Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
I Will always love you


__ADS_3

Aku dan Mika kembali ke rumah dengan membawa mainan yang sedang viral di aplikasi tuk-tuk.


Yups, boneka kaktus yang bisa ngomong dan goyang-goyang. Aku tahu harga mainan itu cukup lumayan. Cuma ucapan terima kasih yang bisa ku sampaikan karena Mika membelikan nya untuk Diaz.


"Makasih ya Mika. Udah repot-repot beliin mainan buat Diaz!", ucapku saat kami kembali duduk dan membuka mainan itu.


"Nggak repot lah mbak, buat ponakan sendiri", Mika menunjukkan senyum manisnya.


"Eh, itu harga...maaf ya mika...lumayan kan?", kata Aziz yang kini duduk di sebelah ku.


"Ah...mas Aziz mah...nggak kok. Ntar juga di gantiin sama calon suamiku! Iya kan mas?", tanya Mika.


Aku dan mas Aziz lagi-lagi saling berpandangan.


Fai yang sedang meminum kopinya juga tiba-tiba tersedak.


"Murah kok mas Fai, ntar gantiin ya? Buat ponakan kita juga kan?", tanya Mika lagi pada Fai.


"Heum? Iya, nanti aku ganti."


"Hahahah....ayolah...kalian kenapa jadi kaku begini. Aku bercanda....!", kata Mika tertawa. Lalu mika melirik padaku.


Aku tahu, mika hanya sedang berusaha melupakan kejadian di depan tadi. Mencoba seakan-akan hatinya baik-baik saja.


"Assalamualaikum....!", tiba-tiba Mama dan Imah masuk kedalam rumah.


"Walaikumsalam." Jawab kami berempat kompak.


"Mama...kapan pulang? Katanya dari Surabaya?", tanya Aziz menghampiri mama untuk menyalami Mama. Aku , mas Fai dan Mika pun mengikuti jejak mas Aziz.


"Eh, ini siapa?", tanya mama ke Mika.


"Saya mika Tante, calon istrinya mas Fai. Iya kan mas?", tanya Mika pada Fai yang dari tadi diam.


"Calon istri? Benar itu Fai?", tanya mama Farah.


"Iya ma....!", kata Fai.


"Alhamdulillah, anak laki-laki mama satu lagi akan segera menikah. Senang nya.....!", kata mama.


"Iih...Imah di cueki. Yo wes lah, Imah nemenin mbak Hayu aja deh di depan!", kata Imah manyun.


"Gadis mama ngambekan deh!",kata mama.


Imah hanya menujukan gigi putihnya.


"ya udah ya, Imah tinggal ke depan dulu."


"Cucu mama bobo ya? Mama mau nengok dulu dong, kalian ngobrol aja ya! Jangan ganggu quality time mama sama cucu kesayangan mama!"


"Iya ma...iya...!", kataku.


Biarlah mama pasti sangat merindukan cucunya itu.


"Eh, mumpung Diaz ada yang jagain gimana kalau kita main-main apa gitu?", ajak mika.


"Main apa sih mika?", tanya Fai malas.


"Eh mas, aku bawa gitar di mobil. Ambil sana!", pinta mika.


"Siapa yang mau main gitar?", tanya Fai.


"Ya kita lah mas. Kali aja mas Fai atau mas Aziz yang mau gladi kotor buat ngisi acara lamaran kita besok."


Lagi-lagi, mika menyunggingkan senyum palsunya. Tapi, aku akui kalau Mika pandai menyimpan perasaan nya.


"Nih mas kuncinya, kamu ambil deh di mobil!", mika menyerahkan kunci mobilnya pada Fai. Dengan malas , Fai pun terpaksa menerima kunci itu.


Fai menuju mobil Mika yang terparkir di depan kios. Dia melihat Hayu dan Imah yang sedang melayani pelanggan.


Mata Fai kembali curi-curi pandang ke Hayu.


Astagfirullah, desis Fai. Fai...ini nggak boleh. Inget, kamu akan menikah dengan Mika. Hayu itu kekasih sahabat mu. Cukup Aziz dan Diandra yang menjadi bahan keisengan mu, jangan Damar. Dia tak sama seperti Aziz ataupun Dian.


"Nih, gitar nya. Siapa yang mau main?", tanya Fai sambil meletakkan di meja.

__ADS_1


"Eh, jangan di sini. Diaz kan lagi bobo. Diteras belakang aja!", kata Aziz.


Akhirnya kami berempat memilih duduk di terasa belakang, tempat mesin cuci. Tapi disana memang ada bangku yang sengaja kami sediakan.


"Siapa yang mau menyumbang kan lagu duluan?", tanya Mika.


"Hom pim pah aja deh!", sahut Fai.


"Kita kaya anak SD aja deh, main beginian. Ngumpul-ngumpul kaya anak ABG aja!", kataku pelan.


"Nah, Dian aja yang suruh main duluan. Dia bisa kok!", kata Fai.


Aziz memicingkan matanya?


"Kamu bisa main gitar dek?", tanya Aziz.


"Hah? Ya...ya...dulu bisa, sekarang nggak lah mas. Udah lama banget nggak main."


Fai yang tadinya semangat jadi down tiba-tiba mendengar jawaban ku.


"Iya. Berapa tahun yang lalu ya Di?", tanya Fai ragu-ragu.


"Dek?", mas Aziz memicingkan matanya.


"Lupakan mas. Aku akan mencobanya dulu. Apakah aku masih ingat kunci-kunci nya!"


Mika memperhatikan calon suami nya itu. Terlihat jelas Dimata Fai, jika Diandra masih bertahta di sana.


Apa bedanya dengan mu Mika? Hati mu saja masih berisikan nama Damar? Jadi, kalian satu sama. Batin Mika.


Aku tak pernah tahu jika Diandra bisa memainkan alat musik itu, batin Aziz.


Apa kamu masih mengingat masa-masa indah itu Di? Maaf...maafkan aku yang sudah meninggalkan dan menyakitimu. Kenangan di kedai itu kembali membuat nya teringat di mana ia meninggalkan Dian tanpa kejelasan.


Fai tersadar dari lamunannya saat suara gitar itu di petik perlahan. Dian sedang mencoba mencari nada.


Aku mulai mendapatkan nada ku. Ku petik senar demi senar. Ku nyanyikan lagu kenangan ku bersama dengan mas Fai kala itu. Entah kenapa aku masih menyukai lagu itu. Aku pun menyanyikan nya meskipun aku sadar suaraku di bawah standar.


Mas Aziz duduk di samping ku sambil menatap ku intens.


I Will always love you, kekasih ku


Dalam hidupku hanya dirimu satu


I Will always need you cintaku


Selamanya tak kan pernah terganti


Ku mau menjadi yang terakhir untuk mu


ku mau menjadi mimpi indahmu


cintai aku dengan hati mu


seperti aku mencintaimu


sayangi aku dengan kasihmu


seperti aku menyayangimu


I Will be the last for you


And you Will be the last for me


I Will always love yo kekasih ku


Dalam hidupku hanya dirimu satu


Ku mau menjadi yang terakhir untuk mu


ku mau menjadi mimpi indahmu


Cintai aku dengan hatimu .


seperti aku mencintaimu

__ADS_1


sayangi aku dengan kasihmu


seperti aku menyayangimu


I Will be the last for you


and you Will be the last for me


Aku pun mengakhiri permainan ku. Suara tepuk tangan mas Aziz, mas Fai dan mika pun terdengar.


"Kamu pinter Di, aku saja hanya asal kalau main gitar. itu aja kalo lagi suntuk. Tapi, kayanya...kamu mendalami lagu itu banget Di?"


"Hah? Masa sih? Terlalu memuji kamu mah!", sahutku.


"Dih .. bener...aku videoin tadi lho!", sahut Mika.


"Ah...kamu Mik. bikin aku malu aja."


Mas Aziz yang masih terbengong-bengong dengan kemampuan ku yang sama sekali dia tak tahu.


"Mas...i love you. I Will always love you!", bisikku pada mas Aziz. Tapi aku yakin, mika atau mas Fai pasti mendengar bisikan ku pada suamiku.


"Love you too." Mas Aziz mengecup kening ku di depan mereka.


Lain halnya dengan Fai, perasaan bersalah dan menyesal nyatanya hanya mampu menyakiti dirinya sendiri. Kemarin-kemarin Fai mulai berpikir, jika Dian memang benar-benar sudah melupakannya. Tapi hari ini ia tahu, Dian memang sudah memaafkan dirinya. Tapi, selamanya luka yang sudah Fai berikan pada Dian tidak akan pernah terhapus dari ingatan nya.


Mika melihat wajah calon suaminya itu yang masih fokus melihat kemesraan antara mantan kekasih dan sahabat nya itu.


Mas Fai, kita akan sama-sama berjuang untuk saling mencintai ya mas. Aku janji, aku oasti bisa melupakan kak damar. Dan aku pasti bisa jatuh cinta padamu, begitu pun sebaliknya.


"Eh, aku pulang ya. Udah sore. Besok-besok aku main lagi deh!", kata mika memecah keheningan.


"Aku juga pulang deh. Mika, aku nebeng lagi dong!", Fai berusaha menutupi kecanggungan nya.


"Bayar lho mas! Sekalian sama boneka nya Diaz yang tadi."


"Iya ...iya...ntar aku ganti, sekalian aku beli sama pabrik-pabrik nya!", sahut Fai ngasal.


"Wah...calon suami ku holang kaya ....!", mika bertepuk tangan sendiri.


Aku dan mas Aziz masih tidak percaya jika seorang mika akan bisa mengubah seorang Fai yang menyebalkan itu menjadi laki-laki yang manis.


"Ya udah, kalian hati-hati. Dan...mika!", panggil Aziz.


"Apa mas Aziz?",tanya mika.


"Nitip ya, temenku yang satu ini limited edition Mik. Jagain dia baik-baik. Biar dia nggak ngarepin istri ku lagi", ledek Aziz. Aku pun mencubit perutnya.


Mika mengacungkan jempolnya.


"Ziz, gue bukan takut menikahi gadis agresif ini. Yang aku takutkan setelah menikah itu....!", Ucapan Fai terhenti. Tentu saja kami penasaran.


"Kamu takut apa mas?", tanya Mika dengan mimik penasaran.


"Takut seperti Aziz, lihatlah...jika istri nya marah...perutnya yang jadi sasaran. Aku nggak mau perutku yang jadi korban. semoga saja aku tak segendut itu hahahaha.....!", sahut Fai sambil berlari ke luar.


"Sialan Lo Fai!", Aziz pun mengejar sahabat nya itu. Mereka persis anak kecil.


"Dian... lain kali kita bisa ngobrol berdua kan?", tanya Mika.


"Bisa dong!", sahutku cepat.


"Soal lagu tadi itu...pasti lagu kenangan antara kamu dan mas Fai kan?", tanya Mika. Aku menjawabnya dengan senyuman.


"Berusaha lah Mika, mas Fai pasti akan jatuh cinta padamu!", aku menepuk bahunya.


Mika pun mengiyakan dengan senyumannya. Lalu aku dan miak keluar menyusul dua sahabat geblek itu, suami dan juga mantan kekasihku.


********


Ijin promo lagi ya. Mampir juga ke karya ku yang lain ya....


'Cinta kita sama, iman kita yang berbeda'


Tengkyu....✌️✌️✌️🧝🧝

__ADS_1


__ADS_2