
Di perjalanan ke rumah Abah Fai...
"Gue telpon damar ah, kita ketemu di rumah Lo!", kata Aziz.
"Mau ngapain sih?", kata Fai ketus.
"Ya...kumpul aja!", jawab Aziz.
"Terserah Lo! Eh, tapi ini udah mau magrib lho."
"Ya ntar gue magriban di rumah Lo, emang nggak boleh?"
Fai malas mau menjawabnya.
[Assalamualaikum!] Sahut Damar dari seberang sana.
[Walaikumsalam. Sehat bro?]
[Sehat dong. Tumben telpon, ada apaan?]
[Lo udah kelar praktek?]
[Belom. Bentar lagi, abis magrib gue balik. Kenapa?]
[Bisa nggak Lo kerumah Fai?]
[Weiiisss...pasti mau tanya soal Mika ya?]
[Hahaha pinter banget sih Lo]
[Iya ntar, gue ke sono. Tapi bilang sama Fai, siapin baju buat gue. Gue mau numpang mandi di situ]
[Hahahah....dokter kere Lo, mandi aja numpang!]
[Kita kan udah lama nggak reuni?]
[Oke...oke...]
[Ya udah, tungguin. Ntar gue ke situ. Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
"Gue bilang apa? Damar pasti mau."
"Mau lah, apalagi rencana kalian nanti? Awas aja bikin masalah ya!"
"Gue nggak janji!", kat Aziz ketus. Mobil pun memasuki sebuah rumah megah. Iya, rumah abahnya Fai memang sangat megah. Sayangnya Fai, memang jarang berada di rumah ini. Dia memilih untuk mengekos di dekat sekolah nya .
Fai dan Aziz pun turun dari mobilnya menuju ruang tamu.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!", sahut Abah dan umi Fai yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Hei, ada tamu agung!", kata Abah.
"Tamu agung apanya?", kata Fai ketus.
"Kamu, sama temen kok gitu banget sih Fai?", kata Abah.
Aziz menyalami Abah dan umi.
"Umi sehat?", tanya Aziz.
"Alhamdulillah, ini siapa ya?"
"Aziz mi, umi lupa?"
"Ya Allah Aziz? Kamu gendut sekarang ya, umi sampai pangling masyaallah....!", umi menepuk lengan Aziz.
"Ah umi...Umi orang ke tujuh yang mengatakan Aziz gendut mi", kata Aziz manyun.
"Kamu masih sama kaya dulu ya Ziz! Ayok duduk....!", umi mengajak Aziz duduk.
"Fai ke kamar dulu Bah, mi. Nanti damar juga mau kesini. Mau numpang mandi sekalian katanya!"
__ADS_1
"Damar? Damar datang juga?", tanya Abah.
"Iya bah. Mau sekalian reuni."
"Iya boleh tuh. Oh iya, bentar lagi magrib. Kita ke mushola aja yuk. Fai, entar nyusul ya!", seru Abah.
"Iya bah!"
"Ya udah, kalian solat di mushola belakang. Umi di kamar aja. Nanti selesai solat, umi bilang sama bik Ijah suruh bikin minum."
"Bik Ijah masih kerja di sini Mi?"
"Masih Fai, dia terlalu loyal pada keluarga kita"
*****
Usai solat magrib berjamaah, Fai memberi kode pada sahabat nya itu.
"Apaan sih?'', kata Aziz ketus.
"Lo bilang, buruan!"
"Ya sabar ngapa!"
Aziz menempatkan diri duduk di depan Abah.
"Em...bah, Aziz mau ngomong!"
"Ngomong apa Ziz?"
"Gini Bah, sebenarnya...Fai sama Imah nggak ada hubungan apa-apa."
"Oh...itu, Fai udah bilang Ziz. Tapi, Abah mau menjadikan Imah menantu abah, boleh nggak Ziz?"
"Nah...itu masalahnya Bah, Imah sudah punya tunangan. Kebetulan, tunangan Imah itu sahabat kami berdua bah."
Abah menarik nafas panjang.
"Tapi, Abah jangan khawatir Bah. Insyaallah Aziz akan bantu cariin buat Abah!"
Fai memukul lengan Aziz.
"Aw....sakit *ego!", kata Aziz kasar.
"Baiklah, semoga calon yang kamu cariin cocok ya Ziz. Selain cocok dengan teman mu, cocok juga buat Abah dan umi."
"Insyaallah bah!"
"Minimal ya...kaya istrimu, selain shaliha...bonusnya cantik!", kata Abah sambil berdiri.
"Huahahahahahhah!", Fai tertawa terbahak-bahak usai Abah pergi dari ruangan itu. Fai sampai harus memegangi perutnya itu.
"Sialan Lo! Jangan ngarep Lo, yang kaya Dian ya cuma istri gue!"
"Hahaha...kena kan Lo! Makanya, nggak usah sok mau ngerjain gue!"
"Dih....nyesel gue bantuin Lo!"
Fai masih menyisakan tawanya sampai seseorang datang, siapa lagi kalau bukan si dokter dingin.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam. Hei, pak dokter dateng juga!"
"Iya, kamar mandi dong. Gue numpang mandi Fai, sekalian solat magrib!", ujar Damar.
"Udah gue siapain noh di kamar. Kancutnya juga baru gue buka, bukan bekas gue!"
"Temen yang pengertian....!", Damar menepuk bahu sahabatnya.
Setelah beberapa waktu....
"Udah Lo sungkem sama Abah umi gue?", tanya Fai.
"Udah lah, emang harus gitu laporan sama Lo!"
__ADS_1
"Eh, diantara kita bertiga Lo doang yang udah punya bini Ziz!", kata damar memulai obrolan mereka. Tak lupa, di jari tangannya terselip sebatang rokok.
"Dokter masa merokok? Gak ngikutin himbauan pemerintah!", kata Fai yang turut mengambil rokok.
"Nah, Lo? Lo ndiri pendidik kan? Gimana anak didik Lo nggak ikutan, gurunya aja model kaya Lo!", sarkas Damar.
"Eh, Lo ga ngerokok Ziz?", tanya Damar.
"Gak, sayang. Nyawa gue terlalu berharga buat anak bini gue!", sahut Aziz.
"Heh bro. Ngerokok sama nggak merokok juga mati kali!", kata Fai.
"Gue heran sama Lo sumpah, di pondok Lo tuh ngapain? Kok pak kyai mau gitu punya santri model Lo?", kata Aziz ketus.
"Dih...ngapa bawa-bawa kyai gue sih?"
"Sssttt...udah, kalian berdua emang ga berubah!", kata damar.
"Siapa bilang? Gue udah berubah! Status gue!", Aziz dengan bangganya meninggikan diri sendiri.
"Lo nikah sama Dian kan karena gue, coba kalo nggak. Dian pasti jadi istri gue!", kata Fai.
"Sialan Lo!", kata Aziz sambil melempar bungkus rokok.
"Kalau gue jelas bro, gue ga nikah-nikah gegara belom move on dari istrinya aziz, mantan gue!", kata Fai melirik.
"Sekali lagi Lo ngomong gitu, gue mutilasi Lo!", kata Aziz.
"Nah Lo, Dam? Kenapa Lo ga nikah-nikah? Lo mapan, tampan...dan...gue rasa Mika suka sama Lo?", kata Fai sambil melipat kedua tangannya.
"Mika? Gue nggak ada rasa apa-apa sama Mika." Damar menyesap rokoknya.
"Nah, kenapa nggak Lo aja yg deketin dokter Mika Fai?", kata Aziz semangat dengan wajahnya yang berbinar.
"Lo sama Dian tuh satu server emang, ngapain sampe mikir gue sama Mika!", kata Fai merajuk.
"Gue rasa omongan Aziz ada benarnya! Lagian, Lo ganteng...Mika cantik. Dokter pula, nah Lo? Guru! Cocok lah!", damar mendukung ucapan Aziz.
"Lo berdua sama-sama dokter?", kata Fai.
"Tapi...gue nggak bisa!", kata damar.
"Kenapa emang nya?", kata Aziz penasaran.
"Ya ...gue ngerasa nggak pantas aja!", damar mematikan Putung rokoknya.
"Alasannya apa?", tanya Fai penasaran.
"Gue...gue udah pernah merusak masa depan anak orang, gue ngerasa nggak pantes aja kalau ada perempuan yang mau sama gue. Apalagi Mika, dia pantes jadi adik gue kan?"
"Maksud Lo apa Dam?", kini Aziz yang penasaran.
"Gue...gue pernah bikin anak orang bunting Ziz, Fai!"
"Astagfirullah!", kata Aziz dan Fai kompak.
"Heh, lagak Lo kaya orang bener aja Ziz! Lo aja pernah tidur sama si Lili. Heran aja gue kenapa Dian masih mau sama Lo!"
"Itu beda cerita dodol!", kata Aziz membela diri.
"Siapa yang Lo bikin hamil Dam?", tanya Aziz lagi.
"Cewe gue waktu kuliah! Tau deh, Lo kenal apa nggak. Kan semester empat gue pindah!"
Damar dan Aziz memang satu kampus, tapi jelas beda jurusan.
"Siapa?", tanya Aziz lagi. Fai tidak akan bertanya, karena dia tidak satu kampus dengan mereka berdua.
"Stevia Winata!", kata Damar.
"Via?", tanya Aziz .
******
Lanjutan nya gimana dong????? 🤔🤔🤔🤔
__ADS_1