Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 106


__ADS_3

Di rumah sakit


"Dek, mas nggak tega deh kalo Diaz di suntik. Kasian!", mas Aziz mengusap pipi chubby Diaz yang tidur dalam pangkuan nya. Kami sedang menunggu antrian di depan ruangan dokter anak.


"Nangis sebentar mas. Insyaallah kan kedepannya buat kesehatan Diaz juga."


"Tapi kasian, pasti sakit deh."


"Ini kan bukan pertama kalinya Diaz di imunisasi mas, kenapa kamu jadi melow begitu sih mas?"


"Aku cuma kasian aja sama Diaz dek!"


Kami berdua sama-sama memandang Diaz yang benar-benar mirip dengan ayahnya. Kebanyakan, anak laki-laki cenderung mirip dengan ibunya. Tapi tidak dengan Diaz. Mama Farah bilang, wajah Diaz itu fotocopy-an mas Aziz waktu bayi. Dan benar, foto mas Aziz memang sama persis dengan Diaz.


"Diaz Abisatya Nugroho?!", panggil perawat.


"Iya sus!", kami bertiga masuk ke ruangan dokter anak.


"Selamat pagi bapak ibu!"


"Selamat pagi dokter!"


"Oh, dek Diaz nya masih tidur pules ya."


"Iya dok, jadwal bobo pagi dok!", sahutku.


"Iya, seusia Diaz memang terkadang masih suka bobo di jam segini. Diaz tidak sedang panas, diare atau sakit kan Bu?"


"Alhamdulillah, Diaz sehat bu dokter."


"Baiklah, jadi Diaz siap di imunisasi ya Bu!"


Aku mengangguk. Mas Aziz yang memangku Diaz.


"Mas yakin mau memangku Diaz?", tanyaku.


"Iya dek."


Dokter tersenyum mendengar pertanyaan yang ku lontarkan pada mas Aziz.


"Nanti yang di suntik anaknya, tapi bapaknya yang nangis lho Bu....", canda dokter padaku.


Aku dan Bu dokter sama-sama tertawa. Dokter sudah menyiapkan suntikan nya dan akan mengarah ke paha Diaz.


"Tunggu dok! Nanti Diaz terbangun. Terus nangis, kasian dokter!", kata Aziz memelas.


"Nangisnya sebentar kok pak." Dokter bersiap menyuntik lagi.


"Sebentar dok!", mas Aziz menciumi Diaz.


"Mas... yang antri di luar banyak lho!", aku mengingat kan.


Lalu mas Aziz memeluk Diaz.


"Silahkan dok!"

__ADS_1


Akhirnya dokter menyuntikkan vaksin itu ke Diaz. Di luar ekspektasi, Diaz hanya menangis beberapa saat. Lalu terdiam karena merasa nyaman di pelukan ayahnya. Tapi justru ayahnya yang terlihat sedih.


Lagi-lagi aku dan dokter hanya menahan tawa.


"Sakit ya nak?", bisik Aziz sambil menggendong Diaz.


"Maaf ya dok, suami saya lebay."


"Tidak apa-apa Bu, suami ibu sangat menyayangi Diaz. Jadi wajar saja lah Bu. Anak pertama ya?"


"Iya dok. Kami baru mendapatkan Diaz setelah lima tahun menanti dok!", aku curcol sama Bu dokter.


"Owh...pantas saja."


"Kemarin, yang menangani Diaz dari lahir dokter Rina. Beliau pindah tugas?"


"Iya, beliau pindah ke Bandung Bu."


"Oh, begitu ya."


"Nah, ini Bu. Berikan ke Diaz jika nanti malam Diaz demam. Jika tidak demam, tidak di berikan juga tidak apa-apa."


"Baik dok. terima kasih."


Kami bertiga keluar dari ruangan dokter. Mas Aziz masih menggendong Diaz.


"Mas...kamu itu kenapa sih?"


"Kasian Diaz dek!"


"Mas, Diaz aja nggak nangis masa kamu yang mewek sih?"


Kami bertiga berjalan beriringan. Eh, tidak. Tepatnya Diaz berada dalam gendongan. Jadi yang jalan beriringan itu hanya aku dan mas Aziz.


"Dek!"


"Hem?"


"Makasih."


"Buat?"


Mas Aziz memandangku.


"Makasih dek , kamu mau memberikan kesempatan buat mas. Sudah melahirkan Diaz buat mas. Bertahan dengan keadaan kita. Dan... terimakasih buat semua yang sudah kamu lakukan. Karena Diaz juga bukan, kamu bisa kuat menghadapi badai rumah tangga kita?"


Iya, mas Aziz memang benar. Diazlah yang menjadi penguat hubungan kami. Karena Diaz juga aku bertahan dan kembali percaya pada suamiku. Meski aku tahu, dan aki sadari. Mas Aziz tak sepenuhnya salah dalam hal ini.


"Kamu bengong dek?"


"Heh?" aku terkejut dengan tepukan di bahuku.


"Nggak mas. Kamu benar. Diaz itu...Diandra Aziz. Buah cinta kita!", aku pun menggandeng lengan yang satunya. Karena lengan kirinya ia pakai untuk menggedong Diaz.


"Dian...", teriak seseorang di belakang kami.

__ADS_1


Saat aku menengoknya, ternyata dokter Mika.


"Mika?" sapaku.


"Hei, dari mana kalian?"


"Diaz habis imunisasi Mika."


"Owh...kaciaaannnn pasti ponakan aunty yang ganteng ini nangis ya?", Mika mengusap pipi Diaz yang ada dalam gendongan mas Aziz.


"Diaz nggak nangis aunty, ayah yang nangis!", aku melirik mas Aziz. Tapi mas Aziz malah melengos.


"Masa sih? Ah....Diaz, kamu beruntung sekali ya. ayahmu sangat menyayangi mu."


"Bundanya juga nggak kalah sayang lho aunty.....!"


Kami berdua tertawa bersama, berbeda dengan mas Aziz.


"Kebetulan bertemu disini, nanti malam aku sama mas Fai mau ke rumah. Boleh ya?"


Aku melirik ke mas Aziz. Dia kan lagi kesel sama mas Fai.


"Boleh kan kakak ipar?", tanya mika.


"Iya..." sahut Aziz singkat.


"Biasanya juga main datang-datang aja. Ngapain pake ijin!", kata Aziz sedikit ketus. Aku jadi merasa tidak enak sendiri.


"Maaf ya mika...!"


"Nggak apa mbak, pasti mas Aziz marah ya... gara-gara telat di kasih tahunya?"


"Nggak!", jawab Aziz singkat padat Dan mengesalkan.


"Kalian kan udah kami anggap saudara sendiri. Masa mau minta doa restu lewat hp sih? Nggak ada salahnya dong kalau kita ke rumah langsung?"


Mas Aziz diam, tak menanggapi ocehan Mika.


"Ya udah mik, kita balik ya. Kasian mbak Hayu!" ucapku. Seketika keceriaan mika pun berubah saat aku menyebut nama itu.


"Maaf Mika, maksud ku...kasian mbak Hayu jaga kios sendirian. Imah kan lagi mudik ke malang."


"Iya Di. Nggak apa-apa."


Mas Aziz memperhatikan kami berdua. Apa yang Dian dan mika maksud sih? Kenapa seolah-olah Dian merasa tak enak hati saat menyebut nama Hayu? Batin Aziz.


"Kami permisi ya, assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


Kami berdua meninggalkan rumah sakit.


Mika memandang punggung dua sahabat calon suami nya yang artinya, akan jadi sahabat nya juga.


Kamu beruntung sekali Dian, suamimu sangat menyayangi mu. Dan...mas Fai pun, masih belum bisa melupakan perasaan nya padamu.

__ADS_1


Mika, kamu harus berjuang!


Dengan kembali bersemangat, Mika menuju ruangannya kembali.


__ADS_2