelam ini. Inget banget waktu aku memelas ingin kejelasan darinya saat dia memutuskan ku sepihak. Dengan entengnya sekarang dia mengungkit-ungkit masa lalu kami.
"Hahaha...udah di, udah...tenang aja. Itu kan masa lalu Di! Aku ikhlas lahir batin kamu sama aziz!"
Aku lemparkan tumpukan kertas di depan ku.
"Assalamualaikum!"
Suara seorang yang sangat familiar bagi Fai.
"Walaikumsalam", jawabku.
"Silahkan pak, mau beli apa?"
"Saya tidak ingin beli apa-apa!"
Pria tua itu duduk di samping mas Fai.
"Jadi perempuan ini yang membuat kamu selalu menolah di jodohkan Fai?"
Bapak ini siapa? Aku hanya membatin. Kalau bukan buat belanja, ngapain dia kesini. Aduh, Imah lama banget lagi.
"Abah!", sahut Fai.
Owh, ini abahnya mas Fai. Mantan calon mertuaku? Oops... ini otak suka Meleng.
"Siapa namamu Nak?", tanya Abah padaku.
"Saya, Diandra pak!"
Abah mengernyitkan dahinya, dia tidak asing dengan nama itu.
"Diandra? Kami Diandra pacar nya Fai itu?"
"Bukan pak...bukan...itu dulu pak, sekarang tidak lagi."
"Apa maksud nya ini Fai?"
"Justru Fai yang seharusnya tanya sama Abah, ngapain Abah ke sini?"
"Abah hanya ingin tahu, perempuan seperti apa yang membuat mu selalu menolah wanita-wanita yang Abah jodohkan dengan mu Fai!"
''Bah, aku dan Diandra sudah tidak ada hubungan apa-apa."
"Terus, kamu ngapain ke sini tiap hari kalau bukan buat nemuin dia!"
"Maaf pak, seperti nya anda salah sangka pak!"
Disaat yang bersamaan Imah dan Diaz pulang.
"Bunda, Diaz punya balon!", Diaz terlihat tertawa girang di gendongan Imah.
Abah pun menengok ke arah Imah yang memanggil Diandra dengan sebutan bunda. Apa gadis yang ini ya? Batin Abah.
"Mbak, Diaz kayanya pengen mimik deh. Dari tadi ngemutin jempol Mulu!"
Imah masuk lewat etalase yang dia dorong sedikit. Lalu menyerahkan Diaz padaku.
"Eh, papa Fai belum di sapa dek Diaz!",ucap Imah. Kemarin dia tidak sengaja mendengar obrolan Aziz dan Fai yang memanggil dirinya papa nya Diaz.
Mata Abah melotot, ke arahku entah ke arah Imah.
"Imah, ngomong apa sih kamu!", bentakku.
"Jelaskan sekarang Fai!", kata Abah geram.
"Ada apa sih?", tanya Imah polos. Karena dia memanggil tidak tahu duduk persoalannya. Dan, kebetulan Diaz juga memulungkan tangannya ke arah Fai minta di gendong mungkin.
"kemarin, Imah denger waktu mas Fai memanggil dirinya papa ke Diaz. Mas Aziz aja nggak marah, iya kan mas Fai?"
Aku geregetan sekali sama kamu Mah! Melihat mu galau kaya kemaren sepertinya lebih baik, huft!
"Ini sebenarnya gimana Fai? Abah bingung!"
"Abah, lebih baik Abah pulang. Kita bicara di rumah!",bujuk Fai.
"Nggak, Abah nggak mau pulang sebelum kalian menjelaskan semuanya!"
"Assalamualaikum", mas Aziz tiba-tiba masuk dari pintu dalam dengan membawa sekantong keresek .
"Abah...!", panggil Aziz.
"Aziz!"
__ADS_1
"Apa kabar bah? Lama nggak ketemu?" Aziz menyalami abahnya Fai.
Apa yang sebenarnya terjadi????? sungguh membingungkan! Teriak Abah dalam hati.