
"Pak bos istirahat saja, biar Imah yang jaga."
Imah menjatuhkan pantatnya di kursi sebelah Aziz.Imah tak mengoceh seperti biasanya
Aziz yang merasa heran dengan perubahan sikap Imah pun memandang Imah dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Apakah dia habis jatuh apa gimana?
"Tumben kamu diam bocah Jawir?"
Tak ada sahutan apa pun dari Imah. Mungkin Imah lagi kesambet jin diam.
"Ya sudah, aku masuk deh." Azizpun meninggalkan kios.
Imah Kesambet dimana ya? Aziz menggaruk-garuk kepalanya. Dia memasuki kamar anak dan istrinya.
*
*
*
"Sayangnya ayah masih bobo?", Aziz mengecup kening putra nya yang baru berusia tujuh hari.
"Dek, kamu nggak ikut istirahat?", tanya Aziz padaku. Mas Azizku, kini menjadi sosok ayah dan suami yang perhatian padaku dan anakku.
"Ini juga lagi istirahat mas." Aku duduk diranjangku yang bersebelahan dengan box bayi Diaz.
"Mas nggak mau kamu kecapekan, apalagi tiap malem kamu begadang."
"Capek apanya sih mas, aku menikmati peran ini. Lagi pula, semua pekerjaan rumah suda ada Imah yang menghandle. Justru Imah yang capek. belum lagi dia harus menjaga kios. apa nggak sebaiknya kita cari art mas?"
" Mas sih terserah kamu saja dek."
Aziz masih berdiri di samping box bayinya.
"Kayanya ide cari art bener juga dek, soalnya tadi Imah kelihatan aneh. tumben dia nggak ngoceh. apa karena kecapekan?"
Aku terdiam. Teringat ekspresi Imah tadi saat ku ceritakan pengalaman burukku.
"Sini mas", kutepuk kasur disamping ku agar mas Aziz duduk bersama ku. mas Aziz pun mendekat.
"Maaf, mas...tadi...aku ceritakan tentang rumah tangga kita. Maaf, bukan maksud ku menjatuhkan mu di hadapan adik mu. Tapi dia penasaran dengan Lili yang mengaku pernah kamu hamili mas."
Aziz menarik nafas dalam-dalam. Iya, mungkin karena itu. Imah merasa kecewa padaku. Aku sudah pernah menyakiti Dian, orang yang Imah anggap kakak kandungnya sendiri.
"Lalu? Apa reaksi Imah dek?"
"Entah mas. Mungkin dia marah,kecewa atau... hanya bersimpati padaku. Aku nggak bisa menangkap ekspresinya. Aku cuma sempet bilang,tolong jangan lagi bahas ini sama kamu mas. Aku sudah berusaha memberikan mu kesempatan, memberi kembali kepercayaan yang sudah pernah dikhianati.Jadi, jangan lagi ada orang yang merendahkan mu mas. Sekalipun keluarga kita sendiri."
__ADS_1
Mas Aziz memelukku erat. Mengusap kepalaku yang tak berhijab.
" Terimakasih sayang untuk kesempatan ini, mas janji akan jadi suami dan ayah yang baik untuk kalian."
"Tidak hanya itu mas,kamu juga harus tetap berusaha menjadi anak,kakak dan bos yang baik pula."
Kulepas pelukannya. Mas Aziz menyingkirkan anak rambut di dahiku.
"Masih berapa lama aku harus puasa dek?"
" Kapan kamu puasa mas? Kenapa kamu nggak bangunin aku pas mau sahur?"
"Bukan puasa itu dek, tapi puasa anu ...."
"Astagfirullah mas, masih lama. Dua bulan lagi baru bisa."
"Lama banget dek ",Aziz merajuk.
"Iya memang seperti itu mas."
"Terus,kalau mas pengen gimana?"
"Ditahan lah. Atau... jangan-jangan kamu punya pikiran....."
"Hush.... amit-amit. Nggak, mas nggak bakal mengulang kesalahan yang sama.Mas akan berusaha menahannya."
Aku tersenyum melihat Aziz yang merajuk.
"Tapi kalau ngeledek jangan kelewatan ya mas. kasian Imah."
"Iya bunda ....", Aziz pun meninggalkan kamarku .
Ya Allah semoga keluarga kami selalu harmonis.
~~
Kios mulai ramai di jam segini. Kebanyakan pembeli adalah pelanggan yang baru saja pulang bekerja. Ku lihat Dadan juga sudah ada di depan Imah. Ngapain juragan soto ada disini?
"Kang Dadan!", sapa Aziz.
"Iya mas Aziz,kumaha damang?"
"Alhamdulillah, lagi belanja apa nemenin Imah kang?"
"Ah, mas Aziz mah gitu. Era saya mah jadina....", Dadan tertunduk malu. Tapi Aziz menanggapinya dengan tawa khasnya.Imah hanya melirik mendengar candaanku dan kang Dadan. Biasanya, dia akan menimpali dengan berbagai ocehan yang tidak penting.
"Warung ramai kang?"
"Alhamdulillah, yang disini mah lumayan mas. Cuma yang di jalan duren, lagi kurang jalan. mungkin ya karena belum lancar aja, kan masih baru warung yang disana."
__ADS_1
"Owh...kang Dadan buka cabang lain?"
"Muhun mas, atuh biar ada tambahan yang lain. Jadi, bisa nabung mas."
"Nabung buat bekal kawin maksudnya ya kang?", Aziz melirik Imah. Tapi lagi-lagi Imah masih cemberut.
"Hahaha insyaallah mas."
"Kalau gitu, saya balik ke warung ya mas, Mah.Nanti kalo sempet main lagi "
"Iya A." Imah menyahut begitu saja.
Dadan pun meninggalkan kios dan kembali ke warung soto nya yang tak jauh dari rumah Aziz .
" Kamu marah sama Mas mah?", tanya Aziz.
Imah menatap sebentar ke arah bosnya itu.
"Nggak. Marah kenapa?"
"Soal hubungan mas dengan Lili?"
"Imah cuma heran, kok bisa-bisanya mbak Di maafin peyan mas.Padahal mas itu udah nyakitin mbak Di sedalam itu."
"Mas sudah minta maaf sama Dian mah, Alhamdulillah Dian sudah memaafkan dan memberikan kesempatan buat mas."
"Iya mas, peyan ga perlu menjelaskan apa-apa. Kita cuma sepupu mas, Imah ngga berhak tau rahasia rumah tangga kalian.Maaf, kalau selama ini Imah ikut campur dengan urusan keluarga mu dan mbak Dian mas."
"Mas paham, kamu sayang sama Dian seperti sayang terhadap kakakmu sendiri. Tapi, tolong... tetaplah jadi Imah yang seperti biasanya. Jangan mendiamkan mas begini lah, nggak seru kalau kamu nggak ngoceh."
"Emang aku kie manuk po piye, ngocah-ngoceh!" seru Imah. Alhamdulillah, Imah sudah kembali ke mode awal.
"Bukan gitu mah, sepi aja kalau kamu diem Mah. Nggak cocok!"
"Wes....wes...sakkarepmu wae mas bos."
Imah melanjutkan pekerjaan nya memberesi etalase.
"Mah, cukup Dian yang pernah marah-marah sama aku. Dan aku menyesali. Kamu, jangan ikut-ikut marah kaya dian.''
"Hem....", jawab Imah singkat.
Satu per satu pelanggan mulai berdatangan ke kios. Sampai ada sapaan yang mengganggu telinga.
"Hai Ziz, calon adik ipar?", Aziz dan Imah saling berpandangan. Ada Feby di sini .
"Hai Feb, ada apa ya?"
"Ngga ada sih, cuma lewat. Jadi, ini usaha kecil-kecilan mu Ziz?"
__ADS_1
Aziz dan Imah merasa diremehkan.