Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Perseteruan Lili vs Feby


__ADS_3

Acara aqiqah sudah selesai dari satu jam yang lalu. Mama juga buru-buru pulang setelah semua acara selesai. Sekarang dirumah sudah ada Diaz .


"Mah,Imah...boleh minta tolong?", tanyaku pada Imah. Kios kami tetap buka pagi, jadi sebelum Imah bekerja didepan dia mengerjakan semua pekerjaan rumah sejak aku pulang dari rumah sakit.


"Tolong apa toh mbak?", tanya Imah.


"Ini, pembalut mbak habis. Sama sabun cair khusus bayi ya mah."


"Okey bos.Duitnya mana?", Imah menadahkan tangannya.


"Mba mau ambil tapi kamu lihat,diaz masih mimik.Minta sama mas Aziz aja didepan ya."


"Oke bos!", Imah pun berlalu meninggalkan ku. Imah gadis yang baik, kehadiran nya sungguh membawa perubahan dalam rumah tanggaku. Dia pun cekatan,tanpa diminta melakukan pekerjaan rumah dia sudah menyelesaikan nya. Hanya memasak saja yang dia tak lakukan. Alasannya,dia tak pernah percaya diri dengan hasil masakannya sendiri. Dia pernah cerita, kalau dia hampir tersedak karena makan hasil masakannya sendiri. Yah...Imah tetaplah Imah.



"Mas, bagi duit. Imah mau ke indopril. Mba Di nyuruh beli pembalut sama sabun Dede Diaz." Imah menadahkan tangan nya. Sedangkan Aziz masih melayani pembeli didepannya.



"Pake duitmu dulu kenapa sih?Jangan bilang udah kamu transfer semua ke ibumu?", tanya Aziz.



"Wong mbak Di nyuruh minta ke mas Aziz kok".



"Ya udah mau berapa?", tanya aziz.



"Dua ratus aja. Kalau lebih juga Imah balikin. Oh iya, sama uang jalan. Imah kan jalan kaki,ga mau pakai motor lagi. Takut roboh kaya kemaren-kemaren."


Imah memang sempat jatuh dari sepeda motor beberapa Minggu yang lalu. Jadi,sekarang dia trauma kalau disuruh memakai motor.



"Lha...ada uang jalan segala sih mah.Makanya naik motor hati-hati."

__ADS_1



"Udah buruan,uang jalan nya dua puluh ribu juga nggak apa-apa. Lumayan buat beli es krim,buat bekel jalan pulang kesini."



"Imah...Imah...sama saudara aja perhitungan banget sih!".



"Mas Azizku yang kasep, uang itu gak punya saudara lho.Udah buruan sini, keburu panas. Ntar Imah jadi item lagi, susah-susah mutihinnya juga." Imah menyahut uang dari tanganku. Dasar bocah edan. Pelanggan ku cengar-cengir menyaksikan drama kolosal versi Aziz dan Imah gegara duit dua puluh ribu.



Imah


"Berapa semuanya mbak?", tanya Imah pada mbak kasir.


"Dua ratus sembilan belas tiga ratus mbak."


"Waduh, nombok ini mah namanya."


"Mbak...saya aja yang bayar!", ucap seseorang di belakang ku.


"Mba Feby?", tanyaku.


"Iya mah, itu semua kebutuhan Diaz kan?Biar mba Feby yang bayar!", dia menyerahkan dua lembar uang pecahan seratusan dan satu lima puluhan.


"Eh .. jangan mbak. Ini, uang saya cukup kok."Aku menyerahkan uang ku lalu mengembalikan uang itu ke Feby. Mba kasir terlihat bingung.


"Udah mbak, pake uang saya aja.Masig sisa toh?", tanyaku pada kasir.


"Kenapa dibalikin Imah?", tanya Feby.


"Emmm....", mau ku jawab tiba-tiba disamping ku datang si ulet bulu satu lagi. Ya Allah mimpi apa aku ndek wengi.


"Lo siapa sok-sokan mau bayarin belanjaannya Imah?", tanya Lili ke Feby.


"Apa urusan Lo sih?",tanya Feby lagi.

__ADS_1


"Hey....Imah itu calon adek ipar gue. Wajar dong kalo gue mau tahu?", Lili melipat tangan di dadanya.


"Adek ipar?", aku yang terkejut. Gila, dua ulet bulu ini terobsesi banget sama mas Aziz ya.


"Hahaha....Lo ngimpi?", Feby balik tanya pada Lili.


"Hey, Lo ngaca dong. Emang Lo pikir Aziz mau sama model kaya Lo?Oke gue akui Lo cantik ,tapi emang Lo pikir Aziz mau sama cewek murahan kaya Lo?Liat dong, Lo pake baju kaya p*k. Bahkan mereka jauh lebih sopan." Feby menghardik Lili.


"Eh,Lo kan ga tau apa yang udah pernah terjadi antara gue sama Aziz. Gue pernah mengandung anak Aziz tau nggak?!Jadi, jangan sok kecakepan Lo. Gue lebih dulu kenal sama Aziz."


Astagfirullah....lili pernah begituan sama mas ku?Gila. Ini luar biasa gila.


"Ya...itu urusan Lo. Tapi yang pasti, Aziz juga ga bakal mau sama lo. Paling juga,dia dijebak sama Lo. Makanya dia sampe mau kek gitu ke Lo." Kini Feby yang menyilang kan tangan didadanya. Dua ulet bulu ini, memperebutkan laki-laki yang sudah beristri. Mereka sudah tak waras. Daripada mendengarkan mereka yang nggak jelas,mending aku minta Aa Dadan buat jemput.Lumayan berat belanjaanku.


[A,bisa jemput Imah di indoapril sekarang?]


[Siap. Otw]


Beberapa menit kemudian Aa Dadan pun sampai.


"Hei, cewek-cewek edan. Kalian pada punya pikiran apa nggak sih? Kalian memperebutkan suami orang? Malu dong sama pendidikan. Imah yang lulus SMP doang wae paham kok, mana yang baik mana yang nggak. Bibit pelakor kok dipupuk. Gimana mau dihargai orang,kalian aja ngga bisa hargain diri sendiri. Dan kamu mba lili, zinah kok diumbar-umbar. Kudune peyan tuh malu. Malah koar-koar ditempat umum. Kalo nggak inget ini dimana,udah Tek bejek-bejek kalian."


Aku meninggalkan mereka. Bodo amat lah, mereka mau berantem kek apa kek terserah. AA Dadan sudah meninggu di depan.


"Banyak belanjana Mah?",sapa AA Dadan.


"Iya A. Tadinya dikit, eh...mbak Di nambah daftar belanjaan."


"Sini, taroh depan aja."


AA Dadan meraih kantong belanjaan ku.


"Tadi teh siapa mah?", tanya AA Dadan.


"Fans fanatiknya mas Aziz. Cewe edan. Udah tahu mas Aziz punya istri, eh...mereka malah pada berebut. Dasar ga punya malu.Mungkin pas Gusti Allah bagi-bagi urat malu, mereka nggak ikut ngantri kali." Aku kesel sendiri. Tapi justru a Dadan tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa toh A?", tanyaku.


"Kamu lucu, masa iya Allah lupa ngasih urat malu."

__ADS_1


"Hahahaha iya ya A."


__ADS_2