
Mas Aziz masih duduk di balik meja kebesarannya. Dan Diaz juga masih tertidur pulas.
"Assalamualaikum. Mas....!"
"Walaikumsalam. Sudah beli nasinya? Kok cepet?"
"Sudah dong. Nggak ngantri kok!"
"Ya udah, kita makan dulu!", kata mas Aziz.
"Ya udah."
"Dek, suapin ya?!", rengek mas Aziz.
"Iya, aku suapin mas!"
Akhirnya kami makan sebungkus berdua. Sesekali aku mengelap bibir mas Aziz. Sedangkan mas Aziz masih fokus dengan laporannya.
tok...tok...
"Masuk!", perintah mas Aziz. Saat pintu terbuka, ternyata Mika dan Fai yang masuk. Dan aku sedang menyuapi suamiku.
Mata ku dan Fai kembali beradu.
"Assalamualaikum."
Mika dan Fai kompak mengucapkan salam.
"Walaikumsalam."
Aku dan mas Aziz pun kompak menjawab.
"Pengantin baru! Masuk....masuk...!", canda mas Aziz. Keduanya pun masuk dan duduk di sofa yang tak jauh dari Diaz tertidur.
"Hai Dian!", sapa Mika riang.
"Hai juga mika. maaf ya, tangan ku kotor!"
"Nggak apa-apa lah. Santai aja, kasian yang lagi sibuk. Sampai makan aja di suapin!", sindir mika.
Mas Aziz malah tersenyum.
"Enak tahu disuapin, belum nyobain aja!", kata Aziz.
"Masa sih?", tanya mika.
"Nggak usah di percaya Mika. Bisa-bisanya mas Aziz aja ini mah!"
Kami berempat pun tertawa.
"Udah fitting bajunya Mika?", tanyaku.
"Udah dong Di. Kata mas Fai, tadi dia ketemu kamu di depan. Bilangnya, kalau mau ketemu mas Aziz suruh ke ruangan aja."
"oh ..iya, tadi emang sempet ketemu sebentar."
"Udah fix sama pilihannya?", tanya Aziz.
"Insyaallah udah", jawab mika.
"Eh...Lo ngapain sih Ziz?", tanya Fai.
"Ini, ngecek laporan keuangan aja. mama kan masih betah di rumah mbak Imas."
"Owh...gitu!"
Tiba-tiba suara gludug bersahutan.
"Subhanallah."
Sontak mika meraih Diaz yang ada di sofa, sebab tanganku masih belepotan makanan.
"Aduh...mika...maaf?! Jadi ngerepotin!"
__ADS_1
"Nggak apa-apa lah Di. Kan aku juga mama nya Diaz. emang mas Fai doang yang boleh di panggil papa Fai?"
"Heummmm bisa aja. kode tuh ,tancap gas aja Fai. Biar Diaz punya adik." Ledek Aziz sambil terus memainkan keyboard nya.
Fai dan Mika terlihat kompak tertawa bersama.
"Usaha mah udah Ziz, tinggal tunggu hasilnya hahahaha!"
"wow...good job Mika! Semoga segera hadir Fai junior ya!", kata Aziz lagi.
"Aamiin...!", aku mengaminkan candaan mas Aziz.
Fai melirikku sebentar.
"Mas masih lama dek, kamu nggak apa-apa?", tanya mas Aziz.
"Nggak apa-apa lah."
"Eh, kalau gitu kita pulang duluan ya." Pamit mika.
"Kok buru-buru?", tanyaku.
"Enggak sih, kita ke sini naik motor. Takut keburu hujan di jalan."
"Em....gini aja. Lo keberatan nggak Fai, anterin bini gue pulang sekalian. Bawa mobil gue aja. Ntar motor Lo, gue yang bawa. Lo balik nunggu gue balik dari sini. Kasian bini sama anak gue tuh!", kata Aziz.
"Udah mas nggak apa-apa lah aku nungguin kamu aja. Kamu aja nungguin aku dari pagi kan?"
"Mas Aziz bener Di, kasian Diaz tuh. Dari pagi pasti capek, pengen rebahan di rumah."
"Tapi....", kataku tersendat.
"Udah dek, nggak usah khawatir. Fai udah jinak, udah ada pewangnya. Kamu nggak usah mikir kalau mas cemburu sama Fai lagi."
Aku memanyunkan bibirku. Mas Aziz berdiri mendekati ku lalu mengecup keningku.
"Udah, balik sama mereka. Mas paling jam lima juga udah pulang."
"Ya wes lah...!", kataku pasrah.
"Mas....!", aku mencubit pinggang mas Aziz.
"Ah...iya...iya ...ampun dek!", kata Aziz.
"Jangan bikin ulah sama pengantin baru! Kamu iseng nya nggak ilang-ilang sih!", kataku lagi sambil terus mencubit pinggang nya.
Mika dan Fai hanya tertawa melihat kemesraan sepasang pengantin lama itu.
Akhirnya, kami berempat pulang memakai mobilku. Mas Fai menyerahkan kunci motornya pada mas Aziz.
"Aku duduk di belakang sama Diandra", ucap mika.
"Terus? Aku sendiri di depan dong sayang????!", tanya Fai.
"Udah, temenin aja suami mu Mika. Ntar nangis bingung kan Lo?", kataku ke mika.
"Tenang aja Di. Nggak bakal marah lama juga. Yang ada rugi dia nggak dapat jatah malam dari aku hahahah!", kata mika. Sedangkan Fai , wajahnya terlihat memerah.
"Ishhhh....kenapa kamu jadi seperti ini sih Mika?", tanyaku heran.
"Kan kamu yang ngajarin aku!", kata Mika santai.
"Dih ....apaan? Mana ada cerita nya kaya begitu? Nggak...nggak....!", kata ku mengelak.
"Tuh kan Di, kamu kan gurunya?!", tuduh Fai kepadaku.
"Ya salam...mana ada aku ngajarin kaya begitu ke istri mu sih mas. Ada-ada saja!", kataku manyun. Aku tidak terima lah.
"Ye...kamu lupa Di. Kamu kan bilang, kalau aku... menyerahkan semua yang aku miliki buat suamiku, aku juga bakal mendapatkan yang sama seperti yang aku berikan buat suamiku, mas Fai."
"Iya Mika. Tapi konteks nya beda....!"
"Sama aja!", kata Fai.
__ADS_1
"Terserah lah. Urusan kalian!", kataku ketus.
"Udah ah...buruan jalan!", kataku lagi.
Mika masih terkekeh melihat ku marah, tepatnya pura-pura marah.
"Berasa jadi punya dua istri!", kata Fai.
Tapi tiba-tiba Mika menjewer telinga nya dari belakang.
"Ngomong apa barusan?" tanya Mika.
"Nggak ngomong apa-apa sayang...!", kata Fai sambil memegang telinganya yang panas.
"Yang kenceng Mika!", kataku menyemangati.
"Rese deh Dian mah...malah mendukung perbuatan istriku yang bar-bar!", kata Fai.
"Biarin! Punya satu istri aja masih proses ngebahagiain, pake bilang berasa punya dua istri!"
"Iya...ampun... ampun...sayang!"
Akhirnya Mika melepas jewerannya.
"Sakit sayang....!", Fai mengusap telinganya.
"Makanya...kalau ngomong yang bener!", kata Mika .
"Kamu juga Di. Malah ngomporin!"
"Dih...aku lagi????", tanyaku sambil menunjuk wajahku sendiri.
"Udah...udah...jalan ah kang taksi!", kata mika sambil mencolek bahu suaminya.
"Tadi kang ojek, sekarang kang taksi. Ntar apa lagi?" kata Fai mendengus kesal.
Mobil pun mulai berjalan menyusuri jalanan ibu kota. Tiba-tiba aku teringat sama pesanan Imah.
Aku ada ide ngerjain Mas Fa'i.
"Mas Fai....!", kataku pelan. Mika memicingkan alisnya sambil menatap ku curiga. Tapi aku mengedipkan mataku sebagai kode. Dan...mika menyadari nya. Dia pun mengangguk.
"Mas...Fai!", kataku lagi sedikit kencang.
"Iya...apa....jangan bilang mau ngerjain aku!", kata Fai.
Kok tahu sih???? Batinku.
"Hem...minta tolong boleh nggak?", tanyaku.
"Apa?", katanya agak ketus.
"Ikhlas nggak nih?! Kalau nggak ikhlas ya nggak usah!", kata ku sambil sedikit meninggi kan nada suaraku.
"Apa sih Dian....?!!!!", kata Fai geregetan.
"Putar balik?!",kataku singkat.
"Ngapain putar balik?", tanya Fai heran.
"Aku baru inget, Imah sama Hayu minta burger king. Kan adanya di sana tadi???!"
"Ya ampun Aziz....bini Lo ngeselin banget sih. Untung gak jadi bini gue!", kata Fai sambil memukul kemudinya.
"Kami dengar lho mas!!?", kataku dan Mika kompak.
Fai hanya menggaruk-garuk kepalanya. Menghadapi dua wanita di belakang nya semakin membuat darah tingginya naik.
"Iya...iya...kita beli burger king. Aku yang bayari sekalian. Udah, nggak usah komen!", kata fai. Aku dan mika cekikikan dibelakang nya.
*****
Akur kan enak. Bersatunya perempuan masa lalu dan masa depan.
__ADS_1
Ada di dunia nyata begitu? Ada dong.... contoh nya ya ini...yang lagi baca! 😝😝😝✌️✌️✌️