Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 160


__ADS_3

Makan siang bersama yang tadi sempat terganggu, kini di lanjutkan kembali.


"Mbak Di, Diaz sama saya aja ya? Nanti kalau mau nyusu baru saya kasih ke mbak Di", kata Dadan.


"Dari tadi juga sama kang Dadan kan?"


"Iya sih, tapi...boleh lah ya mbak....!", kata Dadan memohon.


"Tau nih AA mah dari tadi kan Diaz sama AA. Kasian lho ntar kalo nyariin bundanya gimana?", tanya Imah.


"AA balikin lagi atuh neng."


"Ya udah...iya...iya... silahkan kang. tapi ntar kalo nangis buru-buru kasihin ke aku ya kang!"


"Hatur nuhun Mbak Di!", Dadan pun bangkit dari duduknya.


"Kemana sih A?", tanya Imah.


"Ke teras samping neng. Nyari angin, yang nggak banyak orang nya."


Imah mengekor di belakang suaminya. Faiz dan Farhan masih nemplok pada Rahayu.


"Umi, apa nanti umi juga menikah seperti Tante Imah dan Tante Mika?", tanya Faiz polos.


"Kok Faiz nanya kaya gitu sih sayang?", Hayu mengusap lembut kepala sang anak.


"Iya. Umi kan sendiri. Lihat...om Aziz sama Tante Di. Om Fai sama Tante Mika. Om Dadan sama Tante Imah. Bang Farhan sama dek Diaz punya papa, apa Faiz boleh punya papa juga?"


Astagfirullah...Faiz...kenapa kamu bicara seperti itu sih Nak! Batin Hayu.


"Faiz, umi kan punya Faiz. nggak sendirian kok nak. Umi kan punya ayah, punya Abi..."


"Tapi mereka semua kan udah meninggalkan Mi. Faiz nggak bisa ngajak mereka main."


Hayu merengkuh anaknya itu. Farhan yang merasa lebih beruntung pun mendekati Faiz.


"Faiz ,kamu jangan sedih dong. Ada ayah ku, ada om Aziz, ada om Fai juga. Mereka kan bisa kita ajak main! Anggap aja mereka papa mu!",Farhan tersenyum mengatakan itu pada Faiz.


"Papa ku banyak dong bang Farhan?", tanya Faiz.


"Heheh iya....!", kata Farhan.


Tiba-tiba Damar mendekati mereka bertiga.


"Kok om damar nggak di sebut?", tanya Damar di hadapan dua bocah tampan itu.


"Ah...iya, lupa!", kata Farhan.


Kini mereka berempat duduk lesehan. Damar melirik pujaan hatinya itu. Tapi hayu memilih untuk membuang pandangannya ke arah lain.


"Om damar, kenapa bukan om damar aja yang jadi papa nya Faiz?", tanya Farhan.


Hayu memebelalakan matanya.


"Eh, bener bang Farhan. Kenapa nggak om damar aja yang jadi papa nya Faiz ya?!", tanya Faiz.

__ADS_1


"Faiz... Farhan! Nggak boleh bicara seperti itu!", kata Hayu sedikit tegas.


"Nggak apa-apa umi..."


"Menjauhlah dari kami mas!", pinta Hayu pada Damar.


"Faiz...dek Diaz sama ayah lagi di samping. Kita kesana yuk!", ajak Farhan. Dan Faiz pun mengikuti Farhan. Tinggallah mereka berdua.


Hayu bersiap untuk berdiri.


"Aku akan menunggu maaf darimu Stevia!", kata Damar.


Hayu tak menanggapi ucapan Damar, dia bergeming di tempatnya untuk bener saat. Sampai akhirnya ia bergabung dengan Mika dan yang lainnya.


Aku dan mas Aziz memilih duduk di depan. Aku sedang menunggu Julian. Disela-sela obral kami, datang seseorang tamu.


"Umar! Selamat ya!", ucap lelaki itu.


"Terimakasih pak Ronald. Padahal anda bisa datang nanti saat resepsi pun tidak masalah!", kata Umar.


"Hahah nanti pun aku datang lagi. Mereka terkekeh bersama.


"Mika... selamat ya. Akhirnya kamu menikah!", ucap Ronald.


Kenapa ucapannya terdengar tidak enak sekali sih? Batin Fai.


"Makasih ya Om Ronald. Saya harap, Sharen juga segera menikah heheheh!", kata Mika.


Sharen? Batinku.


Cih...sombong sekali! Batin Aziz.


"Permisi!", Julian memberi salam.


"Eh, mas Jul!", kataku.


"Julian? Ngapain kamu ke sini?", tanya Ronald.


"Maaf om Ronald, pak Umar!", ucap Julian. Umar pun hanya mengangguk. Dia mengerti, pasti Julian ada kepentingan dengan Dian.


"Saya ada perlu dengan Bu Diandra!", jawab Julian.


"Diandra siapa?", tanya Ronald.


"Bu Dian, CEO perusahaan kami yang baru Om", jawab Julian.


"CEO?", tanya Ronald lagi.


Julian pun mengangguk. Lalu mendekati ku.


"Ini yang anda minta Bu Dian. Tagihan sudah saya kirimkan ke WhatsApp anda!", kata Julian sambil memberikan dua amplop itu padaku.


"Travel agen dek?", tanya mas Aziz.


"Iya."sahutku singkat.

__ADS_1


"Julian? Maksud kamu?", tanya Ronald menggantung.


"Diandra ini, putri nya dirham pak Ronald!", jelas Umar.


"Setelah Kendra meninggal, Diandra mengambil alih kepemimpinan perusahaan DWP group."


"Hah?!Yang benar saja!", kata Ronald.


"Kenapa Pak Ronald? ", tanya Aziz tiba-tiba. Aziz mengenal sosok itu saat ia masih bekerja di kantor nya dulu.


"Kamu siapa? Suaminya?", tanya Ronald lagi.


"Iya. Saya suami Diandra!", sahut Aziz.


"Julian? Benarkah kamu masih mau bekerja di sana? Lihatlah, bos mu saja tidak meyakinkan sama sekali. Apa kamu mau di pimpin oleh ...mantan orang gila?", tanya Ronald menyeringai.


Aziz mengepal kan tangannya, bersiap untuk menonjok laki-laki yang sudah berumur itu. Tapi, aku meraih tangan mas Aziz.


"Jaga bicara anda tuan Ronald!", bentak Fai.


"Wow...pak Umar! Lihat, menantu mu begitu emosi saat aku mengatakan kebenaran tentang putrinya Dirham!"


"Jangan coba-coba menghina Diandra Tian Ronald yang terhormat!", bentak Fai.


Mika memegang erat tangan suaminya. Aku pun sama, mengeratkan genggaman ku di tangan mas Aziz.


"Tunggu... tunggu....apa jangan-jangan....kisah Stevan dan Mutiara akan terulang lagi?", tanya Ronald.


"Pak Ronald! Seperti nya anda sudah melebihi batasan anda!", kata Umar mulai geram dengan rekan bisnisnya itu.


"Kenapa Pak Umar? Kamu takut putri mu mengalami hal yang sama dengan adikku?", tanya Ronald.


Adikku? Siapa?


"Kalau anda ingin marah, bukan pada mereka. Tapi kepada Stevan dan Mutiara!"


"Hoooh...begitu rupanya!", kata Ronald.


"Margaret mati karena ibu dari perempuan ini!", Ronald menunjuk jarinya di depan ku.


Jadi? Dia om nya Stevia?


"Pak Ronald, maaf...tapi sebaiknya anda pulang!", kata Umar.


"Iya. Aku akan pulang. Tenang saja Umar!", kata Ronald.


"Dan kamu Julian? Apa kamu masih mau melanjutkannya hubungan mu dengan Sharen? Atau.... menjauh lah dari keluarga Dirham!"


Jadi, Julian memang ada hubungan dengan Sharen?


"Om Ronald!", panggil seseorang.


*****


Siapa hayo????

__ADS_1


__ADS_2