
Aziz
*****
aku keluar kamar saat Dian memalingkan badannya ke arah tembok. Biarlah, perlahan aku yakin Dian akan membuka hatinya lagi untuk ku. Aku teringat kejadian tadi saat Lili berusaha menggertak ku dengan mencoba mengunggah video syur itu ke sosmed. Sayangnya dia kalah cepat dariku. Aku sudah memprediksi jauh-jauh hari, dia pasti akan membuat ulah lagi.
Aku meminta tolong Adam menghapus video itu dari ponsel Lili saat lili sedang lengah.
Ternyata....Adam pun pernah diposisi seperti ku. So... ternyata Lili memang wanita yang suka berpetualang dengan suami orang.
Lusa, aku akan ke dokter. Memeriksa kan diriku, aku hanya khawatir jika aku mengidap penyakit itu karena lili suka bergonta ganti pasangan.
Aku menyeduh secangkir kopi untuk menyegarkan otakku. Jam dinding masih berdetak, jarum jam baru menunjukan angka 3 lewat 17 menit. Masih cukup siang untuk Diandra istirahat. Lagi pula , sejak tahu dia hamil makin kesini kulihat ia makin kurus dan wajahnya pucat. Memilih resign dari kantor kurasa keputusan yang tepat. Selain untuk menghindari Lili dan menjaga kesehatan Diandra juga sudah masuk daftar prioritas ku, aku ingin membuka gerai/counter hp di halaman rumah.
Insyallah dana untuk membuat kios dan dagangan nya pun sudah cukup.
Oh...iya, apa kabar mama ya. Sudah lama tak terdengar kabarnya. Aku coba menghubungi mama. Sekali...dua kali dering, mama mengangkat nya.
"assalamualaikum ma, mama ke mana? ditelepon susah." gerutuku.
"Walaikumsalam.maaf Ziz, mama ke luar kota."
"owh...", hanya itu yang keluar dari mulut ku.
"Gimana kabar Dian? sehat kan?" tanya mama lagi.
"Alhamdulillah." jawabku
"Syukurlah kalau begitu. Mama senang mendengar nya."
"Alhamdulillah, kami sudah menemukan titik terang mah. Lili tidak mengandung anakku. Dan...antara aku dan Dian sudah kembali membaik."
"Alhamdulillah....ya Allah, tolong sampaikan maaf mama sama Dian ya Ziz. Mama menyesal melakukan nya selama ini."
"Sudah lah mah, pasti Dian sudah memaafkan. Menantu kesayangan mama perempuan yang baik yang shalihah" ujarku.
"Iya, mama tahu. Mama hanya menyesali perbuatan mama selama ini." katanya lagi. Perbincangan pun selesai saat mama berpamitan akan bertemu temannya.
Aku kembali fokus pada ponsel ku. Setelah resign kemarin, sudah kupikirkan apa yang akan ku lakukan untuk menafkahi Diandra dan calon anakku.
Semoga saja Allah meridhoi apa yang akan aku lakukan. Aku mulai mendisain bangunan kecil yang akan ku jadikan kios di halaman rumah. Jalan depan rumah ku cukup ramai dilalui pejalan kaki maupun kendaraan .
Insyaallah, jika aku membuka counter pulsa hp dan aksesorisnya cukup diminati. Semoga saja.
__ADS_1
Halaman rumahku cukup luas. Aku lupa sudah berapa lama aku berkutat mendisain kiosku sampai akhirnya aku tertidur pulas.
****
Hari sudah menjelang sore. Aku keluar dari kamar setelah mandi dan solat ashar.
Ku lihat mas Aziz tertidur dimeja makan dengan beberapa kertas yang berantakan. Ternyata dia serius ingin membuka usaha itu. Aku hanya bisa mendukung jika itu memang kesempatan yang baik.
Aku mendekati nya. Menatap wajahnya yang tertidur pulas. Terkadang aku tak percaya dengan apa yang sudah terjadi antara dia dan Lili. Seperti sesuatu yang mustahil. Sayangnya, kenyataan nya seperti itu. Dengan ragu-ragu, aku menyentuh kepalanya. Ku usap perlahan-lahan. Sayangnya, tangannya reflek meraih tanganku. Aku pikir, aku sudah menyentuh nya selembut mungkin. Nyatanya dia masih bisa merasakan sentuhan ku.
"Kamu sudah bangun dek?" sapanya dengan mata sayu tanpa melepaskan tanganku.
"Seperti yang kamu lihat", jawabku sambil berusaha melepas cengkeraman nya.
Bukannya dilepas,dia menarik ku duduk dipangkuan nya. Aku yang tak siap , akhirnya terduduk dihadapan nya.
Mata kami saling beradu. Untuk beberapa detik mataku tak beralih dari wajahnya. Tapi sesaat kemudian, aku bisa menguasai diriku.
Aku segera bangkit dari pangkuan nya. Tapi , lagi-lagi dia menarikku.
"Awas mas!", sergah ku sambil meronta.
"Sudah, disini saja. Temani mas!", dia meletakkan dagunya di cerukan leherku. Hembusan nafasnya yang hangat membuat bulu kudukku berdiri.
Dia tersenyum menampakan gigi rapinya. Sesekali dikecupnya pundakku yang terbuka karena didalam rumah memang tak memakai hijab.
"Mas....", kataku lagi.
"Sebentar...aja dek. Sebentar!" katanya lagi tanpa menghiraukan ucapan ku.
"Kamu kan lagi bikin disain tuh, selesaikan saja dulu. Kalo aku disini, kapan selesainya!?"
"Kamu mau bantuin? Ngasih ide buat calon kios kita?"
"Bukan bidangku mas!" kataku sambil berusaha berdiri.
"Udah ih...sini aja dulu. Apa susahnya sih duduk disini sama mas? Emang mas gigit kamu? Enggak kan?"
"Gigit sih nggak, ngeganjel doank. Aku risih, ga nyaman!" kataku ketus. Sedetik...dua detik....mas Aziz terbahak.
"Dih...malah ketawa lagi. Lepasin nggak?!"
Mas Aziz masih tertawa. Puas banget kayanya menertawakan sesuatu yang ga lucu.
__ADS_1
"Kamu tuh lucu banget sih dek. Ya biarin lah ngeganjel juga." katanya .
"Ga mau ah ..awas...aku mau bikin minum."alasanku.
"Alesan aja sih !" katanya sambil melepaskan ku dari dekapan nya .
'Dari tadi kek' gumamku. Aku pun bangkit dari pangkuan nya menuju dapur. Ku nyalakan kompor untuk menjerang air. Ku buka lemari atas , tak ku temukan teh. Padahal aku pengen sekali minum teh.
"Cari apa dek?", kata mas Aziz yang tiba-tiba melingkarkan tangannya di perutku.
"Ih...apaan sih mas," kataku sambil menurunkan tangannya.
"Mas kan tanya, nyari apa?"
"Nyari teh." jawabku singkat.
"Stok nya habis dek. Mas lupa nggak bilang sama kamu. Kalo gitu, kita belanja kebutuhan rumah yuk ke supermarket. Bahan dapur yang lain juga habis." katanya.
"Oh...ya baiklah."
"Mas ,ganti baju bentar ya. Pake mobil aja ya, takut hujan." katanya sambil berlalu.
Akhirnya aku mematikan kompor. Menyusul mas Aziz ke kamar. Saat membuka pintu kulihat mas Aziz tengah membuka kaosnya. Aku yang terkejut, memalingkan pandangan ku ke arah lain. Dari ekor mataku, aku tau dia sedang menertawakan ku. Aku berjalan menuju lemari khusus untuk hijab ku.
Ku pilih warna yang sesuai dengan baju yang ku pakai. Merapikan diri sebentar, tiba-tiba mas Aziz ada dibelakang ku lagi.
"Astagfirullah...", pekikku saat tak sengaja mundur menabraknya.
"Hati-hati dong dek!"
"Habisnya kamu sih mas, ngapain sih disitu!" kataku ketus.
"Mau ngagetin kamu, eh...belum di kagetin udah kaget duluan."
"Ga lucu!", kataku melengos menuju nakas. Aku membuka laci dan mengambil tas serta dompet ku.
"Emang nggak lucu! Kamu yang lucu."kata mas Aziz.
"Maksud mu apa mas bilang begitu? Sekarang aku jadi keliatan gendut jelek lucu....", cerocos ku.
"Bukan itu dek. Kamu lucu, liat mas pake baju aja kaget. Kamu lupa, waktu kamu minta hakmu....", katanya tersenyum tengil.
"Iiihh....apaan sih. Udah ah ayo berangkat!", kataku. Malu? iya lah. Dulu, sebelum prahara itu terjadi aku yang agresif meminta hakku. Sekarang, aku justru seolah-olah ogah melaksanakan hak dan kewajiban ku.
__ADS_1
Mas Aziz tertawa dibelakangku. Kami pun berangkat menuju supermarket.