
Sudah seminggu lebih mas Aziz di rawat di rumah sakit sejahtera. Rencana nya, dua hari lagi mas Aziz bisa keluar dari rumah sakit. Julian juga sudah melaporkan kasus itu, sayangnya hingga detik ini kabar siapa yang menyuruh mereka belum kami dapatkan.
"Dek, nanti tanya sana Dokter ya kapan mas boleh pulang? mas kangen rumah!", kata mas Aziz yang sekarang hanya di bantu alt infusnya tidak dengan benda-benda lain.
"Memangnya mas udah mendingan?", tanyaku sambil menyuapi buah pepaya yang di potong-potong.
"Udah dek. Mas kangen bobo sama Diaz ,bosen di sini!", katanya lagi.
Mas Damar dan Mika juga sudah selesai masa cutinya. Jadi mas Fai dan Dadan yang mondar-mandir menggantikan ku jika aku ingin pulang menemui Diaz. Mbak Hayu juga sudah mulai membuka kios, alasannya karena kasian para pelanggan. Sekalian menemani Teh Neng menjaga Diaz di rumah. Kondisi Imah yang sedang hamil muda membuatnya sering bolak-balik ke kamar mandi karena mual dan ingin muntah.
"Permisi....!", sapa seorang dokter. Tapi bukan dokter Revan. Dia dokter Nabila, yang menggantikan Revan jika ia sedang off.
"Selamat siang pak Aziz?", sapa dokter itu ramah. Mas Aziz dan aku hanya melempar senyum.
"Siang dok!", jawabku mewakili mas Aziz.
"Saya cek kondisi anda hari ini ya pak Aziz?!", tanya dokter Nabila ramah. Aku pun menyingkir sesaat dari brankar mas Aziz.
Aku duduk di sofa yang agak jauh. Dokter Nabila di temani oleh seorang perawat yang ada di samping nya.
Pemeriksaan pun selesai.
"Nyonya....!", panggil dokter. Aku pun menghampiri brankar mas Aziz lagi.
"Bagaimana dok?", tanyaku.
"Untuk kondisi nya saya rasa semakin membaik, hanya saja mungkin ada gangguan pencernaan ya? Bukan begitu pak?", tanya dokter.
"Iya dok, dari saya masuk ke rumah sakit ini saya belum bab!", kata Aziz jujur.
Ah, iya. Aku hampir tak memperhatikan.
"Tapi saya rasa, istri anda bisa di andalkan pak!", kata Dokter Nabila tersenyum.
"Kenapa ya dok?", tanyaku bingung.
"Anda memberikan buah pepaya yang cukup membantu masalah pencernaan pak Aziz. Jika pak Aziz sendiri bisa makan sayur-sayuran atau makanan berserat lainnya pasti akan lebih baik lagi!", kata Dokter Nabila menjelaskan.
Aku dan mas Aziz mengangguk pelan. Nanti aku akan minta kang Dadan atau mas Fai membawakan sayuran dan makanan yang berserat tinggi agar mas Aziz bisa bab.
"Dok...?!", panggil Aziz.
"Iya pak?", tanya dokter Nabila.
"Kapan saya bisa jalan lagi?", tanya Aziz sedih. Aku mengusap lengan mas Aziz. Dokter Nabila pun tersenyum.
"Kalau kondisi anda, yang lebih mengetahui tentu dokter Revan pak. Saya hanya dokter pengganti jika beliau off saja", begitu ia memberi alasan.
Kenapa harus dokter itu sih?! Meskipun saat bekerja, ia profesional. Tapi kalo di luar itu, dia menyebalkan. Batin Aziz.
"Kapan dokter Revan masuk lagi?", tanya Aziz.
"Besok pagi beliau tugas pak!", jawab Dokter Nabila.
"Kalau begitu, saya permisi pak Aziz, nyonya....!", kata dokter Nabila undur diri.
Kini kami hanya berdua di ruang ini.
"Mas, kamu mau makan sayur apa? biar kang Dadan Carikan?", tanyaku.
"Sebenarnya mas kangen masakan kamu dek! Tapi nanti aja di rumah deh!"
"Iya mas. Nanti di rumah aku masakin apa pun yang kamu pengen. Tapi sekarang kan lagi usaha biar pencernaan kamu bagus!"
"Kayanya nggak usah deh dek. Kayanya perut mas udah mulai mules nih!", kata Aziz.
"Ya udah, bentar mas aku ambil pispot dulu!", kataku sambil berdiri.
Tapi mas Aziz mencekal lengan ku.
"Kenapa mas? Udah mules banget ya?", tanyaku agak panik. Tapi mas Aziz menggeleng.
__ADS_1
"Mas mau ke kamar mandi saja!", kata nya.
"Tapi mas, kamu masih lemah. Udah di sini aja ya? Biar ku kunci pintu ruangannya biar nggak ada yang masuk!"
"Nggak dek. Di kamar mandi aja!"
"Memang kenapa kalau di sini?", tanyaku mengalah yang akhirnya duduk lagi.
"Mas malu. Lagipula memang kamu nggak jijik?", tanya nya. Aku tersenyum tipis.
"Ya nggak lah mas. Kamu kan suami ku. Para perawat aja banyak yang mengerjakan kerjaan itu.Padahal mereka kan nggak kenal pasien nya."
"Tapi dek, mas masih mampu! Kecuali kalo mas benar-benar sudah tua sudah nggak bisa bangun untuk ke kamar mandi, mas bisa lakukan di tempat tidur. Tapi ini?"
Aku menghela nafas. Mas Aziz memang keras kepala.
"Ya udah, aku ambil kursi roda dulu ya mas!", pamitku. Mas Aziz pun menjawab iya.
Aku keluar ruangan sebentar dan ternyata mas Fai sedang menuju ke ruangan mas Aziz.
"Kemana Di?", sapa Fai yang melihat ku di depan pintu.
"Mau minta kursi roda sama suster mas. Mas Aziz pengen ke kamar mandi", jawab ku.
"Kamu temenin Aziz aja ,aku cariin dulu kursi rodanya!", kata Fai.
"Oh, ya udah dek. Makasih sebelumnya."
"Iya, nggak usah sungkan kenapa sih! Oh iya, ini ada puding dari Mika. Tadi pas sahur ,Mika bikin ini buat Aziz katanya biar perut nya enakan."
"Kebetulan banget, makasih mas. Bilangin ke Mika juga ya!", kataku.
"Iya. Aku tinggal dulu ya!", kata Fai. Aku mengangguk dan kembali masuk ke ruangan mas Aziz lagi.
"Lho, nggak jadi minta kursi roda nya dek?"
"Tadi pas keluar, ada mas Fai. Sama ngasih puding bikinan Mika nih buat kamu mas. Terus kata mas Fai, dia yang mau ambilin kursi roda nya buat kamu. Belum mules banget kan?"
"Belum begitu dek! Ya udah, kayanya makan puding dulu enak dek. Seger!", kata Aziz.
Mas Aziz mengangguk setuju. Saat aku mulai menyuapi, mas Fai datang membawa kursi roda untuk mas Aziz.
"Kamu mau kemana bro, minta kursi roda?", tanya Fai sambil mendorong kursi roda yang kosong itu ke arah brankar mas Aziz.
"Pengen bangun aja. Bosen tiduran Mulu!", jawab Aziz. Setelah kursi benar-benar sudah dekat, aku mencoba untuk membantu mas Aziz turun dari brankar agar bisa duduk di kursi roda nya. Badanku yang kecil, seolah tenggelam dalam ketika mas Aziz. Meski terengah-engah akhirnya aku bisa memapah mas Aziz duduk di kursi roda nya.
Mas Aziz menatap ku.
"Aku berat banget ya dek?", tanya nya padaku.
"Kata siapa, buktinya aku bisa kan membantu mas duduk di sini?", kataku sambil jongkok di depan nya.
"Lo kok nggak bantuin bini gue? Udah tahu gue berat!", kata Aziz mencebikkan mulutnya ke Fai .
Fai melipat tangannya di depan dada.
"Gue bukan nya ga mau bantuin Dian. Gua cuma mau yakinin aja, kalau dian itu mampu tanpa bantuan dari gue. Terbukti kan? Dian harus membiasakan diri bantuin Lo pindah dari ranjang ke kursi roda sampe Lo bener-benar sembuh kaya dulu. Maaf, bukan maksud gue....!"
"Gue paham Ziz, makasih!", kata Aziz memukul pelan lengan mas Fai.
"Santai aja bro! ", sahut Fai.
Alhamdulillah, ada hikmahnya juga di balik kejadian ini.
"Jadi ke kamar mandi mas?"
Mas Aziz menggeleng.
"Belom. Bentar lagi kalau udah mules banget baru mas ke sana", jawabnya.
"Kalau udah mules, jangan di tahan!" kata Fai.
__ADS_1
"Nggak kok. Ntar aku bilang kalo emang udah kebelet banget!", kata Aziz. Aku duduk di sofa dekat dengan kursi roda mas Aziz. Sedangkan Fai duduk di seberang sofaku.
"Lo ke sini mulu, nggak ke showroom?", tanya Aziz.
"Udah tadi pagi ke sana. Pas ke sini sekalian nganterin Mika kan....!"
Aziz hanya mengangguk. Akhirnya keduanya saling bercerita banyak hal. Termasuk rencana akan ke makam mama dan mbak Imas setelah Aziz keluar dari rumah sakit. Saat tengah mengobrol, tiba-tiba Revan masuk tanpa memakai jas kebesaran nya . Dia langsung menatap kami bertiga.
"Saya boleh gabung kan?", tanya Revan kepada kami. Tanpa persetujuan dari kami, dia sudah duduk di sofa bersama kami.
"Bukannya anda sedang off?", tanya ku formal.
"Heum! Aku ke sini bukan sedang menjadi dokter, jadi teman kalian aja. Emang nggak boleh?", tanya Revan.
Mas Aziz cemberut melihat kedatangan Revan. Apa dia dalam mode cemburu lagi? Sekarang cemburu nya ke Revan? Ke Fai udah nggak????
"Mau apa Lo?", tanya Fai.
"Weittsss.... santai bro?! Sesama masa lalu, nggak perlu lah sok jadi perisai di antara mereka!", sindir Revan.
Fai meremas jemarinya.
"Bisa-bisanya orang seperti anda menjadi....!",kalimat Fai terpotong.
"Dari jurusan akutansi, pindah ke kedokteran? Nggak nyambung banget gitu ya?", tanya Revan sinis.
"Saat aku bangun dari komaku, aku hanya ingin menyembuhkan diandraku yang pernah sakit waktu itu. Sayang nya, aku baru menemukan nya sekarang-sekarang!"
Aku, Aziz dan Fai terdiam mendengar ocehan Revan yang tak nyambung itu.
"Lalu, sekarang mau mu apa Van?", tanyaku pelan. Gak mungkin juga aku mengusir nya.
"Suami mu, memang punya peluang untuk kembali berjalan. Tapi kemungkinan nya kecil Di!", kata Revan padaku.
"Sekecil apapun, harapan dan keajaiban dari Allah pasti ada."
"Aku suka optimismu dari dulu Di!",ucap Revan lagi.
"Iya, karena aku yakin mas Aziz akan sembuh dan sehat seperti dulu!"
"Dek, ke kamar mandi yuk!", ajak Aziz. Aku pun mendorongnya untuk menuju kamar mandi.
Sekarang hanya ada Fai dan Revan di sofa itu.
"Mau Lo apa sih sebenarnya?", tanya Fai.
"Gue mau Diandra lah!" sahut Revan santai.
"Lo udah gila! Diandra sudah bersuami! Lo nggak usah gangguin rumah tangga sahabat gue?!" kata Fai.
"Munafik Lo, emang gue ngga tahu kalo Lo masih ada rasa sama Dian sekalipun Lo udah nikah sama dokter Mika?!", kata Revan tersenyum menyebalkan.
"Tapi setidaknya gue nggak mau merusak hubungan baik kami?!", sahut Fai.
"Iya, itu bedanya gue sama lo. Kalo gue terang-terangan sedang Lo? Lo bermuka dua!", kata Revan. Fai berdiri dan siap melayangkan bogeman ke arah Revan. Di saat yang bersamaan, aku keluar dari kamar mandi ingin mengambil baju ganti buat mas Aziz.
"Stop mas!" , kataku meraih tangannya Fai yang mengepal.
"Kalian ini apa-apaan sih?!", mas Fai menurunkan tangannya.
"Keluar lah Van, aku nggak mau ada keributan di sini!", kataku pelan.
"Baiklah! Aku akan keluar! Tapi setelah ini, aku ingin bicara berdua dengan mu Dian!"
Aku tak mengiyakannya juga tak menolaknya, Revan pergi begitu saja.
"Mas Fai, nggak usah tanggepin Revan. Dia memang begitu!", kataku sambil berlalu meninggalkan Fai untuk mengambil baju Mas Aziz.
Fai kembali terduduk.
Benar kata Revan, gue semunafik itu?????
__ADS_1
*****
Baru sempet Mak! Kali aja ada yang kangen sama tulisan mamak 😜