Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 188


__ADS_3

"Apa Julian bertemu Via?"


"Iya. Mereka bertemu di acara akad nikah Mikayla."


"Mika? Menikah?", tanya Sharen lagi.


"Iya."


"Jangan bilang kalau mika juga sahabat anda?!"


"Miss Sharen lucu sekali. Tentu saja Mika sahabat saya. Dan suami mika, sahabat suami saya."


"Bagaimana Julian bisa bertemu dengan Via?"


"Saya yang meminta Mas Jul ke rumah om Umar, dan kebetulan Daddy mu juga di sana Miss Sharen."


"Daddy sudah bertemu Via?"


"Iya."


Jadi, Daddy yang bilang ke Via jika ia sudah bertunangan dengan Julian?


"Jujur, saya tidak tahu ada masalah apa antara kamu dan Via. Yang saya ingin tegaskan, saya dan Julian tidak ada hubungan apa pun selain rekan kerja. Gila aja saya mau main-main dengan orang lain sedangkan suami saya mencukupi semuanya."


Sepertinya apa yang Dian bilang benar. Julian hanya berusaha melayani atasannya dengan baik. Tapi kenapa aku merasa kalau Julian memang memiliki hal lebih pada bos nya itu. Batin Sharen.


"Sekarang sudah jelas kan? Tolong, jangan cemburu sama saya. Kamu salah orang. Saya kan ibu-ibu, mana mungkin Julian berpaling dari Miss Sharen yang masih single dan cantik seperti ini. Jangan membuat saya minder Miss!"


Aku berusaha merendahkan diri ku agar Sharen bangga dengan dirinya. Sejujurnya, aku tak minder sama sekali. Postur tubuh ku memang SNI, tinggi rata-rata perempuan Indonesia. Tapi, aku masih tetap percaya diri. Buktinya.... suami ku saja bucin kan??? ☺️☺️🙈


"Baiklah Bu, terima kasih atas waktu nya. permisi!"


"Iya."


Sharen meninggalkan ruangan ku begitu saja.


"Dih... attitude nya itu lho.... astagfirullah.....!", aku mengelus dadaku.


Setelah beberapa menit Sharen keluar, mas Aziz masuk ke ruangan ku.


"Sayang, makan dulu. Nanti baru solat."


Dia menyodorkan makanan lengkap dengan buah nya.


"Makasih sayang...!"


"Iya."


"Mas, Diaz rewel nggak ya?"


"Nggak, barusan mas telpon Imah. Lagi bobo Diaz nya, lagi di bawa ke rumah mereka."


"Owh .. syukur lah. Aku kangen Diaz mas."


Mas Aziz mengusap kepalaku. Lalu mengecup nya.


"Nanti pulang dari sini, puas-puasin gendong Diaz. Itu juga kalau kamu nggak capek."


"Secapek apa pun kalau ketemu anak, pasti capek nya ilang."

__ADS_1


"Iya. mas tahu. Diaz itu yang jadi penyemangat hidupmu. Dan kalian, penyemangat hidup mas."


Kami berdua saling melempar senyum.


"Mas, tahu nggak mas. Miss Sharen cemburu sama aku."


"Hem? Cemburu gimana?"


"Iya. Katanya gara-gara aku, Julian jadi berubah. Katanya juga, cara Julian memperlakukan aku berlebihan. Emang keliatan begitu mas?"


"Heemmm....kalau dari kacamata mas mah, nggak dek. Tapi, kalau bagi orang yang cemburu ya... bisa jadi."


"kok ya nggak masuk akal aja mas. Masa cemburu sama aku? Aku kan perempuan bersuami. Oke lah kalau aku single atau....aku ngantor sendiri. Lha....Iki??? Aku sama suamiku terus kok Yo di cemburui."


"Maklum aja sih dek."


"Bukan gitu mas, aku nggak mau nantinya malah menimbulkan jarak antara aku sama Julian. Padahal kan semua tahu, Julian hanya asisten ku. Itu pun tidak berlebih-lebihan. Aku lebih sering merepotkan suamiku."


Mas Aziz menyuapi ku.


"Udah, makan aja dulu. Nggak usah mikir yang enggak-enggak deh."


"Mas....!", panggil ku


"Heum....!", katanya dengan masih menyuapi ku.


"I love you!",kataku sambil menatap wajah suamiku dan memangku tangan ku di atas meja. Iya, karena mas Aziz menyuapi ku.


"Love you more!", sambil mengelap bibirku yang terkena kuah sayur.


"Kalau ini di rumah, mas udah makan kamu dek!"


"Ish.... mulai kan!", aku mencebik.


"Mancing apa sih mas, orang aku cuma bilang i love you kok di bilang mancing sih?"


"Iya, harusnya kalau aku lagi naik. Kamu bilang begitu, biar mas semangat dek!"


"Aahhh ...udah deh. Susah ngomong sama Mas. Aku mau solat dulu!"


Aku pun meninggalkan mas Aziz yang tertawa sambil menghabiskan sisa makanan ku. Gimana nggak subur, sisa makanan ku aja di embat.


Aku berjalan menuju musholla yang berada di lantai yang sama dengan ruangan ku.


Aku pun mengambil air wudhu. Setelah itu z ku diri kan empat rakaat ku.


Setelah solat, aku masih bersimpuh sambil melafalkan dzikir sebentar. Dan tanpa sengaja, aku mendengar obrolan di belakang ku.


A : Mr *Julian benar-benar sudah berubah ya sejak ada Bu bos baru. Bener deh, dia yang biasa jutek bin beku, sekarang bisa ramah. Bisa senyum juga. Luar biasa perubahannya ya .


B : Jangan-jangan .... gara-gara Bu bos kita yang suka becanda itu ya. Gimana dia manggil Mr Julian? mas Jul? hahahha....


A : Semoga sih bukan karena Mr Julian naksir Bu Dian ya. Kalau misal iya, siap-siap patah hati yang terdalam dong. Masa iya naksir sama istri orang. Bos nya sendiri pula.


C : Jangan bikin gosip yang aneh-aneh deh. Kalau kedengaran sama calon nyonya Julian, bisa berabe lho. Kaya nggak tahu aja si singa betina itu marah nya kaya apa. Mr julian aja ogah berdebat sama dia.


A : Iya ya, kok mau sih Mr Julian sama Miss Sharen?


B : orang tunangannya aja karena terpaksa.

__ADS_1


C. :. udah ah, balik Yuk. ngomongin orang Mulu*.


Mereka bertiga melipat mukenah nya. Aku pun melakukan hal yang sama.


Saat aku bangkit dari duduk ku dan berbalik ke arah belakang, mereka melihat ku dengan salah tingkah.


"Bu...Dian?!"


"Iya...? Saya dengar kok!", kataku sambil berlalu meninggalkan mereka.


Tapi di depan pintu mushola, aku berbalik.


''Jangan membicarakan tentang hal yang belum jelas. Jika benar, jadi ghibah. Jika salah, jadi fitnah."


Mereka bertiga kompak mengangguk.


"Saya duluan ya.... Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam Bu Dian.....!", jawab mereka lesu.


"Lo sih?!"


"Kok gue?"


"Kan Lo yang mulai ngomongin dia."


"Udah...kita balik ke ruangan. Jangan sampe kita keGep sama orang yang kita omongin. Beruntung yang denger Bu Dian. Coba kalo Miss Sharen apa lagi Mr Julian. mampus Kita!"


Akhirnya mereka bertiga pun memasuki ruangannya kembali.


"Kok lama dek solat nya?"


"Iya. Nyantai dulu di mushola."


"Owh....!"


"Ya udah, ini ada yang harus kamu tandatangani."


"siap pak suami!"


Kami berdua kembali sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk di atas meja kerja.


******


"Mas, mendingan kamu balik deh. Aku lama prakteknya lho!", Mika membujuk Fai agar pulang.


"Kamu nggak suka di temenin aku?"


"Bukan gitu mas, tapi aku kasian kalau kamu jenuh."


Emang jenuh sih, orang dari tadi banyak banget pasien Mika.


"Terus aku kemana? Mau ngapain?"


"Kan kamu bisa ke showroom mas. Atau kemana gitu, nanti kalau aku udah selesai tinggal minta jemput kamu."


"Ya udah deh."


Mika pun tersenyum menatap sang suami.

__ADS_1


"Ya udah, mas balik deh. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


__ADS_2