
Usai pertempuran tadi, aku terpaksa harus mandi lagi. Bagaimana pun , benar apa yang mas Aziz katakan. Dia masih berhak atas diriku.
Kuguyur tubuh lemah ini. Ya Allah, apa kah memang aku harus memberikan kesempatan kedua untuk nya?
Apa aku bisa melupakan kesalahannya?
Selama menjadi istrinya, tak pernah sekalipun dia berkata kasar apa lagi main fisik. Mas Aziz pria yang lemah lembut.
Tapi karena kelembutannya lah, dia jatuh di kubangan kesalahan.
"Dek, udah mandinya jangan kelamaan. Masuk angin lho!" mas Aziz memanggilku dari balik pintu. Kurasa dia sudah mandi di kamar mandi luar.
Aku pun keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian lengkap.
Mas Aziz kembali menghampiri ku. Kali ini, aku tak akan menepisnya. Serasa sia-sia jika aku melawannya.
Dengan penuh cinta, mas Aziz mengecup kening ku. Berjongkok didepan perutku yang masih rata. Mengusap dan berbisik.
"Anak ayah....tolong bilang sama ibumu ya. Tolong maafin ayah. Ayah akan selalu menjaga kalian."
Dia melirik ke arahku. Kubiarkan saja ia memainkan dramanya.
"Sayang....semur ayamnya sudah matang , makan ya!", pintanya.
Aku pun berjalan menjauh, keluar kamar lalu menuju meja makan. Semua lauk sudah terhidang sempurna di meja makan. Mas Aziz menyiapkan ini semua.
Dia mengambilkan nasi untuk ku. Di letakkan pula sepotong ayam semur diatasnya.
Sebenernya aku lapar, tapi....mencium aroma ayam semur tiba-tiba perutku mendadak mual.
Aku berlari kecil menuju kamar mandi.
Huweeeekkkkk.....
Aku kembali memuntahkan isi perutku. Ya Allah....begini rasanya orang ngidam.
Seleraku hilang seketika.
"Dek, kami belum mencicipi masakan ku sudah mual sih?"
"Ga tahan baunya. Udah ah...aku ga mua makan. Aku mau nunggu kang gado-gado aja di depan."
Mas Aziz memanyunkan bibirnya. Pasti kesel tuh, usahanya buat masakin istrinya ga dicolek sama sekali.
Aku duduk diteras. Mengawasi setiap orang yang berjualan. Jangan sampai kang gado-gado itu terlewat dari pandangan ku.
Membayangkan bumbu kacang yang medok membuat ku ngiler. Ahhhh....lama amat sih kang gado-gadonya.
"Kamu nunggu tukang apa sih dek?"
"Gado-gado!",ketusku.
"Mau mas beliin yang dideket warung Padang? Enak lho....kalo yang kamu tunggu kayanya udah lewat."
"Masa sih? Ini kan masih pagi?!"
"Ya ga tau. Mas beliin aja disana. Kamu tunggu dirumah."
"Memang nya kamu tahu seleraku?"
__ADS_1
Mas Aziz menggeleng kan kepalanya.
"Aku ikut....!", aku heran dengan diriku sendiri. Kenapa jadi manja begini sih.
" iya, mas keluarin motor dulu ya."
Beberapa saat yabg lalu, aku masih bersikap dingin pada mas Aziz. Kenapa tiba-tiba, aku ingin ikut kemana dia pergi. Aku kenapa?
"Ayok dek! Kita beli makanan apa pun yang kamu mau!"ajak mas Aziz. Aku pun duduk di belakang nya.
Spontan aku memeluk pinggang nya. Kulihat dari kaca spion dia menyunggingkan senyum nya.
Seketika pula kulepas pelukan ku, mundur beberapa milimeter dari punggungnya.
"Kenapa dilepas pelukannya sih dek?", tanya nya dengan tetap fokus mengendarai motor nya.
"Ga ah. Bekas pelukan Lili!", jawabku ketus.
Mas Aziz menggeleng pelan.
"Mas pikir, kamu sudah maafin mas!" katanya lesu.
Tiba-tiba mas Aziz ngerem mendadak. Membuat badanku menghempas ke punggungnya lagi.
"Pelan-pelan dong mas. Ada anakmu di perut. Bisa hati-hati ngga sih. Kalo jatoh gimana?", omelan ku pun berentet seperti petasan.
"Iya maaf dek. Tadi ada kucing lewat. Mas takut nabrak!", sahutnya.
Ternyata dia memang tak bohong, seekor kucing melintas santai di depan motor kami.
Mas e meraih tanganku, melingkarkan tangan ku di perutnya. Aku berusaha melepas nya tapi dia tetap memaksa.
Busetttt mas Aziz membalikkan omonganku. Terpaksa aku menuruti nya.
Motor kami pun melaju perlahan, banyak polisi tidur dijalanan ini.
Warung nasi Padang sudah terlihat , diseberang nya pun sudah ada kang gado-gado yang cukup ramai pembeli.
Mas Aziz memarkirkan sepeda motor kami tak jauh dari gerobak gado-gado .
"Masih antri banyak ya bang?", tanya mas Aziz kepada kang gado-gado.
"Sudah mas, kebetulan selera mereka sama. Jadi saya ulek sekalian." jawab kang gado-gado nya.
"Alhamdulillah..", gumamku.
"Kamu yang pesen sendiri dek. Biar sesuai selera mu.!" pinta mas Aziz.
"Makan sini ya bang. Jangan pake pare, bumbunya yang medok terus tauge nya dikit aja!"
"Siap neng!", kata kang gado-gado.
"Entar bungkus juga deh bang satu. Tapi bumbunya dipisah. Yang banyak!!"
"Gado-gado dipisah neng?" tanya abangnya.
"Iya, takut basi kalo di campur!"
"Okelah kalo begitu. Mas nya ga pesen?" kata si Abang sambil menyiapkan pesanan ku.
__ADS_1
"Ga bang. Nemenin istri aja. Maksa banget pengen makan gado-gado Abang disini pula." jawab mas Aziz.
"Kamu ga ikhlas mas?" tanyaku.
"Buk...bukan begitu. Jelas mas ikhlas, mas kan suami adek." jawabnya gugup.
"Nih neng, gado-gadonya. Saya bikinin yang dibungkus ya."
Aku mengangguk sembari meraih pirin berisi gado-gadonya. Seperti ekspektasi, rasanya sama persis seperti yang aku bayangkan.
"Mau minum apa dek?", tanya mas Aziz.
Ku hentikan makan ku, lalu menatap matanya.
"Dimana-mana yang namanya minum tuh air mas. Sejak kapan minum batu!", ketus- ketus deh.
Astagfirullahaladzim....aku masih mendengar ia beristighfar.
"Kenapa?", tanyaku.
"Nggak kok de. Ya udah, mas beli air mineral dulu ya."
"Nggak....nggak...aku mau teh panas aja!"
Tuh kan....dasar ibu negara. Ditanya salah, ga ditanya salah. Emang ibu hamil begitu ya? Tapi.... Alhamdulillah lah, daripada dia mendiamkan ku. Lebih sakit rasanya.
"Udah sana, cariin teh panas. Bang gado-gado ga nyediain teh panas kan?" tanyaku. Dia hanya menggeleng. Gado-gado yang dibungkus pun sudah selesai ia siapkan.
Mas Aziz bergegas mencari teh panas untuk ku. Dia langsung menyeberang ke warung Padang. Malu ga tuh beli teh doank ke sana?
Ternyata aku salah, mas Aziz menenteng satu kantong lagi makanan selain segelas teh panas.
"Apa itu?" tanyaku saat dia sudah berada dihadapan ku.
"Nasi rendang. Mas malu, masuk ke situ cuma beli air teh."
Hehehehe emang enak.
"Ibu hamil emang gitu mas. Sabar aja. Yang penting istrinya seneng, ga stres biar bayinya sehat juga." kata bang gado-gado menasehati mas Aziz.
"Kok Abang tau istri saya lagi hamil? Perutnya masih rata lho!" mas Aziz menimpali.
"Hahahaha....mas anak saya 5 , saya hapal betul kalo perempuan lagi hamil. Apalagi hamil muda begitu. Bawaannya emosi, sensitif banget. Ya kan neng?", tanya si Abang. Aku mengangguk sambil tetap mengunyah makanan ku.
Acara makan gado-gado pun selesai. Tak berapa lama, azan dhuhur pun terdengar. Kami pulang dengan membawa sebungkus gado-gado dan sebungkus nasi rendang. Apa kabar masakan mas Aziz tadi?
Bodo amat....
Setelah meletakkan makanan kami dimeja makan, aku bergegas ke kamar. Menuju kamar mandi untuk berwudhu. Tak lama kemudian mas Aziz pun menyusul.
"Jamaah ya dek!" pintanya. Aku pun mengiyakan. Mencari pahala yang lebih banyak, apa salahnya. meskipun aku masih menyimpan amarah padanya, tapi dia tetap lah imamku.
Solat dhuhur kami berjalan khidmat. Kami terlarut dalam doa kami masing-masing.
'Ya Allah, apakah kesempatan kedua ini pantas untuk mas Aziz? Apa aku harus memaafkannya? Tolong beri lah hamba petunjuk ya Allah' bisik batinku.
'Ya Allah, terimakasih istri ku sudah mulai membuka hatinya. Hamba tahu, dosa besar yang hamba lakukan. Tapi ku mohon ya Allah, ampuni hamba. Ijinkan kami tetap bersama selamanya. Aamiin....'
Mas Aziz mengulurkan tangannya dihadapan ku. Aku pun meraih dan mencium punggung tangannya. Setelah itu, dia memelukku erat tubuhku. Nyaman....senyaman ini pelukan orang yang ku cintai.
__ADS_1